
Jeny tersenyum senang karna ternyata tomy tidak menolak keinginanya. Meskipun pria itu sedikit kekanak kanakan dengan berbagai aturan konyolnya.
Malam menjelang.
Jeny baru selesai membersihkan dirinya. Wanita cantik berambut lurus itu berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
Jeny merasa hidupnya damai sekarang. Tidak ada lagi rasa kecewa juga benci yang menghantui hatinya. Dan jeny merasa mungkin itu adalah dampak positif dari hatinya yang mulai lapang dan mau menerima kehadiran tomy di sisinya.
Tatapan jeny terarah pada perut ratanya. Di singkapnya kaos oblong berwarna biru yang di gunakanya sedikit di bagian perutnya. Mungkin memang semuanya akan terasa mudah jika jeny mau berdamai dengan perasaanya sendiri. Apa lagi sekarang benih tomy telah tumbuh di dalam dirinya dengan subur.
“Nggak perduli bagaimanapun cara papah kamu menitipkan kamu di dalam diri mamah.. Mamah akan tetap mencintai dan menyayangi kamu sayang.” Lirih jeny mengusap lembut perut putih bersihnya.
Jeny sangat berharap kehadiran janin dalam kandunganya mampu membawa kebahagiaan baginya juga bagi tomy.
Suara ketukan pintu membuat jeny menoleh. Wanita itu memang selalu mengunci pintu kamarnya jika sedang mandi. Jeny takut sesuatu yang memalukan itu terjadi lagi. Jeny tidak mau tomy melihatnya dalam keadaan polos seperti pagi itu.
Jeny beranjak dari depan cermin dan melangkah pelan menuju pintu kamar untuk membukanya.
“Bibi..”
Jeny mengeryit ketika mendapati bibi berdiri di depan pintu kamarnya.
“Bu di bawah ada pak lorenzo.”
Jeny terdiam. Pria itu sepertinya benar benar tidak bisa menerima jeny menjauhinya.
Jeny menghela nafas dan memejamkan sebentar kedua matanya. Mungkin jeny memang harus memperjelas semuanya pada lorenzo agar lorenzo berhenti mengejarnya.
“Ya bi. Saya turun.”
Jeny melangkah lebih dulu dari bibi. Mereka berdua menuruni anak tangga dengan bibi yang berada di belakang jeny.
“Eemm.. Bi, tolong bikinin minum yah..” Senyum jeny ketika sudah sampai di lantai bawah rumahnya.
“Baik bu..” Angguk bibi kemudian melangkah menuju dapur meninggalkan jeny di depan anak tangga.
Sekali lagi jeny menghela nafas. Lorenzo pasti sudah resah menunggunya di ruang tamu. Jeny melangkah menuju ruang tamu untuk menemui lorenzo. Meskipun mungkin nanti tomy akan marah tetapi jeny akan berusaha menjelaskan maksudnya menemui pria bermata sipit itu.
“Jen...”
__ADS_1
Lorenzo langsung bangkit berdiri dari duduknya ketika jeny muncul. Pria itu menatap jeny dengan tatapan tidak terbacanya.
“Duduk kak..” Senyum jeny mempersilahkan lorenzo untuk duduk kembali.
Lorenzo mengangguk. Pria itu kemudian mendudukan lagi dirinya di sofa panjang di ruang tamu.
Jeny mendudukan dirinya di sofa seberang lorenzo. Wanita cantik dengan rambut basah tergerai itu menatap tenang lorenzo menunggu pria itu memulai pembicaraan terlebih dulu.
“Jen.. Aku nggak mau kita seperti ini.. Tolong jangan jauhi aku..”
Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny tidak bermaksud menjauh. Jeny hanya tidak ingin terlalu dekat dengan pria itu demi hubungan baiknya dengan tomy. Juga demi anak dalam kandunganya.
“Kak.. Aku nggak menjauh. Aku hanya ingin bersikap sewajarnya sama kakak. Aku sangat berterimakasih atas semua kebaikan kakak sama aku. Kakak selalu ada buat aku, menghibur aku, bahkan menjaga aku. Tapi kak.. Kita nggak bisa selalu dekat seperti dulu.. Maaf kalau aku terkesan memanfaatkan kakak.. Tapi aku bener bener nggak bermaksud seperti itu..”
Lorenzo menggelengkan kepalanya. Semua nya akan sia sia jika jeny akhirnya menjauh darinya.
“Jen.. Aku yakin kamu tau perasaan aku ke kamu.. Bukan tanpa sebab aku selalu ada buat kamu..” Ujar lorenzo sedih.
Jeny terdiam. Awalnya jeny memang merasa biasa saja dengan sikap lorenzo. Tapi setelah dirinya selalu mencoba menghindar akhirnya jeny tau.
“Karna aku tau makanya aku tidak bisa selalu dekat dengan kakak. Aku istri tomy kak. Bagaimanapun tomy aku tetaplah istrinya. Aku hanya ingin mencoba menjaga apa yang sudah aku miliki.”
