Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 162


__ADS_3

Setelah membujuk anak kecil itu hampir 20 menit, akhirnya tangisan anak kecil itu berhenti. Dan kini tomy dan jeny mengajak anak kecil itu untuk makan ice cream. Tomy juga membelikan mainan pada anak kecil tersebut agar dia mau berbicara.


“Nama kamu siapa?” Tanya jeny lembut.


Anak kecil itu masih terus diam. Kedua tanganya memeluk mobil mobilan yang di belikan tomy untuknya.


“Nama tante jeny. Dan ini suami tante. Namanya om tomy..” Kata jeny memperkenalkan dirinya juga tomy pada anak kecil tersebut.


Anak kecil itu menatap jeny sebentar kemudian beralih menatap tomy yang tersenyum manis padanya.


“Nama kamu siapa sayang?” Tanya jeny kembali menanyakan nama anak kecil tersebut.


“Sayang.. Jangan di paksa kalau dia nggak mau ngomong. Ntar yang ada dia takut terus nangis lagi..” Kata tomy.


Jeny terdiam dan menganggukan kepalanya. Anak itu memang terus menatapnya dan tomy waspada. Tapi jeny merasa sangat tidak asing dengan wajah anak kecil tersebut.


“Eemm.. Tante boleh tau nggak mamah kamu dimana?” Tanya jeny lembut.


Mendengar jeny menyebut mamah anak kecil itu kembali menangis. Dan itu membuat semua tatapan para pengunjung di kedai ice cream tersebut mengarah pada jeny dan tomy. Ada yang menatap heran, penasaran, penuh selidik, bahkan ada juga yang menatap sinis pada tomy dan jeny.


“Tuh kan dia nangis lagi sayang.. Kamu sih di tanyain mulu..”


Jeny mengerucutkan bibirnya. Niatnya bertanya baik bukan untuk membuat anak kecil itu menangis bahkan takut padanya. Tapi anak kecil itu terus saja diam dan mudah sekali menangis.


“Aku kan tanya baik baik by.. Dianya aja yang cengeng.”


Tomy melongo. Istrinya sangat menyanyangi anak kecil setahunya. Tapi sekarang, wanita itu bahkan mengatai anak kecil di depanya cengeng.


“Sayang.. Dia anak kecil.. Wajar kalau di takut sama kita..” Kata tomy mengingatkan.


Jeny menghela nafas. Entah kenapa rasanya jeny sangat gemas dan tidak sabar pada anak kecil itu. Jeny ingin sekali tau nama dan siapa orang tua yang tega meninggalkan anaknya di dalam mall yang sangat ramai pengunjung itu.


“Iya iya maaf..”


Tomy menggelengkan pelan kepalanya. Pria tampan itu kemudian berpindah duduk dari samping jeny ke samping anak kecil tersebut. Tomy tersenyum dan mengusap dengan lembut kepala anak tersebut.


“Eemm.. Kamu tau nggak om juga dulu kecil loh kaya kamu..” Kata tomy memulai pembicaraan dengan anak kecil yang terus saja menangis itu.


Anak kecil itu langsung menoleh pada tomy. Tatapanya langsung tertuju pada tubuh kekar nan tegap tomy bingung.

__ADS_1


“Om juga kadang nangis.. Sama kaya kamu..” Lanjut tomy.


Anak kecil itu semakin merasa penasaran. Di tatapnya wajah tampan tomy yang menatapnya dengan senyuman lembut.


“Tapi badan om besal kok.. Tinggi lagi.”


Tomy terkekeh. Pria tampan itu mengusap gemas kepala anak kecil tersebut.


“Iya dong.. Karna om nggak penakut.. Om berani, terus makanya banyak. Makanya sekarang om jadi besar dan tinggi.”


Anak kecil itu mengusap air mata yang membasahi pipi chuby nya menggunakan tangan yang tidak memeluk mobil mobilan yang di belikan tomy.


”Telus om nangisnya kalna apa?” Tanya penasaran anak kecil itu.


Jeny yang melihat suaminya berhasil mengajak anak kecil itu mengobrol menggelengkan kepalanya takjub. Ternyata tomy bisa meluluhkan hati anak kecil yang bahkan jeny saja tidak mampu.


“Eemm.. Karna..” Tomy tampak memikirkan jawaban atas pertanyaan anak kecil itu. Tomy mencoba mencari jawaban yang tepat agar masuk akal dan bisa di pahami oleh anak kecil itu.


