
Jeny menatap ngeri orang orang berkendara motor yang ada di belakang mobil tomy yang sedang di tumpanginya menuju tempat senam. Wanita itu menelan ludahnya melihat tatapan tajam 4 orang body guard suruhan suaminya. Tomy benar benar mengutus beberapa body guard untuk menjaganya. Padahal jika di pikir lagi jeny tidak kemanapun. Keamananya pasti akan terjaga karna ada orang orang di sekitarnya seperti sisi, bibi, dan pak satpam.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya tomy melirik jeny sekilas.
Jeny menoleh pelan. Ingin sekali dirinya protes pada tomy tapi rasanya tidak mungkin. Tomy pasti akan marah jika dirinya membangkang dan tidak mau menurutinya.
“Em.. Enggak kok. Nggak papa.” Jawabnya tersenyum tipis.
Tomy mengangkat sebelah alisnya. Dari rumah sampai di perjalanan menuju tempat senamnya jeny memang tampak sudah tidak nyaman. Tomy tau itu, tapi tomy pura pura tidak tau karna jika tomy menuruti kemauan istrinya itu sama saja tomy membahayakan keselamatan istri juga anak dalam kandunganya.
“Mereka serem serem ya by.. Badanya kaya batu.”
Tomy tertawa mendengarnya begitu juga dengan sisi yang duduk di belakang. Tomy tau jeny sedang mencari alasan agar tomy mengurungkan niatnya menyuruh ke 4 body guard itu untuk menjaganya.
“Sayang... Aku membayar mereka untuk melindungi kamu.. Bukan untuk menakuti kamu.. Jadi kamu berpikir positif aja ya.. Mereka memang cukup menyeramkan. Tapi mereka akan bersikap baik sama kamu..” Senyum tomy.
Jeny menghela nafas pelan. Tomy bahkan tidak melunak meskipun jeny mengatakan ke 4 body guard suruhanya itu seram.
Sesampainya di tempat jeny senam, tomy pun tidak lupa memberika ciuman hangat pada jeny juga pada anak dalam perut jeny. Pria itu bersikap begitu lembut dan mencoba tidak memperdulikan ekspresi memelas jeny. Meskipun sebenarnya tomy sangat tidak tega namun apa yang tomy lakukan adalah demi keselamatan istri dan anaknya.
“By...”
“Aku jemput kamu nanti..” Sela tomy mengusap lembut pipi chuby jeny kemudian kembali memasuki mobilnya.
Jeny menghela nafas. Tomy benar benar tidak perduli padanya. Dengan wajah sendu jeny menatap mobil mewah suaminya yang mulai menjauh. Jika boleh meminta jeny ingin tomy yang selalu berada di sampingnya setiap detik untuk menjaganya bukan ke 4 body guard menyeramkan yang kini berdiri di belakangnya.
“Maaf bu, ada yang bisa kami bantu?”
Jeny hampir saja melompat karna terkejut mendengar suara berat salah satu dari ke 4 body guard suruhan suaminya. Dengan tangan bergetar menahan takut jeny menoleh. Wanita itu kemudian tersenyum takut takut pada ke 4 nya.
“Eh. Nggak.. Nggak usah. Sudah ada mbak sisi yang bantuin saya.” Jawab jeny takut.
Jeny kemudian menoleh pada sisi yang juga terlihat ketakutan. Wanita itu langsung meraih tangan sisi dan mengajaknya masuk ke dalam gedung untuk menghindar dari ke 4 body guard suruhan suaminya.
“Kamu jangan banyak tanya sama bu jeny. Ingat kata bos. Kita hanya menjaga dan memastikan keselamatanya. Kamu lihat tidak tadi bu jeny ketakutan gara gara suara dan wajah jelek kamu !” Umpat salah seorang dari ke 4 body guard itu memarahi seorang yang tadi bertanya pada jeny.
“Kan mau bantuin tadi.” Kata body guard berambut cepak itu membela diri.
__ADS_1
“Sudah. Jangan ribut. Kita harus siap siaga menjaga bu jeny.” Lerai pria berbadan kekar yang berdiri di ujung paling kanan.
Ketiga pria yang lainya mengangguk. Mereka kemudian berpencar untuk menjaga jeny dan sisi dari berbagai pintu masuk gedung itu. Sedang satu dari ke 4 body guard itu masuk dan mengawasi seluruh wanita hamil yang sedang melakukan aktivitas senamnya di dalam ruangan tempat jeny senam.
Sisi yang melihat pria berbadan kekar itu berdiri di ambang pintu nampak ngeri. Sisi juga yakin bukan hanya dirinya yang merasa ngeri, tapi juga para wanita hamil yang sedang senam termasuk jeny.
“Siapa pria besar menyeramkan itu?”
“Nggak tau. Mungkin body guard wanita yang ada di depan itu. Mbak jeny namanya.”
Jeny menghela nafas mendengar obrolan beberapa wanita di belakangnya. Memang aneh rasanya. Padahal biasanya jeny hanya di temani sisi. Tapi sekarang ada 4 body guard yang mengawal dan menjaganya dengan ketat.
