
Tomy menatap sendu jeny yang sedang mematut dirinya di depan cermin. Tomy pikir jeny akan mendengarkanya dan berhenti dari pekerjaanya. Tapi ternyata jeny bahkan begitu sangat cantik merias dirinya dengan rambut panjangnya yang di biarkan tergerai menutupi punggungnya.
“Jen.. Boleh aku tanya sesuatu?”
Jeny mengeryit. Wanita itu menatap suaminya lewat cermin di depanya. Wajah tampan suaminya tampak sangat tidak bersemangat pagi ini.
“Tanya apa?”
Tomy menghela nafas. Tomy tau jeny sangat mencintai profesinya sebagai seorang dokter.
“Tentang permintaan aku untuk kamu berhenti bekerja. Bagaimana?”
Jeny menelan ludahnya. Jeny sudah memikirkanya namun jeny masih belum rela jika harus meninggalkan profesinya. Apa lagi hanya dengan cara menjadi dokter jeny merasa dirinya berguna bagi banyak orang.
Jeny menghela nafas. Semuanya tidak dengan mudah jeny dapatkan. Banyak perjuangan yang menguras tenaga dan pikiran demi mencapai apa yang di inginkanya. Dan sekarang keinginan itu sudah terwujud. Jeny tidak mungkin dengan mudah melepaskanya.
“By.. Maaf.. Untuk saat ini aku belum yakin.. Aku nggak mungkin begitu saja berhenti..” Pelan jeny.
Tomy tersenyum. Apa yang sudah di raih dan di genggam dengan erat tidak mungkin bisa dengan mudah di lepaskan begitu saja. Menjadi dokter adalah cita cita jeny dari kecil dulu.
Tomy memejamkan kedua matanya sesaat. Pria itu menganggukan kepala mencoba mengerti. Tomy tau jeny pasti punya alasan yang kuat juga baik dengan mempertahankan semuanya saat ini.
“Oke.. Nggak papa.. Aku mengerti.” Senyum tomy akhirnya.
Jeny ikut tersenyum. Wanita itu berharap tomy benar benar bisa mengerti dirinya.
“Makasih atas pengertianya.”
Tomy mengangguk lagi. Pria tampan itu kemudian bangkit dari duduknya di tepi ranjang dan mendekat pada jeny yang masih berdiri di depan meja riasnya.
“Sayang...”
Tomy memeluk lembut tubuh jeny dari belakang. Pria tampan itu menempelkan dagunya di bahu terbuka jeny dan menatap wajah cantik istrinya lewat cermin yang berada di depanya.
“Ya...” Saut jeny pelan.
“Aku cinta sama kamu..” Ungkap tomy dengan senyuman di bibirnya.
Jeny tersenyum. Rasanya sangat senang mendengar tomy mengungkapkan rasa cinta padanya.
“Aku senang mendengarnya.” Senyum jeny membalas.
__ADS_1
Tomy ikut tersenyum. Tomy berharap jeny membalas ungkapanya. Tapi ternyata wanita itu hanya tersenyum.
“Bagaimana dengan kamu?” Tanya tomy kemudian.
Jeny terdiam. Senyuman di bibirnya berlahan memudar. Rasa nyaman, rasa terlindungi, juga rasa senang nya saat bersama tomy membuat jeny mulai merasa jika rasa itu mungkin berlahan mulai menguasai hatinya. Tapi jeny masih belum yakin. Jeny takut dirinya hanya salah mengartikan apa yang di rasakanya.
“Aku...”
“Aku nggak maksa kamu buat balas sekarang.. Tapi aku yakin.. Suatu saat nanti kamu bakal mencintai aku.. Sama seperti aku mencintai kamu sekarang.” Sela tomy lembut.
Jeny tersenyum. Beruntung tomy mau mengerti dirinya juga perasaanya. Dan jeny berharap tomy mau menunggunya sampai jeny benar benar bisa mengartikan bagaimana perasaanya sendiri.
“Kita berangkat sekarang..” Kata tomy kemudian.
Jeny mengangguk. Wanita itu meraih tasnya yang berada di meja di depanya kemudian mengikuti langkah tomy yang menggandeng tanganya keluar dari kamar mereka.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit tomy terus saja diam. Jeny yang merasa aneh dengan sikap suaminya hanya bisa melirik sekilas pada suaminya. Jeny takut salah bicara.
