
Tomy tersenyum ketika mendapati istrinya yang sudah mengenakan piyama bermotif hello kitty sedang berdiri menghadap tembok kaca di kamarnya. Tomy tau jeny pasti merasa bosan dan jenuh berada di apartemen seorang diri.
Pelan pelan tomy melangkahkan kakinya. Pria tampan itu kemudian memeluk mesra jeny dari belakang. Tomy juga mengecup beberapa kali tengkuk putih bersih jeny menghirup aroma vanila yang menguar dari tubuh mungil wanitanya.
“Kamu nungguin aku yah..” Bisik tomy.
Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny memang sedang menunggu kepulangan suaminya untuk mengatakan sesuatu tentang elisa.
“Jangan GR kamu.. Aku cuma lagi bosan aja pengin keluar jalan jalan.” Kata jeny yang sebenarnya sangat tidak sesuai dengan isi hatinya.
Tomy terkekeh mendengarnya. Kali ini leher jeny menjadi sasaranya. Tomy mengecup leher jeny sehingga jeny harus mendongakan kepala memberi ruang untuknya.
“Tomy geli..” Rengek jeny dengan kedua mata terpejam.
Tomy tersenyum dan langsung menghentikan aksinya. Pria tampan itu kemudian menyelusupkan tanganya masuk ke dalam perut jeny dan mengusap penuh sayang perut rata wanita itu.
“Apa anak papah nakal hari ini?” Tanyanya lembut.
Jeny tersenyum geli. Tidak ada rasa apapun yang di rasakanya selain rasa lelah pada tubuhnya. Dan itupun sudah menghilang setelah jeny mandi dan memejamkan kedua matanya selama 2 jam tadi.
“Dia sangat pengertian..” Lirih jeny ikut memegang perutnya sendiri.
“Syukurlah...” Senyum tomy merasa lega mendengarnya.
Pelan pelan jeny melepaskan pelukanya. Wanita itu membalikan tubuhnya menghadap tomy yang langsung memasang ekspresi sendu karna jeny melepaskan diri darinya.
“Tadi ada elisa.” Kata jeny memberitahu.
Tomy hanya diam saja dengan ekspresi yang sama. Tomy tau elisa akan datang karna sebelumnya tomy sudah menghubungi gadis itu.
“Dia memasak untuk aku. Dan dia juga membawa banyak belanjaan kesini.” Lanjut jeny.
Tomy masih diam. Pria itu menunggu jeny kembali melanjutkan ucapanya.
“Tomy.. Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya jeny menatap serius pada tomy.
Tomy mengeryit. Wanitanya tampak sangat serius menatapnya.
“Apa?”
__ADS_1
“Sejak kapan kamu kenal dengan elisa?”
Pertanyaan jeny membuat tomy diam kembali. Tomy tidak terlalu mengenal gadis itu. Karna gadis itu hanya datang sewaktu ibunya sakit untuk menggantikanya mengerjakan semua pekerjaan di apartemen tomy.
Tomy juga tidak bisa di katakan mengenal gadis itu. Karna sekalipun tomy sama sekali tidak pernah bertatap muka dengan elisa. Tomy hanya sering bertemu dengan ibunya itupun saat sedang memberikan gaji untuknya.
“Aku hanya mengenalnya di telephone. Dan aku sama sekali tidak pernah bertemu denganya.” Jawab tomy jujur.
Jeny melongo mendengarnya. Bagaimana mungkin tomy belum mengenal bahkan bertemu dengan elisa. Sedang gadis itu saja masuk ke dalam apartemenya sudah seperti masuk ke dalam hunianya sendiri.
“Kamu.. Serius?” Tanya jeny ragu.
Tomy tertawa mendengarnya. Jeny pasti mulai mencurigainya lagi.
“Sayang.. Ayolah... Kamu kenal aku dari kecil.. Masa kamu curiga sama aku..” Kata tomy meraih kembali tubuh jeny dan memeluknya mesra.
Jeny terdiam. Bisa di katakan jeny memang tidak percaya pada tomy. Jeny takut tomy berubah dan benar benar melupakanya.
“Maaf.. Aku hanya takut. Aku takut kamu benar benar melupakan aku..” Lirih jeny.
Tomy tersenyum mendengarnya. Dengan gemas di ciumnya kedua pipi chuby jeny. Tomy tidak pernah sekalipun berpikir untuk melupakan jeny. Karna yang selalu tomy ingat dan tomy pikirkan memang hanya jeny.
