
Paginya jeny dengan telaten mengelap tubuh tomy. Wanita itu melakukanya dengan mengajak suaminya bersenda gurau agar pria tampan itu tidak merasa menjadi beban. Jeny tau bagaimana sikap suaminya. Pria itu tidak mau membuat jeny merasa susah karenanya.
Selesai mengelap tubuh tomy jeny pun menyuapi suaminya dengan penuh cinta. Wanita itu dengan telaten menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulut suaminya sampai akhirnya makanan itu habis tak bersisa.
“Sayang..” Panggil tomy meraih tangan jeny.
“Ya by.. Kenapa?” Tanya jeny menatap lembut wajah tampan suaminya yang tampak sendu.
“Aku minta maaf yah..”
Jeny mengeryit bingung mendengarnya. Tomy meminta maaf padanya padahal jeny merasa suaminya tidak berbuat salah apapun.
“Maaf? Untuk apa?” Tanya jeny.
Tomy menghela nafas. Pria tampan itu menelan ludahnya susah payah. Tomy benar benar merasa tidak berguna sekarang. Istrinya sedang hamil tua tapi dirinya malah membuatnya harus ekstra mengurusnya. Padahal seharusnya tomy lah yang dengan ekstra menjaga dan memperhatikan istrinya.
“By...”
“Kamu lagi hamil.. Harusnya aku yang jaga dan perhatikan kamu tapi ini malah sebaliknya. Aku selalu ngrepotin kamu..”
Jeny menghela nafas kemudian tersenyum. Wanita cantik itu kemudian melepaskan pelan genggaman tangan tomy. Jeny berdiri dari duduknya di tepi ranjang. Jeny menangkup kedua pipi tirus suaminya kemudian mengecup penuh cinta kening tomy.
Tomy yang mendapat kecupan lembut dari jeny di keningnya hanya diam dan memejamkan kedua matanya.
“Aku melakukan semua ini nggak gratis by..” Katanya.
Tomy mengeryit. Pria itu menatap penuh tanda tanya pada istrinya.
Jeny yang melihat kebingungan suaminya segera meraih pelan tangan tomy kemudian menempelkanya di perut besarnya.
“Sayang aku..”
__ADS_1
“Aku mau saat dia hadir di dunia ini kamu menjadi orang pertama yang melihatnya selain dokter dan suster. Bisa?”
Tomy terdiam. Jeny sedang memintanya untuk menemani jeny saat bersalin nanti. Jeny juga meminta tomy untuk menjadi penyemangatnya saat dirinya berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan anak mereka.
Tanpa ragu sedikitpun tomy langsung menganggukan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Tomy benar benar merasa jeny memang tidak bisa tanpanya. Dan tomy senang dengan hal itu. Tomy selalu menyukai jeny yang bergantung padanya.
Tomy tertawa pelan saat tiba tiba tanganya seperti ada yang menendangnya dengan keras. Gerakan seperti tendangan itu bahkan terlihat jelas dari perut istrinya yang seperti balon.
“Tuhkan by.. Dede bayinya juga ingin kamu yang menggendongnya. Dia bangga sama kamu.. Sama seperti aku yang bangga sama kamu..” Senyum jeny.
Tomy tidak bisa berkata kata. Tomy bergerak cepat tidak perduli dengan rasa sakit di perutnya. Pria itu kemudian mencium lembut perut besar istrinya. Tomy benar benar merasa sangat bahagia karna sebentar lagi akan hadir sosok mungil di tengah nya dan jeny. Sosok mungil yang akan membuat hidupnya semakin sempurna. Sosok mungil yang akan memberi gelar baru untuknya. Yaitu gelar seorang papah.
“I love you papah..” Kata jeny dengan suara yang di buat buat.
Tomy tertawa pelan mendengarnya. Tomy benar benar tidak menyangka jika jeny adalah tulang rusuknya yang memang sejak kecil dulu sudah melengkapi hidupnya. Tulang rusuk yang di dekatkan oleh takdir untuk kemudian kembali padanya dan membuatnya sempurna menjalani hidup di masa depan.
