
Susan menatap tajam tomy dan jeny yang melangkah beriringan menghampirinya di meja makan. Mereka bahkan seolah sedang sengaja memamerkan kemesraanya pada susan.
“Kakak kenapa dia harus ikut?”
Tomy mengepalkan kedua tanganya mendengar pertanyaan bernada hinaan dari mulut susan yang sangat jelas di tujukan pada jeny.
Berbeda dengan tomy yang langsung terbakar emosi, jeny justru terlihat sangat tenang dan tetap menyunggingkan senyum manisnya pada susan.
“Selamat datang susan..” Katanya ramah.
Susan menyipitkan kedua matanya menatap tidak suka pada jeny. Baginya keberadaan jeny saat ini sangatlah mengganggu.
“Aku nggak mau ada kamu disini.”
Tomy menelan ludahnya. Rahangnya mengeras mendengar apa yang di katakan susan pada istrinya. Meskipun susan memang adiknya tapi bagi tomy jeny tetap lah segalanya. Jeny adalah wanita yang harus di jaga baik fisik maupun mentalnya. Dan mendengar susan berkata sangat tidak sopan pada istri tercintanya membuat tomy tidak bisa menahan gejolak amarah yang kini menguasai hatinya.
“Susan kamu...”
Ucapan tomy terhenti saat tiba tiba jeny menggenggam erat tanganya seolah memperingatinya agar tomy tidak gegabah.
“Kakak aku pikir kita hanya makan malam berdua saja. Kenapa harus ada dia juga?” Tanya susan dengan tidak tau malunya.
Tomy menghela nafas. Pria itu mencoba menenangkan dirinya. Di balasnya genggaman erat tangan jeny dengan penuh kelembutan seakan tomy mengatakan dirinya bisa.
“Begini susan. Tadinya aku berencana mengajak kamu makan malam di luar. Tapi berhubung jeny ingin ikut jadi aku pikir lebih baik di rumah saja.”
Susan berdecak pelan mendengarnya. Tatapan tidak sukanya mengarah lagi pada jeny yang terus berdiri di samping tomy dengan senyuman manisnya.
“Harusnya kakak tolak saja. Dia itu nggak penting.”
Jeny menghela nafas pelan. Kalau saja dirinya dan tomy tidak sedang menyusun rencana mungkin jeny sudah menyerang susan dengan pukulan bertubi tubinya. Ucapan yang keluar dari mulut susan benar benar sangat keterlaluan.
__ADS_1
“Dia istriku susan. Kakak ipar kamu.” Senyum tomy terus menyabarkan dirinya sendiri.
“Aku kan udah bilang dari dulu aku tidak setuju dengan pernikahan kalian. Kenapa masih di teruskan? Kakak nggak sayang sama aku?”
Hah. Tomy ingin sekali menjejali mulut susan dengan semangkuk sambal yang ada di meja makan. Selain tidak menghargai jeny sebagai istrinya, susan juga dengan sangat terang terangan menghina jeny di depanya.
“Sudahlah.. Kalau terus mengobrol kapan kita makan malamnya. Keburu makananya dingin loh..” Lerai jeny karna tidak mau jika suaminya sampai tidak bisa lagi menahan emosinya karna ucapan pedas susan.
“Hh.. Membosankan.” Gumam susan melengos dengan sombongnya.
Jeny mendudukan dirinya di kursi tepat di seberang susan setelah tomy menarikan kursi untuknya. Jeny tidak lupa mengucapkan kata terimakasih dengan sangat manis pada suaminya.
Susan yang melihat itu merasa gerah. Wanita itu dengan malas meraih segelas air putih yang sudah di siapkan untuknya kemudian menyeruputnya sedikit.
“Silahkan susan..” Senyum jeny mempersilahkan.
Susan terdiam sesaat. Wanita itu menatap tomy yang tampak tenang dengan ketampanan yang selalu membuat susan tidak bisa untuk tidak mencintainya. Dan selain tampan tomy juga kaya raya dan terkenal di kalangan para pembisnis muda dengan sejuta pesona yang mampu memikat wanita mana saja yang menatapnya.
“Kakak kamu sangat tampan.” Puji susan.
“Terimakasih untuk pujianya. Kamu juga sangat cantik susan.”
