
Malam menjelang.
Jeny berdiri di balkon kamarnya. Wanita itu melipat kedua tanganya di bawah dada. Kepalanya mendongak menatap hamparan bintang di langit gelap. Jeny menghela nafas. Banyak peristiwa terjadi akhir akhir ini. Namun itu tidak membuat hubunganya dan tomy memburuk. Semuanya seperti sebuah adegan di sebuah film yang di rancang begitu apik oleh pembuatnya.
Jeny sadar apa yang tarjadi memang sudah tuhan yang menentukan. Tidak ada satupun orang yang bisa menghentikan semua peristiwa jika tuhan sudah berkehendak.
“Sayang...”
Sentuhan lembut tomy membuat jeny tersenyum. Seperti biasa, pria itu selalu datang dan memeluknya dengan lembut dari belakang. Salah satu hal manis yang sangat di sukai jeny.
“Sudah selesai kerjanya?” Tanya jeny sambil menumpukan tanganya di lengan kekar tomy kemudian mengusapnya pelan.
“Sudah...” Jawab tomy sambil menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuh sintal istrinya.
Jeny mengangguk. Kebersamaanya dengan tomy sudah terjalin begitu sangat lama. Bahkan hampir selama umurnya jeny selalu bersama tomy. Dan berpisah 5 tahun dengan pria itu adalah perjalanan hidup berat yang di jalaninya. Jeny hampir putus asa bahkan hampir mati karna itu. Berlebihan memang, Namun itulah kenyataanya.
“Sayang.. Angin malam tidak bagus untuk kamu.” Kata tomy semakin mengeratkan pelukanya.
“Biarkan aku sebentar menikmatinya by.. Aku akan baik baik saja selama ada kamu di samping aku..” Senyum jeny memejamkan matanya merasa nyaman berada di dalam pelukan suaminya.
Tomy tersenyum mendengarnya. Istrinya sudah pandai berkata kata sekarang. Wanita itu juga tidak malu mengatakan apa yang sedang di inginkanya termasuk dalam urusan ranjang.
“By...” Panggil jeny pelan.
“Ya sayang...” Saut tomy penuh kelembutan.
“Menurut kamu anak kita akan lahir cewek atau cowok?” Tanya jeny tiba tiba.
Tomy terdiam sesaat. Menurutnya berjenis kelamin laki laki maupun perempuan baginya tidak masalah. Tomy akan tetap sangat menyayangi dan memanjakanya.
“Eemm.. Kamu maunya cowok atau cewek?” Tanya balik tomy sambil mengusap perut buncit jeny.
Jeny tampak berpikir. Tiba tiba jeny membayangkan jika anaknya lahir 2 sekaligus mungkin akan sangat menyenangkan. Satu cowok dan satunya lagi cewek.
__ADS_1
“Aku sih kepengin sepaket.” Jawab jeny.
Tomy mengeryit. Anaknya bukan barang yang bisa di paketkan.
“Maksudnya?” Tanya tomy tidak mengerti.
“Maksud aku 2 sekaligus by.. 1 cowok 1 nya lagi cewek. Kan lengkap jadinya.” Jawab jeny.
Tomy tersenyum. Melahirkan satu saja sudah bertaruh nyawa, apa lagi jika sekaligus 2. Rasanya pasti akan sangat nikmat bagi seorang wanita.
“Sayang.. Aku nggak muluk muluk. Aku cuma berdo'a yang terbaik untuk kamu, untuk anak kita, juga untuk kita.. Apapun itu aku akan menjalaninya dengan kalian.” Kata tomy.
Jeny tersenyum. Wanita itu melepaskan pelan tangan tomy yang melingkari perutnya. Jeny kemudian memutar tubuhnya dan menatap tomy dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
“Aku nggak salah mencintai kamu.. Kamu suami yang baik.. Dan kamu sosok yang sempurna dari segala segi.” Puji jeny sambil mengalungkan kedua tanganya di leher tomy.