Siangnya tomy keluar dari kamarnya. Pria itu melangkah pelan dan sesekali meringis ketika merasakan perih di perutnya. Namun tomy tidak ingin memanjakan lukanya. Tomy tidak mau terus membuat istrinya kerepotan hanya untuk mengurusnya. Tomy ingin cepat pulih agar bisa kembali memanjakan istri tercintanya.
“By... Kok kamu keluar sih.. Di dalem aja..”
Tomy mengangkat dan merentangkan kedua tanganya. Bibir tipisnya melengkung indah membentuk bulan sabit memberi isyarat pada jeny agar mendekat dan memeluk tubuh kekarnya.
Jeny yang mengerti dengan maksud suaminya tersenyum. Wanita cantik itu melangkah pelan mendekat pada tomy. Ketika sampai tepat di depan tomy jeny berhenti melangkah. Senyumnya terus mengembang menatap wajah tampan suaminya. Jeny tau tomy ingin memeluk dan memanjakanya. Tapi jeny juga tau luka tomy harus benar benar di perhatikan. Jeny tidak mau luka suaminya mengeluarkan darah lagi sehingga akan memperlambat proses penyembuhanya.
Jeny menyentuh kedua lengan tomy kemudian menurunkanya dengan pelan. Jeny juga ingin memeluk tubuh suaminya. Tapi untuk saat ini kesembuhan suaminya lebih penting. Jeny tidak mau egois dan mementingkan keinginanya.
Setelah menurunkan kedua tangan tomy jeny kemudian meraih kedua pipi tirus suaminya. Wanita itu menangkupnya dengan lembut kemudian menuntun wajah tampan suaminya agar menunduk dan mendekat pada wajahnya.
“Pelukanya nanti saja kalau kamu sudah sembuh suamiku sayang...” Bisiknya kemudian mencium bibir tipis suaminya singkat.
Tomy terdiam sesaat. Berlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Ciuman singkat jeny membuatnya merasa sangat bahagia.
__ADS_1
“Sayang..” Panggilnya dengan kepala terus menunduk karna jeny masih menangkup kedua pipinya.
“Hem..” Saut jeny tersenyum lembut.
“Bisa cium aku sekali lagi?” Tanya tomy penuh harap.
Jeny mengerutkan keningnya menatap suaminya curiga. Jika jeny menuruti kemauan suaminya ciuman itu bukan lagi ciuman singkat. Sementara mereka sekarang berada di balkon. Di tempat terbuka yang bisa saja orang lain melihat apa yang mereka lakukan.
Jeny menghela nafas kemudian melepaskan kedua pipi tirus suaminya. Jeny beralih merapikan rambut berponi suaminya dan tersenyum lebar.
“Lagi nggak ada bonus suamiku.” Katanya.
Tomy langsung cemberut mendengarnya. Padahal pria itu hanya ingin menikmati apa yang selalu menjadi candunya.
“Pelit.”
Jeny hanya tertawa menanggapinya. Jeny meraih lengan tomy kemudian menuntunya menuju kursi panjang. Jeny mendudukan suaminya dengan pelan kemudian mengeluarkan salep yang di berikan dokter axel semalam dari saku dressnya.
Tomy yang mengerti jeny akan mengobati lukanya langsung menyender memasang pasrah.
“Makanya by kalau mau di peluk terus di cium yang lama kamu harus cepet sembuhnya. Jangan ngeyel, jangan bandel, harus nurut sama istri supaya cepat kering lukanya terus sembuh.” Kata jeny sambil mengoles pelan luka tomy dengan salep.
“Ya ya sayang.. Aku nurut, nggak ngeyel, dan nggak bandel.” Balas tomy tersenyum manis.
Jeny mengoles salep tersebut di luka yang di jahit di perut tomy dengan sangat lembut dan telaten. Wanita itu menatap intens luka tersebut memastikan agar olesan salepnya rata ke seluruh bagian luka suaminya.
“Udah...” Senyum jeny.
“Eemm.. By.. Biarkan terbuka dulu ya perutnya setidaknya sampai salepnya mengering. Itu membantu salep ini menyerap dengan cepat supaya cepet sembuh.” Kata jeny kemudian.
“Siap bu dokter.” Balas tomy memberi hormat pada jeny.
__ADS_1
Jeny tertawa pelan melihatnya. Wanita cantik itu kemudian mengecup kening suaminya singkat.
“I love you.” Ungkapnya tulus.