
Jeny membuka kulkas dan menghela nafas ketika tidak menemukan apapun yang bisa dia makan. Jangankan makanan, bahan makanan simple seperti telur dan mie instan saja tidak ada disana.
Jeny berdecak. Wanita cantik itu kemudian membuka laci yang berada di seberangnya. Dan ketika jeny membukanya jeny menemukan banyak cemilan kering seperti chiki dan beberapa roti sobek disana.
“Eemmm.. Lumayan deh buat ngeganjel perut..” Gumam jeny.
Jeny meraih sebungkus roti sobek kemudian menutup kembali laci berisi makanan ringan tersebut. Entah untuk apa tomy menyiapkanya jeny tidak tau. Yang terpenting sekarang adalah jeny bisa mengganjal perutnya dengan makanan yang ada untuk sementara ini.
Ketika sudah membuka dan hampir memasukan sedikit roti sobek ke dalam mulutnya jeny mengeryit. Ada suara langkah buru buru seseorang setelah terdengar suara pintu yang tertutup sedikit keras.
Penasaran jeny pun bangkit dari duduknya. Rasanya tidak mungkin jika itu tomy. Pria tampan itu baru saja pergi dengan reyhan. Dan sebelum pergi juga pria itu sudah mengecek semua bawaanya. Tidak mungkin jika tomy kembali untuk mengambil suatu yang tertinggal.
Jeny melangkah pelan bahkan terkesan mengendap ngendap. Jeny tidak tau bagaimana keamanan di apartemen mewah itu. Jeny takut jika ternyata yang masuk adalah seorang pencuri.
Langkah buru buru itu semakin terdengar jelas. Itu pertanda ada seorang yang sedang mendekat ke arahnya. Jeny buru buru bersembunyi di balik pintu untuk melindungi dirinya. Dan saat itu juga masuklah seorang gadis berambut pirang panjang dengan membawa 2 paperbag besar. Gadis itu tampak sangat kesusahan membopong bawaanya dan melangkah terburu buru memasuki dapur.
Jeny mengeryit. Rasanya tidak mungkin jika gadis tersebut adalah seorang pencuri.
Jeny menatap gadis itu dari belakang. Kaos kuning lengan panjang yang di padu dengan jins hitam yang membalut sempurna kaki jenjangnya. Dan jangan lupa dengan rambut pirang panjangnya.
Berlahan jeny mulai keluar dari persembunyianya. Jeny tidak tau siapa gadis itu dan ada hubungan apa dengan suaminya. Tidak mungkin jika gadis itu nyasar masuk ke apartemen suaminya. Karna setiap pintu apartemen pasti memiliki kunci berupa pin yang berbeda.
Jeny menatap waspada pada gadis yang sedang sibuk mengeluarkan belanjaan yang di bawanya seperti sayur, buah, daging, dan bahan makanan lainya. Gadis itu sepertinya belum menyadari kehadiran jeny di belakangnya.
“Sorry wie ben jij?”
Gadis itu berhenti mengeluarkan bahan bahan makanan dari paperbag coklatnya kemudian menoleh pada jeny yang berdiri tidak jauh darinya. Di tatapnya wajah penuh kewaspadaan jeny kemudian gadis berambut pirang alami itu tersenyum.
“Dit is het appartement van mijn man.” Lanjut jeny menggunakan bahasa belanda.
Gadis bule berambut pirang itu tersenyum kemudian melangkah mendekat pada jeny.
“Saya Elisa. Asisten rumah tangga tuan tomy nyonya.” Kata gadis bernama elisa itu mengulurkan tanganya pada jeny.
“Kamu bisa bahasa indonesia?” Tanya jeny tidak percaya.
Jeny benar benar tidak menyangka jika suaminya memiliki asisten rumah tangga yang masih sangat muda juga cantik.
__ADS_1
“Ya nyonya. Kebetulan salah satu keluarga saya juga asli indonesia.” Senyum elisa menatap jeny.
Jeny menatap sekali lagi pada elisa. Gadis secantik elisa mau bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk tomy.
Berlahan jeny mengangkat tanganya dan menjabat tangan putih pucat elisa. Elisa bahkan memiliki postur tubuh sangat tinggi hampir setinggi tomy.
“Saya jeny..” Kata jeny pelan.
“Saya sudah tau nyonya. Tuan sudah memberitahu saya.” Balas elisa masih dengan senyuman di bibirnya.
Jeny melepaskan jabatan tanganya. Tomy bener bener keterlaluan karna menyembunyikan rupa cantik asisten rumah tangganya.
“Sebelumnya saya minta maaf karna saya terlambat. Nyonya pasti belum makan yah? Saya akan segera memasak.”
