
Esoknya jeny mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Wanita cantik itu hendak bangkit dari berbaringnya namun tiba tiba meringis merasakan sakit di kepalanya. Jeny kembali memejamkan kedua matanya sesaat kemudian menghela nafas pelan. Jeny berusaha meredam rasa sakit yang di rasakanya.
“Kamu udah bangun sayang?”
Jeny menoleh ke sumber suara dimana tomy berdiri dengan baju santainya. Jeny mengeryit. Tomy tidak seperti biasanya yang selalu rapi setiap pagi dengan setelan formalnya.
“Kamu nggak ke kantor?” Tanya jeny pelan.
Tomy tersenyum. Pria tampan itu kemudian melangkah mendekat pada jeny. Tomy mendudukan dirinya di tepi ranjang tepat di samping tubuh jeny.
“Aku mau temenin kamu jenguk fani.” Senyum tomy menatap wajah bantal jeny.
Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny hampir saja melupakan fani yang juga sedang sakit karnanya dan tomy. Pelan pelan jeny bangkit dari berbaringnya. Wanita itu berusaha bersikap seperti tidak merasakan apapun di kepalanya.
“Aku mandi dulu.” Katanya.
Tomy mengangguk. Tomy tau dengan menjenguk fani mood jeny akan kembali bagus. Meskipun mungkin jeny memang belum bisa benar benar memaafkanya tetapi setidaknya wanita itu tidak mendiamkanya seperti semalam.
“Aku tunggu disini.” Balas tomy.
Jeny mengangguk. Wanita cantik itu kemudian turun dari ranjang king zise mereka dan melangkah menuju kamar mandi meninggalkan tomy yang terus tersenyum menatap punggungnya.
Tomy menghela nafas. Di diamkan oleh jeny rasanya sangat tidak enak.
Sekitar 30 menit menunggu di meja makan akhirnya jeny turun dari lantai 2. Dengan penampilan cantik seperti pagi biasanya jeny melangkah menghampiri tomy yang duduk di kursi di meja makan.
Tomy mengeryit ketika mendapati istrinya yang menenteng jas putihnya di lengan kiri terbukanya.
“Sayang kamu mau kerja?” Tanya tomy.
Jeny menganggukan kepala dengan senyuman manis di bibirnya.
“Aku akan bosan jika hanya diam di rumah.” Jawabnya.
Tomy berdecak. Jujur tomy merasa sedikit tersinggung dengan ucapan jeny. Tomy sengaja tidak bekerja hari ini demi untuk bisa menemaninya istrinya di rumah agar tidak bosan. Tapi nyatanya wanitanya tetap bekerja padahal kondisinya masih belum fit. Dan tomy merasa jeny tidak menghargai niat baiknya.
“Kamu nggak menghargai aku jeny.” Katanya.
__ADS_1
Mendengar itu jeny tersenyum. Niatnya bukan seperti itu. Jeny hanya merasa akan lebih leluasa menjenguk fani jika mengenakan jas dokternya.
“By.. Kamu bisa temani aku di rumah sakit.” Balasnya.
Tomy melengos. Demi jeny tomy sampai mengundur pertemuanya dengan client. Tomy juga sampai membatalkan rapat pagi ini dan menyuruh reyhan untuk menghendle semuanya.
“Untuk apa? Kamu tetap kerja? Dan pada akhirnya kamu akan kecapek an lagi. Terus sakit lagi? Kamu mikirin diri kamu nggak sih jen?”
Nada suara tomy berbeda kali ini. Dan itu berhasil membuat senyuman di bibir jeny pudar. Jeny tidak menyangka tomy bisa se sensitif itu.
“By aku..”
“Sudahlah terserah kamu saja.” Sela tomy bangkit dari duduknya kemudian melangkah meninggalkan jeny keluar dari rumahnya.
Jeny menghela nafas. Tomy tidak biasanya seperti itu. Padahal jika di pikir jeny saja belum memaafkan pria itu. Tapi pagi ini tomy malah marah marah padanya hanya karna jeny ingin bekerja.
Jeny menghela nafas kemudian memejamkan kedua matanya sesaat sebelum membukanya kembali.
“Bu..”
