
Sebulan berlalu.
Jeny benar benar menutup kliniknya menuruti apa yang di katakan oleh suaminya. Dan sebulan belakangan ini jeny memiliki kesibukan layaknya wanita hamil biasanya. Jeny tidak pernah absen mengikuti senam dan selalu semangat ketika berangkat dengan sisi yang selalu setia menemaninya.
“Capek ya bu?” Tanya sisi ketika jeny keluar dari ruang senamnya dan menghampiri sisi yang sedari tadi duduk sambil memainkan ponselnya.
“Nggak sih.. Cuma sedikit ngap aja.” Jawab wanita cantik berperut buncit itu tersenyum manis.
“Ah ya bu.. Ini minumnya.” Senyum sisi menyodorkan sebotol air mineral pada jeny.
“Makasih ya mbak..”
Jeny menerima sebotol air mineral yang di sodorkan oleh sisi kemudian meminumnya sedikit. Setelah itu jeny bersiap di bantu sisi untuk langsung pulang karna reyhan sudah menunggunya di depan gedung tempatnya senam untuk mengantarnya pulang.
Dalam perjalanan pulang jeny asyik memainkan game di ponselnya. Wanita itu kadang tertawa sendiri saat menang. Namun jeny juga kadang mengumpat kesal karna kalah dari lawan.
Reyhan yang melihatnya terkekeh geli. Istri boss nya tampak sangat ke kanak kanakan selama sebulan terakhir.
Ketika sampai di gerbang kompleks jeny mengeryit melihat kerumunan orang yang tidak asing bagi jeny. Jeny tau siapa mereka. Jeny kemudian mempause gamenya.
“Rey bisa berhenti sebentar?” Tanya jeny pada reyhan.
Reyhan menganggukan kepalanya. Pria tampan itu menghentikan mobilnya di tepi jalan di dekat gerbang kompleks perumahan tomy dan jeny tinggal.
“Ibu mau kemana?” Tanya sisi ketika jeny melepaskan seatbeltnya.
“Saya harus keluar sebentar mbak.” Jawab jeny buru buru.
“Tapi...”
Sisi tidak meneruskan ucapanya karna jeny sudah lebih dulu keluar dari mobilnya. Merasa khawatir, gadis belia itu akhirnya menyusul jeny keluar dari dalam mobil di ikuti reyhan.
__ADS_1
“Bu dokter... Itu bu dokter..”
“Iya itu bu dokter...”
“Bu tolong izinkan kami masuk bu.. Kami mau berobat !!” Teriak seorang wanita tua di antara kerumunan orang tersebut.
Jeny tersenyum melihat orang orang yang di kenalnya. Meskipun jeny tidak hafal nama mereka satu persatu tapi jeny ingat dan hafal wajah mereka.
“Bu dokter kenapa kliniknya tutup bu?”
Sisi dan reyhan langsung berdiri di samping jeny. Mereka berdua berjaga jaga takut jika tiba tiba orang itu menghampiri jeny.
“Bapak bapak ibu ibu saya mohon maaf sekali.. Saya juga sebenarnya tidak mau menutup klinik saya.. Tapi mengingat kehamilan saya yang semakin membesar saya terpaksa harus menutup untuk waktu yang belum bisa di tentukan.” Senyum jeny menatap sedih para pasienya.
“Yah.. Tapi bu... Kami tidak bisa berobat ke rumah sakit.. Selain biayanya mahal tempatnya juga sangat jauh..”
Jeny menghela nafas. Jeny tau mereka sangat membutuhkanya. Tapi jeny juga membutuhkan istirahat lebih demi kesehatan anak dalam kandunganya. Jeny tidak mungkin terus menyibukan dirinya untuk orang lain sedangkan kesehatanya jeny abaikan.
Jeny berlalu setelah itu. Wanita itu langsung masuk ke dalam mobilnya karna tidak tega melihat para pasienya yang berkerumun memaksa masuk pada satpam penjaga kompleks.
“Ayo pak reyhan...” Ajak sisi pada reyhan yang masih berdiri di tempatnya.
