
Sesampainya di rumah tomy dan jeny langsung membersihkan dirinya kemudian makan malam bersama. Tidak ada lagi suasana hening di meja makan. Obrolan dan candaan selalu terlontar di meja makan. Bahkan tomy sesekali meminta jeny untuk menyuapinya dengan sangat manja.
“Tom.. Kita belum kasih tau mamah sama papah tentang kehamilan aku..”
Tomy yang sedang memasukan baju baju ke dalam kopernya langsung berhenti. Pria itu menoleh pada jeny yang hanya duduk di tepi ranjang karna tomy memang melarang wanita itu untuk membantunya.
“Ya ampun.. Ya sayang... Aku juga nggak sampe kepikiran kesitu..” Kata tomy menepuk jidatnya sendiri.
Jeny terkekeh. Jeny juga baru kepikiran.
“Tapi sayang.. Kita sudah harus berangkat besok pagi. Mungkin setelah kepulangan kita dari amsterdam saja kita kasih tau mereka.”
Jeny mengeryit.
“Jadi tentang keberangkatan kita ke amsterdam juga mereka belum kamu kasih tau?” Tanya jeny.
Tomy tertawa meringis. Semuanya terasa sangat indah semejak jeny mau nenerimanya. Dan hal itu membuat tomy melupakan semuanya dan hanya fokus dengan pekerjaan juga jeny.
“Belum..” Jawab tomy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Jeny memutar kedua matanya jengah. Wanita cantik itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke nakas. Di raihnya ponsel miliknya yang berjajar dengan ponsel tomy di atas nakas tersebut.
“Biar aku kasih tau lewat telephone saja.” Katanya.
Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian kembali melanjutkan mengemasi apa yang akan di perlukan olehnya dan jeny selama di amsterdam.
Sedangkan jeny, wanita itu melangkah menuju balkon kamarnya sambil menempelkan ponselnya di telinga berusaha menghubungi kedua orang tuanya.
“Halo...”
Senyum jeny mengembang ketika mendengar suara tegas namun penuh kelembutan mamahnya. Rasanya jeny sangat merindukan wanita itu.
“Halo mah..”
“Ya nak. Kenapa?” Saut mamah jeny kemudian bertanya.
“Mamah lagi ngapain?” Tanya balik jeny.
“Oohh.. Ini mamah lagi nonton tv sama papah.. Kamu sendiri lagi ngapain? Tomy mana?”
Jeny menolehkan kepalanya. Senyumnya kembali mengembang ketika melihat tomy yang begitu telaten memasukan segala keperluanya ke dalam koper.
“Tomy sedang packing mah..” Jawab jeny masih menatap suaminya.
“Packing? Memang nya tomy mau kemana?” Tanya mamah jeny dengan nada sangat penasaran.
__ADS_1
“Bukan hanya tomy mah.. Tapi aku juga. Kita mau pergi ke amsterdam besok pagi.” Jawab jeny.
“Maksudnya kalian mau bulan madu?”
Jeny langsung merasakan pipinya memanas. Wanita cantik itu buru buru mengalihkan perhatianya dari tomy. Jeny tidak mau jika tomy sampai melihat wajahnya yang pasti sudah merona sekarang.
“Eemm.. Enggak kok. Aku cuma ikut aja.. Kan di ajak sama tomy.” Jawab jeny gagap.
Mamah jeny tertawa di seberang telephone. Dan dengan jelas jeny dapat mendengar pertanyaan dengan nada penasaran papah nya karna tawa sang mamah.
“Kan sama aja jen.. Kalian pergi berdua buat bulan madu nih jadinya?”
“Enggak mamah.. Aku.. Aku cuma nemenin tomy kerja. Bukan bulan madu.. Ya mungkin bisa di bilang sekalian liburan.” Sergah jeny menolak kata bulan madu yang di katakan oleh mamahnya.
“Hhh.. Oke oke.. Selamat bersenang senang ya sayang. Mamah sama papah tunggu hasilnya.”
Sambungan telephone di putus begitu saja oleh mamah jeny ketika jeny hendak menjawab. Wanita cantik itu menghela nafas. Pipinya masih terasa sangat panas.
“Tunggu hasil apa maksudnya?” Gumam jeny bertanya pelan.
Jeny menggelengkan kepala tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh mamahnya.
“Sayang...”
