Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 146


__ADS_3

Jeny tersenyum menatap mobil kedua orang tuanya juga kedua orang tua tomy yang beriringan mulai memasuki halaman luas panti asuhan tempat mereka janjian. Ya, tomy dan jeny memberitahu mereka tentang rencana berbagi mereka sebagai wujud syukurnya akan usia kandungan jeny yang ke 4 bulan.


“Mamah papah..”


Jeny dan tomy bergantian menyalimi ke 4 nya. Setelah berbicang sedikit sebelum mereka akhirnya masuk ke panti asuhan tersebut menemui pengurusnya.


Acara mereka berlansung lancar. Sebelum membagikan apa yang jeny dan tomy bawa, mereka semua termasuk para pengurus dan anak anak di panti asuhan terlebih dulu mendo'akan tomy dan jeny. Setelah itu tomy dan jeny di bantu oleh orang tuanya membagikan barang barang yang di bawanya. Seperti sembako, makanan ringan, juga tidak lupa amplop berisi uang untuk setiap anak.


Selesai berbagi di panti asuhan itu jeny dan tomy lanjut ke panti asuhan lain. Mereka berbagi ke setiap anak di panti asuhan itu dengan rasa bahagianya. Dan setelah itu kegiatan di lanjut ke sebuah kampung yang memang sangat jauh dari kota. Mereka membagikan sembako pada setiap keluarga dengan cuma cuma. Namun setelahnya tomy selalu meminta do'a tulus pada keluarga yang dia beri. Tomy berharap do'a dari banyak orang yang dia beri bisa memperlancar proses persalinan istrinya nanti.


Menjelang malam acara berbagi mereka baru selesai. Tomy menghela nafas. Hari ini semua urusan kantor di tangani oleh reyhan dan cindy. Sedangkan tugasnya adalah menemani istrinya berbagi beserta kedua orang tuanya juga orang tua jeny.


Tomy menghela nafas. Melihat senyuman para anak anak di panti asuhan hati tomy menghangat. Mendengar do'a do'a yang mereka panjatkan pada sang pencipta untuk jeny juga dirinya raga tomy terasa sejuk juga tenang di hatinya. Dan tomy berharap apa yang di lakukanya bisa memperlancar semua yang di hadapinya nanti.


Tomy menatap kaca mobilnya mengecek posisi tidur istrinya di kursi belakang. Wanita cantik itu tampak sangat nyaman memeluk boneka yang memang selalu di bawa kemana mana saat pergi bersama jeny. Dan baru kali ini boneka itu berguna sebagai teman jeny berbaring di belakang.


Deringan ponsel membuat tomy memelankan laju mobilnya. Pria itu mengangkat telephone dari mamahnya yang berada di belakangnya.

__ADS_1


“Ya mah...”


“Nak.. Mamah papah langsung pulang yah.. Kamu hati hati nyetirnya.” Saut mamah tomy lewat sambungan telephone.


“Ya mah.. Terimakasih untuk waktunya hari ini. Mamah papah juga hati hati..”


“Ya nak.”


Sambungan telephone terputus. Tomy kemudian kembali meletakan ponselnya dan menambah kecepatan laju mobilnya. Orang tua jeny sudah pamit dari sore saat mereka hendak mampir ke restourant untuk makan. Meskipun awalnya jeny keberatan namun setelah sang mamah memberi alasan yang tepat jeny pun akhirnya mengerti.


20 menit kemudian mobil tomy sampai tepat di depan gerbang. Tomy langsung membunyikan klakson membuat pak satpam dengan sigap langsung membukakan gerbang untuknya. Dan seperti biasanya tomy selalu menurunkan kaca mobilnya untuk berterimakasih pada satpamnya.


“Oh ya pak ada... Itu di bagasi ada barang. Pak satpam ambil aja bagi sama mbak sisi dan bibi..” Senyum tomy kemudian membuka pintu mobil bagian belakang untuk menggendong jeny.


Tomy menggendong jeny memasuki rumahnya. Rasa lelah juga pegal memang sedang di rasakanya. Apa lagi akhir akhir ini tomy selalu di sibukan dengan segudang pekerjaanya.


