
Esok harinya jeny menjalani aktivitasnya seperti biasa. Jeny merasa lega karna sudah mengeluarkan semua unek uneknya pada lorenzo. Dan jeny juga sudah tidak lagi merasa bersalah pada lorenzo. Jeny tidak pernah memberi harapan pada pria itu. Jeny hanya mencoba menghargai lorenzo yang baik padanya.
“Bu dokter kenapa yah untuk masuk ke dalam kompleks ini sangat sulit. Pak satpamnya juga pada galak bu.. Saya saja baru kali ini bisa masuk..”
Jeny tersenyum mendengar aduan pasienya. Ini bukan kali pertama seorang pasien mengadu pada jeny. Sudah banyak yang mengatakan seperti itu.
“Nek.. Saya kan buka kliniknya di dalam kompleks. Terus banyak aturan juga disini. Harap maklum ya nek kalau satpam disini sedikit galak. Mereka hanya menjalankan tugas.” Senyum jeny mencoba memberi pengertian pada pasienya.
“Iya juga ya bu..” Angguk wanita tua berbadan pendek yang masih duduk di brankar.
Jeny menganggukan kepalanya. Untung semua pasien yang datang padanya bisa dengan gampang di kasih tau.
“Oya nek ini obatnya. Di minum 3 kali sehari setelan makan ya..”
Jeny menyerahkan obat di dalam plastik pada wanita tua itu. Jeny juga membantu wanita tua itu turun dari brankar dengan memegangi tanganya.
“Makasih ya bu dokter. Semoga bu dokter sehat selalu dan tetap dalam lindungan tuhan..”
“Amiiin... Terimakasih untuk do'anya nek.” Senyum jeny.
Jeny menghela nafas menatap wanita tua bertubuh pendek itu berlalu dari hadapanya. Jeny merasa apa yang di milikinya tidak sia sia. Ilmu yang di raihnya dengan susah payah bisa bermanfaat untuk banyak orang. Juga apa yang jeny dan tomy miliki sekarang bisa membantu orang orang yang memang membutuhkan.
“Tante jeny !!”
Pekikan elo yang berlari masuk ke dalam klinik membuat jeny tersenyum. Anak kecil itu langsung memeluk perut jeny dengan pelan dan hati hati.
“Elo.. Kamu sama siapa nak?” Tanya jeny sambil mengusap kepala anak kecil itu penuh sayang.
“Sama mamah tante.” Jawab elo mendongak menatap jeny.
Tepat saat itu sarah masuk dengan bingkisan sedang yang di bawanya. Wanita cantik berambut ikal itu tersenyum pada jeny.
“Maaf ya jen kalau aku ganggu kamu. Tapi elo nangis terus pengin kesini katanya.” Ujar sarah.
__ADS_1
“Nggak papa kak.” Senyum jeny menganggukan kepalanya.
“Ah ya jen.. Ini aku bawa sesuatu buat kamu. Senoga suka yah..”
“Ya ampun kak.. Sampe repot repot segala. Makasih banget yah..”
”Iya sama sama..” Angguk sarah sambil melangkah menuju sofa dan meletakan bingkisan yang di bawanya disana.
Jeny mengajak elo dan sarah ke rumahnya. Beruntung saat itu kliniknya sudah sepi dari pasienya.
“Kak aku minta maaf yah karna sering menerima ajakan kak lorenzo jalan di belakang kakak.. Aku bener bener nggak tau kalau kalian sudah menikah..” Kata jeny merasa tidak enak pada sarah.
Sarah tersenyum hambar. Wanita itu tau dan sering melihat lorenzo menghampiri jeny. Sarah bahkan tau lorenzo juga sering mengirim bunga pada jeny.
“Aku tau semuanya jeny. Tapi aku juga tau kamu tidak tau apa apa. Jangan kan kamu.. Karyawanya saja tidak satupun tau aku adalah istrinya.” Cerita sarah.
“Ya tuhan..” Jeny menutup mulutnya tidak menyangka dengan apa yang di lakukan lorenzo selama ini.
“Aku nggak marah sama kamu.. Tapi jujur aku sangat kecewa sama lorenzo. Dia nggak pernah sekalipun menghargai aku. Bahkan pada elo anaknya sendiri lorenzo tidak perduli.”
“Kak tapi bagaimana mungkin kalian punya anak bahkan sampai menikah kalau kalian memang tidak saling cinta?” Tanya jeny.
