
Tomy keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Pria itu tersenyum membayangkan jeny yang mungkin akan terpesona melihatnya bertelanjang dada. Tomy bahkan membayangkan jeny yang akan pasrah berada di bawahnya setelah ini.
”Sayang aku...”
Tomy menggantungkan ucapanya ketika mendapati kamarnya kosong. Jeny tidak ada di tempatnya semula.
“Kemana dia?” Gumam tomy menghela nafas.
Hilang sudah khayalan indah tomy. Dengan bibir memgerucut sebal pria itu melangkah menuju lemari bajunya. Tomy berniat mengambil baju gantinya kemudian mencari jeny yang mungkin berada di lantai bawah.
Selesai mengenakan baju tomy pun segera keluar dari kamarnya. Penampilanya sangat fresh dan semakin terlihat tampan sekarang.
“Jeny aku...”
“Pergi !!” Sentak jeny mengusir lorenzo.
Tomy yang mendengar pekikan istrinya mengeryit bingung. Pria tampan itu semakin mempercepat langkahnya menuruni anak tangga khawatir akan keadaan istrinya saat ini.
Tomy terdiam sesaat. Tidak jauh dari tempatnya berdiri tomy melihat istrinya yang sedang berusaha mengusir bahkan sampai mendorong dada lorenzo. Tomy menghela nafas. Tomy tidak suka melihat istrinya marah marah pada lorenzo. Kesanya seperti jeny kecewa mendengar lorenzo sudah menikah dan punya anak.
Tidak mau ikut campur tomy hanya berdiri dan menatap istrinya yang terus mencaci maki lorenzo. Tomy hanya berjaga jaga kalau lorenzo berbuat kasar pada istrinya. Meskipun sebenarnya ada bibi di belakang jeny.
Setelah lorenzo pergi tomy pun beranjak dari tempatnya. Tomy memilih menyendiri di tepi kolam samping rumahnya. Tomy benar benar sangat tidak suka melihat istrinya yang seperti kecewa setelah tau apa yang sebenarnya.
Tomy menghela nafas. Pria tampan itu mendongak menatap hamparan bintang di langit gelap. Malam ini bulan tampak tidak terlihat.
Deringan ponsel di saku celana yang di kenakan tomy membuat pria itu berdecak. Tomy langsung menatap layar ponselnya dan tersenyum ketika mendapati nama sang mamah tertera disana. Sejak acara berbagi syukuran 4 bulanan jeny tomy memang belum sempat mengunjungi kedua orang tuanya juga orang tua istrinya.
“Halo mah...”
“Halo sayang... Nak kamu gimana kabarnya? Jeny juga? Terus calon cucu mamah.. Apa kalian baik baik saja?”
Tomy tertawa pelan mendengar pertanyaan yang langsung di lontarkan oleh mamahnya. Wanita itu memang penuh kasih sayang dengan logat lembutnya.
__ADS_1
“Kami semua baik mah... Mamah sama papah gimana kabarnya?” Tanya balik tomy setelah menjawab.
“Mamah baik.. Tapi papah.. Akhir akhir ini kondisi papah agak kurang baik nak.”
Senyum di bibir tomy langsung sirna. Padahal tomy sangat berharap dengan menangani perusahaan papahnya serta memajukanya itu akan meringankan beban pikiran sang papah. Tapi nyatanya semua itu tetap tidak berpengaruh pada kondisi papahnya.
“Ya udah mah kalau gitu tomy akan kesana sekarang..”
“Enggak. Nggak usah nak.. Lagian papah juga sudah istirahat.” Larang mamah tomy masih dengan suara lembut serta tenangnya.
Tomy menelan ludahnya. Tomy sudah menuruti dan melakukan kewajibanya sebagai anak sulung di keluarganya. Tomy berharap dengan begitu penyakit yang di derita papahnya akan sembuh.
“Mah.. Papah seperti itu apa karna tomy?” Tanya tomy sedih.
Di seberang telephone mamah tomy tertawa mendengarnya. Wanita itu merasa lucu dengan pertanyaan bernada sedih dari putranya.
“Kamu ada ada aja sayang. Kamu itu sulung mamah papah yang membanggakan. Jangan membuat lelucon yang tidak lucu.” Kata mamah tomy setelah tawanya mereda.
