
Ketika jeny dan tomy keluar dari rumah sakit para pemburu berita itu langsung menyerbu. Beruntung roy, bisma, dan kedua temanya yang lain sangat sigap melindungi tomy dan jeny hingga akhirnya tomy dan jeny bisa masuk ke dalam mobil tanpa tersenggol sedikitpun oleh para pemburu berita itu.
“Kamu nggak papa kan sayang?” Tanya tomy menatap jeny yang berada di sampingnya dengan menggendong bayinya.
Jeny menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Jeny merasa senang karna akhirnya tomy mengajaknya pulang.
“Aku seneng banget akhirnya bisa pulang juga..” Katanya.
Tomy tersenyum. Dengan lembut di usapnya rambut lurus istrinya. Tomy benar benar terpaksa membuat istrinya untuk sementara di rumah sakit. Namun tomy tidak mau hanya istrinya yang tinggal di rumah sakit karna tomy pun ikut menginap untuk menemani istri tercintanya. Sedangkan mamahnya dan mamah jeny tomy bebaskan untuk pulang.
“Aku minta maaf ya sayang..”
Tomy meraih kedua pundak jeny dan mengusap usapnya dengan sangat lembut.
Jeny tersenyum mendengarnya. Meskipun jeny memang sempat merasa sebal pada suaminya yang mengurungnya di rumah sakit tapi jeny tidak mempermasalahkanya karna yang terpenting sekarang adalah dirinya juga bayinya sudah bisa pulang dan menikmati udara segar dan sehat di kediamanya.
“Nggak papa by..” Balas jeny pelan.
Tomy ikut tersenyum. Tomy sangat berharap jeny menyukai apa yang sudah tomy siapkan.
“Oya by bagaimana dengan kado kado itu?” Tanya jeny karna tomy memang tidak mengambil satupun kado yang menumpuk di ruang rawat jeny.
“Emm.. Untuk itu nanti aku suruh reyhan yang ambil sayang..” Jawab tomy sambil beralih mengusap usap lembut pipi gembul putranya yang terlelap sambil menyedot asi jeny.
“Oke..”
Jeny terdiam. Senyumnya mengembang menatap wajah tampan putranya. Jeny sendiri masih tidak menyangka jika sudah berhasil melahirkan putranya. Rasanya memang sangat sakit tapi jeny tidak merasa kapok karna jeny tau setelah ini dirinya pasti akan kembali melahirkan anak anaknya yang lain dengan tomy. Entah itu 3 tahun kemudian atau mungkin 5 tahun.
Jeny mengusap usap lembut pipi gembul putranya dan tiba tiba saja jeny teringat akan percakapanya dengan wanita yang tiba tiba mengaku sebagai adik tomy sampai menjadikan marga suaminya sebagai nama belakangnya. Jeny ingin bertanya pada suaminya tapi jeny pikir itu tidak terlalu penting karna jeny tau suaminya orang yang baik dan pasti tidak akan membohonginya. Bisa saja wanita itu hanya sedang iseng atau mungkin mempunyai niat tidak baik dengan mengadu domba jeny.
“Sayang kenapa?” Tanya tomy ketika melihat istrinya yang tampak memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Jeny sebenarnya ingin sekali memastikan kebenaranya pada tomy sekarang juga. Tapi rasanya tidak mungkin jika sekarang mengingat ada supir kantor yang sedang menyupiri mobil mewah suaminya.
“Nggak kok by.. Nggak papa..” Senyum jeny berbohong pada suaminya.
Tomy menyipitkan kedua matanya. Jeny terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu tapi jeny tidak mau jujur padanya. Tomy menghela nafas kemudian berdecak pelan. Mungkin menanyakanya di rumah nanti akan jauh lebih baik dari pada di dalam mobil.
15 Menit perjalanan akhirnya mobil mewah tomy sampai tepat di depan kediamanya. Dan kepulangan jeny juga putranya di sambut dengan bahagia oleh bibi, sisi, juga pak satpam. Mereka bertiga tersenyum bahagia serta tidak lupa memberikan selamat pada kedua orang tua baru itu.
“Ibu mau sisi bikinin apa? Atau ibu mau sisi ambilin minum?” Tawar sisi penuh semangat.