Berbeda dengan tomy yang tampak sangat santai dan semangat mengerjakan semua pekerjaanya siang ini. Tomy merasa lega karna sekarang istrinya sudah ada yang menjaga. Meskipun memang sebenarnya itu adalah kewajiban tomy untuk menjaga istrinya full 24 jam namun apa daya, tomy bukan seorang pengangguran yang bisa selalu ada di samping istrinya setiap detik.
“Baik rapatnya cukup sampai disini. Selamat siang.”
“Siang pak...” Saut semua karyawan dan staff yang menghadiri rapat siang itu.
Tomy tersenyum sebelum akhirnya keluar lebih dulu dari ruang rapat. Tomy sangat bersyukur karna ternyata para karyawan yang dulunya adalah pekerja di perusahaan lorenzo sangatlah rajin dan disiplin. Di tambah dengan para staff di atasnya yang begitu berwawasan dan pintar membuat cabang perusahaan yang barunya tampak semakin berkembang pesat.
Tomy yang hendak keluar dari gedung perusahaanya langsung menoleh. Pria tampan itu kemudian memutar tubuhnya menatap seorang OB yang kini berada tepat di depanya.
“Ada apa?” Tanyanya bingung.
“Ini pak.. Ada titipan dari seseorang tadi di depan. Katanya untuk pak tomy.” Katanya.
Tomy mengeryit ketika melihat OB tersebut menyodorkan sebuah kotak berwarna pink.
“Dari siapa?” Tanya tomy waspada.
“Saya tidak tau pak. Tapi dia seorang wanita cantik.” Jawab OB itu.
Tomy menghela nafas. Dengan ragu di ambilnya kotak berwarna pink tersebut. Tomy pikir mungkin itu dari orang yang selama ini mengincarnya.
“Terimakasih.” Senyum tomy.
“Sama sama pak. Saya permisi.” Angguk OB tersebut.
__ADS_1
Tomy keluar dari gedung perusahaanya dengan membawa kotak berwarna pink tersebut memasuki mobil. Dan ketika sudah berada di dalam mobilnya tomy segera membuka kotak pink tersebut.
Tomy terdiam sesaat. Isi dari kotak itu bukan sesuatu yang mengerikan seperti yang biasanya di berikan oleh sang penjahat pada korbanya. Namun isi dari kotak pink itu adalah sepatu sepatu bayi yang terdiri dari 3 pasang. Dari merk sepatu sepatu tersebut tomy tau itu bukan barang murahan.
“Apa maksudnya?” Gumam tomy bingung juga merasa was was.
Deringan ponsel membuat tomy menghela nafas. Pria itu berharap telephone yang masuk bukan dari reyhan ataupun cindy yang meminta agar tomy kembali ke perusahaan.
Tomy mengeryit ketika mendapati sebuah nomor tanpa nama yang tertera di layar ponselnya. Penasaran tomy pun segera mengangkat telephone tersebut.
“Halo...”
“Selamat siang pak tomy..”
Tomy terdiam mendengar suara berat seorang pria di seberang telephone. Tomy merasa pernah mendengar suara tersebut namun tidak mengingat jelas pemilik suara itu.
“Saya Leo pak tomy. Mantan suami angel.” Kata orang di seberang tersebut yang ternyata adalah leo.
“Anda. Darimana anda mendapatkan nomor saya?” Tanya tomy dengan helaan nafas malas.
“Gampang saja untuk saya mendapatkan nomor orang sukses dan terkenal seperti anda pak tomy. Oya pak, apa hadiah yang saya kirim lewat asisten saya sudah sampai?”
Tomy langsung menatap kembali 3 pasang sepatu bayi berbeda warna dan merk yang di pangkuanya.
“Ini dari anda?” Tanya tomy memastikan lagi.
“Ya pak tomy. Semoga pak tomy dan istri suka. Saya tidak bermaksud apa apa pak. Hanya saat belanja dengan mamah saya, saya melihat sepatu itu bagus. Jadi saya belikan dan hadiahkan pada pak tomy dan istri.” Jawab leo.
Tomy terdiam sesaat. Tomy tidak begitu mengenal siapa leo. Namun menolak pemberian seseorang yang berniat baik padanya juga bukanlah sikap yang baik.
“Baiklah. Terimakasih.”
“Sama sama pak tomy.”
Tomy mematikan sambungan telephone nya. Pria itu meraih satu pasang sepatu bayi pemberian leo. Tidak ada apapun yang mencurigakan dari semua yang ada di kotak pink itu. Tapi leo bukanlah orang baik yang tomy tau. Dan leo juga sangat berselisih faham dengan dokter axel karna angel.
Merasa tidak tenang tomy pun akhirnya menelephone reyhan dan menyuruh asistenya itu untuk menyelidiki leo juga. Tomy tidak mau kecolongan. Apapun dan siapapun orang asing yang mendekat harus di selidiki. Demi jeny dan anaknya.
__ADS_1