Tomy ikut tertawa. Selama ini tomy memang sudah sangat berusaha. Dan tomy berharap apa yang dia usahakan tidak sia sia.
“Ya mah.. Mamah juga jaga kesehatan.” Balas tomy tersenyum.
Tomy kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana pendek yang di kenakanya. Tomy kembali mendongak menatap bintang di langit.
“Aku sayang papah.”
Tomy tersenyum ketika tiba tiba suara fani kembali mampir di indra pendengaranya. Senyuman gadis kecil berkepala botak itu kembali membayangi penglihatan tomy.
“Fani...” Gumam tomy.
Tiba tiba tomy teringat kembali akan pertemuan pertamanya dengan fani. Dan saat itu juga tomy sadar, tomy tidak seharusnya marah hanya karna melihat jeny marah pada lorenzo. Adapun jeny kecewa itu pantas. Jeny mungkin kecewa karna sikap lorenzo pada sarah dan elo, bukan karna kecewa mendengar lorenzo sudah tidak sendiri.
Tomy berdecak pelan. Bisa bisanya tomy berpikiran buruk pada istrinya sendiri. Tomy bahkan tadi tidak menghampiri istrinya yang sedang mencaci maki lorenzo. Dan tiba tiba tomy membayangkan bagaimana kalau seandainya lorenzo mendorong atau bahkan memukul istrinya.
__ADS_1
“Ya tuhan... Kenapa aku begitu bodoh..” Gumam tomy menyesal.
Tomy kembali berdecak. Pria itu kemudian memutar tubuhnya hendak masuk kembali ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti ketika mendapati jeny yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“By.. Kamu disini.. Aku cariin kamu dari tadi loh..” Kata jeny.
Tomy menelan ludahnya. Bayangan pikiran buruk tentang lorenzo yang berbuat kasar pada jeny membuat tomy merasa sangat bersalah. Pria tampan itu kemudian melangkah lebar menghampiri jeny dan langsung meraih tubuh sintal jeny memeluknya erat.
Jeny yang merasa bingung dengan sikap suaminya hanya diam saja. Jeny sebenarnya ingin menceritakan pada tomy dengan apa yang baru saja di lakukanya pada lorenzo tadi. Jeny ingin memberitahu tomy bahwa hatinya merasa puas dan lega setelah mengeluarkan semua unek uneknya pada lorenzo.
“By kamu...”
“Maafin aku sayang... Maaf..” Bisik tomy penuh rasa sesal.
Jeny mengerjapkan beberapa kali kedua matanya merasa bingung karna tiba tiba suaminya memeluk dan meminta maaf padanya. Padahal seingat jeny tomy sama sekali tidak berbuat salah padanya.
“Maaf... maaf untuk apa by?” Tanya jeny bingung.
Tomy melepaskan pelukanya. Pria itu menangkup kedua pipi jeny dengan kedua tangan besarnya. Tomy menghujami wajah cantik istrinya dengan ciuman yang berakhir dengan ciuman lembut di bibir wanita itu.
“Maaf karna aku biarin kamu sendiri menghadapi lorenzo tadi.. Harusnya aku di samping kamu tadi sayang.. Harusnya aku lindungi kamu dari pria brengsek itu.”
Jeny tersenyum mendengarnya. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Justru jeny sengaja menemui lorenzo tanpa tomy. Semua itu jeny lakukan agar jeny bisa mencaci pria itu tanpa di larang oleh suaminya.
“Untuk apa minta maaf by.. Aku malah sengaja loh nemuin kak lorenzo tanpa kamu.. Karna kalau ada kamu, kamu pasti bakal larang aku ngomong. Kamu pasti bakal langsung usir dia tanpa memberi aku kesempatan untuk mengeluarkan apa yang ada di hati aku.”
Tomy tersenyum mendengarnya. Pria tampan itu membelai lembut pipi chuby jeny dengan tatapan penuh cinta yang di arahkan pada wanitanya.
“Sayang.. Lorenzo itu bukan orang baik. Kamu harus jaga diri juga jaga bicara kamu.. Untung tadi dia nggak kasar sama kamu loh.”
Jeny tertawa pelan.
“Dia nggak akan berani kasar sama aku.”
__ADS_1
“Kenapa?” Tanya tomy penasaran.
“Karna aku punya kamu yang siap buat ngelindungin aku..” Jawab jeny tersenyum manis.