
“Jadi apa yang mau kamu bicarakan nak? Kenapa dengan faraz? kenapa dengan cucu mamah..”
Tomy mengurangi kecepatan laju mobilnya. Tomy terpaksa berbohong pada sang mamah dengan mengatakan bahwa dirinya ingin membicarakan tentang faraz putranya.
“Maaf mah..”
Mamah tomy mengeryit kemudian menoleh pada putra sulungnya yang sedang mengemudikan mobilnya.
“Maaf? Maaf untuk apa?” Tanya mamah tomy merasa kebingungan.
Tomy menghela nafas.
“Tomy terpaksa berbohong sama mamah. Sebenarnya bukan tentang faraz yang ingin tomy bicarakan sama mamah. Tapi tentang susan.” Katanya menjawab.
Mamah tomy semakin merasa bingung dengan jawaban putranya. Tidak biasanya tomy berbohong padanya.
“Kenapa dengan susan? Apa ada masalah? Atau susan membuat masalah?” Tanya mamah tomy.
Tomy terdiam sesaat. Mamahnya pasti akan kebingungan jika tomy mengatakanya. Tapi jika tomy tidak mengatakanya bisa saja maria membuat onar diam diam dalam keluarganya.
“Aku curiga susan bukan susan yang sebenarnya.” Jawab tomy.
Mamah tomy tertawa mendengarnya. Wanita itu mengira putranya sedang membuat sebuah lelucon.
“Ada ada aja kamu nak. Susan ya susan, adik kamu. Bungsunya mamah. Harusnya kamu seneng dong susan sudah mau mengakui mamah seperti dulu lagi.”
Tomy menggelengkan kepalanya. Mamahnya mungkin tidak akan mengerti dengan maksudnya.
“Aku serius mah.. Jadi aku minta sama mamah untuk lebih hati hati. Jangan pertemukan susan dengan papah dulu.”
“Nak tapi..”
“Mah tolong kerja samanya yah.. Tomy sedang berusaha menyelidiki semuanya. Tolong mamah jangan pernah pertemukan susan dengan papah sebelum semuanya jelas.” Sela tomy pelan.
Mamah tomy menelan ludahnya. Susan yang dulu dengan susan yang sekarang memang sangat berbeda. Susan dulu sangat manis. Tidak seperti susan sekarang yang begitu angkuh, kasar, juga berani pada siapapun.
__ADS_1
“Kenapa tidak melakukan tes DNA saja supaya cepat?”
Tomy menghentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Kalau susan palsu tidak membahayakan mungkin masalahnya tidak serumit itu. Tomy tidak perlu menyewa rolan dan rio untuk menyelidiki ke london. Tomy juga tidak perlu khawatir susan palsu akan membahayakan papahnya.
“Masalahnya nggak sesimple itu mah.. Tomy harus benar benar hati hati.”
“Kalau susan yang disini bukan susan yang sebenarnya lalu dimana susan anak mamah? Dimana bungsunya mamah, tomy?”
Kedua mata mamah tomy berkaca kaca saat bertanya. Wanita itu merasakan hatinya hancur mendengar bahwa yang ada di dekatnya bukanlah putri bungsunya melainkan orang lain. Apa lagi jika melihat rupa dan postur tubuhnya yang memang benar benar menyerupai susan putrinya. Rasanya sangat tidak percaya.
“Mamah nggak perlu khawatir. Tomy sedang mengusahakanya. Yang perlu mamah lakukan hanya berpura pura tidak tau saja. Dan jangan pernah pertemukan papah dengan susan.”
“Bagaimana kalau tiba tiba susan datang ke rumah? Apa yang harus mamah lakukan?” Tanya mamah tomy dengan suara lirihnya.
Tomy menghela nafas. Susan mungkin memang akan nekat. Tapi jika dirinya terus mengawasinya semua pergerakan wanita itu pasti dapat dengan mudah tomy cegah.
“Mamah nggak perlu takut. Mamah hanya harus tenang. Percaya sama tomy, semuanya akan baik baik saja.”
“Lalu bagaimana dengan susan anak mamah? Apa dia juga akan baik baik saja? Apa mamah bisa bertemu dan memeluknya lagi seperti dulu?”
“Tomy bagaimana susan yang sebenarnya? Apa dia baik baik saja sekarang? Dan dimana dia sekarang? Dimana putri mamah?”
