Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 161


__ADS_3

“Apa kata dokter?” Tanya tomy melirik jeny sekilas yang duduk di samping kemudi.


Jeny menoleh. Wanita itu tersenyum menatap suaminya. Jeny kemudian menggeser sedikit tubuhnya dan menyenderkan kepalanya di bahu tegap tomy.


“Kenapa sayang?” Tanya tomy lagi.


Jeny terdiam sesaat. Hatinya tenang setelah mendengar penjelasan tentang apa yang yang membuat suaminya ragu bahkan takut untuk menyentuhnya.


“Eemm by...” Panggil jeny manja.


“Ya sayangku, cintaku, istriku..” Saut tomy dengan sangat lembut.


“Aku udah nanya sama dokter sinta tentang itu..”


Tomy mengeryit bingung. Pria tampan itu tidak tau apa yang di maksud “itu” Oleh istrinya.


“Itu? Itu apa sayang?”


Jeny mengangkat kepalanya. Wanita cantik itu tersenyum manis kemudian mengecup singkat pipi tirus suaminya.


“Itu...” Jawab jeny tersenyum manis.


Tomy semakin merasa bingung. Pria itu kemudian menepikan mobilnya dan menatap penuh perhatian pada wajah cantik istrinya.


“Iya... Itunya itu apa?”


Jeny tersenyum malu malu. Bukanya menjawab wanita itu malah menyerahkan ponselnya pada tomy.


Tomy yang masih tidak mengerti dengan maksud istrinya pun menerima dengan ragu ponsel yang di sodorkan oleh jeny. Pria tampan itu mengangkat sebelah alisnya tidak tau apa yang harus di lakukan dengan ponsel milik istrinya itu.


“Sayang..”


“Aku tadi sempet rekam penjelasan dokter sinta. Kamu buka sendiri aja biar jelas.” Sela jeny tersenyum malu kemudian memalingkan wajahnya ke arah jalanan dengan pipi merona.


Tomy masih terlihat bingung. Pria itu kemudian mengetik password ponsel jeny untuk membukanya. Tomy menuruti apa yang di katakan istrinya dengan membuka audio rekaman yang tadi jeny rekam. Tomy kemudian mem play rekaman tersebut dan mendengarkanya dengan seksama.


Sedangkan jeny, wanita itu memejamkan mata dengan menggigit bibir bawahnya merasa malu dengan apa yang di maksudnya.

__ADS_1


“Posisi yang benar?” Tanya tomy setelah mendengarkan semuanya dari rekaman di ponsel jeny.


Tomy berlahan tersenyum. Istrinya sangat lucu dan susah di tebak akhir akhir ini. Wanita itu bahkan dengan berani menanyakan hal seintim itu pada dokter yang menanganinya.


“Sayang...” Panggil tomy mesra.


Jeny menolehkan pelan kepalanya. Dengan pipi merona serta bibir menahan senyuman wanita itu menatap wajah tampan suaminya.


“Ya by...” Saut jeny malu malu.


“Mungkin malam ini kita bisa mencoba mencari posisi yang benar itu.” Kata tomy.


Jeny menundukan kepalanya. Dengan malu malu wanita itu menganggukan kepalanya. Senang juga malu kini di rasakan oleh wanita cantik berbadan dua itu. Penjelasan dari dokter sinta membuatnya merasa lega karna ternyata aktivitasnya bersama tomy tidak akan mengganggu perkembangan janin dalam kandunganya.


Tomy terkekeh. Dengan lembut di raih dan di genggamnya tangan jeny. Pria itu kemudian mencium punggung tangan jeny lama.


“I love you..” Ungkap tomy.


Jeny terus mengukir senyuman di bibirnya. Hatinya berbunga bunga mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Meskipun jeny tau tomy memang mencintainya tetapi mendengar sendiri ungkapan cinta dari pria tampan itu membuatnya merasa sangat senang juga bahagia.


“Me too..” Balas jeny.


“Jadi mau belanja?” Tanya tomy.


“Jadi dong...” Jawab jeny.


Tomy mengangguk. Pria itu kemudian kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melajukanya dengan kecepatan sedang.


Tomy mengajak jeny belanja ke sebuah mall yang cukup dekat dari tempat tinggalnya. Pria tampan itu membebaskan jeny memilih semua model baju yang jeny suka. Tomy bahkan tidak melarang jeny membeli baju pendek dengan syarat harus mengenakanya di rumah.


