
“Makan yang banyak by biar semangat kerjanya..” Kata jeny sambil menyindukan nasi goreng ke piring suaminya.
Tomy tersenyum mendengarnya. Pria itu masih tidak bisa melupakan apa yang di katakan oleh susan semalam.
Jeny yang melihat suaminya tampak masih memikirkan sesuatu hanya bisa menghela nafas. Jeny tau tomy sangat menyayangi mamahnya. Wajar jika tomy sangat tidak terima dengan apa yang di katakan susan padanya tentang jasa mamahnya yang tidak pernah di hargai oleh wanita itu.
“By.. Susan yang sekarang belum tentu susan yang dulu.. Jangan terlalu di pikirkan.”
Tomy memejamkan sejenak kedua matanya kemudian membukanya kembali. Tomy juga ingin tidak memikirkannya. Tapi apa daya, suara susan selalu terngiang di indra pendengaranya. Dan kata kata itu membuat tomy merasa sangat kecewa bahkan mungkin patah hati.
“Aku juga ingin tidak memikirkanya sayang. Tapi apa yang susan katakan selalu terngiang di telinga aku. Aku bener bener nggak bisa ngelupain gitu aja.” Balas tomy.
Jeny tersenyum manis. Dengan lembut di sentuhnya tangan besar tomy.
“Bukankah kita harus saling percaya?”
Tomy sudah membuka mulutnya hendak menjawab apa yang di tanyakan istrinya. Namun tiba tiba ponsel dalam saku jasnya berdering.
“Sebentar sayang.” Katanya.
Jeny menganggukan kepalanya kemudian mulai menyantap nasi gorengnya. Wanita itu menatap suaminya yang sedang mengecek pesan masuk dalam ponselnya.
“Siapa by?” Tanya jeny penasaran.
“Rolan sayang. Dia mengirim photo seorang wanita berwajah cacat.”
Jeny mengangkat sebelah alisnya bingung. Wanita cantik itu berhenti mengunyah nasi goreng dalam mulutnya penasaran dengan wanita yang di maksud oleh tomy.
“Wanita berwajah cacat? Siapa?”
“Rolan bilang namanya sandra dan dia memanggil tante dengan sebutan mommy.” Jawab tomy.
“Memangnya om dan tante punya anak?”
Pertanyaan jeny membuat tomy menegakan kepalanya. Pria itu mengingat bahwa om nya tidak bisa memiliki anak karna pernah melakukan vasektomi.
“Tunggu..”
“Kenapa by?”
“Sayang, om sudah melakukan vasektomi. Jadi tidak mungkin om dan tante bisa memiliki anak selain susan.”
__ADS_1
Jeny terdiam. Wanita itu tidak bisa menduga duga apapun saat ini. Karna bisa saja om dan tante tomy mengangkat seorang anak selain susan.
“Kamu suruh saja rolan dan rio untuk menyelidiki semuanya. Sandra, om, sama tante juga.”
Tomy menganggukan kepalanya. Mungkin memang itu jalan satu satunya untuk mengetahui siapa susan yang sebenarnya.
“Kakak..”
Jeny dan tomy langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar suara susan. Mereka saling menatap kemudian dengan kompak menghela nafas.
“Wah.. Aku telat kesininya. Padahal aku udah masakin sesuatu yang spesial untuk kakak..” Katanya sambil melangkah mendekat pada tomy.
Tomy memutar jengah kedua bola matanya. Susan pasti datang dengan reyhan. Tapi kenapa reyhan tidak memberitahunya lebih dulu bahwa susan akan datang.
Susan melirik jeny yang sedang menyantap nasi gorengnya kemudian menatap tomy dan tersenyum manis. Dengan genitnya wanita itu menyentuh bahu tomy setelah sebelumnya menaruh bingkisan yang di bawanya.
“Kakak cicipin masakan aku yah? Aku jamin kakak pasti suka..” Senyum genit susan.
Jeny melirik susan dengan tatapan tidak sukanya. Wanita itu memang sangat sensitif jika di singgung tentang masak memasak. Mungkin karna sampai saat ini dirinya belum juga kunjung pandai dalam bidang tersebut.
“Tolong jauhkan tangan kamu susan.” Kata tomy dingin.
Bukanya menjauhkan tanganya dari bahu tomy, susan malah mendekatkan tubuhnya berniat menggoda tomy yang tetap anteng duduk di kursinya.
Susan menghela nafas kemudian menurunkan tanganya juga menjauhkan tubuhnya dari tomy.
“Oke oke.. Nggak perlu marah marah kak..” Kata susan kemudian mendudukan dirinya di kursi yang berada tepat di seberang jeny.
