Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 268


__ADS_3

“Malam nanti kamu ajak susan ke rumah rey. Saya dan jeny mau mengajaknya untuk makan malam bersama.”


Reyhan melongo mendengar apa yang di katakan tomy. Rasanya sangat aneh bahkan seperti mimpi mendengar tomy dan jeny ingin mengajak susan untuk makan malam bersama. Sedangkan susan saja sangat tidak menyukai jeny.


“Pak tapi bagaimana mungkin. Saya khawatir mbak susan membuat ulah nantinya.”


Tomy menghela nafas mendengarnya. Tomy juga sebenarnya ragu dengan rencana istrinya. Tomy juga khawatir susan akan seenaknya membuat ulah.


“Ya rey. Saya juga berpikir seperti itu. Tapi saya pikir tidak ada salahnya membiarkan jeny merancang rencananya. Dan tugas kita ya berjaga jaga mencegah agar susan tidak berbuat seenaknya.” Kata tomy pelan.


Reyhan mengangguk mengerti. Reyhan juga tau istri bos nya memang pintar. Tapi kecerdasan jeny bukan dalam masalah selidik menyelidiki menurut reyhan.


“Saya percaya sama kamu rey..” Lanjut tomy.


Reyhan tersenyum. Mendapat kepercayaan penuh dari tomy adalah sebuah kebangaan baginya. Apa lagi tomy sudah sangat baik padanya yang hanya hidup sebatangkara.


“Saya akan melakukanya dengan baik pak.”


“Terimakasih rey..” Senyum tomy.


“Sama sama pak. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja pak.”


“Silahkan.”


Sepeninggal reyhan tomy menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi kebesaranya. Pria itu sedikit was was dengan rencana istrinya. Tomy takut susan berulah diam diam mengingat sikap wanitanya terkadang sangat sensitif dan gampang sekali terpancing emosi. Tomy tidak mau masalah baru timbul dalam rumah tangganya dan jeny. Perjuanganya mendapatkan penuh hati jeny tidaklah mudah. Dan tomy tidak mau kebahagiaan yang susah payah di raih dan di binanya dengan jeny selama setahun lebih itu rusak begitu saja hanya karna seorang susan.


Tomy menghela nafas. Tomy tidak bisa menampik keraguanya akan pemikiran istrinya kali ini.


Malam menjelang.


Tomy dan jeny sudah siap dengan dandanan tidak biasanya. Meskipun memang mereka hanya mengundang susan makan malam di rumahnya namun demi rencananya berjalan sukses mereka berdua tidak keberatan untuk menyambut dengan hangat kedatangan susan.

__ADS_1


Jeny menaruh pelan pelan faras di atas ranjang bayinya. Wanita itu tersenyum menatap putranya yang seakan kompak bekerja sama denganya dan tomy karna sudah terlelap di jam yang tidak biasanya. Padahal biasanya saat makan malam faraz masih segar membuka matanya dan harus jeny titipkan dulu pada bibi dan sisi selama jeny menemani suaminya makan malam.


Jeny menoleh pada tomy yang duduk di tepi ranjang. Sedari tadi pria tampan dengan kemeja hijau toskanya tampak diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat itu jeny menggelengkan pelan kepalanya. Jeny mengerti jika suaminya ragu dengan rencananya. Tapi dengan tomy mau mengikuti rencananya saja jeny sudah merasa senang karna itu artinya tomy mempercayainya.


“Kenapa by?” Tanya tomy menyentuh lembut bahu suaminya.


Tomy tersenyum menatap wajah cantik istrinya. Gaun hitam dengan belahan dada rendah yang membuat istrinya semakin menggoda membuat tomy merasa tidak tahan. Di raihnya pinggang jeny dan di tariknya pelan sehingga tubuh mereka menempel sempurna.


Tomy mendongak menatap wajah cantik istrinya yang berdiri dengan kedua tangan melingkar manja di bahunya.


“Kamu cantik banget malam ini sayang..” Pujinya.


Jeny tertawa pelan. Di kecupnya singkat kening tomy.


“Terimakasih untuk pujianya. Tapi kenapa dari tadi kamu bengong dan seperti sedang memikirkan sesuatu?”