Setelah puas memilih baju baju untuk dirinya, jeny juga tidak lupa membelikan baju untuk bibi dan sisi. Dan lagi lagi tomy tidak melarangnya. Pria tampan itu selalu mengiyakan apa saja yang di lakukan istrinya selama itu adalah suatu kebaikan.


“Kita kemana lagi abis ini?” Tanya jeny ketika mereka sedang menunggu kasir menjumlah semua belanjaanya.


Tomy terdiam sesaat. Pria itu kemudian menunduk menatap kaki istrinya. Sebuah kekehan keluar dari bibir pria itu ketika mendapati istrinya ternyata mengenakan sandal rumahan.


“Kenapa? Kok kamu ketawa?” Tanya jeny bingung dan ikut menundukan kepalanya.

__ADS_1


“Nggak, nggak papa. Kita beli sepatu flat buat kamu yah.. Yang di rumahkan hils semua.”


Jeny terdiam sesaat. Dirinya memang sudah tidak lagi mengenakan hils. Itu semua karna saran dari dokter sinta. Dan lagi jeny hanya di rumah setiap harinya. Jadi jeny berpikir tidak perlu menggunakan sepatu selama beraktivitas.


“By tapi kan aku nggak kemana mana. Aku cuma di rumah... Jadi nggak perlu lah pake sepatu. Sandal udah cukup membuat aku nyaman.” Katanya.


Tomy menghela nafas. Entah apa yang ada di pikiran istrinya. Jika wanita pada umumnya mereka mungkin akan sangat senang membeli semua barang bermerek juga sepatu, tas, dan semua yang mahal. Tapi istrinya, di tawari saja masih menolak. Apa lagi jika di diamkan.


“Baiklah...Terserah kamu saja sayang..” Angguk tomy pasrah.


Setelah membayar semua belanjaan jeny, tomy pun mengajak jeny ke sebuah toko perlengkapan bayi.


“By kita ngapain kesini?” Tanya jeny bingung.


Tomy menghela nafas. Entah kenapa tomy selalu merasa gemas jika melihat baju baju dan semua perlengkapan bayi. Pria itu seakan merasa ingin memborongnya bahkan membeli semua yang ada di toko itu jika perlu.


“Mungkin kamu ingin membeli sesuatu disini.”


Jeny terdiam. Usia kandunganya baru jalan 5 bulan. Dan menurutnya belum saatnya jeny membeli semua itu. Jeny merasa terlalu awal jika jeny membelinya sekarang.


“Belum saatnya deh by kayanya. Nanti aja kalau kandungan aku udah 7 atau 8 bulan. Kita kan juga belum tau jenis kelaminya.” Katanya.


Tomy melirik jeny yang ada di sampingnya. Apa yang di katakan jeny ada benarnya juga. Tapi perasaan tomy sebagai calon ayah sangat berbeda dengan jeny. Tomy ingin meng istimewakan kelahiran anak pertamanya. Tomy ingin menyambutnya dan memenuhi semua kebutuhan calon anaknya dari yang biasa saja sampai yang paling penting.


“Hu hu hu hu mamah.. Hiks hiks..”


Suara tangisan anak kecil membuat jeny dan tomy saling menatap. Mereka berdua kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sosok kecil yang sedang menangis itu.


“Ya tuhan...” Gumam jeny ketika mendapati seorang anak kecil sedang menangis di depan tangga eskalator memanggil manggil mamahnya.


Tomy ikut menatap ke arah jeny menatap. Pria itu terdiam dengan tatapan kasihan pada anak kecil tersebut.


“Ayo by kita kesana.” Ajak jeny dengan nada khawatir.


Tomy menganggukan kepalanya. Pria tampan itu mengikuti langkah istrinya mendekat pada anak laki laki yang terus saja menangis kebingungan mencari orang tuanya.


“Hey... Kamu kenapa nangis?” Tanya jeny lembut pada anak kecil itu.

__ADS_1


Tomy yang berdiri di samping jeny hanya diam saja dan terus menatap kasihan pada anak laki laki itu.


Anak kecil itu tidak menjawab. Dia terus saja menangis dan menggunakan lenganya untuk menutupi kedua matanya yang terus saja meneteskan air mata.


__ADS_2