Tomy menelan ludahnya. Tomy juga sangat menyayangi adik satu satunya itu. Dan tomy tidak mau sesuatu yang buruk menimpanya. Tapi mengingat sampai saat ini rolan dan rio belum lagi melapor padanya tomy tidak bisa menjawab pertanyaan mamahnya.
“Mah.. Kita berdo'a saja. Semoga susan selalu dalam lindungan tuhan..” Lirih tomy.
Sementara itu jeny tampak gelisah karna sampai lewat waktunya makan siang tomy belum juga pulang. Padahal biasanya pria itu selalu pulang untuk makan siang bersama.
“Apa dia sibuk?” Gumam jeny lirih.
Jeny menatap hidangan makan siang yang sudah mulai dingin di depanya. Waktu makan siang sudah terlewat sampai setengah jam. Dan ponsel tomy juga sangat susah di hubungi. Entah sedang apa prianya saat ini.
Jeny menghela nafas. Suaminya sedang dalam keadaan tidak baik baik saja hatinya. Meskipun memang tomy selalu terlihat baik baik saja tetapi sebenarnya tomy sedang merasa sangat kacau karna ulah wanita yang mengaku sebagai susan saat ini. Entah apa tujuan wanita itu jeny dan tomy sendiri belum tau.
“Bu..”
__ADS_1
Jeny menoleh saat mendengar suara bibi. Seulas senyum jeny ukir untuk wanita tua berbadan kurus yang sudah berjasa padanya dan tomy.
“Ya bi.. Kenapa?” Tanya jeny pada bibi.
“Tadi pagi di pasar saya bertemu dengan orang orang yang biasa berobat sama ibu dulu.. Mereka menanyakan kapan ibu membuka kembali klinik gratisnya. Mereka juga mengatakan sangat cocok berobat sama ibu..”
Senyum di bibir jeny memudar mendengarnya. Jeny belum memikirkan kapan dirinya akan membuka kembali kliniknya. Selain dirinya dan tomy yang sedang menghadapi masalah tentang susan, faraz juga masih sangat kecil dan sangat membutuhkan perhatian penuh dari jeny.
“Eemm.. Untuk itu saya belum tau bi.. Belum kepikiran lagi buat buka kliniknya.” Senyum jeny tipis.
Bibi menganggukan kepalanya. Bibi tau jeny sangat tidak mau melewatkan sedetikpun mengurus putranya. Selain itu jeny dan tomy juga sedang di landa masalah karna kehadiran susan adiknya.
“Ya sudah kalau begitu bu.. Bibi permisi kebelakang lagi.” Angguk bibi.
“Iya bi..” Balas jeny tersenyum tipis.
Jeny menghela nafas setelah bibi berlalu. Memberikan pengobatan gratis pada mereka yang membutuhkan adalah keinginan terbesar jeny. Selain bisa membantu, jeny juga merasa bahagia karna dapat melihat orang orang yang sakit sembuh setelah berobat padanya. Tapi jeny juga tidak bisa egois dengan mengutamakan keinginanya dan mengabaikan tumbuh kembang putranya yang tentunya sangat membutuhkan waktu dan perhatian penuh darinya.
Tin tiiinn..
Suara klakson mobil tomy membuat jeny tersentak. Wanita cantik itu bangkit dari duduknya di kursi kemudian melangkah cepat menuju pintu utama rumahnya berniat menyambut kepulangan suami tercintanya.
Ketika sampai di ambang pintu rumahnya senyum jeny semakin lebar melihat suami dan mamah mertuanya turun dari mobil secara bersamaan.
“Mamah..” Senang jeny tersenyum.
Jeny langsung mendekat pada suami dan mamah mertuanya. Jeny menyalimi tomy dan mamahnya bergantian kemudian memposisikan dirinya di samping tomy.
“Papah nggak ikut mah?” Tanya jeny tersenyum.
“Nggak sayang. Kebetulan mamah memang keluar nggak sama papah.. Dan kebetulan juga mamah ketemu sama tomy jadi sekalian mampir kesini. Kamu gimana kabarnya sayang?”
“Jeny baik mah..” Senyum manis jeny menjawab.
Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu tau suami dan mamah mertuanya pasti belum makan siang.
__ADS_1
“Oh iya by, mah.. Makan siangnya sudah siap dari tadi. Ayo kita makan siang sama sama.” Ajaknya.