Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 272


__ADS_3

Sampai malam larut jeny tidak juga kunjung memejamkan kedua matanya. Wanita cantik itu masih terbayang wajah suaminya saat mengatakan apa yang di katakan susan. Jelas sekali tomy sangat tidak terima dengan apa yang di katakan oleh adiknya itu.


Jeny menghela nafas. Di tatapnya wajah tampan putra juga suaminya yang sudah terlelap dengan tenang. Jeny yakin susan memang bukan susan yang sebenarnya. Semuanya sudah terbukti dengan perbedaan yang di katakanya dengan kenyataan yang sebenarnya.


“Apa mungkin om sama tantenya memiliki niat tidak baik..” Gumam jeny berpikir.


Jeny kembali menatap wajah tampan suaminya. Jeny sangat berharap tomy bisa menahan emosinya agar rencana mereka berhasil.


London


Rolan dan rio berdiri di depan sebuah rumah yang tidak terlalu mewah namun bergaya klasik. Kedua orang suruhan tomy itu saling menatap kemudian menganggukan kepalanya.


“Ini untuk yang ke dua kalinya kita bekerja untuk boss.. Kita harus bisa menyelidiki tentang masalah ini..” Kata rolan.


“Ya. Kita harus menyelidikinya sesuai permintaan boss.” Angguk rio setuju.


Rio dan rolan kemudian melangkah menuju rumah tanpa pintu gerbang tersebut. Mereka berniat menemui om dan tantenya tomy untuk menanyakan tentang susan.


“Lan tunggu tunggu..”


Rolan berhenti melangkah karna rio yang menghentikan langkahnya. Rolan menoleh dan mengeryit menatap rio bingung.


“Kenapa reyhan nggak ikut kita ya?” Tanya rio dengan wajah polosnya.


Rolan berdecak sebal mendengar pertanyaan itu. Rio seperti tidak tau bahwa reyhan adalah asisten kesayangan boss nya.


“Kan nggak di suruh sama boss.. Udah ah ayo..”


“Tunggu...”


Rolan menahan nafasnya merasa jengkel dengan rio yang lagi lagi menghentikan langkahnya. Entah apa yang di inginkan teman seperjuanganya itu sehingga lagi lagi menghentikan langkahnya.


“Apa lagi sih ioo..” Kesal rolan merasa gemas dengan tingkah temanya itu.


“Nama kita siapa? Kan nggak mungkin kita ngaku dengan nama asli kita.. Entar yang ada penyelidikan kita nggak seru dong.. Bahkan bisa jadi om dan tantenya si bos langsung bisa menebak siapa kita berdua..”


Rolan terdiam sesaat. Apa yang di katakan oleh rio ada benarnya juga. Tidak mungkin mereka memperkenalkan diri dengan nama asli mereka.

__ADS_1


“Ya udah aku randy saja. Kamu terserah. Mau paijo, slamet, atau dodot juga pantes.” Kata rolan kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumah om dan tante tomy.


“Ck. Malah ngelawak lagi. Di tanyain serius juga.” Dumel rio menatap punggung rolan sebal.


Rio mengedarkan pandanganya. Suasana di sekitar rumah itu masih sangat asri. Meskipun memang letaknya di tengah kota, namun masih banyak pepohonan di sekitar rumah tersebut.


“Slamet. Ayo..!”


Rio menolehkan kepalanya pada rolan kemudian mendelik sebal. Tidak mungkin dirinya benar benar menggunakan nama itu di london. Om dan tante tomy pasti akan bertanya tanya darimana susan mengenal pria bernama slamet.


Rio melangkah cepat menghampiri rolan yang sudah berada tepat di depan pintu utama rumah tersebut.


“Jangan memanggilku slamet.” Kesalnya.


Rolan tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh rio. Pria berkaos orange dengan di padukan jins coklat dan jaket kulit yang menyampir di bahunya itu kemudian mengetuk pintu bercat putih tersebut.


Beberapa kali rolan mengetuk pintunya namun tidak juga kunjung ada jawaban. Pria itu menghela nafas dan berpikir mungkin sang mpunya rumah tidak sedang berada di dalam.


“Rolan. Tunggu !!” Pekik rio karna lagi lagi rolan melangkah mendahuluinya.