Sarah menghela nafas. Tidak ada air mata yang menetes membasahi pipinya. Meskipun raut kesakitan juga kecewa terlihat jelas di wajah cantiknya.
“Karna sebuah kecelakaan jeny.” Jawabnya.
“Kecelakaan?” Tanya jeny semakin bingung.
“Yah.. Saat itu kami sama sama mabuk. Dan entah bagaimana awalnya kami melakukan hubungan yang tidak seharusnya. Aku langsung hamil jeny bulan berikutnya. Dan orang tua aku menuntut lorenzo untuk bertanggung jawab.” Jelas sarah.
Jeny terdiam. Tanganya menyentuh dan mengusap lembut bahu sarah mencoba memberi kekuatan.
“Sejak menikah lorenzo memang suka kasar. Lorenzo bahkan tidak segan memukul, menampar, bahkan pernah sekali lorenzo melempar aku dari balkon ke kolam renang. Kamu tau jeny? Saat itu aku baru melahirkan satu minggu.”
__ADS_1
Jeny benar benar tidak menyangka. Lorenzo begitu sangat baik pada jeny namun ternyata begitu jahat pada istrinya sendiri.
“Tapi tuhan sepertinya memang masih memberi aku kesempatan sehingga sampai saat ini aku kuat dan bisa bertahan. Jujur kadang aku ingin mati tapi kemudian aku berpikir lagi. Ada elo yang membutuhkan aku.”
Jeny menganggukan kepalanya. Sarah begitu hebat dan kuat.
“Kak, kalau boleh aku tau bagaimana perasaan kakak sama kak lorenzo?” Tanya jeny memberanikan diri untuk bertanya tentang perasaan sarah pada lorenzo.
Sarah tertawa pelan. Wanita itu menatap jeny kemudian tersenyum.
“Aku mencintainya jeny. Aku mencintai segala kekuranganya.”
Jeny terdiam. Setahu jeny sarah sangat menyukai tomy dulu. Bagaimana mungkin sarah bisa mencintai lorenzo bahkan setelah apa yang lorenzo lakukan padanya.
“Kamu pasti nggak percaya kan? Kamu nganggep aku cintanya sama suami kamu?” Tanya sarah dengan tawa kecilnya.
Jeny tidak menjawab. Malu rasanya jika harus mengatakan iya
“Jeny, dulu aku memang jatuh cinta sama tomy. Aku bahkan sempat GR mengira tomy juga mencintai aku. Tapi setelah melihat bagaimana tomy bersikap sama kamu aku mulai sadar. Memang belum sepenuhnya. Aku bahkan masih punya rasa sama tomy pas kalian sudah menikah dulu. Tapi berlahan perasaan itu terkikis dan sekarang benar benar hilang. Aku juga tau tomy hanya mencintai kamu. Lucu tau nggak sih kalau di pikir pikir. Cinta berkedok sahabat.” Senyum sarah.
Jeny tidak bisa menjawab. Sedikitpun jeny tidak pernah menyadari adanya rasa cinta dari tomy untuknya dulu.
“Untuk lorenzo. Dia baik kan sama kamu? Dia lembut bahkan sangat perhatian sama kamu? Itu jeny.. Itu yang membuat aku mencintainya.”
Jeny menatap tidak percaya pada sarah. Bagaimana mungkin sarah malah jatuh cinta pada kekurangan dan sifat jelek lorenzo.
“Cinta buat aku nggak harus tentang kesempurnaan jen. Cinta berawal dari kekurangan yang akhirnya akan sempurna pada waktunya.” Lanjut sarah.
Jeny menghela nafas. Pemikiran jeny tidak sampai dengan apa yang di katakan sarah. Jeny tidak bisa mengerti juga tidak bisa faham. Cara dirinya dan sarah mencintai jauh sangat berbeda.
“Kamu bosan yah denger aku ngoceh terus? Maaf yah..” Senyum sarah merasa tidak enak hati pada jeny.
“Nggak papa kak. Aku malah seneng bisa cerita cerita sama kakak. Dan aku siap jadi pendengar yang baik kalau kakak butuh teman curhat.”
__ADS_1
Sarah tersenyum mendengarnya. Wanita itu meraih tangan jeny dan menggenggamnya.
“Kamu memang orang baik. Pantas tomy sangat mencintai kamu.”