Cintai Aku

Cintai Aku
Mengikuti Kata Hati


__ADS_3

Di tempat berbeda.


Weni dan Celine tengah berjalan jalan di Mall besar yang ada di kota Jakarta. Mereka asik berbincang di sepanjang jalan, kedekatan Weni dengan Celine memang sudah terjalin lama, apalagi saat Celine di pilih langsung oleh Weni untuk menjadi calon menantu nya, kedekatan mereka semakin menjadi.


"Tante, apa Rey suka makan seafood?" tanya Celine


"Suka, tapi tidak terlalu, Rey itu paling suka makan sayur, Rey sangat menjaga tubuh nya, maka dari itu Rey menghindari sekali makanan berlemak" jawaban Weni hanya di tanggapi Celine dengan anggukan kepala saja, sebagai tanda kalau Ia mengerti. "Oh iya Cel, hari ini kan Rey pulang, bagaimana kalau kita buat kejutan untuk Rey? apa kau ada ide?" lanjut nya.


"Boleh, Tan" jawaban semangat Celine saat mendengar soal kepulangan Rey hari itu. Lalu Celine berpikir sejenak mengira ngira kejutan seperti apa untuk menyambut Rey nanti. "Aku ada ide Tan, bagaimana kalau kita masak makanan kesukaan Rey hari ini?"


"Boleh, tapi nanti setelah selesai belanja ya"


"Iya, Tan"


Selesai belanja, Weni dan Celine melewati sebuah toko perhiasan. Toko itu menjual perhiasan dan gaun pengantin yang sangat indah, gaun itu terlihat mewah dan elegan. Gaun yang berjejer bersama gaun lain nya. Namun ada satu gaun indah yang berhasil membuat langkah kaki Celine terhenti. Gaun dengan warna coklat muda tanpa lengan di hiasi pernak pernik mutiara yang menempel di gaun tersebut membuat gaun itu makin terlihat indah. Pandangan mata Celine pun berbinar dan tertuju pada gaun tersebut, hal itu tentu saja di sadari oleh Weni, lalu Weni mengikuti arah pandangan Celine. Dari situ Weni paham dengan apa yang di lihat oleh calon menantu nya.


"Ayo Celine, ikut tante!" ajak Weni seraya menggandeng tangan Celine untuk masuk ke dalam toko tersebut. Kedatangan mereka langsung di sambut hangat oleh pegawai toko tersebut. Pegawai toko itu menawarkan berbagai produk terbaru dari toko mereka. Lalu Weni meminta pada pegawai toko itu untuk mengeluarkan gaun berwarna coklat muda yang terpajang di depan. Gaun yang Weni pikir Celine sukai, dengan senang hati pegawai itu pun mengambilkan nya.


Setelah gaun di ambil, Weni menoleh ke arah Celine lalu memberi Celine sebuah pilihan gaun. "Kau suka yang mana, Cel? Yang ini atau yang ini?" lanjut nya.


Celine tampak bingung dengan pertanyaan Weni, apalagi Weni menyodorkan berbagai macam gaun pernikahan di depan nya. "Untuk apa semua gaun ini, Tante?"


"Ini gaun untuk acara pernikahan mu nanti dengan Rey, kau suka kan? Sekarang kau pilih mau yang mana"


"Tapi... Apa ini tidak terlalu cepat, Tante? Kami berdua kan belum resmi bertunangan, jadi sebaik nya pilihan gaun ini nanti saja ya, Tan" ucap Celine ragu


Raut wajah Weni langsung berubah sedih saat mendengar jawaban Celine. "Kenapa Cel?" Weni mengembalikan gaun indah itu pada pegawai toko. Celine masih terdiam di sana, Lalu Weni meminta pegawai itu untuk meninggalkan mereka berdua, pegawai itu pun menurut. Setelah pegawai pergi, baru lah Weni kembali bersuara. "Celine, apa kau tidak suka pada gaun nya?" lanjut nya.


Celine menggeleng. "Tidak Tante, aku suka. Hanya saja menurut ku pemilihan gaun ini terlalu cepat, karena hubungan ku dengan Rey belum sepenuh nya resmi di umumkan, aku tidak mau terburu buru Tan, aku takut berakhir tidak baik, sebaik nya pemilihan gaun nya nanti saja ya Tan, aku harap Tante mengerti" jelas Celine.


Weni pun tersenyum mendengar penjelasan Celine. Sudah cantik, berbakat, pintar pula, siapa pun pasti terpesona dengan kelebihan yang di miliki oleh Celine. Pemikiran Celine sangat bijak, Weni yakin kalau Rey akan suka dengan Celine suatu saat nanti.


Setelah selesai berbelanja, Weni mencoba untuk menghubungi Rey, namun putra nya itu sangat sulit sekali di hubungi. Entah hal apa yang membuat Rey sulit di hubungi, mungkin kah sinyal di Bandung jelek? Rasa nya tidak mungkin, pikir Weni. Merasa gagal menghubungi Rey, akhir nya Weni mencoba untuk menghubungi Nelson. Nelson adalah anak angkat Weni, sahabat Rey, sekaligus assisten pribadi Rey.