Tomy merasa muak sendiri dengan balasan pujianya pada susan. Sungguh pujian cantik itu hanya pantas tertuju pada istrinya. Bukan pada susan yang seperti wanita tidak bertatakrama karna merayu kakaknya sendiri di depan jeny yang adalah istri sah tomy.
“Kakak bisa aja.” Senyum susan malu dengan pipi meronanya.
Jeny menggelengkan kepala melihatnya. Entah siapa wanita yang kini berada di depanya dan tomy. Rasanya tidak mungkin jika susan adalah susan yang sebenarnya. Jeny tau bagaimana sikap kedua mertuanya. Dan melihat tingkah susan yang sama sekali tidak menuruni sikap mamah dan papah mertuanya seujung kuku pun membuat jeny ragu bahwa susan adalah benih cinta dari kedua orang tua kandung suaminya.
Selama makan malam berlangsung susan benar benar mengikis berlahan rasa kesabaran tomy. Wanita itu dengan sangat manjanya meminta di ambilkan ini itu bahkan meminta menyicipi makanan di piring tomy dengan tomy langsung yang menyuapinya.
Jeny yang melihatnya merasa geli. Jeny tidak sama sekali merasa cemburu melihat susan begitu manja dan lengket pada suaminya. Sebaliknya jeny justru merasa kasihan pada susan yang menempatkan cintanya pada orang yang salah.
__ADS_1
Selesai makan malam, susan meminta agar tomy menemaninya mengobrol. Awalnya tomy menolak karna merasa risih melihat penampilan terbuka wanita yang sampai saat ini masih dia anggap adik kandungnya.
“Kakak kenapa sih tetap nekat menikahi wanita itu? Memangnya kakak nggak perduli sama aku?”
Tomy berdecak pelan. Gerah sekali rasanya mendengar susan yang selalu menjelekkan istrinya. Kalau saja tomy tidak sedang mengikuti rencana istrinya tomy tidak akan mau mengobrol hanya berdua dengan susan. Meskipun memang susan adalah adiknya tapi tomy selalu merasa tatapan wanita itu lain. Tidak seperti susan yang dulu.
Tomy menghela nafas. Malas sekali rasanya menjawab pertanyaan tidak penting susan. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya karna saat ini mereka sedang berada di taman belakang rumah tomy. Sedangkan jeny, wanita cantik itu lebih memilih untuk naik ke lantai 2 untuk menemani putranya.
“Sudah malam. Lebih baik kamu pulang.” Kata tomy.
Susan berdecak sebal. Wanita itu ikut bangkit berdiri di samping tomy. Susan meraih lengan tomy dan bergelayut manja disana.
“Aku malas pulang sama reyhan. Gimana kalau kakak aja yang anterin aku pulang?”
Tomy melepaskan tangan susan dari lenganya. Pria itu melirik sekilas pada susan kemudian meluruskan pandanganya.
“Aku sibuk susan. Masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Lebih baik kamu pulang sekarang dan istirahat.”
Susan mencebikkan bibirnya. Padahal dirinya sudah tampil secantik dan se sexy mungkin. Tapi nyatanya tomy tetap tidak meliriknya.
“Kakak.. Bagaimana dengan perasaan aku?” Tanyanya dengan ekspresi sendu berharap tomy menoleh dan luluh padanya.
Tomy tidak tau lagi harus berkata apa. Susan sangat keras kepala dan terus saja meyakinkan tomy tentang perasaanya. Padahal susan sendiri tau hubunganya dengan tomy adalah saudara kandung.
“Susan. Aku kakak kamu..”
“Tapi kita beda asuhan kakak.. Kita bukan saudara sepersusuan.” Sela susan cepat.
Tomy menoleh cepat mendengarnya. Bagaimana mungkin susan bisa mengatakan dirinya bukan saudara sepersusuan dengan tomy. Sedangkan rahim tempat mereka tumbuh saja sama. Dan seingat tomy mamahnya dulu memberikan asi pada susan dengan telaten sampai usia susan 2 tahun.
“Apa maksud kamu susan?” Tanya tomy menatap susan penuh selidik.
__ADS_1
“Aku besar sama mommy dan daddy. Dan dari lahir aku sama mereka. Sudah jelas bukan aku tidak mendapatkan asi dari nyonya bagaskara?”
Tomy menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin susan bisa mengatakan hal seperti itu. Sedangkan om dan tantenya saja membawa susan setelah susan berusia 2 setengah tahun.