Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 236


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit jeny terus merintih sambil memegangi perut bagian bawahnya. Tomy yang berada di sampingnya hanya bisa menyuruh jeny untuk sabar dan kuat. Pria tampan itu terus berusaha meyakinkan dan menguatkan istrinya yang sedang berjuang demi melahirkan anak mereka. Tomy bahkan tanpa sadar menangis melihat istrinya yang merintih dan meringis kesakitan.


Sesampainya di rumah sakit jeny langsung di bawa ke ruang bersalin. Peluh sudah membasahi kening dan wajahnya. Meskipun wanita itu hanya sesekali meringis tanpa lagi ada rintihan. Jeny juga sesekali menarik nafas panjang kemudian menghembuskanya berlahan.


“Sayang.. Apa yang harus aku lakukan..?” Tanya tomy yang kebingungan juga khawatir melihat istrinya yang sedang berjuang melawan segala rasa sakit yang di rasakanya.


Jeny mencoba tersenyum di tengah rasa sakit yang sedang di alaminya. Di dalam ruang bersalin itu hanya ada dirinya dan tomy. Mereka sedang menunggu pembukaan leher rahim yang baru di angka 4.


“Kamu cukup disini by.. Temani aku disini..” Lirih jeny.


Tomy menangis mendengarnya. Pria itu mengangguk anggukan kepalanya. Rasa takut kini sedang merayapi hati dan pikiranya. Bukan tomy tidak percaya pada kekuatan istrinya. Tomy hanya takut jeny meninggalkanya.


“Ya sayang.. Aku disini.. Aku selalu disini menemami kamu..” Bisik tomy sambil mengusap peluh yang membasahi kening jeny kemudian menciumi seluruh wajah cantik istrinya penuh harap.


Dokter sinta masuk dengan sangat terburu buru. Wanita cantik berjas putih khas dokter itu kemudian langsung mengecek kembali pembukaan leher rahim jeny dalam diam.


“Bagaimana dokter?” Tanya tomy sambil mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.


“Tidak ada kendala pak.. Masih di pembukaan ke 4.” Senyum dokter sinta.


Tomy menganggukan kepalanya. Tomy tidak tau apa saja yang harus di lalui jeny selama proses persalinan. Tapi yang pasti apapun yang terjadi tomy akan terus berada di samping istrinya. Tomy mungkin tidak bisa membantu meringankan rasa sakit istrinya. Tapi tomy berharap kehadiranya di samping jeny bisa membuat wanita itu kuat.


Dokter sinta kembali keluar dari ruang persalinan setelah mengecek keadaan jeny. Wanita itu meninggalkan jeny dan mempercayakan penjagaanya pada tomy yang pasti akan dengan sangat bersungguh sungguh mendampingi istri tercintanya.


“Sayang.. Maafkan aku.. Aku nggak bisa melakukan apa apa.. Aku..”


“Ssstt..” Jeny menempelkan jari telunjuknya di bibir tipis tomy menyuruh untuk pria itu berhenti berucap.


“Kehadiran kamu disini sangat membantu suamiku..” Senyum jeny menatap wajah tampan tomy yang basah oleh air mata.

__ADS_1


Tomy menangis tergugu. Pria tampan itu tidak pernah menangis sehebat itu sekalipun di depan mamahnya selama beranjak dewasa. Tapi melihat perjuangan istrinya tomy benar benar tidak bisa menahan air matanya. Tomy ingin sekali bisa membantu meredakan sakit itu. Tapi tomy tau dirinya tidak akan bisa.


“Jangan menangis..” Pinta jeny.


Tomy menggenggam erat tangan istrinya. Pria itu duduk di sebelah kiri brankar jeny karna posisi jeny yang terus di haruskan berbaring miring ke samping kiri. Dengan penuh rasa takut tomy menciumi punggung tangan jeny. Hanya harapan dan do'a yang bisa tomy panjatkan pada tuhan sekarang. Karna sekarang hanya belas kasih dari tuhanlah yang bisa memperlancar proses persalinan istrinya.


“Andai aku bisa sayang.. Aku tidak akan membiarkan kamu kesakitan seperti ini..” Lirih tomy.


“Tomy.. Hanya dengan begini aku bisa menjadi seorang mamah.. Aku tidak pernah merasa terbebani.. Karna itu aku.. Sshh.. Ya tuhan..”