"Nel, kapan kalian sampai? Bukan kah hari ini kalian pulang ke Jakarta?" tanya Weni

__ADS_1


"Iya bu, rencana nya kami akan pulang hari ini, tapi...."


"Tapi apa, Nel?" tukas Weni langsung. "Kalian berdua baik baik saja kan?" lanjut nya.


"Tenang lah bu, aku dan Rey baik baik saja, hanya saja cuaca di Bandung sedang tidak baik, jadi kami menunda kepulangan kami dulu, mungkin besok atau lusa bu" jelas Nelson.


"Oh... Begitu ya, yasudah kalau begitu, hati hati di sana, jaga kesehatan kalian, ibu tutup sekarang" panggilan pun berakhir.


Celine yang sedari tadi berdiri di ujung sana hanya terdiam memperhatikan Weni. Celine sudah bisa menebak apa yang terjadi, Rey pasti menunda kepulangan nya lagi, Celine tahu hal itu.


"Bagaimana, Tante? Apa Rey bisa di hubungi?" tanya Celine


Weni menggeleng dengan reaksi sedih di wajah nya. "Ternyata Rey dan Nelson tidak bisa pulang hari ini, kata nya cuaca di sana sedang tidak baik, mungkin besok atau lusa Rey dan Nelson baru bisa pulang" jelas Weni. Benar dugaan Celine, Rey memang sengaja melakukan nya. Alasan tidak masuk akal kini menjadi alasan nya lagi.


Dulu waktu Celine menghubungi Rey pada beberapa hari yang lalu jawaban Rey juga sama, Rey selalu beralasan ada pekerjaan tambahan, ada urusan yang belum selesai, dan masih banyak alasan lain nya hingga membuat Rey tidak bisa pulang cepat ke Jakarta dan melangsungkan pertunangan nya dengan Celine. Dan sekarang cuaca nya tidak bagus kata nya? yang benar saja, ingin sekali rasa nya Celine marah, namun masih di tahan. Bukan Celine nama nya jika apa yang Ia mau tidak bisa terkabul.


"Cuaca di kota Bandung memang suka tidak menentu Tante, terkadang panas terkadang hujan deras, bahkan terkadang hujan angin di sana, kebetulan aku mempunyai teman di sana, kata nya cuaca di sana sedang bagus hari ini Tan, tapi aneh ya? Mengapa bertolak belakang dengan alasan nya Rey? Padahal cuaca di Bandung hari ini sedang bagus, ini bukti nya" Celine sengaja memperlihatkan pesan singkat dari teman nya yang tinggal di Kota Bandung dengan mengirim foto pemandangan langsung Kota Bandung.


Hal itu tentu saja membuat Weni heran, Weni pun sedikit terkejut saat melihat cuaca Kota Bandung hari ini. Memang benar, ternyata cuaca di sana sedang bagus. Apa Nelson telah berbohong? Mengapa Nelson berani membohongi nya? Weni marah dengan kebohongan Nelson.


"Tante, apa aku boleh ikut? Sebenar nya aku mengkhawatirkan Tante di sana kalau pergi sendirian" ucap Celine


"Iya, tentu saja kau boleh ikut"


Senyuman Celine kini merekah sempurna, hal itu lah yang ingin Celine lakukan sedari awal. Celine memang ingin menemui Rey langsung di Kota Bandung.


...****************...


Nelson menatap Rey dengan tatapan kesal nya. "Kau puas?" Nelson meletakan kembali ponsel nya setelah berbohong pada Weni. Semua di lakukan atas permintaan dari Rey, Rey tidak ingin pulang lebih cepat, entah apa alasan sebenar nya tapi yang jelas Rey ingin berada di Kota Bandung untuk beberapa hari lagi.


Rey tersenyum senang lalu memeluk Nelson begitu saja hingga membuat Nelson sedikit tercekik. "Terima kasih Nel, kau memang sahabat ku!"


"Iya! Iya! sekarang bisa lepaskan aku, Rey? Aku tercekik, Rey!" spontan Rey langsung melepas pelukan nya. Dengan susah payah Nelson mengatur nafas nya hingga terbatuk batuk akibat tekanan di leher nya. "Apa kau sudah gila? Hah? Kau seperti pria yang tidak normal karena terus memeluk ku seperti itu, Rey!" omel Nelson


"Maaf Nel, maafkan aku! Aku sangat senang karena akhir nya kau tidak jadi pulang ke Jakarta"

__ADS_1


"Aku melakukan ini semua agar hubungan mu dengan Zena cepat membaik, jadi cepat selesaikan urusan percintaan mu dengan Zena di sini!"


