
Dalam perjalanan menuju rumahnya dokter axel tidak berhenti meneteskan air matanya. Bohong jika pria tampan itu tidak merasa kehilangan akan kepergian putrinya. Bohong jika pria itu tidak sedih dan menangis. Karna seikhlas dan selapang apapun dadanya menerima, dokter axel tetap manusia biasa yang akan menangis jika kehilangan orang yang sangat di cintainya.
“Ya tuhan...” Gumam dokter axel mengurangi kecepatan laju mobilnya.
Tiba tiba bayangan senyum fani membayanginya. Tidak mau sesuatu yang buruk terjadi dokter axel pun menghentikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi itu.
Dokter axel menghela nafas. Semuanya terasa sangat berat. Dokter axel ingin fani selalu ada bersamanya. Namun di sisi lain dokter axel tidak ingin putrinya terus merasakan sakit. Fani sudah cukup menderita karna penyakitnya. Dan fani juga sudah cukup menderita karna mengharap kasih sayang dari ibu kandungnya.
“Nak.. Maafkan papah.. Papah nggak bisa bahagiain kamu..” Lirih dokter axel menangis.
Kini penderitaan fani telah hilang. Tapi bersamaan dengan itu dokter axel pun merasa separuh dari hidupnya hilang. Dokter axel juga merasa gagal karna tidak berhasil menyembuhkan putrinya hingga akhirnya harus menyerah dengan keadaan.
“Ya tuhan.. Berikan tempat terindah untuk putri hamba tuhan.. Hamba sangat menyayanginya. Hamba sangat mencintainya. Maafkan hamba karna tidak bisa membuatnya bahagia. Maafkan hamba karna tidak bisa menjaganya dengan baik.” Lirih dokter axel menangis tersedu.
Dokter axel menahan nafas dengan kedua mata tertutup kemudian menghembuskanya kasar. Andai waktu bisa terulang kembali dokter axel pasti akan mengaku siapa dirinya pada fani dari awal. Dengan begitu gadis kecil itu pasti tidak akan mengharap kasih sayang leo yang memang bukan orang tua kandungnya.
Dokter axel tersenyum dalam tangisnya. Fani tidak egois seperti angel. Dan dokter axel yakin jika saja fani memiliki umur panjang fani pasti akan sebaik jeny. Wanita yang dengan segala kerendahan hatinya mau mengakui fani sebagai anaknya.
“Jadi dokter papah aku?”
Ucapan antusias fani ketika dokter axel mengakui siapa dirinya kembali terngiang di telinga dokter axel. Senyuman manis gadis kecil itu bahkan kembali membayangi penglihatan dokter axel. Saat itu fani sangat senang mendengarnya. Fani tidak marah tidak juga memberontak. Gadis kecil itu menerima axel dengan suka cita. Bahkan fani langsung bersikap manja dan mencurahkan semua isi hatinya layaknya anak kecil pada umumnya pada sang papah.
Air mata dokter axel semakin deras mengalir mengingat moment itu. Moment dimana fani tau siapa sebenarnya dokter axel di sisa hidupnya.
Dokter axel menyeka air matanya. Fani adalah kekuatanya. Fani juga semangat hidupnya. Dan fani adalah harapan terbesarnya. Tapi sekarang tuhan telah mengambil fani darinya. Dan tuhan juga telah mengakhiri kehidupan dunia yang sangat menyakitkan untuk gadis kecilnya.
“Tuhan.. Hamba tau ini yang terbaik.”
__ADS_1
Dokter axel tidak ingin marah pada siapapun. Dia yakin apa yang terjadi memang sudah takdir. Sekuat apapun dirinya berusaha tapi jika tuhan tidak menghendaki kesembuhan fani dokter axel tidak bisa berbuat apa apa. Tapi satu yang dokter tampan itu yakin, tuhan menyayangi putrinya.
Dokter axel kembali menahan nafas dan kemudian menghembuskanya pelan. Dokter tampan itu berusaha menahan semuanya. Menahan segala sesuatu yang membuatnya merasa benci juga kecewa. Satu yang menjadi keyakinanya saat ini. Fani akan bahagia di pangkuan sang pencipta. Gadis itu tidak berdosa, gadis itu juga anak yang baik dan penurut. Tuhan pasti sangat menyayanginya sehingga mengambilnya dari pangkuan dokter axel.
