Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 163


__ADS_3

Setelah mengantar anak kecil itu ke bagian security, tomy pun mengajak jeny pulang. Sebelumnya tomy juga sudah membelika beberapa cemilan yang di sukai oleh istrinya seperti takoyaki dan makanan jepang lainya.


“Langsung istirahat ya sayang..” Kata tomy sambil mengecup singkat kening jeny.


Jeny mengerucutkan bibirnya. Jeny ingin tomy menemani tidur siangnya sebentar. Tapi sepertinya pria itu tidak bisa.


“Kamu nggak makan siang dulu?” Tanya nya sendu.


“Nggak sayang. Aku buru buru... Ada janji sama client. Tapi aku janji nanti sebelum jam 5 sore aku udah di rumah..” Senyum tomy.


Jeny menghela nafas. Wanita itu kemudian menganggukan kepalanya. Jeny menyalimi tomy dan turun dari mobil mewah suaminya.


“Pak tolong turunin barang di belakang. Bawa masuk ya pak..” Kata tomy menurunkan kaca mobilnya meminta tolong pada pak satpam.


“Baik pak.” Saut pak satpam dan segera membuka bagasi dan menurunkan semua barang belanjaan jeny.


Jeny tersenyum sambil melambaikan tanganya ketika mobil mewah tomy berlalu. Wanita itu menghela nafas setelah mobil suaminya keluar dari gerbang rumahnya. Jeny berdecak pelan. Jeny menundukan kepalanya dengan tangan mengusap usap lembut perutnya yang sedikit membuncit.


“Padahal mamah pengin bobonya di peluk papah sayang.. Tapi papah kamu sibuk terus...”


Bibi yang berdiri di belakang jeny tersenyum mendengarnya. Jeny memang sangat manja pada tomy akhir akhir ini. Jeny bahkan sering meminta di suapin saat makan oleh suaminya itu.


“Permisi bu...”


Jeny memutar pelan tubuhnya. Wanita cantik itu tersenyum ketika mendapati bibi sudah berada di depanya.


“Ya bi..”


“Eemm... Makan siangnya sudah siap bu..” Senyum bibi.


Jeny terdiam sesaat. Badanya terasa sangat capek dan pegal karna berjalan keliling mall bersama tomy tadi. Dan juga jeny belum merasa lapar siang ini.


“Saya nanti aja makan siangnya bi.. Mau istirahat dulu. Capek banget..” Katanya.


Bibi menganggukan kepalanya mengerti.

__ADS_1


“Baik bu.. Nanti kalau ibu perlu apa apa ibu panggil saya saja atau mbak sisi.”


“Iya bi... Ah iya tadi saya beliin sesuatu buat bibi sama mbak sisi. Yang di paperbag coklat ya bi..” Senyum jeny kemudian berlalu.


Jeny melangkah pelan memasuki rumah. Wanita itu juga berkali kali menghela nafas merasakan capek setelah beberapa jam muter muter mencari baju di mall bersama tomy. Saat menaiki anak tangga juga jeny sesekali berhenti.


Sesampainya di kamar jeny langsung mengganti bajunya. Jeny juga mencuci muka, kaki, serta tanganya sebelum membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Jeny menghela nafas. Tiba tiba jeny kembali teringat pada anak kecil yang di temuinya di mall tadi. Anak kecil itu bernama elo dan mengatakan ibunya bernama sarah.


“Apa mungkin elo memang anaknya kak sarah..” Gumam jeny pelan.


Jeny berdecak pelan. Wanita itu mengubah posisinya menjadi tertidur miring. Wajah anak kecil itu sangat familiar menurut jeny. Jeny seperti mengenal sorot matanya. Mata anak kecil itu terlihat sedikit sipit namun bola matanya begitu besar dan berwarna hitam pekat.


“Kalau memang iya.. Apa mungkin tomy akan kembali dengan kak sarah..” Gumam jeny sedih.


Jeny masih sangat ingat sosok anggun sarah. Dulu suaminya sangat dekat bahkan yang jeny tau tomy juga menyukai sarah. Tomy selalu tersenyum dan bersikap lembut pada sarah layaknya seorang pria bersikap pada kekasihnya.


