Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 129


__ADS_3

Tomy menatap wajah damai jeny yang sudah terlelap damai dalam tidurnya. Tomy menghentikan usapan di perut terbuka istrinya. Seulas senyum terukir di bibir tomy. Pria tampan itu sangat bersyukur karna jeny masih mau menerimanya setelah apa yang terjadi dan dia lakukan.


Tomy menundukan kepalanya. Pria itu mencium lembut perut rata terbuka jeny. Kedua matanya terpejam merasakan halusnya kulit putih bersih perut istrinya.


“Tumbuh dengan sehat ya sayang.. Papah menunggumu..” Lirihnya.


Sekali lagi tomy mencium perut jeny. Setelah itu tomy menurunkan baju piyama jeny dan menutupinya lagi dengan selimut.


Tomy beralih menatap wajah damai jeny lagi. Siang ini wanita itu begitu sangat manja padanya. Jeny meminta tomy untuk terus mengusap usap lembut perutnya sampai akhirnya jeny terlelap damai menutup matanya.


Tomy menghela nafas kemudian mengecup kening jeny lama. Tomy tidak ingin kisahnya dengan jeny berakhir seperti kisah dokter axel dengan angel.


“Tuhan... Restui kebersamaan kami ini.. Kuatkan cinta kami dari segala cobaan yang menghadang kami..” Batin tomy memejamkan kedua matanya dengan bibir yang terus menempel di kening jeny.


Tomy menjauhkan wajahnya dari wajah jeny kemudian bangkit berdiri dari duduknya di tepi ranjang. Tomy menghela nafas. Beruntung jeny tidak terlalu ingin tau dengan berkas berkas yang di ambilnya dari kantor tadi.


Pelan pelan tomy melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan jeny yang sudah terlelap damai dalam tidur siangnya.


Saat menuruni anak tangga tomy tidak sengaja berpapasan dengan sisi yang menaiki anak tangga dengan sangat terburu buru. Gadis belia itu membawa sebuket bunga yang berhasil membuat tomy mengeryit penasaran. Tidak mungkin rasanya jika itu adalah bunga sisi karna gadis itu membawanya naik ke lantai 2 dengan sangat terburu buru.


“Mbak sisi itu bunga siapa?” Tanya tomy langsung menghentikan langkah sisi.


“Ini pak.. Ada kiriman bunga untuk ibu..” Jawab sisi.


Penasaran tomy pun mengambil bunga tersebut. Tomy mencari kartu tanda pengirim di bunga itu dan sama sekali tidak menemukanya.


“Apa kurir bunga membertahu ini dari siapa?” Tanya tomy menatap sisi penuh selidik.


Sisi yang mendapat tatapan seperti itu dari tomy hanya bisa menggelengkan kepala menjawabnya. Baru kali ini sisi mendapat tatapan penuh selidik seperti itu dari tomy. Dan sisi merasa sedikit terinterogasi oleh majikanya itu.


“Baiklah.. Kamu boleh kembali ke aktivitas kamu. Untuk bunganya biar saya yang kasih ke istri saya.” Kata tomy kemudian.


Sisi hanya bisa menganggukan kepalanya. Tatapan tomy tadi benar benar masih berefek buruk pada detak jantungnya. Tidak mau mendapat tatapan seram itu lagi dari tomy, sisi pun segera berlari kembali menuruni anak tangga menjauh dari tomy.


Sedang tomy, pria itu menatap sebuket bunga mawar merah di tanganya dengan rahang mengeras. Tomy tau siapa yang mengirim bunga itu. Siapa lagi kalau bukan lorenzo. Karna hanya pria itu yang terus bersikukuh untuk mendapatkan istrinya.

__ADS_1


“Brengsek.” Geramnya menggenggam erat buket bunga tersebut.


Tomy kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga menuju ruang kerjanya. Tomy penasaran dengan apa yang di maksud reyhan tentang penjualan lorenzo yang katanya penting dan harus segera tomy baca.


Sesampainya di ruang kerjanya di lantai bawah tomy langsung mencari berkas tersebut di antara tumpukan berkas di meja kerjanya. Tomy memang sengaja menyembunyikanya agar jeny tidak mengetahuinya.


Tomy mengambil beberapa tumpukan berkas itu dan mencari berkas yang di serahkan reyhan saat itu. Setelah menemukanya tomy langsung membuka dan membacanya.