Susan menatap hidangan di depanya. Di meja panjang itu hanya ada nasi goreng, telur dadar, serta roti dan selai dengan berbagai rasa salah satunya selai coklat.
“Membosankan sekali menu sarapan kalian.” Katanya dengan nada menghina.
Tomy hanya menghela nafas. Kalau saja mereka sedang tidak menyelidiki wanita itu mungkin tomy sudah mencaci maki, mengancam, atau bahkan melakukan kekerasan pada susan. Tidak perduli lagi meskipun susan adalah adiknya atau bukan.
“Eemm.. Tapi nggak papa. Aku udah bawain ini. Sama sama nasi goreng sih. Tapi ini beda kak.. Aku bikinin nasi goreng kari dengan udang yang pasti kakak suka.” Katanya dengan sangat antusias.
Tomy melirik susan yang sedang meraih piring kosong dan menuangkan nasi goreng buatanya ke piring tersebut. Semuanya semakin terasa jelas bahwa susan yang ada di depanya memang bukan susan adik kandungnya.
“Nih kakak harus cobain.”
Susan meletakan sepiring nasi goreng kari dengan udang di depan tomy. Sedangkan nasi goreng yang sedang di santap tomy susan ambil dan menaruhnya dengan jarak yang jauh dari tomy.
__ADS_1
Tomy menunduk menatap nasi goreng tersebut. Susan tau tomy alergi udang. Susan bahkan dulu selalu mewanti wantinya untuk lebih teliti dalam memilih makanan yang tidak di masak sendiri.
Jeny yang melihat piring berisi nasi goreng yang sedang di santap suaminya di jauhkan oleh susan diam diam mengepalkan kedua tanganya erat. Jeny sudah susah payah memasak menu sarapan pagi ini dengan bibi dan sisi yang membantunya tapi susan dengan sangat tidak sopan meremehkan bahkan mengambil sarapan tomy dan menggantinya dengan masakan yang di bawanya.
“Ayo cobain kak..”
“Susan.” Panggil tomy dengan wajah datar serta nada dingin.
“Ya kak.. Kenapa?” Tanya susan dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
Jeny menggelengkan kepalanya. Seumur umur baru kali ini jeny bertemu dengan wanita yang tidak tau malu seperti susan. Wanita yang tidak memiliki etika dalam bertamu ke rumah orang.
Jeny menatap nasi goreng yang ada di depan tomy. Dari segi warna memang nasi goreng buatan susan terlihat sangat menggoda. Sangat jauh berbeda dengan hasil masakanya yang tampak sederhana dan biasa saja.
Jeny menghela nafas. Jeny mengakui dirinya memang tidak pandai melakukan pekerjaan rumah tangga. Tidak seperti susan yang pandai dalam melakukan segala hal.
Jeny melengos tidak mau melihatnya. Hatinya akan sangat sakit jika tomy lebih memilih memakan hasil masakan susan dari pada hasil masakanya. Meskipun mungkin dalam segi rasa nasi goreng buatan jeny memang tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan nasi goreng buatan susan.
Susan yang melihat jeny melengos tersenyum senang. Wanita itu merasa menang sekarang.
“Tidak sia sia aku belajar memasak.” Batin susan.
“Bukankah kamu tau aku alegi udang susan? Apa maksud kamu menyodorkan makanan bertabur udang seperti ini padaku? Kamu ingin membunuhku?”
Susan terkejut mendengarnya. Wanita itu tidak pernah mengetahui bahwa tomy alergi pada udang.
“Kamu lupa? Atau kamu hanya pura pura lupa? Atau bahkan kamu memang sama sekali tidak tau?” Tanya tomy lagi menatap susan tajam.
Tanda tanda bahwa wanita di depanya bukan adik kandungnya semakin jelas terlihat. Dan tomy merasa tidak perlu lagi ragu dalam memberi tindakan pada wanita di depanya.
Jeny ikut diam dan menatap susan yang tampak terkejut dan tidak berkutik. Jeny juga sempat melupakan bahwa suaminya alergi dengan udang tadi.
“Kak.. Aku.. Aku lupa kak.. Maaf.. Tap tapi aku bisa masakan yang lain kak.. Aku..”
“Tidak perlu. Ambil sarapan aku kembali dan buang makanan ini sekarang juga.” Sela tomy tajam.
Susan melirik jeny yang hanya diam. Wanita itu mengetatkan giginya merasa kesal sekaligus malu secara bersamaan.
“Kak aku..”
“Buang makanan ini sekarang juga. Susan.” Tekan tomy lagi menatap susan tajam.
__ADS_1
Susan tidak bisa berkutik. Buru buru wanita itu mengambil sepiring nasi goreng buatanya kemudian membuangnya ke tempat sampah tidak jauh dari jeny dan tomy.
“Sial. Aku gagal.” Gerutunya.