Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 86


__ADS_3

Tomy menghentikan mobil nya di depan sebuah toko bunga. Seulas senyum terukir di bibir nya membayangkan senyum manis jeny menyambut kedatanganya nanti. Saat ini wanita itu memang masih berada di rumah sakit di temani bibi dan sisi.


Tomy keluar dari mobilnya kemudian masuk ke dalam toko bunga itu. Pria tampan itu menatap bingung deretan bunga yang berada di sekitar nya. Tomy tidak pernah memberikan bunga pada siapapun. Wajar jika tomy bingung karna menurut nya semua bunga bunga yang di lihat nya bagus.


Pemilik toko yang melihat kebingungan tomy mendekat. Wanita baya dengan rambut di sanggul mengenakan kebaya hijau toska yang begitu pas di tubuh nya itu berdiri di samping tomy.


“Ada yang bisa saya bantu?”


Tomy menoleh. Pria itu tersenyum mendapati wanita baya yang tidak di kenal nya berdiri di samping nya.


“Ah ya.. Saya sedang mencari bunga untuk istri saya.” Jawab tomy menggaruk tengkuk nya bingung.


Wanita itu tersenyum. Tatapan nya mengarah pada berbagai jenis bunga di depan nya. Tanganya meraih setangkai bunga mawar merah kemudian menunjukan pada tomy.


“Bunga merah tanda cinta pak. Istri anda pasti akan sangat senang jika bapak memberikan setangkai bunga ini padanya.”


Tomy mengeryit. Rasanya dirinya terlihat sangat pelit jika hanya memberikan satu tangkai. Lorenzo saja yang bukan siapa siapa jeny selalu memberikan satu buket.


“Hanya setangkai?” Tanya tomy ragu.


Wanita baya itu tersenyum.


“Pak cinta bukan hanya mengukur dari apa yang kita berikan ataupun kita miliki. Tapi cinta itu ketulusan juga ke ikhlasan hati kita. Apapun yang kita beri dan kita miliki selama itu tulus kita persembahkan pada orang yang kita cintai dan tentunya orang yang mencintai kita orang itu pasti akan sangat senang juga bahagia.”


Tomy terdiam. Jeny pernah dengan bangga memamerkan sebuket bunga pemberian lorenzo padanya.


“Bagaimana bisa kita melihat senang dan bahagianya? Orang yang saya cintai mungkin saja menutupi kekecewaan di balik senyumanya.”


Wanita itu tersenyum lagi mendengar apa yang di katakan tomy.


“Tatap matanya dan anda akan menemukan sendiri jawabanya nanti.”


Tomy terdiam. Mungkin apa yang di katakan wanita baya di depanya memang benar. Buktinya jeny tidak pernah meminta apapun padanya. Jeny bahkan sempat menolak dan ingin berpisah denganya meskipun dirinya sudah benar benar menjadi orang yang terpandang.


“Baik. Kalau begitu saya mau 100 tangkai.” Senyum tomy menatap wanita baya itu.


“Baik pak.”


Setelah membayar bunga yang di inginkanya tomy pun keluar dari toko bunga itu dan kembali masuk ke dalam mobil nya. Senyum di bibir tipis nya mengembang menatap setangkai bunga mawar merah yang di katakan sebagai tanda cinta itu. Tomy berharap jeny bisa mengerti perasaanya.


Suara ketukan di kaca mobil nya membuat tomy menoleh. Pria itu segera menurunkan kaca mobilnya ketika mendapati salah satu karyawan toko bunga itu berdiri di samping mobil mewah nya.


“Ya? Ada apa?” Tanya tomy bingung.


“Maaf pak. Anda belum memberikan alamat kemana kami harus mengirim 99 tangkai bunga mawar yang anda beli.”


Tomy menepok jidat nya sendiri. Saking tidak sabar nya ingin bertemu dan melihat reaksi istrinya tomy sampai lupa memberikan alamat rumah sakit tempat jeny di rawat.


“Maaf. Saya lupa.”


Setelah memberikan alamat rumah sakit dimana jeny di rawat tomy kemudian segera berlalu dengan mobil nya. Pria tampan itu sengaja melajukan pelan mobil mewah nya agar 99 tangkai bunga mawar merah nya lebih dulu sampai pada jeny.

__ADS_1


“Aku harap kamu suka sayang.” Gumam tomy dengan senyuman di bibir nya.


Sementara itu di ruang rawatnya jeny baru saja selesai menghabiskan makananya. Wanita cantik yang kini berganti baju dari jas dokter menjadi baju pasien itu menghela nafas. Di lirik nya jam dinding yang berada di seberang nya. Waktu pulang tomy sudah lewat dari 30 menit.


“Ibu mau sisi belikan sesuatu?” Tanya sisi melihat jeny yang tampak bosan di atas brankar nya.


Jeny menolehkan kepalanya. Malam ini memang jadwal sisi untuk menemaninya sembari menunggu tomy datang.


“Nggak usah.” Geleng jeny menolak.


Suara ketukan pintu membuat jeny mengarahkan pandanganya ke arah pintu. Senyum nya langsung mengembang ketika mendapati rani yang melambaikan tangan lewat kaca pintu ruang rawatnya.


“Kakak..”


Jeny menyambut antusias menyambut kedatangan sahabat nya. Seharian ini rani memang tidak mengunjunginya. Dan jeny tau dokter cantik itu mungkin sibuk melayani pasien pasienya.


“Gimana keadaan kamu?” Tanya rani mendekat.


“Aku udah baikan kak..” Senyum jeny menjawab.