Tomy mengeryit ketika membaca berkas tersebut. Ada sesuatu yang membuat tomy merasa tidak setuju dengan cara lorenzo menjual pupuk pupuk produksi pabriknya.


“Apa apaan ini ?!” Kesal tomy membanting map tersebut di atas meja kerjanya.


Tomy menghela nafas kesal. Pria itu diam dengan rahang mengeras. Pikiranya berjalan mencoba mencari cara bagaimana caranya menghentikan lorenzo yang melakukan kecurangan dalam penjualan.


Tomy berdecak. Pria itu meraih telephone di meja kerjanya. Tomy langsung mencoba menghubungi reyhan agar lekas bertindak dan menghentikan semua kecurangan yang di lakukan lorenzo.


“Halo pak..”


“Reyhan. Segera selidiki semuanya. Hentikan kecurangan lorenzo bagaimanapun caranya.” Katanya tegas dengan nada memerintah.


“Selidiki dulu. Setelah itu akan saya kasih tau caranya.” Sela tomy cepat.


“Baik pak.”


Setelah mendapat jawaban dari reyhan tomy segera memutuskan sambungan telephone nya. Tomy menghela nafas dan berdecak pelan.


Tok tok tok


Tomy menoleh ke arah pintu dan menemukan bibi berdiri disana dengan kedua tangan terpaut di depan. Tomy mengeryit menatap wanita tua itu kemudian melangkah mendekat pada bibi.


“Maaf pak.. Di depan ada tamu..” Kata bibi begitu tomy sampai di depanya.


“Siapa bi?” Tanya tomy penasaran.


“Saya tidak tau pak.. Tapi mereka mencari bapak dan menyuruh saya supaya cepat cepat memanggil bapak.”

__ADS_1


Sebelah alis tomy terangkat. Terdengar sangat arogan dan seenaknya tamu yang berkunjung ke rumahnya itu.


“Baik. Saya akan keluar sebentar lagi. Bibi tolong bikinin minum dulu.”


“Baik pak.”


Bibi berlalu setelah itu. Wanita itu melangkah menuju dapur untuk membuatkan minuman seperti yang di suruh oleh tomy. Sedangkan tomy, pria itu kembali melangkah menuju meja kerjanya untuk menyimpan kembali berkas yang di berikan reyhan. Tomy merasa harus benar benar hati hati agar jeny tidak tau dengan rencananya.


Tomy melangkah keluar dari ruanganya setelah menyimpan berkas itu. Dan begitu sampai di ruang tamu seketika langkah tomy terhenti. Tomy terkejut melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamunya.


“Om, tante..” Gumamnya.


Tidak salah lagi. Yang datang bertamu ke rumahnya adalah kedua orang tua rachel. Entah apa maksud kedatangan mereka ke rumahnya juga darimana mereka berdua tau alamatnya.


Tomy menelan ludahnya. Perasaanya mulai tidak enak. Jika jeny melihat kedua orang tua rachel di rumahnya itu pasti akan membuatnya marah. Jeny juga pasti akan salah faham juga menganggap tomy mempunyai hubungan khusus dengan rachel.


“Kenapa mereka malah kesini..” Batin tomy bingung harus bagaimana.


Kedua kaki tomy terasa berat. Tomy tidak ingin melangkah mendekat. Tapi kedua orang tua rachel sudah tau dirinya berada di rumah. Dan lagi kedua orang tua rachel pasti akan membuat masalah. Tomy tau betul bagaimana aroganya kedua orang tua rachel.


Tomy menarik nafasnya dalam dalam. Mungkin akan lebih baik jika tomy menemui mereka segera sebelum jeny bangun dan melihatnya.


“Om, tante..”


Kedua orang tua rachel langsung menoleh. Mereka berdua bangkit berdiri dari duduknya di sofa kemudian tersenyum menatap tomy yang berdiri di seberangnya.


“Apa kabar om, tante?” Tanya tomy sekedar basa basi.


Kedua orang tua rachel saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum.


“Kami berdua baik nak.” Jawab wanita berdress coklat gelap yang tidak lain adalah ibu rachel.


“Syukurlah..” Senyum tomy tipis di sertai dengan anggukan kepala pelan.


“Silahkan duduk om, tante.”

__ADS_1


Tomy kembali mempersilahkan kedua orang tua rachel duduk. Jika boleh jujur sebenarnya tomy ingin sekali menyuruh keduanya untuk segera pergi agar tidak ada kesalah fahaman antara dirinya dan jeny.


__ADS_2