Berlahan seulas senyum mulai terukir di bibir jeny. Wanita cantik itu membalas pelukan tomy merasa lega mendengar apa yang di katakan oleh suaminya.
“Oya sayang.. Malam ini aku boleh nggak..?”
Jeny mengeryit mendengar pertanyaan tomy. Wanita cantik itu kemudian melepaskan pelukanya dan menatap wajah tampan suaminya bingung. Ketika hendak bertanya dengan apa yang dimaksud suaminya tiba tiba terdengar suara perut keroncongan yang tidak lain berasal dari perut tomy.
Tomy meringis. Tomy memang merasa sangat lapar karna tadi tidak sempat mampir kemanapun setelah urusanya selesai. Yang ada di pikiranya hanya jeny dan tomy merasa tidak bisa berada jauh terlalu lama dari wanita itu.
“Tomy.. Kamu belum makan?” Tanya jeny.
Tomy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pria kaya raya seperti dirinya sampai kelaparan setelah pergi keluar rasanya sangat lucu. Jika orang lain yang mendengarnya mungkin mereka mengira bahwa tomy sangat pelit untuk sekedar makan di luar.
“Eemm.. Tadi langsung pulang sayang..” Jawabnya malu.
Jeny menghela nafas. Wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah mending sekarang kamu bersih bersih dulu.. Aku angetin lagi masakan elisa yang tadi..” Katanya.
__ADS_1
Ketika jeny hendak berlalu tomy langsung menahanya dengan memeluk kembali tubuh mungilnya dari belakang.
“Tomy..”
“Aku lagi pengin omelet buatan kamu sayang..” Sela tomy lembut.
Jeny terdiam. Rasa omelet buatanya bukan apa apa jika di bandingkan dengan rasa masakan elisa. Aneh sekali jika tomy justru lebih memilih di buatkan omelet olehnya dari pada memakan masakan elisa.
“Tomy masakan elisa sangat enak.. Jauh lebih enak dari omelet buatan aku..” Kata jeny memberitahu suaminya tentang rasa enak masakan elisa.
Tomy menggelengkan kepalanya pelan di bahu jeny. Pria tampan itu tetap menolak meskipun jeny mengatakan masakan elisa jauh lebih enak dari omelet buatanya.
“Please.. Aku ngidam kayanya.”
Jeny mengeryit. Jeny yang hamil saja tidak mengidam. Wanita itu bingung kenapa malah tomy yang mengatakan dirinya sedang mengidam.
“Jangan bercanda tomy.. Aku angetin masakanya yah.. Biar kamu makanya banyak.” Kata jeny menghela nafas.
“Ya udah kalau gitu aku nggak usah makan aja. Biarin aku sakit perut tarus nanti sakit semua badan aku..”
Tomy langsung melepaskan pelukanya kemudian berjalan meninggalkan jeny menuju ranjang king zise mereka. Pria tampan itu memanyunkan bibirnya dengan kedua tangan melipat di depan dada dan duduk di tepi ranjang. Tomy juga membuang pandanganya tidak mau menatap jeny yang masih berdiri di tempatnya.
Jeny menghela nafas melihat tingkah aneh suaminya. Jeny bukan tidak mau membuatkan omelet untuk suaminya. Jeny hanya merasa tomy lebih baik memakan masakan yang di buat oleh elisa yang jauh lebih enak. Tapi melihat tomy yang menolak bahkan sampai ngambek jeny tidak bisa lagi memaksa. Jeny juga tidak mungkin membiarkan suaminya kelaparan.
Jeny melangkah pelan menghampiri tomy. Wanita itu berdiri tepat di depan suaminya yang masih enggan untuk menatapnya.
“Ya udah deh.. Aku buatkan omeletnya..” Senyum jeny.
Mendengar apa yang di katakan oleh jeny tomy langsung menoleh dengan cepat pada jeny. Dengan cepat pria itu menarik tubuh jeny hingga jeny terduduk di pangkuanya.
“Beneran?” Tanyanya antusias.
“Iya.. Yang penting sekarang kamu mandi dulu.. Abis itu aku temenin makan.” Jawab jeny menyentuh dada bidang pria berjas abu abu itu.
“Oke.. Aku bakal mandi yang bersih dan wangi buat kamu..” Senang tomy.
Jeny terkekeh. Wanita itu kemudian mengecup singkat ujung hidung tomy dan melepaskan pelukan tomy di pinggangnya.
“Mandi yang wangi yah suamiku.”
__ADS_1