“Aku nggak bengong.. Hanya sedang memikirkan bagaimana caranya berbasa basi dengan susan nanti.” Jawab tomy jujur.


“Sebelum susan datang. Boleh aku tau apa saja yang susan suka dan susan bisa?”


Tomy mengeryit. Setau tomy dulu susan sangat suka bersepeda. Wanita itu bahkan selalu menolak jika omnya atau papahnya menawarkan untuk mengantarnya kemanapun dengan mobil. Susan lebih suka menggoes sepedanya kemanapun dirinya pergi.


“Setau aku dulu susan sangat suka bersepeda.” Jawab tomy sambil meraba punggung terbuka jeny lembut.


“Terus apa yang susan bisa?” Tanya jeny lagi masih dengan posisi yang sama.


Tomy mengecup bibir jeny sekilas kemudian tersenyum. Tidak ada yang tidak bisa susan lakukan. Susan begitu rajin dan pintar. Tidak hanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, susan juga sangat pandai memasak dan membuat cemilan.


“Hampir semuanya dia bisa sayang.” Jawabnya lagi.


Jeny mengangguk. Entah kenapa jeny merasa berkecil hati mendengar susan bisa mengerjakan semuanya. Apa lagi mengingat jeny yang bahkan tidak pernah sekalipun membersihkan rumah. Memasakpun jeny tidak bisa. Hanya membuat dadar telur yang jeny bisa lakukan dalam hal memasak. Untuk membuat cemilan jeny juga tidak bisa di katakan bisa karna jeny hanya membantu sedikit sedikit saat mamahnya membuat makanan ringan tersebut.

__ADS_1


Jeny menghela nafas. Wanita itu kemudian mengangkat wajahnya menjauhkan dari wajah tampan suaminya.


“Selain itu apa lagi?” Tanya jeny pelan.


“Hanya itu yang aku tau sayang.. Kamu kan tau aku tidak hidup bersama dengan susan. Kami terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Paling hanya 1 atau 2 kali kami bertemu dalam setahun. Itupun hanya setiap hari libur saja.” Jawab tomy.


Jeny terdiam. Entah seperti apa rasanya menjadi tomy yang merasa sangat kehilangan sosok adiknya saat itu. Tapi yang jeny tau tomy tidak memiliki saudara. Tomy tidak pernah menceritakan tentang susan padanya. Padahal hubungan persahabatan mereka sangat dekat dulu.


“Kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku tentang susan by? Kita bersahabat dari kecil.”


Tomy menelan ludahnya. Tomy memang tidak pernah merasa harus menceritakan masalahnya pada jeny saat itu. Yang tomy pikirkan hanya bagaimana cara menjaga dan melindungi juga selalu ada untuk jeny saat itu.


“Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan tentang susan sama kamu sayang.. Tapi aku hanya tidak mau berbagi masalah sama kamu.. Bagi aku cukup kebahagiaan saja yang aku bagi sama kamu.”


Jeny tertawa pelan mendengarnya. Wanita itu menangkup dan menekan gemas kedua pipi tomy sehingga bibir tipis pria tampan itu sedikit mengerucut.


“Tapi pada akhirnya masalah itu datang juga kan?” Tanya jeny dengan gigi depanya yang mengetat merasa gemas dengan sikap suaminya.


Tomy hanya bisa meringis. Pada akhirnya memang jeny ikut andil juga dalam masalah tentang susan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat tomy dan jeny menoleh. Jeny melepaskan kedua pipi suaminya. Wanita itu juga melepaskan kedua tangan tomy yang melingkar di pinggangnya namun di tahan oleh tomy.


“By.. Aku mau buka pintu..” Kata jeny menatap suaminya jengah.


“Kamu nggak marah kan sama aku?” Tanya tomy menatap wajah cantik jeny sendu.


Jeny menghela nafas. Wanita itu kemudian mencium bibir tomy sekilas sebagai tanda bahwa dirinya sama sekali tidak marah pada suami tampanya itu.


“Udah kan? Sekarang lepas aku mau buka pintu.”

__ADS_1


__ADS_2