
Pukul 10 tomy benar benar pulang seperti apa yang di katakan bibi tadi. Dan ketika melihat mobil tomy mulai masuk ke dalam pekarangan luas rumahnya dari balkon jeny langsung berlari untuk merias dirinya. Setelah di rasa penampilanya cantik jeny pun turun dari lantai 2 dan menyambut kepulangan tomy dengan pelukan hangat juga ciuman singkatnya.
“Eemm.. Wangi banget sayang..” Senyum tomy.
Jeny hanya tersenyum saja mendapat pujian dari suaminya. Jeny kemudian bergelayut manja pada tomy dan menuntun pria tampan itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Oiya sayang.. Besok kita harus ke beberapa panti asuhan juga beberapa kampung untuk berkunjung.”
Jeny mengeryit. Tidak biasanya tomy mengajaknya ke tempat tempat seperti itu. Biasanya pria tampan itu cenderung mengajak nya belanja, makan di luar, dan jalan jalan.
“Untuk apa?” Tanya jeny bingung.
“Loh kok untuk apa.. Ya untuk 4 bulanan usia kandungan kamu lah sayang.. Sekalian syukuran pembukaan klinik kamu juga.” Jawab tomy mencubit gemas pipi chuby istrinya.
Jeny tersenyum mendengarnya. Tomy benar benar melakukan apa yang di inginkanya.
“Ya tuhan by.. Makasih banget yah..”
Tomy tersenyum. Tomy menangkup kedua pipi jeny menggunakan kedua tangan besarnya. Di kecupnya lama kening jeny membuat jeny memejamkan mata merasakan besarnya cinta juga kasih sayang suaminya itu.
“Nggak perlu berterimakasih sayang.. Apapun itu akan aku lakukan asal kamu bahagia. Karna kebahagiaan kamu adalah prioritas utama untuk aku.” Balas tomy tersenyum menatap lembut wajah cantik jeny.
Jeny benar benar tersentuh mendengarnya. Jeny berharap perasaan tomy kekal padanya begitu juga dengan perasaanya pada tomy. Meskipun jeny sendiri tau tidak ada yang kekal di dunia ini.
Jeny kembali berhambur memeluk tubuh tegap tomy. Air mata harunya menetes di balik punggung pria itu. Jeny merasa beruntung memiliki tomy. Dan jeny mungkin akan sangat menyesal jika menuruti egonya saat itu untuk bercerai dengan tomy.
“Kamu ngapain aja pagi ini?”
Pertanyaan tomy membuat jeny melepaskan pelukanya. Wanita itu buru buru mengusap air mata yang menganak sungai di kedua pipinya.
“Ya tuhan jeny.. Kamu kenapa nangis? Ada yang sakit?” Tanya tomy meraih kedua bahu jeny khawatir.
Jeny tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya menjawab.
“Aku nggak papa. Hanya terlalu bahagia.” Katanya.
__ADS_1
Tomy menghela nafas.
“Bisa tidak sayang ungkapin bahagianya jangan dengan air mata. Cukup dengan senyuman terus peluk dan cium aku..”
Jeny terkekeh mendengarnya. Jeny tidak hanya bahagia tapi juga tersentuh dengan semua yang tomy lakukan untuknya.
“Eemm...Untuk bunganya pagi ini.. Aku suka.”
Kedua pipi tomy langsung terasa panas mendengarnya. Dan tomy yakin saat ini wajahnya pasti sudah memerah seperti udang rebus. Tomy bukan malu karna bunganya tetapi karna tulisan di kertas pink nya. Setelah di pikir pikir tomy merasa apa yang dia tuliskan di kertas pink itu sangat tidak nyambung, berlebihan, bahkan sangat konyol.
”Ya...” Angguknya salah tingkah.
Jeny tersenyum geli. Lucu sekali melihat tingkah suaminya. Kedua pipinya memerah dengan gerakan tubuh yang seperti orang menahan malu dan tidak tau harus bagaimana.
"Eemm.. Kita ke kamar yuk?” Ajak tomy masih dengan kebingunganya karna malu.
“Oke..” Angguk jeny setuju.
Jeny kembali bergelayut di lengan tomy. Wanita itu mengikuti langkah suaminya menuju tangga, menaikinya satu demi satu anak tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada.
“Kenapa sayang?” Tanya tomy menatap jeny bingung.