Jeny tersentak ketika tomy tiba tiba memeluknya dari belakang. Pria itu bahkan mengecup lehernya membuat jeny harus mendongak untuk memberikanya ruang.
Jeny melenguh ketika merasakan bibir kenyal tomy menempel di kulit leher putih jenjangnya. Hal itu membuat bulu kuduk jeny berdiri.
“Tomy.. Bisa tidak jangan begini... Aku merinding.”
Tomy terkekeh mendengarnya. Jeny sangat jujur dengan apa yang di rasakanya.
“Bagaimana kalau begini?”
Jeny langsung menghalangi tangan tomy yang hendak menyentuh dadanya. Tangan pria tampan itu benar benar berani dan mulai sesuka hati menjamah tubuhnya.
“Tomy...”
“Kenapa? Aku kan suami kamu..” Sela tomy.
Jeny terdiam. Tomy memang suaminya. Dan itu artinya semua yang ada pada dirinya adalah hak pria tampan itu.
“Eemmm.. Ya.. Aku tau..” Balas jeny pelan.
“Tapi... Aku sedikit capek hari ini..” Lanjut jeny.
__ADS_1
Jeny tidak sedang berbohong. Badanya memang terasa sedikit pegal pegal hari ini. Mungkin karna aktivitas nya yang cukup menguras tenaganya hari ini saat bekerja.
Tomy tersenyum mendengarnya. Pria tampan itu dengan lembut membalikan tubuh jeny sehingga menghadapnya. Di tempelkanya keningnya ke kening jeny membuat tomy harus membungkuk karna tinggi jeny memang hanya selehernya.
“Mau aku pijitin?” Tanya tomy menawarkan jasa pijat pada istrinya.
Jeny mengeryit. Jantungnya kembali berdetak dengan sangat cepat namun anehnya tubuhnya mulai merasa nyaman dengan apa yang di lakukan suaminya. Tidak ada lagi rasa malu maupun canggung.
“Memangnya kamu bisa mijit?” Tanya jeny.
Tomy mengecup ujung hidung mancung jeny singkat kemudian turun ke bibirnya. Tomy memagut sebentar bibir merah alami jeny kemudian menjauhkan wajahnya.
“Untuk kamu aku selalu bisa melakukan apapun.” Jawabnya.
Jeny terkekeh. Wanita itu menghela nafas kemudian mengalungkan kedua tanganya di leher jenjang tomy.
“Eemm... Gratiskan?” Tanya jeny menatap wajah tampan tomy dengan senyuman manis di bibirnya.
“Di dunia ini nggak ada yang gratis sayang...” Jawab tomy.
Senyum di bibir jeny langsung pudar. Wanita itu berdecak dengan ekspresinya yang berubah sebal menatap tomy.
“Sama istri sendiri masa harus bayar sih?”
Tomy terkekeh pelan. Di angkatnya tubuh jeny lembut.
“Bercanda sayang...” Katanya.
Tomy membawa jeny masuk ke dalam kamar. Pria itu menurunkan pelan tubuh jeny di atas ranjang dan menatap nya penuh cinta.
“Buka baju kamu.” Kata tomy dengan nada memerintah.
“Hah? Kenapa mesti buka baju?” Tanya jeny bingung.
“Lah katanya mau di pijit..”
“Enggak enggak.. Nggak jadi.”
Jeny meraih selimut dan langsung menutupi seluruh tubuhnya bersembunyi dari tomy.
Tomy melongo melihatnya. Tomy tidak ada maksud lain. Meskipun awalnya tomy memang ingin menyentuh kembali tubuh mungil istrinya namun mendengar wanita itu merasa tidak enak dengan badanya keinginanya langsung sirna dan berganti dengan perasaan kasihan karna istrinya kelelahan bekerja seharian ini.
Tomy menghela nafas. Pria itu kemudian mendudukan dirinya tepat di samping jeny yang berbaring memunggunginya. Tomy menyentuh dan memijat lembut punggung istrinya berharap bisa menghilangkan rasa pegal yang di rasakan oleh wanitanya.
Jeny yang berada di dalam selimut tersenyum. Pijatan lembut suaminya membuat jeny merasa nyaman. Tomy benar benar tidak berniat apapun malam ini padanya. Pria tampan itu bahkan tetap memijitnya meskipun jeny bersembunyi di balik selimut.
__ADS_1
“Terimakasih..” Gumam jeny dalam senyuman.