Raut wajah Rey kembali berubah menjadi murung. "Mengapa kau membahas gadis itu lagi, Nel? Aku sudah bilang pada mu kalau aku tidak mungkin mencintai nya"


"Rey, cukup! Berhenti lah membohongi diri mu, mau sampai kapan kau membohongi perasaan mu sendiri? Aku sahabat mu, aku mengenal mu dari kecil, aku tahu sifat mu Rey, kau mungkin bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan ku!" ucap Nelson. "Ayo! temui Zena sekarang, kebetulan aku berkontak dengan Rio, Rio memberikan alamat rumah Zena pada ku" lanjut nya.


Rey terdiam sejenak dengan kebingungan di wajah nya, Nelson memberikan kertas putih yang bertuliskan alamat rumah Zena. Nelson ingin Rey datang menemui Zena seorang diri, Nelson yakin kalau Rey mencintai Zena, hanya saja sahabat nya itu gengsi mengakui nya.


"Nel, kau berkontak dengan baj!ngan itu?!" Rey sedikit emosi ketika mendengar nama Rio Anggara di telinga nya. Wajar saja Rey marah, kejadian saat pemukulan itu masih teringat jelas di kepala Rey.


Nelson menghela nafas nya. "Sudah lah Rey, baj!ngan itu juga saudara sepupu mu! bukti nya dia mau kan membantu mu, padahal awal nya Rio menolak tapi aku memaksa nya, dan akhir nya Rio memberikan alamat rumah Zena pada ku" jelas Nelson


"Kau yakin ini alamat rumah Zena?"


"Iya Rey, cepat pergi! temui Zena sebelum kita kembali ke Jakarta besok, waktu kita tidak banyak Rey, aku sudah berbohong pada ibu hari ini gara gara kau! Jadi aku minta kau tebus kebohongan ku dengan menemui Zena sekarang!"


"Baik lah, aku akan pergi menemui nya" ucap Rey lalu beranjak pergi dari sana


...****************...


Rey tiba di kediaman rumah Zena, rumah itu tampak sederhana dan biasa. Hanya saja di penuhi oleh tanaman hias dan bunga bunga di sekeliling halaman depan rumah. Sejujur nya Rey tidak yakin jika rumah itu adalah rumah Zena, Rey tidak bergeming dari sana, hingga akhir nya Rey di kejutkan dengan suara klakson mobil di ujung jalan. Rupa nya mobil itu sedang menuju ke arah rumah Zena, dengan cepat Rey pun bersembunyi di balik pohon besar yang tak jauh dari rumah Zena.


Dari jauh Rey memperhatikan mobil hitam tersebut terparkir di dekat halaman rumah Zena, Rey kenal mobil hitam itu. Saat sedang berpikir mengenai siapa pemilik mobil itu, tiba tiba saja Zena keluar dari sana bersama dengan seorang anak laki laki. Tak lama di susul oleh Rio Anggara yang ikut keluar dari mobil hitam nya. Ada sedikit percakapan di sana, Zena seperti sedang berbicara dengan Rio. Entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan tapi yang jelas sekarang Rio pamit pergi meninggalkan Zena.


Mobil hitam milik Rio Anggara melaju pergi meninggalkan kediaman rumah Zena. Dari jauh Rey terdiam memperhatikan Zena, ada kebingungan dengan sosok anak kecil yang berdiri di samping Zena. Dan aneh nya, Rey merasa tidak asing dengan sosok anak kecil itu. "Apa Zena sudah menikah lagi?" gumam Rey saat melihat kehadiran anak kecil yang berjalan bersama Zena.


Zena masuk ke dalam rumah nya, rupa nya benar perkataan Nelson, alamat yang Nelson berikan merupakan tempat tinggal Zena. Tak butuh waktu lama lagi, dengan penuh rasa penasaran nya, Rey pun nekat berjalan ke arah pintu rumah Zena. Jika memang Zena sudah menikah dengan orang lain, maka Rey tidak akan mengganggu nya lagi.


Rey memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Zena lalu segera berbalik arah, Rey berniat pergi namun tidak jadi karena pintu telah di buka oleh Zena. "Iya, anda cari siapa?" tanya Zena


Rey langsung berbalik badan menghadap ke arah Zena. Rey menatap Zena, seketika Zena pun terkejut dengan kedatangan Rey. "Tuan Rey?" Zena terkejut.


Suasana berubah menjadi canggung, Rey hanya diam dengan gerakan sedikit kikuk. Begitu pun Zena, namun jika sama sama saling diam tak ada percakapan lalu mau sampai kapan mereka akan canggung seperti ini? Akhir nya Zena pun memulai kembali percakapan mereka.


"Apa kau ingin masuk?" tawar Zena dengan ragu

__ADS_1


Rey menatap Zena. "Apa boleh aku masuk?" Rey balik bertanya. Zena menganggukan kepala nya sebagai tanda boleh. Setelah itu Rey masuk ke dalam rumah Zena.


__ADS_2