Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 150


__ADS_3

Seminggu berlalu. Jeny mulai di sibukan dengan kliniknya. 3 hari selama ber operasi klinik jeny tidak pernah sepi pengunjung. Mereka juga datang dengan keluhan yang berbeda beda. Namun sayangnya banyak dari mereka yang mengadu di persulit saat akan memasuki kompleks tempat klinik jeny berada. Jeny yang mendengar aduan itu bingung sendiri. Mungkin keputusan tomy membangun klinik di dalam kompleks memang salah. Namun jeny tidak bisa langsung menyalahkanya. Niat suaminya baik. Pria itu bahkan memenuhi semua fasilitas di kliniknya.


“Bu.. Makan siangnya sudah siap..”


Lamunan jeny buyar ketika mendengar suara sisi. Wanita cantik yang mengenakan jas putih kebanggaanya itu kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Saya tunggu bapak mbak.” Balasnya.


Ya. Tomy memang sudah berjanji akan pulang saat makan siang. Namun sampai waktu makan siang tiba pria tampan itu belum juga kunjung pulang.


Jeny berdecak pelan. Wanita itu bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar ke ruangan depan tempat para pasienya mengantri. 1 jam yang lalu ruangan itu di penuhi oleh orang yang memeriksakan diri pada jeny. Tapi sekarang semuanya sudah pulang dengan hati gembira karna mendapat pengobatan gratis. Mereka bahkan mengatakan akan selalu datang ke klinik jeny jika sakit.


Suara deru mesin mobil tomy membuat jeny yang hendak masuk kembali ke dalam ruang prakteknya mengurungkan niatnya. Wanita cantik itu tersenyum senang. Yang di tunggunya dari tadi sudah datang.


Jeny berlari keluar dari kliniknya kemudian segera memeluk tubuh tegap tomy yang baru saja keluar dari mobilnya.


“Sayang.. Kamu ngagetin aku tau nggak?” Kata tomy menghela nafas.


Jeny tersenyum di dada tomy. Wanita itu mendongakan wajahnya yang langsung mendapat ciuman dari tomy di seluruh bagian wajah cantiknya.


“Aku tungguin kamu dari tadi..” Senyum jeny.


“Iya maaf.. Tadi jalanan macet sayang.. Kamu udah makan?”


Jeny menggelengkan kepala menjawab pertanyaan suaminya. Jeny memang belum makan karna menunggu tomy yang sudah berjanji akan pulang ketika waktu makan siang tiba.


”Kan aku tungguin kamu buat makan siang sama sama.” Rengek jeny manja.


Tomy terkekeh geli. Jeny kembali manja padanya seperti saat kuliah dulu. Wanita itu bahkan lebih manja ketimbang dulu padanya. Dengan gemas tomy mencubit pelan ujung hidung mancung istrinya kemudian mencium sekali lagi kening wanita itu.


“Ya udah yuk kita makan..” Ajak tomy.


Jeny mengangguk. Dengan kedua tangan yang masih melingkari pinggang tomy wanita itu melangkah.

__ADS_1


Tomy yang merasa sedikit susah berjalan akhirnya membopong tubuh jeny membuat sang mpunya memekik karna terkejut.


“By..”


“Begini lebih gampang sayang.” Selanya kemudian membawa jeny melangkah masuk ke dalam rumahnya untuk makan siang.


Tin tiiin..


Suara klakson mobil terdengar ketika jeny dan tomy hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Mereka berdua mengeryit. Tidak mungkin rasanya jika orang tua mereka yang datang. Pasalnya mereka juga sama sama sibuk kecuali kedua orang tua tomy.


“Biar aku yang cek..”


Tomy bangkit dari duduknya kemudian melangkah menjauh dari jeny yang masih bingung. Penasaran, wanita itu pun akhirnya menyusul tomy untuk melihat siapa yang datang.


“Fani...” Lirih tomy ketika melihat dokter axel yang sedang menurunkan fani dari mobil dan mendudukanya di kursi roda.


Tomy menelan ludahnya. Gadis kecil yang kini mengenakan gaun putih tulang dan kerudung panjang senada yang mengikat kepala botaknya itu tampak semakin kurus. Bahkan menurut tomy badan gadis kecil itu hanya tinggal tulang dan kulit saja. Begitu ringkih dan kecil.