Jeny menghela nafas. Wanita itu menolehkan kepalanya ke kaca mobil dan menatap jalanan yang sedang di lewatinya. Entah perasaanya saja atau memang benar, tapi jeny merasa tomy menjadi diam karna jeny tidak membalas ungkapan cintanya.
Mobil tomy sampai tepat di depan gedung rumah sakit tempat jeny bekerja. Pria itu menoleh dan tersenyum menatap jeny yang diam di sampingnya.
Jeny mengangguk. Wanita itu tersenyum kemudian melepas seatbelt yang melilit tubuhnya. Ketika hendak membuka pintu mobil tiba tiba tangan tomy mencekal lembut pergelangan tanganya.
“Sayang..” Panggilnya dengan nada rengekan.
Jeny menoleh kembali pada suaminya. Wanita itu mengeryit merasa bingung dengan ekspresi tidak biasa suaminya.
“Kenapa by?” Tanya jeny pelan.
“Ada yang kamu lupain.” Jawab tomy.
Jeny mengeryit. Wanita itu langsung mengecek tasnya dan memastikan semuanya tidak lupa dia bawa.
Tomy yang melihatnya tersenyum.
Tanpa meminta persetujuan istrinya tomy langsung mencium pipi chuby jeny.
Jeny yang terkejut langsung menoleh pada tomy yang malah tersenyum padanya.
“Bukan barang bawaan kamu sayang.. Tapi ciuman dari aku yang kamu lupain.” Senyum pria tampan itu berkata.
__ADS_1
“Ya tuhan.. Maaf by.. Kalau begitu aku turun yah.. Kamu hati hati di jalan..”
Jeny meraih tangan tomy dan mencium punggung tangan suaminya itu. Wanita cantik itu kemudian turun dari mobil dan melangkah menjauh dari mobil tomy memasuki gedung rumah sakit.
Tomy menghela nafas. Tomy hampir saja kehilangan kesabaranya menunggu jeny membalas rasa cinta yang di milikinya.
“Sabar tomy.. Jeny hanya belum menyadari perasaanya.”
Tomy menolehkan kepalanya ke arah gedung rumah sakit megah itu. Jeny sudah tidak lagi terlihat.
“Cepat sekali jalanya.” Gumam tomy menggelengkan kepalanya.
Tomy menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dengan kecepatan sedang tomy melajukan mobilnya. Tomy sebenarnya merasa sangat keberatan dengan keyakinan jeny yang masih ingin tetap bekerja. Karna dengan jeny terus bekerja lorenzo pasti akan terus berusaha menemuinya.
“Dokter jeny !!”
Jeny yang hendak meraih knop pintu ruanganya langsung menoleh. Wanita cantik itu tersenyum ketika mendapati fani yang sedang berlari ke arahnya.
“Fani..” Senyum jeny.
Fani langsung menubruk tubuh jeny dan memeluknya erat. Gadis kecil dengan rambut palsu yang kini menutupi kepala botaknya itu tersenyum sembari menciumi perut jeny.
“Aku kangen banget sama dokter jeny..” Katanya.
Jeny tersenyum mendengarnya. Di usapnya lembut punggung kecil gadis berambut palsu itu. Jeny juga sangat merindukan gadis kecil itu yang sudah di anggapnya sebagai adik nya sendiri.
Jeny melepaskan lembut pelukan fani. Wanita cantik berdress hijau toska itu berlutut di depan fani. Di usapnya lembut rambut palsu berwarna kecoklatan yang di kenakan oleh fani.
“Dokter axel yang memberikanya dokter. Katanya biar fani terlihat cantik seperti mamah..”
Jeny mengeryit mendengarnya. Entah kenapa jeny merasa aneh dengan apa yang di katakan oleh gadis kecil itu.
“Seperti mamah..?” Tanya jeny pelan.
Fani menganggukan kepalanya dengan wajah polos menjawab pertanyaan jeny.
“Bagaimana menurut dokter? Apa aku terlihat cantik seperti mamah?” Tanya fani dengan wajah berseri seri menatap jeny.
Jeny tersenyum. Jeny tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan mamanya fani. Jadi jeny tidak tau apakah fani mirip dengan mamahnya atau tidak. Tapi menurut jeny fani bahkan cenderung lebih mirip dengan dokter axel.
“Iyah... Kamu cantik. Sangat cantik seperti mamah kamu.”
__ADS_1