
Deru suara mobil mewah milik tomy membuat jeny yang sedang menyusui putranya bangkit. Wanita cantik itu kemudian berjalan ke tepi balkon dan melongok ke bawah. Helaan nafas kecil keluar dari bibirnya ketika melihat tomy yang keluar dari mobilnya bersamaan dengan seorang wanita yang mengenakan penutup kepala.
“Apa dia takut terik matahari?” Tanya jeny pelan.
Jeny melengos. Entah kenapa ada sedikit rasa cemburu di hatinya. Tomy sangat menyayangi dan membanggakan adiknya. Bisa jadi rasa cintanya pada jeny juga tidak ada apa apanya di banding dengan rasa sayangnya pada susan.
“Kalian duduk saja dulu.. Mungkin jeny sedang istirahat dengan faraz di kamar.” Senyum tomy.
Bibi dan sisi yang diam diam mengintip di balik tembok rerkejut melihat wajah susan. Wajahnya sangat menyeramkan menurut sisi dan bibi.
“Apa mungkin itu mbak susan yang asli bi?” Tanya sisi berbisik pada bibi.
“Mungkin iya si.. Tapi kok wajahnya begitu yah.. Serem banget si..” Jawab bibi kemudian tampak berpikir melihat rupa menyeramkan wajah susan.
Sedangkan tomy, pria itu begitu sangat semangat berlari menaiki anak tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Tomy tidak sabar ingin memberitahu jeny bahwa susan juga tante dan omnya sudah ada di ruang tengah menunggunya.
Tomy membuka pelan pintu kamarnya. Senyumnya semakin lebar melihat istrinya yang sedang berbaring memunggunginya dengan menjadikan tanganya sebagai penyangga kepala.
“Sayang..” Panggilnya sembari mendekat keranjang dimana jeny berbaring.
Mendengar suara langkah suaminya mendekat jeny memejamkan kedua matanya. Jeny merasa was was dengan kehadiran susan asli di rumahnya. Jeny takut kasih sayang dan cinta suaminya akan terbagi.
“Sayang kamu tidur yah?”
Sentuhan lembut tangan tomy di bahu jeny membuat jeny menolehkan kepalanya. Wanita itu mengukir senyuman di bibirnya berusaha menutupi kerisauan yang sedang melanda hatinya.
“Loh, kirain aku kamu lagi tidur.. Abis aku panggilin dari tadi kamu nggak nyaut sih..” Kata tomy tersenyum manis.
Jeny menghela nafas. Wanita itu harus terlihat baik baik saja di depan semuanya. Jeny tidak mau suaminya sampai tau jika dirinya meragukanya.
“Maaf by.. Mungkin saking fokusnya aku sama faraz jadi nggak denger kamu panggil.”
Tomy tertawa kecil. Di belainya lembut pipi chuby jeny.
“Ya sayang, nggak papa kok. Aku tau kamu pasti capek banget ngurusin faraz sendirian.” Balas tomy tidak mempermasalahkanya.
Jeny kemudian bangkit dari berbaringya dan duduk di depan tomy.
“Susan dan tante juga om sudah ada di ruang tengah. Mereka sedang menunggu kamu turun.” Kata tomy menatap jeny lembut.
__ADS_1
Jeny menelan ludahnya. Jika jeny menolak menemuinya sekarang itu akan sangat terlihat sekali jika jeny menghindar. Tapi jeny benar benar tidak bisa sekarang menemui mereka apa lagi faraz sedang tertidur lelap dan jeny tidak bisa menjadikanya alasan untuk tetap tinggal di kamarnya.
“Aku pikir lebih baik kamu temuin dulu mereka sebentar sayang.. Setelah itu baru kamu istirahat. Kasihan om sama tante. Apa lagi susan sangat tidak sabar ingin bertemu dengan kamu.”
Jeny terdiam. Jeny yakin susan memang orang baik. Tapi orang baik juga punya sisi tidak suka. Jeny takut susan tidak menyukainya.
“Oke..” Angguk jeny setuju.
Tomy tersenyum senang. Pria itu bangkit dengan pelan dari duduknya di tepi ranjang. Tanganya terulur bermaksud menuntun istrinya turun dari ranjang.
“Pelan pelan sayang..” Lirih tomy yang tidak mau sampai membangunkan putranya yang sedang terlelap.
Berbeda dengan jeny yang sangat mengharapkan putranya bangun dan menangis agar dirinya tidak harus langsung menemui susan jugan om dan tantenya.