Jeny tertawa geli. Gadis belia itu tampak sangat bersemangat menyambut kepulanganya.
“Nggak usah mbak.. Nanti saja..” Senyum jeny menolak halus.
Tomy mengikuti istrinya yang melangkah pelan dengan terus menggendong bayinya. Padahal tomy sudah mengatakan supaya anaknya di taruh di baby stroller saja namun jeny menolaknya.
“Eemm.. Sayang..” Panggil tomy ketika jeny hendak masuk ke dalam kamar mereka.
“Ya by.. Kenapa?” Saut jeny kemudian bertanya dengan wajah bingung.
“Aku ada sesuatu yang mau di tunjukin sama kamu..”
Jeny mengeryit. Wanita itu mulai penasaran dengan sesuatu yang ingin di tunjukan oleh suami tercintanya.
“Apa?”
“Ayo masuk..” Ajak tomy mendorong lembut punggung jeny agar masuk ke dalam kamar mereka.
Jeny menurut. Wanita itu melangkah pelan masuk ke dalam kamarnya dan mendekat ke ranjang king zise mereka untuk menaruh putranya yang memang sudah sangat anteng terlelap di gendonganya.
“Kamu mau nunjukin apa?” Tanya jeny menatap tomy yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Tomy tersenyum kemudian menoleh ke samping kanan tepatnya ke arah lemari baju mereka. Jeny yang sudah terlanjur sangat penasaranpun ikut menoleh. Wanita itu terlihat bingung ketika mendapati sebuah pintu berwarna putih yang tidak pernah ada di samping lemari baju mereka sebelumnya.
“By itu..”
Tomy meraih tangan jeny dan menggenggamnya lembut. Pria itu menarik halus tangan kecil jeny dan mengajaknya melangkah menuju pintu bercat putih tersebut.
“By ini pintu apa?” Tanya jeny.
“Buka aja sayang..” Senyum tomy.
Jeny terdiam sesaat. Entah apa yang berada di balik pintu bercat putih itu. Tapi jeny yakin ada sesuatu yang pasti baik disana. Pelan pelan jeny mengangkat tanganya dan meraih handle pintu bercat putih tersebut. Jeny memutar dan mendorongnya pelan membuat pintu tersebut langsung terbuka lebar.
Jeny menutup mulutnya terkejut dengan apa yang di lihatnya. Setahu jeny samping kamarnya dan tomy adalah lahan kosong. Tapi sekarang tiba tiba sudah menjadi sebuah kamar bernuansa biru muda lengkap dengan hiasan dan mainan untuk anak kecil.
“By ini...”
Tomy memeluk lembut tubuh jeny dari belakang. Pria tampan itu mencium singkat bahu jeny dengan wajah sendunya.
“Aku minta maaf yah karna membuat kamu bosan dan jenuh karna kelamaan di rumah sakit.. Tapi aku lakukan itu untuk ini sayang.. Aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa napa jika di rumah saat proses pembangunan kamar dan tempat bermain untuk anak kita..”
”Apa? Tempat bermain juga?” Tanya jeny tidak percaya.
“Ya sayang.. Di lantai bawah kamar ini adalah tempat khusus untuk anak kita bermain. Di situ juga ada pintu lagi yang langsung menuju tangga untuk ke lantai bawah tempat bermain anak kita..” Jawab tomy.
Jeny menggelengkan kepalanya. Dalam 3 hari tomy bisa membangun kamar bahkan tempat bermain untuk anak nya biayanya pasti tidak murah.
“By ini.. Ini bagus banget.. Dan kamu bangun ini dalam waktu 3 hari?” Tanya jeny menoleh menatap wajah tampan suaminya yang sejajar denganya karna tomy menempelkan dagunya di bahu jeny.
“Ya sayang.. Harusnya aku bangun ini dari 3 bulan lalu.. Tapi kamu tau sendiri peliknya masalah yang kita hadapi.. Aku bukan tidak perduli sayang.. Tapi aku benar benar tidak terpikirkan.”
Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny tau semuanya karna jeny pun merasakanya. Dan jeny memaklumi itu. Jeny menumpukan tanganya di atas lengan kekar tomy yang melingkari perutnya. Jeny kemudian mengusapnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
“Terimakasih suamiku..”