Ucapan jeny tersela oleh ringisanya saat merasakan kembali kontraksi hebat itu. Namun jeny tetap berusaha untuk tersenyum. Jeny tau perjuangan yang di laluinya sebagai seorang wanita masih sangat panjang. Dan apa yang sedang di rasakanya sekarang bukanlah apa apa.


“Aku berusaha untuk tidak mengeluh suamiku.. Bukan karna menganggap kamu orang lain.. Tapi karna tidak mau kamu khawatir..” Lanjut jeny tersenyum.


Air mata tomy semakin deras menetes. Jeny benar benar berjuang seorang diri tanpa keluhan apapun yang keluar dari bibirnya. Di kecupnya berkali kali kening berpeluh jeny. Apa yang tomy lakukan saat ini memang tidak bisa membantu. Jeny tetap akan berjuang sendiri dengan bertaruh nyawa demi menghadirkan makhluk suci tanpa dosa itu ke tengah tengah kehidupan rumah tangga mereka.


“Sayang aku..”


Jeny kembali meringis. Tanganya membalas genggaman erat tangan tomy. Jeny juga kembali memejamkan matanya membuat tomy semakin merasa tidak berdaya.


“By.. Tolong usap usap pinggang aku bisa?” Tanya jeny membuka kedua matanya menatap tomy penuh harap.


“Ya sayang.. Ya..” Angguk tomy.


Tomy langsung melepaskan genggaman tanganya pada jeny. Pria tampan itu beralih posisi ke samping kanan jeny. Tangan besar tomy menyentuh lembut pinggang bagian belakang jeny dan mengusap usapnya dengan tangisan diam nya.


Selama menemani jeny yang menunggu proses pembukaan leher rahim, tomy begitu sangat lembut memperlakukan istrinya. Pria tampan itu juga terus meneteskan air mata namun dengan cepat langsung di usapnya. Tomy sadar kehadiranya untuk mendukung dan menguatkan istrinya. Bukan untuk menangis dan membuat istrinya merasa lemah dan bersalah.


“By.. Aku kaya mau pipis deh..”

__ADS_1


Tomy berhenti mengusap pinggang jeny. Pria itu kebingungan sendiri takut jika dirinya menggendong jeny itu akan membuat wanitanya semakin merasa kesakitan.


“Ya udah sayang kamu pipis disini saja nggak papa. Nanti aku yang bersihin..” Kata tomy.


Jeny menggelengkan kepalanya menolak. Wanita itu kemudian pelan pelan bangkit terduduk.


“Aku mau ke kamar mandi aja..” Katanya pelan.


“Sayang tapi..”


“By please.. Aku masih kuat buat jalan..” Mohon jeny.


Tomy menelan ludahnya. Jika dirinya menolak jeny pasti akan tetap nekat turun dari brankar dan melangkah menuju kamar mandi sendiri. Dan jika dirinya menolak menggunakan ketegasan jeny pasti akan sedih dan menganggap tomy jahat.


“Baiklah..” Angguk tomy akhirnya.


Tomy meraih tiang infus jeny kemudian mendorongnya mendekat pada jeny. Pria tampan itu menuntun tangan jeny erat dan mengiringinya melangkah menuju kamar mandi.


“By..” Panggil jeny ketika sampai di kamar mandi.


“Ya sayang..” Saut tomy lembut.


“Aku nggak bisa duduk.. Rasanya kaya mengganjal gitu by..”


Tomy tersenyum mendengarnya. Dengan lembut di kecupnya bibir jeny singkat.


“Sayang.. Aku siap melakukan apapun untuk kamu.. Lakukan sebisa kamu.. Aku akan membersihkanya nanti.” Bisik tomy tepat di depan wajah jeny.


Jeny tersenyum haru mendengarnya. Tomy pria mapan dengan harta melimpah namun pria itu tidak ragu melakukan semuanya sendiri. Tomy menemaninya bahkan menyediakan semua yang jeny mau tanpa mengeluh. Jika orang lain mungkin akan menyuruh asisten rumah tangga yang melakukanya. Tapi tomy lebih memilih melakukanya semuanya dengan tanganya sendiri.

__ADS_1


“Terimakasih suamiku..” Batin jeny menatap tomy yang sedang membersihkan kakinya karna terkena air pipis jeny sendiri.


__ADS_2