Reyhan mengangguk. Pria itu menyusul masuk mengikuti sisi ke dalam mobil kemudian langsung melaju melewati kerumunan orang orang yang tidak lain adalah pasien jeny.
Jeny menghela nafas. Wanita itu tidak ingin lagi menoleh ke belakang menatap wajah wajah yang dulu hampir setiap hari di temuinya. Jeny tau mereka bukan orang berpenghasilan tinggi yang bisa keluar masuk rumah sakit. Mereka hanya orang orang tidak mampu yang mengandalkan pengobatan gratis darinya.
“Ibu nggak papa?” Tanya sisi pelan dengan tatapan khawatir pada jeny.
“Saya nggak papa..” Jawab jeny tersenyum tipis.
Ketika mobil reyhan sampai di depan rumahnya jeny langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya tanpa sepatah katapun. Sisi dan reyhan yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
“Mbak sisi saya langsung balik ke kantor yah...”
“Oh iya pak.. Hati hati.” Senyum sisi menganggukan kepalanya.
Di tempat lain dokter axel menatap bingung pada angel yang semakin hari tampak semakin parah. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Setiap hari wanita itu terus meracau ingin membunuh serta terus mengeluarkan makian dan ancaman yang mengerikan.
“Ya tuhan.. Apa yang terjadi pada angel sebenarnya..” Gumam dokter axel lirih.
Kasihan. Itu yang di rasakan dokter axel pada angel. Wanita itu kini sudah tidak punya lagi pelindung. Kedua orang tuanya sudah sangat renta dan takut kepadanya karna saat itu pernah akan di tikam dengan pisau oleh angel.
Dokter axel menghela nafas. Melihat angel seperti itu membuat hatinya merasa tidak tega. Bagaimanapun juga angel pernah menjadi bagian dari hidupnya. Angel juga adalah wanita yang telah melahirkan anaknya. Meskipun pada akhirnya angel tidak pernah perduli pada fani tapi jasanya mengandung fani selama 9 bulan lebih tidak akan bisa dokter axel lupakan.
“Pak semuanya sudah selesai.” Kata seorang perawat pria berbadan jangkung yang menghampiri dokter axel.
“Bawa angel keluar dan masukan ke dalam mobil saya. Usahakan supaya dokter malik tidak tau kepergian angel dari sini.”
“Baik pak..” Angguk perawat itu lagi.
Perawat tersebut berlalu namu tidak lama dia kembali lagi dengan satu rekanya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar rawat angel.
“Mau apa kalian? Pergi !! Atau kalian mau aku bunuh hah?!” Pekik angel marah.
Dokter axel yang terus menatapnya dari jendela kaca kamar rawat angel hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dokter axel memang sengaja datang lebih dulu dari dokter yang menangani angel untuk membawa angel keluar dari rumah sakit jiwa itu. Dokter axel merasa ada yang aneh karna semenjak angel masuk ke rumah sakit jiwa itu kegilaanya terlihat semakin bertambah. Tubuh angel pun terlihat kurus. Dokter axel bahkan pernah menemukan luka lebam di tangan angel.
“Mau apa kalian?! Pergi kalian !! Pergi !!”
Angel terus berteriak saat 2 perawat itu menghampirinya. Angel juga memberontak saat tiba tiba kedua perawat itu mencekal kedua lenganya. Namun pada akhirnya tubuh angel melemas setelah salah satu dari kedua perawat tersebut menyuntikan sesuatu kelengan angel.
Dokter axel menghela nafas. Pria tampan itu yakin ada sesuatu di balik kegilaan angel. Angel memang egois dan keras kepala. Tapi angel bukan wanita kejam yang bisa merencanakan pembunuhan pada seseorang tanpa alasan yang jelas. Apa lagi pada tomy yang sudah begitu sangat baik pada fani. Putrinya.
Dokter axel melangkah mengikuti 2 perawat pria yang membawa angel. Dokter axel yakin angel akan lebih aman bersamanya. Dokter axel juga akan memeriksa lebih lanjut tentang keadaan angel yang sebenarnya.
__ADS_1