“Ah, kamu sendiri tadi nangis karna apa? Karna tertinggal sama mamah kamu yah?” Tanya tomy balik.


Jeny melongo. Bukanya menjawab pertanyaan anak kecil itu tomy malah menanyakan kenapa anak kecil itu menangis.


“elo nangis kalna mamah sama papah belantem.." Lirih anak kecil itu sedih.


Jeny dan tomy saling menatap.


”Mamah sama papah kamu berantem?” Tanya ulang tomy memastikan.


Anak kecil itu menganggukan kepalanya. Raut kesedihan terlihat sekali dari wajahnya.


“Memangnya kenapa mereka berantem?” Tanya jeny penuh perhatian.


Anak kecil itu hanya diam saja. Dengan menundukan kepalanya anak itu kembali terisak.


“Papah elo mau pelgi tinggalin elo sama mamah.. Papah elo juga pukul mamah.. hiks hiks hiks.” Tangis anak kecil itu lagi.


Jeny dan tomy terdiam. Mereka tidak tau apa yang terjadi dengan orang tua anak kecil itu. Tapi yang bisa jeny dan tomy tangkap dari apa yang di katakan oleh anak kecil itu adalah mungkin orang tua anak kecil itu berantem di depanya.


“Udah.. Elo kan anak pintar.. Anak laki laki harus kuat.. Nggak boleh nangis.. Harus bisa lindungi mamah elo..” Senyum tomy mengusap sayang kepala anak kecil itu.

__ADS_1


Jeny menghela nafas. Dulu jeny juga pernah melihat kedua orang tuanya berantem tapi tidak sampai ada kekerasan. Bahkan saat berantem papahnya hanya diam dan pasrah menerima amarah dari mamahnya. Tapi mendengar cerita anak kecil itu membuat jeny merasa miris. Jeny bahkan sampai membayangkan sebengis apa suami dari mamah anak kecil itu sehingga tega memukul di depan anaknya.


“Udah jangan nangis lagi.. Kamu rumahnya dimana? Om sama tante anter pulang yah? Atau kamu sama siapa kesini? Biar om sama tante carikan mamah kamu..”


Anak kecil itu mendongak menatap tomy dengan wajah basah oleh air mata.


“Elo sama mamah sama papah..” Jawabnya.


Tomy mengeryit bingung.


“Terus mamah sama papah kamu kemana?” Tanya tomy bingung.


“Papah talik tangan mamah kelual tadi.. Elo jadi ketinggalan.” Jawabnya jujur.


Tomy menghela nafas. Anak sekecil elo sudah melihat kekasaran orang tuanya itu sangat di sayangkan. Elo seharusnya mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya bukan malah melihat apa yang tidak seharusnya.


“Kalau tante boleh tau siapa nama mamah kamu?” Tanya jeny kemudian.


Anak kecil itu beralih menatap jeny yang duduk di seberangnya.


“Nama mamah elo salah..” Jawabnya.


“Salah?” Tanya jeny bingung.


“Bukan tante.. Sa lah..”


Tomy terkekeh geli mendengarnya. Istrinya tidak bisa memahami apa yang di katakan oleh elo.


“Sayang.. Mungkin maksudnya sarah.. Kan dia nggak bisa ngomong R Jadi dia sebutnya salah..” Ujar tomy menjelaskan.


Jeny terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukan kepalanya. Namun ada sesuatu yang terasa mengganjal dengan nama sarah. Dan entah kenapa jeny menjadi teringat pada sosok cantik sarah yang pernah dekat dengan tomy dulu.


“Jadi gimana sekarang? Kita bantu dia cari mamahnya atau kita serahkan ke bagian security aja?” Tanya jeny pada tomy.


Sesaat tomy terdiam. Tomy ingin membantu anak kecil itu sebenarnya, tapi rasanya tidak mungkin. Tomy ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggal setelah ini dan tomy juga tidak mungkin membiarkan jeny kelelahan.


“Eemm.. Kita serahkan saja dia ke bagian keamanan sayang.. Nanti juga orang tuanya menjemput kalau tau anaknya disitu.”


“Tapi by..”

__ADS_1


“Ssstt... Aku nggak mau kamu kecapek an. Oke?”


__ADS_2