“Aku nggak boleh lemah.. Aku harus kuat.” Gumam dokter axel.
Sekali lagi dokter menghela nafas. Pria tampan itu kemudian tersenyum dan menyeka air mata yang membasahi pipinya. Putrinya sudah terbebas dari rasa sakitnya. Dan putrinya juga sudah bahagia dengan kehidupan abadinya di sisi tuhan.
Di tempat lain tepatnya di kediaman tomy dan jeny. Suasana duka masih sangat terasa di rumah megah itu. Bendera kuning yang terpasang di gerbang tinggi menjulang berwarna hitam itu membuat jeny terus berdiri diambang pintu betah menatapnya.
“Sayang..” Tomy memeluk mesra tubuh jeny dari belakang.
Tomy tau apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya. Karna sebenarnya apa yang di rasakan wanita itu juga sedang di rasakan oleh tomy. Mereka berdua sama sama sangat kehilangan fani. Gadis kecil yang sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri.
“Kenapa nggak tidur hem?” Tanya tomy lembut.
“By.. Tadi siang fani masih sama aku.. Dia masih tersenyum saat aku dandani.. Dia juga masih lancar berbicara saat aku puji..” Kata jeny dengan suara bergetar.
Tomy menganggukan kepalanya. Pelukanya semakin erat pada tubuh sintal jeny yang bergetar menahan tangisnya.
“Dia masih tersenyum sama aku by.. Dia bahkan masih lancar memanggil aku mamah..”
Air mata tomy kembali menetes. Tubuh tegapnya ikut bergetar. Kepergian fani memang sangat tiba tiba. Gadis itu bahkan terlihat begitu sehat ketika meminta untuk bermain salon salonan bersama jeny.
“Dia.. Dia masih... Ya tuhan... Hiks hiks hiks.. Fani..”
Tangis jeny pecah. Wanita itu tidak bisa menahan kesedihanya. Wanita itu juga tidak bisa bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa apa. Jeny sudah sangat lama mengenal gadis kecil itu. Jeny juga sudah sangat menyayanginya seperti layaknya putrinya sendiri.
__ADS_1
“Aku tau sayang.. Tapi kita harus ikhlas.. Kita harus menerima garis takdir yang sudah di tetapkan tuhan.. Kita tidak bisa melakukan apapun. Tuhan lebih menyayanginya.” Lirih tomy mencium bahu bergetar istrinya.
Jeny menangis terisak. Wanita itu tidak pernah menyangka jika tuhan akan begitu cepat mengambil fani darinya.
“Jangan seperti ini sayang... Fani akan sedih kalau melihat kamu begini.. Kamu tau? mungkin sekarang fani masih disini. Dia sedang melihat mamah terhebatnya. Dan dia akan ikut sedih jika kamu sedih.. Ikhlaskan sayang.. Fani sudah tidak akan lagi menderita.”
Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu melepaskan pelukan tomy kemudian memutar tubuhnya dan kembali memeluk erat tubuh tegap suaminya erat.
“Saya mohon pak biarkan saya masuk. Biarkan saya memeriksakan anak saya.”
Suara ribut dari arah gerbang membuat jeny melepaskan pelukanya. Wanita itu menoleh dan menemukan seorang pria baya yang sedang menggendong anaknya yang terlelap di punggung.
“Pak saya minta maaf... Tapi saat ini dokter jeny sedang berduka dan tidak bisa menerima pasien.” Ujar pak satpam yang menolak untuk membukakan gerbang.
Mendengar ucapan pak satpam pria baya itu menangis. Dia terus memohon agar bisa bertemu dengan jeny dan memeriksakan keadaan anak yang berada di punggungnya.
“Sayang...” Panggil tomy pelan.
“Aku harus memeriksa anak kecil itu.” Kata jeny sambil menyeka air matanya.
Tomy menggelengkan kepalanya. Kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk jeny menerima pasien saat ini.
“Sayang tapi..”
“By.. Anak itu butuh pertolongan. Biarkan aku memeriksa keadaanya.” Sela jeny menatap tomy.
Tomy terdiam. Istrinya memang wanita yang sangat baik. Jeny sangat ringan tangan membantu sesama dalam keadaan apapun.
__ADS_1
“Pak satpam buka gerbangnya dan biarkan bapak itu masuk !”