Jeny hanya diam saja. Gadis secantik elisa bisa memasak rasanya sangat mustahil.
“Memangnya kenapa kamu terlambat?” Tanya jeny.
“Saya ada kelas sore tadi nyonya.” Jawab elisa.
“Kamu kuliah?” Tanya jeny.
Gadis itu segera melangkah kembali menuju belanjaan yang di bawanya. Jeny sungguh tidak percaya jika elisa adalah asisten rumah tangga yang di maksud tomy. Elisa sangat cantik dan tanganya pun sangat lembut. Tidak mungkin rasanya jika tangan lembut itu biasa mengepel lantai, menyapu, bahkan mencuci baju.
Jeny terus menatap elisa yang mulai menyiapkan bahan makanan yang akan di masaknya. Entah apa yang di masaknya jeny tidak tau. Tapi jeny bisa mencium aroma harum bumbu yang di masak oleh elisa.
Tidak sampai 20 menit elisa selesai menyiapkan makanan untuk jeny. Gadis bule itu tersenyum puas menatap hasil masakanya.
“Nyonya. Sudah selesai. Silahkan di makan.”
Jeny hanya diam saja. Meskipun elisa tidak fasih dalam bahasa indonesia namun elisa begitu gampang mengucapkanya dengan nada yang jelas.
Jeny melangkah mendekat pada elisa ragu. Masakan elisa tampak sangat menggugah selera. Jeny tau apa yang di masak oleh gadis itu.
“Kamu bisa masak?”
“Moeder saya yang mengajarkan.” Jawab elisa dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
“Moeder..?” Tanya balik jeny menatap elisa bingung.
“Ah yah.. Maaf sebelumnya nyonya. Sebenarnya yang bekerja disini adalah moeder saya nyonya. Saya hanya sedang menggantikanya hari ini karna moeder saya sedang sakit.”
Jeny menganggukan kepalanya mengerti. Jeny sudah berprasangka buruk pada suaminya sendiri.
“Silahkan di makan nyonya. Saya lanjutkan bereskan ini.” Kata elisa kemudian kembali mengeluarkan seluruh belanjaanya dan menaruhnya ke dalam kulkas.
Meski ragu namun jeny mulai mendudukan dirinya di kursi di depan meja makan. Wanita itu menaruh sebungkus roti sobek yang tadi hendak di makanya di atas meja.
Sekali lagi jeny menatap hidangan menggugah selera di depanya. 2 menu masakan khas belanda tersaji di depanya. Dan dari rupanya jeny bisa meyakini bahwa rasa masakan gadis bule itu sangat enak.
“Berapa usia kamu?” Tanya jeny menoleh kembali pada elisa yang mulai fokus dengan apa yang sedang di kerjakanya.
“19 nyonya.” Jawab elisa tersenyum pada jeny.
Jeny terkejut. Elisa tidak terlihat belia seperti gadis berusia 19 tahun. Meskipun memang rupanya cantik namun kecantikanya cenderung memancarkan kedewasaan.
“Nyonya, selamat makan. Saya akan melakukan pekerjaan lainya.”
Jeny mengangguk. Berlahan jeny mulai menyantap hidangan di depanya. Dan seperti dugaanya rasa masakan gadis itu memang enak dan cocok di lidah jeny.
Selesai makan jeny kembali memperhatikan elisa. Gadis itu tampak sangat telaten dalam mengerjakan semua pekerjaan di apartemen tomy. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, juga mengelap kaca dan berbagai pernak pernik di dalam apartemen mewah itu.
Setelah selesai mengerjakan semuanya elisa pun kembali ke dapur dan mencuci piring bekas jeny makan. Tidak lupa elisa juga memasukan sisa masakanya ke dalam kulkas.
“Nyonya, saya sudah mengerjakan semuanya. Saya permisi pulang.”
“Pulang?” Tanya jeny bingung.
“Ya nyonya. Setelah semua pekerjaan saya selesai saya langsung pulang. Sama seperti moeder saya.” Senyum elisa sambil memainkan tali tas slempangnya.
Jeny menganggukan kepalanya mengerti. Wanita cantik itu kemudian mengantar elisa sampai depan apartemenya.
“Terimakasih..” Senyum jeny tipis.
“Jangan sungkan nyonya. Saya butuh uang nyonya dan tuan begitu juga sebaliknya. Nyonya dan tuan butuh tenaga saya untuk membereskan apartemen.” Balas elisa.
__ADS_1
Jeny hanya diam saja. Elisa sepertinya bukan tipe gadis pemalu dan sungkan. Meskipun dirinya hanya seorang asisten rumah tangga namun cara bicaranya begitu lancar seperti pada seorang teman.
“Saya permisi nyonya. Welterusten.”