Rani mengangguk. Pandanganya beralih pada perut jeny. Rani berpikir tomy belum memberitahu jeny tentang kehamilanya.


“Anak aku juga baik..” Senyum jeny bangga.


Rani terdiam sesaat namun akhir nya tersenyum. Ternyata tomy memang benar benar memberitahu perihal kehamilan jeny secara langsung tanpa perantara.


“Syukurlah.. Jen.. Sekarang kamu harus lebih perhatiin kesehatan kamu. Jangan telat makan. Jangan kecapek an. Kamu udah nggak sendiri loh..” Nasehat rani.


“Iya kak...” Angguk jeny senang.


“Suami kamu mana?” Tanya rani celingukan mencari sosok tomy.


“Mungkin sebentar lagi dia datang.” Senyum jeny menjawab.


Rani menganggukan kepalanya. Rani sangat berharap tomy benar benar menjaga dan memperlakukan jeny dengan sangat baik.


Suara ketukan membuat jeny, rani, juga sisi menatap ke arah pintu.


“Em.. Biar saya buka bu..” Kata sisi berinisiatif.


Jeny menganggukan kepalanya mengiyakan. Wanita itu menatap penasaran siapa yang mengetuk pintu ruang rawat nya.


“Kayak kurir bunga jen..” Ucap pelan rani ketika melihat sisi membuka pintu ruang rawat jeny.


Jeny mengeryit. Namun kemudian sebuah decakan pelan keluar dari bibir nya. Jeny bisa menebak siapa yang mengiriminya bunga. Orang itu tidak lain pasti adalah lorenzo.


“Dari lorenzo lagi?” Jengah rani yang sepemikiran dengan jeny.


“Dia tau kamu disini?” Tanya rani menatap jeny serius.


Jeny mengedikkan kedua bahunya. Jeny tidak merasa memberitahu pria bermata sipit itu. Namun jika memang pria itu tau mungkin karna bibi atau sisi.

__ADS_1


Jeny menghela nafas ketika sisi mendekat dengan memeluk buketan mawar merah yang sangat besar.


“Apa ada kartu ucapanya mbak?” Tanya jeny setelah sisi berada di samping nya untuk menunjukan buketan besar mawar merah tersebut.


Sisi menatap buketan bunga di tanganya kemudian tersenyum ketika melihat kartu ucapan berwarna pink yang tersemat di antara bunga bunga itu.


“Ini bu..”


Jeny menerima kartu ucapan yang di berikan oleh sisi. Senyum nya mengembang ketika mendapati nama suaminya yang tertera di kartu tersebut.


Rani yang juga penasaran melongokan kepalanya. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat nama Tomy tertulis rapi disana.


“Dari suami kamu..”


Jeny mengangguk senang. Jeny pikir bunga itu dari lorenzo.


“Aneh banget sih.. Dimana mana orang ngasih bunga itu pake ucapan romantis. Ini malah nulis namanya sendiri.”


Jeny tidak perduli apapun komentar rani. Menurut nya apa yang di lakukan suaminya sudah sangat romantis.


“Hh.. Ya sudah jen. Aku udah di jemput nih. Kamu sehat sehat ya.. Biar kita bisa bareng lagi tiap hari..” Kata rani kemudian memeluk jeny.


“Iya kak.. Makasih yah. Kakak hati hati.” Balas jeny dengan senyuman di bibir nya.


Setelah rani berlalu keluar dari ruang rawat jeny tidak lama kemudian masuk tomy dengan setangkai mawar merah di tanganya. Pria tampan itu tersenyum menatap istrinya yang duduk dengan 99 tangkai bunga mawar merah yang lebih dulu tomy kirimkan.


Sisi yang tidak tau harus bagaimana segera berlalu keluar karna tidak mau mengganggu waktu berdua majikanya.


Tomy melangkah mendekat ke brankar jeny dalam diam. Tomy sebenarnya sangat gugup sekarang. Tomy tidak pernah memberikan bunga pada siapapun. Dan sekarang tomy tidak tau harus berkata apa.


“Makasih bunganya. Aku suka.” Senyum jeny menatap tomy yang sudah berdiri di samping brankar nya.


Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu menunduk menatap setangkai bunga yang di pegang nya. Tomy tidak tau harus berkata apa untuk menyerahkanya pada jeny.


“Itu..”


“Ini untuk kamu.” Sela tomy cepat sambil menyodorkan setangkai bunga yang di pegangnya.


Jeny terdiam. Tomy sudah mengirimkan sebuket besar bunga untuk nya. Dan sekarang pria tampan itu kembali memberikanya lagi satu tangkai.


Jeny menerima bunga yang di sodorkan oleh tomy. Entah apa maksud nya jeny tidak tau.


“Kenapa harus terpisah?” Tanya jeny bingung.


Tomy menelan ludah nya sendiri. Tomy tidak tau harus menjawab apa. Tomy hanya ingin memberikanya secara langsung setangkai mawar merah itu.


“Pemilik toko bunga bilang satu tangkai bunga ini adalah tanda cinta. Jadi aku jadikan setangkai bunga ini sebagai tanda cinta aku buat kamu.” Kata tomy jujur.


“Lalu bagaimana dengan yang ini?” Tanya jeny menunjukan buketan besar bunga yang berada di depanya.


“Untuk itu anggap saja sebagai perasaan aku. Setiap keindahan kelopak bunga bunga itu adalah gambaran indahnya perasaan aku saat ini.”

__ADS_1


Jeny tertawa mendengarnya. Ucapan tomy memang terdengar aneh juga lucu. Tapi jeny sangat senang dan menghargai usaha suaminya.


“Makasih..”


__ADS_2