“Nggak.. Aku nggak boleh negatif thingking begini. Tomy mencintai aku..” Geleng jeny mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Di sisi lain tomy baru saja sampai di cabang perusahaan yang di bangunya baru baru ini. Tomy tersenyum menatap semua karyawan barunya yang tampak sibuk dengan pekerjaanya. Namun meskipun begitu mereka tetap dengan ramah menyapa tomy bahkan berdiri sejenak untuk menghormati tomy.


“Bagaimana rey?” Tanya tomy sambil menatap semua karyawan barunya.


“Semuanya berjalan lancar pak. Saya sudah menempatkan mereka sesuai dengan keahlian mereka.” Jawab reyhan yang berdiri di samping tomy.


“Bagaimana dengan bagian yang lainya, Bagian HRD misalnya?” Tanya tomy lagi.


Reyhan terdiam sesaat. Pria berjambul itu menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan bos besarnya.


“Untuk staff yang penting penting saat di perusahaan pak lorenzo saya tidak mengizinkanya untuk ikut interview pak.” Jawab reyhan pelan.


“Kenapa?” Tanya tomy menoleh dan mengeryit menatap reyhan bingung.


“Saya khawatir mereka akan membawa pengaruh buruk pak di perusahaan ini. Karna mereka juga adalah orang orang yang merencanakan penjualan licik dengan pak lorenzo.” Jawab reyhan.

__ADS_1


Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu faham dan mengerti dengan alasan yang di lontarkan oleh asistenya.


“Oh iya pak, apa pak tomy sudah tau tentang kepulangan mbak rachel ke amsterdam?” Tanya reyhan kemudian.


Tomy terdiam sesaat. Jika memang rachel benar benar pulang ke amsterdam, tomy berharap rachel tidak lagi ke indonesia. Tomy tidak mau wanita itu kembali mengacaukan hubunganya dengan jeny.


“Ya saya tau. Rachel bahkan sempat pamit pada saya dan jeny.”


Reyhan menganggukan kepalanya. Tidak berbeda dengan tomy, reyhan juga berhadap wanita itu tidak lagi mengganggu hubungan tomy dan jeny. Karna itu akan sangat merepotkan untuknya dengan menambah pekerjaanya mengawasi.


“Ya sudah kalau begitu saya pergi sekarang. Kamu awasi mereka dengan benar. Pastikan tidak ada satupun karyawan kepercayaan lorenzo yang ikut masuk ke perusahaan ini.” Kata tomy.


“Baik pak.”


Setelah reyhan menjawab tomy pun berlalu. Pria itu melangkah dengan lebar dan keluar dari gedung cabang perusahaan barunya.


Ketika tomy hendak membuka pintu mobilnya tiba tiba tomy terdiam. Tomy menatap lurus ke arah jalanan dimana elo sedang berjalan dan hendak menyebrang dengan seorang wanita yang sangat tomy kenal.


“Sarah...” Gumam tomy.


Tomy menatap tidak percaya pada sosok sarah yang di kenalnya sejak di universitas dulu. Tomy tidak menyangka jika yang di tolongnya tadi adalah anak sarah.


“Om tomy !!”


Tomy menelan ludahnya. Elo memanggilnya. Anak kecil itu pasti akan mengatakan bahwa jeny dan tomy yang menolongnya tadi pada sarah.


Tomy berdiri diam di samping mobilnya. Pria itu ingin berlalu tapi tidak mungkin karna elo sedang berlari ke arahnya dengan semangat. Anak kecil itu bahkan tersenyum sambil berlari menarik sarah yang tampak kewalahan mengimbangi langkah cepatnya.


“Ayo mamah cepetan.. Itu ada om tomy..” Katanya terus menarik tangan sarah.


“Sabar nak.. Jangan lari lari nanti jatuh..” Titah sarah pada putra kecilnya.


Setelah sampai di depan tomy elo langsung berhenti. Dengan nafas tersengal serta peluh membasahi keningnya anak kecil itu tersenyum pada tomy.


“Om tomy.. Ini mamah elo..”

__ADS_1


__ADS_2