Jeny melangkah pelan dengan tomy yang menggandengnya. Jantungnya berdetak 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Jeny benar benar tidak siap hingga pada saat akan menuruni anak tangga langkah wanita cantik itu berhenti.
Tomy yang menyadarinya langsung menoleh dan membalikan tubuhnya menghadap jeny.
“Kenapa sayang?” Tanyanya mengusap lembut tangan jeny yang di genggamnya.
Jeny tidak tau harus menjawab apa. Jeny benar benar merasa khawatir sekarang. Tomy sangat menyayangi adiknya. Bagaimana kalau susan yang asli juga tidak menyukainya dan meminta tomy untuk meninggalkanya.
Jeny menggelengkan kepalanya. Rasanya akan sangat aneh jika jeny mengatakan semua yang di rasakanya pada tomy. Bahkan tidak menutup kemungkinan suaminya itu akan marah padanya.
“Enggak.. Aku ggak papa.. Aku hanya takut nanti tiba tiba faraz terbangun dan menangis by..” Jawab jeny beralasan.
Tomy menghela nafas. Ke khawatiran jeny bisa tomy terima. Karna putranya memang selalu ingin menempel pada jeny dan tidak pernah mau jauh dari jeny.
“Kita minta tolong mbak sisi untuk menemani faraz sebentar sementara kita temui mereka. Setelah itu baru kita istirahat temani putra kita.” Senyum tomy membelai pipi chuby jeny.
“Kita? Maksudnya kamu juga?”
Pertanyaan jeny membuat tomy mengeryit bingung. Padahal istirahat bersama menemani buah hatinya di siang hari sudah bukan hal baru lagi untuk mereka.
“Memangnya kenapa? Ada yang salah?” Tanya balik tomy.
Jeny terdiam. Padahal jeny pikir tomy akan menghabiskan waktunya hari ini untuk sekedar menemani susan mengobrol.
“Kamu kenapa sih sayang? Kamu sakit?”
__ADS_1
Jeny kembali menggelengkan kepalanya. Jeny benar benar tidak tau harus bagaimana sekarang.
“Kakak..”
Suara lembut seseorang membuat tomy dan jeny mengarahkan pandanganya ke arah tangga dimana seorang wanita dengan wajah setengah rusak berdiri disana. Dan jeny tau itulah susan.
“Susan..” Gumam tomy tersenyum.
Jeny melirik suaminya diam diam. Tomy sangat sumringah ketika mendapati adiknya sedang mendekat ke arahnya dan jeny.
“Ini pasti kak jeny yah..” Senyum susan menatap jeny yang berdiri di belakang tomy.
Tomy menoleh pada istrinya kemudian tersenyum bangga.
“Ya dek.. Ini jeny.. Istri kakak..”
Susan menganggukan kepalanya. Susan kemudian mengulurkan tanganya pada jeny dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
“Kita belum pernah bertemu sebelumnya kak.. Namaku susanti putri bagaskara.” Kata susan memperkenalkan dirinya pada jeny.
Jeny terdiam dan menatap ragu tangan susan yang mengudara di depanya. Tidak mau membuat suaminya salah faham jeny pun segera menyambut uluran tangan susan dan menjabatnya erat.
“Aku jeny..” Balas jeny singkat dengan senyum tipisnya.
Susan menyalimi jeny dengan membungkukan badanya. Dan apa yang susan lakukan berhasil membuat jeny terkejut.
“Walaupun aku lebih tua dari kak jeny.. Tapi kak jeny tetep kakak aku..” Senyum susan kemudian melepaskan jabatan tanganya.
Jeny terdiam. Susan sangat sopan padanya yang jelas memang lebih muda darinya. Tapi sepertinya susan tidak mempermasalahkan usianya dan tetap mau menyalimi jeny sebagai kakak iparnya.
“Oya dek, mana om sama tante?” Tanya tomy kemudian.
“Mommy sama daddy ada di bawah kak.. Tadi aku dari toilet terus liat kakak sama kak jeny jadi aku samperin deh..” Jawab susan.
Tomy menganggukan kepalanya kemudian menoleh kembali pada jeny.
“Kita temuin om sama tante sebentar yah.. Setelah itu baru istirahat.” Kata tomy lembut.
Jeny menganggukan pelan kepalanya. Wanita itu masih sangat terkejut dengan susan yang begitu sopan sampai menyaliminya.
__ADS_1
Susan yang melihat tomy begitu sangat lembut memperlakukan jeny ikut tersenyum bahagia. Susan yakin kakaknya sangat mencintai jeny. Dan susan juga yakin wanita yang di cintai oleh kakaknya adalah wanita yang tepat juga baik.