“By siapa yang...”


“Ya tuhan...” Lirih jeny menutup mulutnya menggunakan tangan.


Jeny merasakan matanya memanas, dadanya terasa sesak, bahkan tenggorokanya pun terasa pegal melihat keadaan memilukan gadis kecil itu.


“Mamah, papah..” Panggil fani begitu sampai tepat di depan jeny dan tomy.


Jeny dan tomy masih diam. Sekuat tenaga mereka berusaha menahan air matanya. Mereka berdua tidak mau fani juga ikut menangis jika keduanya meneteskan air mata.


“Hey..”


Tomy menyapa dan mengulurkan tanganya yang langsung di salimi oleh fani. Dadanya terasa terhimpit batu yang begitu besar ketika tangan besarnya di jabat oleh tangan kecil fani. Sungguh sudah tidak terasa lagi adanya daging di telapak tangan gadis kecil itu.


Jeny memejamkan matanya. Sesaat wanita itu menahan nafas. Jeny berusaha untuk benar benar tidak menangis di depan gadis kecil itu.

__ADS_1


“Mamah..” Senyum fani yang bergantian menyalimi jeny.


Jeny langsung berjongkok. Wanita itu mencium kedua pipi fani kemudian kening fani lama.


“Mamah kangen sama kamu..” Lirih jeny dengan suara seraknya.


“Fani juga mah.. Mamah gimana kabarnya? Dan bagaimana keadaan calon adik aku?”


Pertanyaan gadis kecil itu membuat air mata jeny akhirnya menetes. Meskipun jeny sudah berusaha untuk menahan tetapi nyatanya semua itu terasa berat. Jeny tidak bisa menahan air matanya yang memaksa keluar dan menganak sungai di pipinya.


“Kok mamah malah nangis sih..”


Air mata jeny semakin deras menetes ketika tangan fani mengusap pipi basahnya.


Sedangkan dokter axel, pria itu memalingkan wajahnya tidak mau menatap pandangan memilukan itu. Dokter axel sudah siap bahkan sudah rela jika memang fani harus kembali pada sang pencipta. Bukan karna tidak sayang apa lagi tidak mencintai putri semata wayangnya itu. Tapi karna dokter axel sudah tidak kuat lagi melihat putrinya yang selalu kesakitan.


Tomy memejamkan matanya. Fani memang bukan siapa siapanya. Fani hanya orang asing yang tidak sengaja di temuinya saat tomy berada di dalam ketakutan. Dan bertemu dengan gadis kecil itu membuat tomy sadar jika sesuatu yang sudah berada di genggamanya harus benar benar tomy pertahankan.


“Eemm.. Kita lagi makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang sama sama?” Ujar tomy.


Fani langsung mendongak menatap pria tampan yang sudah di anggapnya sebagai orang tuanya sendiri itu. Fani juga menatap dokter axel yang tersenyum padanya.


“Tapi setelah makan siang aku mau bermain salon salonan sama mamah.. Boleh tidak?”


Jeny, tomy, dan dokter axel saling menatap. Mereka terdiam sesaat namun akhirnya menganggukan kepalanya kompak mengiyakan kemauan gadis berkepala botak itu.


“Boleh.. Fani mau papah gendong?” Tawar tomy dengan senyuman di bibir tipisnya.


“Mau papah..” Girang fani langsung merentangkan kedua tanganya.


Tomy terkekeh geli. Pria tampan itu kemudian meraih tubuh ringkih fani dan menggendongnya ala bridal style. Tomy kemudian membawa fani masuk ke dalam rumahnya dengan terus berceloteh mengajak gadis kecil itu mengobrol ringan.


“Maaf mengganggu waktu kalian.. Fani memaksa untuk kesini..” Lirih dokter axel.

__ADS_1


Jeny yang sedari tadi diam menatap punggung lebar suaminya menoleh. Dengan air mata yang kembali menetes jeny menganggukan kepalanya.


“Nggak apa apa dokter. Fani sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri.”


__ADS_2