Ketika rolan menolehkan kepalanya, saat itu juga pintu bercat putih itu terbuka menampakam sosok wanita dengan wajah yang cukup menyeramkan.


“Maaf sebelumnya. Kami temanya susan dari indonesia.”


Rolan tersadar ketika mendengar rio berbicara pada wanita tersebut. Rolan menepuk jidatnya merasa sangat konyol karna rio bahkan langsung mengakui darimana dirinya berasal.


Wanita berwajah cacat itu terdiam sesaat. Di tatapnya rio dan rolan bergantian.


“Nama saya randy. Dan itu teman saya. Namanya paijo. Kebetulan dia tunawicara.”


Kedua mata rolan terbelalak sempurna mendengarnya. Rio berbalik menggunakan nama samaranya dan menamainya dengan nama yang rolan sarankan padanya. Tidak hanya itu saja, rio bahkan mengatakan dirinya seorang yang tidak bisa bicara. Itu sangat keterlaluan menurut rolan.


Wanita itu tersenyum dan menganggukan kepalanya. Senyuman yang manis dengan tatapan lembut yang membuat rio ikut tersenyum.


“Siapa nak?” Tanya seseorang dari dalam rumah.


Tidak lama muncul seorang wanita dengan rambut di kuncir. Wanita yang sudah tidak muda lagi namun masih terlihat cantik menurut rolan dan rio.

__ADS_1


“Mereka siapa?” Tanyanya pada wanita berwajah cacat tersebut.


“Mereka teman aku dari indonesia mom.” Jawabnya.


Rio mengeryit bingung. Dirinya mengaku sebagai teman susan. Bukan teman dari wanita berwajah cacat tersebut.


“Kalau begitu suruh mereka masuk sayang. Mommy akan bikinkan minum.” Katanya tersenyum manis pada wanita berwajah cacat tadi.


“Ok mom..” Angguknya.


Rolan yang masih berdiri jauh dari rio dan wanita tersebut mulai mendekat. Seharusnya bukan seperti itu rencananya dan rio.


“Mari masuk..” Ajak wanita itu ramah.


Rio menoleh pada rolan. Menyesal sekali rasanya mengatakan rolan tidak bisa bicara. Karna jika sampai dirinya kehabisan kata kata dalam basa basinya tentulah rolan tidak akan bisa membantunya.


“Rasakan akibatnya sendiri.” Bisik rolan sebelum masuk ke dalam rumah tersebut mendahului rio yang berwajah sendu.


“Ya tuhan...”


Rolan dan rio masuk mengikuti wanita berwajah cacat itu ke dalam rumah. Dan wanita itu membawa rolan dan rio ke ruang tamu. Kini mereka bertiga duduk di sofa yang berbeda di dalam ruang tamu minimalis tersebut.


“Maria. Maaf maksud saya susan sedang tidak ada di rumah. Dia sedang di jakarta menemui kak tomy.”


Rio dan rolan kompak mengeryit. Wanita itu tampak ragu menyebut nama susan bahkan sempat salah menyebut namanya. Dan lagi wanita itu seharusnya menyebut tomy dengan sebutan kakaknya, bukan kak tomy.


“Oh begitu. Tapi kami tidak bertemu dia disana.” Balas rio tersenyum tipis.


Wanita itu menatap rio dan rolan bergantian kemudian menundukan kepalanya.


Rolan yang memang adalah pria peka merasa curiga dengan tatapan sedih wanita itu. Meskipun memang pipi sebelah kananya terluka seperti luka bakar tapi rolan tau wanita itu sebenarnya sangat cantik. Bahkan sepertinya wajahnya tidak jauh berbeda dengan susan. Hanya saja tatapan mereka berbeda. Wanita cacat itu memiliki tatapan lembut. Sedangkan susan mempunyai tatapan yang tajam.


Rolan menyikut lengan rio menyuruh agar rio bertanya siapa nama wanita itu. Semua itu tentu saja karna kesalahan rio yang mengatakan rolan adalah seorang yang bisu.


“Maaf sebelumnya, boleh kami tau siapa nama kamu?” Tanya rio ragu.


Wanita itu mengangkat kepalanya menatap rio dan rolan bergantian kemudian menghela nafas pelan.

__ADS_1


“Nama saya sandra.”


__ADS_2