Tomy terkekeh. Tomy tidak merasa malu dengan pujian istrinya. Justru sebaliknya tomy merasa apa yang di katakan jeny tidak sesuai dengan kenyataan.
“Jangan berlebihan sayang.. Aku hanya pendosa yang beruntung bisa menaklukan malaikat.” Lirih tomy.
Jeny menggelengkan kepalanya. Senyum manisnya terus menghiasi bibir merah alaminya.
“Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini by.. Begitupun aku, juga kamu.”
Tomy menganggukan kepalanya. Jeny begitu bijak dalam menyikapi segala hal. Meskipun wanita itu terkadang sangat keras kepala. Tetapi tomy tidak bisa memungkiri kebaikan dan kerendahan hati istri tercintanya.
“Ah ya by.. Aku lupa mau bilang sesuatu sama kamu.. Tapi udah malem..”
Tomy mengeryit.
“Kenapa sayang?” Tanya tomy bingung.
Jeny menghela nafas. Wanita itu menurunkan tanganya dari leher tomy. Ekspresinya langsung berubah sendu menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
“Semua baju baju aku udah nggak pada muat..” Rengek wanita itu manja.
Tomy terdiam sesaat. Pria itu menatap jeny dari atas sampai bawah. Tubuh wanitanya memang terlihat lebih berisi. Tomy terkekeh. Pria itu meraih lagi tubuh jeny dan memeluknya mesra penuh cinta.
“Besok siang setelah selesai metting aku jemput kamu. Kita belanja semua kebutuhan kamu juga kebutuhan calon anak kita.” Bisik tomy.
Jeny menganggukan kepalanya antusias. Wanita itu tersenyum di dalam pelukan suaminya merasa sangat senang karna tomy begitu pengertian dan peka dengan apa yang di inginkanya.
“Udah malam.. Kita masuk yuk?” Ajak tomy.
Jeny melepaskan diri dari pelukan tomy kemudian merentangkan kedua tanganya dengan wajah memelas menatap tomy.
“Gendong..” Rengeknya.
Tomy tertawa menghadapi tingkah manja nan menggemaskan istrinya. Pria itu kemudian mengangguk menuruti keinginan istrinya dengan menggendong tubuh sintal wanita itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“By...” Panggil jeny ketika tomy menurunkanya di atas ranjang.
“Ya sayang... Kamu mau sesuatu?” Saut tomy kemudian bertanya dengan tatapan penuh perhatian.
“Aku kangen kamu..”
Tomy tersenyum. Tomy tau apa yang di maksud oleh istrinya. Beberapa hari ini tomy memang tidak menyentuhnya. Bukan tidak mau karna sebenarnya tomy pun menahan diri untuk tidak melakukanya. Tomy takut jika terlalu sering melakukanya itu akan berpengaruh buruk pada perkembangan janin dalam kandungan istrinya.
“Sayang... Lebih baik kita tidur.. Aku juga ada janji dengan client besok.. Dan aku harus berangkat pagi pagi sekali.”
Jeny mengeryit. Tomy kembali menolaknya. Meskipun tomy memberikan alasan yang memang sedikit masuk akal tapi rasanya sangat aneh karna setiap jeny menginginkanya tomy selalu menolak dengan di sertai alasan pekerjaan.
“Kenapa?” Tanya jeny menatap tomy nanar.
Tomy terdiam. Tomy sama sekali tidak bermaksud menolak. Tomy pun sangat ingin melakukanya. Tomy menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskanya pelan.
“Sayang.. Aku juga ingin melakukanya.. Tapi aku takut.. Aku takut jika aku melakukanya terlalu sering sama kamu bisa berpengaruh buruk pada anak kita..”
__ADS_1
Jeny terdiam. Dirinya memang harus selalu hati hati dalam melalukan sesuatu. Tapi setahu jeny meskipun dalam keadaan hamil melakukan hal seperti itu tidak masalah asal posisinya benar. Tapi jeny tidak bisa menyalahkan suaminya. Tomy sedang mengkhawatirkanya juga anak dalam kandunganya. Dan tomy rela menahan apa yang di inginkanya.