“Tapi kamu tidak mencintainya jen.. Kamu hanya menganggap tomy sebagai sahabat. Dan rasa kehilangan kamu dulu itu hanya karna kamu merasa tidak biasa tanpa tomy..” Sela lorenzo.
“Tomy suami aku kak.. Dan aku mau belajar untuk mencintai dia.” Tegas jeny.
Lorenzo menelan ludahnya. Ucapan tegas jeny seolah tidak bisa di bantah.
“Lalu bagaimana dengan perasaan aku? Bagaimana dengan hati aku?” Tanya lorenzo.
Jeny terdiam. Jeny tidak memyangka jika kedekatanya telah di salah artikan oleh lorenzo. Dulu jeny memang sangat mengagumi lorenzo. Namun setelah tomy pergi semua rasa itu hilang entah kemana. Jeny tidak lagi mempunyai perasaan apapun pada lorenzo.
“Apa maksud kakak?” Tanya balik jeny.
“Aku mincintai kamu.” Kata lorenzo pelan.
Jeny menutup kedua matanya sesaat. Lorenzo sudah begitu sangat baik padanya.
“Aku pulang...”
__ADS_1
Jeny menolehkan kepalanya ke arah pintu dimana tomy berdiri dengan senyuman manis yang terukir di bibir tipisnya. Pria itu masih sangat rapi dengan penampilan formalnya.
Jeny bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekat pada tomy. Wanita itu mengulurkan tanganya yang langsung di sambut oleh tomy. Jeny menyalimi tomy dengan senyum manis yang terukir di bibir nya.
Tomy melirik sekilas pada lorenzo yang hanya diam di tempatnya. Pria itu merasa sangat senang dengan apa yang di dengarnya tadi tentang jeny yang mau belajar untuk mencintainya.
“Lagi ada tamu yah?” Tanya tomy lembut.
Jeny menatap tomy. Pria itu tetap tersenyum dan sama sekali tidak menunjukan rasa kesalnya.
“Kak lorenzo datang untuk berkunjung.” Kata jeny tersenyum tipis.
Tomy menganggukan pelan kepalanya. Hatinya benar benar berbunga bunga mendengar apa yang di katakan jeny dengan tegas pada lorenzo tadi. Tomy percaya jika jeny sudah bertekad siapapun tidak akan mampu menggoyahkan keyakinanya.
Di liriknya lagi lorenzo yang sama sekali tidak menoleh padanya. Tomy bisa melihat dengan jelas rahang pria itu mengeras. Tomy tau lorenzo sedang menahan kekesalanya.
“Ya udah sayang.. Aku bersih bersih dulu yah..” Senyum tomy mengusap lembut pipi chuby jeny.
Meskipun bingung namun jeny tetap menganggukan kepalanya. Rasanya sangat aneh melihat respon tomy yang begitu santai meskipun tau lorenzo sedang berada di rumahnya.
Cup
Satu kecupan singkat tomy daratkan di kening jeny sebelum berlalu masuk ke dalam meninggalkan jeny yang masih berdiri di depan pintu utama rumahnya dengan perasaan bingung.
Jeny pikir tomy akan murka lalu berteriak marah atau mungkin akan langsung menerjang lorenzo mengingat tomy yang sangat membenci lorenzo. Tapi nyatanya pria tampan itu malah tersenyum dengan wajah berseri meskipun melihat kehadiran lorenzo.
Lorenzo yang melihat kemesraan tomy pada jeny berdecak. Tomy sedang menunjukan kepemilikanya atas jeny di depan matanya.
Merasa jengah lorenzo pun bangkit berdiri. Lorenzo menghampiri jeny yang masih diam di depan pintu setelah di cium oleh tomy.
“Aku pulang yah.. Kita lanjut lain waktu.” Kata lorenzo.
“Semuanya sudah jelas kak. Nggak ada lagi lain waktu. Aku harap kakak ngerti. Lagi pula aku juga sedang hamil.” Balas jeny cepat.
Lorenzo terpaku mendengarnya. Pria itu tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
“Hamil?” Tanya nya lirih.
“Ya kak. Aku harap kakak bisa mengerti. Dan semoga kakak bisa mendapatkan wanita yang mencintai kakak..”
__ADS_1
Rahang lorenzo semakin mengeras. Tanpa berkata sepatah katapun lorenzo berlalu dari hadapan jeny. Pria itu melangkah cepat menuju mobilnya dan berlalu dengan kecepatan maximal. Lorenzo bahkan mengklakson mobilnya beberapa kali tidak sabar saat pak satpam sedang membukakan pintu gerbang.
Melihat itu jeny hanya mampu menghela nafas. Mungkin apa yang di katakanya menyakitkan bagi lorenzo. Tapi jeny yakin semua itu memang yang terbaik untuk nya, untuk tomy, juga untuk lorenzo.