Jeny menolehkan kepalanya pada tomy.
“By.. Boleh tidak aku buka semua kado yang ada di kamar itu?” Tanya jeny dengan wajah penuh harap.
Tomy terdiam sesaat. Namun berlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Tomy sangat bahagia mendengarnya. Itu berarti jeny mau menerima semua pemberian tertundanya 5 tahun silam.
“Tentu saja boleh sayang.. Ayo aku temani.” Senang tomy melepaskan tangan jeny yang bergelayut di lenganya dan berganti menggenggam tangan wanita itu menuntunya melangkah menuju kamar tersebut.
Jeny merasa aneh saat tomy mulai membuka pintu kamar tersebut. Jantungnya berdetak 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Dan jeny merasa bingung tidak tau harus bagaimana begitu sampai di depan tumpukan kado yang berada di atas ranjang.
“Kamu bebas pilih yang mana dulu yang mau kamu buka.” Senyum tomy berkata.
Jeny menelan ludahnya. Tumpukan kado itu terlalu banyak untuknya. Dan jeny bingung harus memulai membuka yang mana. Yang kecil atau yang besar atau bahkan yang sedang dulu.
__ADS_1
Tomy yang melihat kediaman istrinya merasa bingung. Berlahan tomy memeluk tubuh jeny dari belakang. Tangan besarnya mengusap lembut perut jeny yang mulai sedikit membuncit itu. Dagunya tomy tempelkan di bahu jeny. Tomy memejamkan mata menghirup aroma harum yang menguar dari tubuh wanitanya.
“Kok diem sayang?” Tanya tomy berbisik lembut.
“Aku bingung harus membuka yang mana dulu.” Jawab jeny jujur.
Tomy terkekeh mendengarnya. Pria tampan itu kemudian memutar tubuh jeny agar menghadapnya. Di peluknya mesra pinggang jeny. Tomy juga mengecup sekilas bibir berlipstik nude jeny.
“Kenapa harus bingung. Ini semua milik kamu.. Kamu bebas mau membuka yang mana.” Kata tomy.
Jeny tersenyum. Sikap tomy begitu lembut padanya. Pria itu benar benar menunjukan semua rasanya dengan penuh kelembutan.
“Atau mau aku bantu buka?” Tanya tomy kemudian.
Jeny menganggukan kepalanya menjawab. Wanita itu kemudian menjauh dari tomy dan menyentuh satu kado berukuran paling besar di antara kado yang lainya.
“Bantu aku buka yang ini by..” Katanya.
“Oke..” Angguk tomy.
Tomy mendekat pada jeny. Pria itu kemudian meraih dan menurunkan kado tersebut. Tomy mempersilahkan untuk jeny menyobek sampul kadonya terlebih dulu kemudian membantunya. Dengan senyum yang terus terukir di bibirnya jeny begitu bersemangat membukanya.
“Ya tuhan.. Tomy.. Ini besar banget..”
Jeny menutup mulutnya tidak menyangka melihat isi kadonya. Isinya adalah sebuah tedy bear besar berwarna coklat gelap yang tidak akan muat jika di taruh di atas ranjangnya. Jeny kemudian berbipikir bagaimana caranya tomy memasukan kado tersebut yang bahkan untuk melewati pintu saja rasanya tidak mungkin. Tinggi tedy bear itu saja bahkan hampir sama seperti tinggi badan tomy.
“Kamu suka?” Tanya tomy dengan senyuman di bibirnya menyembulkan kepala lewat ketiak tedy bear besar itu.
Jeny terkekeh. Tingkah suaminya sungguh konyol dan lucu. Meskipun di satu sisi kadang pria itu bisa sangat menyeramkan.
“Aku suka.. Tapi by.. Bagaimana caranya tedy bear sebesar ini bisa masuk ke dalam kado yang ukuranya bahkan hanya setengah badan kamu..”
Tomy hanya tersenyum saja. Tedy bear yang di belinya tidak sembarang tedy bear seperti yang ada di pasaran. Tomy sengaja memesanya dari pabriknya dan memastikan sendiri bahan pembuatanya harus paling paling baik. Sehingga tedy bear itu bisa di tekan sedemikan kecil namun langsung mengembang besar jika di lepaskan.
“Apapun bisa aku lakukan untuk kamu sayang..” Balasnya.
__ADS_1