“Kenapa mbak?” Tanya jeny dengan senyuman di bibirnya.
Jeny memang sedang ada masalah dengan suaminya. Jeny juga merasa hatinya sedang tidak karuan. Tetapi bagaimanapun juga jeny harus bisa menutupi semua itu dari siapapun.
“Ini bu saya sudah potongin buah untuk ibu..” Jawab sisi sambil menyodorkan kotak makan yang di pegangnya pada jeny.
Jeny tersenyum dan menerima kotak makan tersebut.
“Makasih yah..” Katanya.
“Sama sama bu..” Angguk sisi dengan senyuman di bibirnya.
Jeny tersenyum menatap kotak makan tersebut kemudian beralih menatap segelas susu hangat yang berada di atas meja.
“Mbak, ini juga kamu yang buat?” Tanya jeny pada sisi.
Sisi menatap segelas susu yang di maksud jeny kemudian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Tidak bu.. Itu bapak yang buat.” Jawabnya.
Jeny menghela nafas. Tomy memang tidak pernah telat membuatkan susu hangat untuknya setelah mengetahui kehamilanya.
Jeny mengusap perutnya yang masih rata. Jeny yakin tomy akan sangat menyayangi anaknya nanti.
Jeny meraih segelas susu hangat tersebut kemudian mengenggaknya sampai habis tak tersisa. Setelah itu jeny kembali meletakan gelas yang sudah kosong itu di atas meja. Jeny juga meraih 2 lembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang kesukaan suaminya. Di lihat dari rapinya hidangan di depanya juga toples selai yang masih tertutup rapat jeny tau suaminya juga pasti belum sarapan.
“Kalau begitu saya berangkat yah..” Senyumnya menatap sisi kemudian berlalu dengan membawa kotak makan juga setangkup roti selai kacang di tanganya.
Ketika sampai di ambang pintu utama rumahnya jeny tersenyum melihat tomy yang sedang memanasi mobilnya. Meskipun sedang marah tapi pria itu tetap mau menunggunya.
Jeny melangkah mendekat kemudian masuk ke dalam mobil dimana tomy sedang menunggunya. Jeny duduk tepat di samping tomy. Wanita itu langsung sibuk meletakan semua yang di bawanya di kursi belakang namun tidak dengan roti selai kacang yang di bawanya.
Tomy yang berada di kursi kemudi hanya diam saja meskipun sempat melirik jeny sekilas. Jeny benar benar sangat keras kepala dan tidak memikirkan kondisinya juga anak dalam kandunganya.
“By.. Aku bawa roti selai kacang. Kamu mau?” Tanya jeny menawarkan.
“Enggak.” Jawab tomy singkat dengan pandangan lurus ke depan.
“Ini aku yang buat loh by.. Kamu kan juga belum sarapan. Kita makan berdua roti ini.” Senyum jeny tetap tidak menyerah menawarkan rotinya pada tomy.
“Aku bilang enggak ya enggak.” Kesal tomy melengos.
Sedetik setelah tomy mengatakan tidak suara kemrucuk di perutnya terdengar. Tomy meringis. Padahal dirinya sedang ngambek pada istrinya tapi perutnya malah tidak mau bekerja sama denganya.
“Tuh.. Perutnya minta di isi by.. Makan yah.. Aku suapin deh..” Senyum jeny.
Tomy berdecak. Sudah kepalang basah kelaparan akhirnya dengan sangat terpaksa tomy menerima suapan dari istrinya. Meskipun wajah tampanya tetap terlihat tidak bersahabat dan menolak langsung menatap kedua mata indah jeny.
“Gimana rasanya? Enak nggak?” Tanya jeny.
“Biasa aja.” Jawab tomy cuek.
Jeny menggelengkan kepalanya dengan senyuman geli yang terukir di bibirnya. Tomy sangat lucu saat sedang seperti itu. Meskipun merasa gengsi namun pria tampan itu tetap mau membuka mulut menerima suapan darinya.
Tomy menghela nafas. Pria itu membunyikan klakson memberitahu pak satpam agar segera membukakan pintu gerbang untuknya yang sudah mulai melaju pelan di halaman luas rumahnya.
__ADS_1