“Pak ada yang perlu saya bantu?” Tanya sisi muncul dari arah dapur.

__ADS_1


Tomy hanya menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum menjawab pertanyaan sisi. Tomy bahkan hanya menunjuk ke arah pintu utama rumahnya memberi kode agar sisi keluar. Karna sebenarnya untuk bicara rasanya tomy sudah tidak mampu. Seluruh badanya terasa remuk setelah melalui kesibukan dan hari hari panjangnya.


Begitu sampai di kamarnya tomy langsung membaringkan tubuh jeny dengan pelan. Tomy menghela nafas. Pria itu sudah ingin sekali memejamkan kedua matanya. Tapi melihat istrinya yang masih mengenakan gaun tomy jadi tidak tega. Jeny pasti akan sangat tidak nyaman bila tidur mengenakan gaun.


Tomy melepaskan jas yang di kenakanya kemudian di susul dasi serta kemejanya. Pria tampan itu kemudian membuka lemari bajunya dan mengambil piyama jeny. Dengan sangat pelan karna takut mengganggu tidur jeny tomy pun melepas gaun yang di melekat di tubuh sintal jeny dan menggantinya dengan piyama. Setelah selesai tomy pun membaringkan tubuhnya di samping jeny dan langsung terlelap menyelami mimpi indahnya.


Tengah malam jeny terjaga karna tenggorokanya terasa kering. Wanita itu bangkit dari berbaringnya dengan pelan kemudian menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Jeny duduk di tepi ranjang dengan mata setengah tertutup. Di raihnya segelas air putih di atas nakas dan menenggaknya sampai habis tak tersisa.


Jeny menghela nafas. Wanita itu kemudian kembali naik ke atas ranjang dan hendak berbaring. Namun ketika mendapati suaminya tidur bertelanjang dada jeny terdiam. Mendadak ingatan jeny berputar. Seingatnya jeny tertidur saat dalam perjalanan pulang. Dan lagi jeny masih mengenakan gaun saat tidur. Tapi sekarang yang melekat di tubuhnya bukan lagi gaun melainkan piyama. Jeny yakin yang menggantikan gaunya adalah tomy. Tapi anehnya pria itu justru terlelap tanpa mengenakan baju dan masih mengenakan celana hitamnya.


“Apa mungkin karna kelelahan...” Gumam jeny.


Jeny menyentuh pipi tirus tomy. Dengan lembut di usapnya pipi pria tampan itu. Tomy pasti sangat kelelahan setelah menemaninya berbagi. Apa lagi tomy juga sangat sibuk belakangan ini.


“Tuhan.. Lindungi suami hamba kemanapun kedua kakinya menapak. Sertai kebaikan di sekitarnya dan jauhi semua hal buruk yang mengintainya.” Gumam jeny berharap kebaikan untuk tomy.


Jeny tersenyum. Kulit pipi suaminya mulai terasa kasar karna jambangnya mulai tumbuh. Dan jeny rasa mungkin akan sangat menyenangkan jika jeny sendiri yang membantu suaminya untuk mencukur jambang itu.

__ADS_1


Jeny terkekeh sendiri. Tomy bukan pria yang selalu mengutamakan penampilan. Pria itu cenderung sederhana dan tidak terlalu suka memamerkan barang barang mewah yang di milikinya. Tapi menurut jeny perubahan pada penampilan suaminya juga perlu di lakukan. Jeny tidak munafik, tomy sudah terlihat sempurna dengan penampilan biasanya. Dan tomy seperti itu saja sudah bisa menarik perhatian wanita di luar sana. Apa lagi jika tomy mengubah penampilanya.


Jeny menarik tanganya. Wanita itu kemudian membaringkan pelan tubuhnya menghadap tomy. Jeny menatap wajah damai suaminya dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya. Dari kecil sampai sekarang sosok tomy tetap menjadi sosok ternyaman untuk jeny. Jeny bahkan merasa lebih nyaman bersama tomy dari pada dengan papahnya. Dan jeny selalu merasa aman dan terlindungi di samping pria tampan itu.


__ADS_2