Cintai Aku

Cintai Aku
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Tiba satu hari di mana hari pertunangan Rey dengan Celine akhir nya berlangsung. Acara pertunangan itu di hias semewah mungkin, rekan bisnis kedua perusahaan berdatangan untuk melihat langsung acara pertunangan putra pemilik HF Group dengan seorang model cantik bernama Celine, Celine sendiri merupakan putri pemilik perusahaan besar kedua di kota Jakarta. Acara pertunangan itu bahkan di sorot awak media, mereka sudah siap meliput berita mengenai pertunangan Rey dengan Celine.


Acara pertunangan Rey dengan Celine pun di mulai, pembawa acara di sana meminta Rey dan Celine untuk mulai bertukar cincin. Awal nya Rey terdiam dan hanya menatap Celine, tak ada pergerakan sama sekali dari Rey. Lalu Rey menoleh ke arah Weni, namun sang ibu dengan santai nya malah memberi isyarat agar Rey langsung memakaikan saja cincin tersebut di jari manis Celine.


Lalu tatapan mata Rey kembali menatap ke arah Celine. Dengan berat hati, Rey mulai memakaikan cincin pertunangan itu di jari manis Celine. Setelah itu, giliran Celine yang memakaikan cincin pertunangan di jari Rey. Suara riuh tepuk tangan meramaikan acara di gedung mewah itu. Setelah pemasangan cincin pertunangan, Rey dan Celine di minta untuk saling merapatkan tubuh mereka dan menunjukan jari mereka ke arah awak media televisi yang tengah meliput.


Tak hanya awak media, sesi pemotretan pun di lakukan oleh fotografer profesional untuk mengabadikan moment penting tersebut. Acara pertunangan Rey dengan Celine rupa nya belum selesai, masih ada acara lain nya.


...****************...


Zena meneteskan air mata nya saat melihat berita di televisi, berita pertunangan Rey dengan Celine rupa nya benar terjadi. Zena hanya bisa menangis dan pasrah melihat pria yang di cintai nya harus bertunangan dengan Celine.


Namun Zena menyadari jika hal itu juga kesalahan nya, Zena meminta Rey untuk memilih Celine. Mungkin ini sudah menjadi takdir nya, Zena harus merelakan pria yang di cintai demi nyawa sang ayah, meski mencintai dalam diam adalah jalan terbaik nya.


Lalu Zena melihat jam dinding nya, waktu nya untuk menjemput Arcielo di sekolah. Zena bersiap siap untuk menjemput putra nya di sekolah. Namun ponsel nya tiba tiba berdering, rupa nya ada pesan masuk dari guru Arcielo yang memberitahu Zena kalau saat ini Arcielo sudah di jemput oleh kakek nya. Zena pun terkejut, kakek nya? bukan kah sang ayah belum di ketahui keberadaan nya? Lalu siapa yang menjemput putra nya? Zena pun panik bukan main, Zena langsung bergegas menuju sekolah Arcielo.


Setiba nya di sana, dengan langkah terburu buru Zena memasuki area sekolah. Di sana Zena menanyakan soal keberadaan putra nya pada satpam. Dan satpam mengatakan kalau Arcielo sudah di jemput oleh kakeknya menaiki sebuah mobil. Zena pun terkejut di buat nya, lalu Zena menangis.


Zena meminta pada satpam sekolah untuk menjelaskan ciri ciri orang yang membawa pergi Arcielo. Namun Satpam tersebut tak begitu mengingat jelas wajah nya. Satpam itu hanya menjelaskan ciri ciri kecil orang yang menjemput Arcielo, dia adalah pria tua yang menaiki mobil. Zena menyalahkan satpam sekolah karena membiarkan orang asing membawa putra nya, namun rasa nya percuma saja jika Zena memarahi satpam tersebut, semua nya tidak akan membuat masalah ini selesai.


Dengan tangan gemetar nya, Zena langsung menghubungi Rio Gantara. Dengan penuh harap Zena terus menghubungi Rio, karena Rio pasti mampu membantu nya. Namun keberuntungan rupa nya belum berpihak pada Zena. Rio tidak menjawab panggilan nya, sudah berapa kali Zena menghubungi, namun hasil nya tetap sama. Zena bingung harus mencari putra nya kemana, dan Zena memutuskan untuk pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian ini.


Setelah melaporkan Arcielo hilang, Zena pun di minta untuk tenang dan pulang ke rumah nya, biarkan pihak kepolisian yang bekerja. Masalah nya Zena tidak bisa tenang, Zena masih menangis dan memikirkan keadaan putra nya. Lalu ponsel Zena berdering, rupa nya panggilan masuk dari Rio, akhir nya Rio menghubungi nya.


"Tuan Rio!" Zena terdengar menangis di sana. Hal itu tentu saja membuat Rio terkejut, Rio pun mendengarkan kelanjutan suara Zena, saat ini Rio sedang berada di kota Jakarta untuk menghadiri acara pertunangan Rey dengan Celine, kehadiran nya mewakili sang ayah. "Tuan Rio, tolong aku!" Zena kembali bersuara di tengah tangis nya


"Zena, ada apa? Mengapa kau menangis? Apa yang terjadi?" pertanyaan Rio malah membuat tangis Zena makin pecah. "Zena, tenangkan diri mu! jelaskan pada ku dengan perlahan!" lanjut nya.


"Arcielo di culik!" jelas Zena

__ADS_1


Rio pun terkejut. "Apa?! Arcielo di culik? Bagaimana bisa? Siapa yang melakukan nya!"


"Aku juga tidak tahu!" Zena masih menangis di sana.


Rio menghela nafas nya. "Baiklah, aku akan meminta orang orang ku untuk mencari keberadaan Arcielo sekarang, kau tenang lah, Zena! tunggu aku di sana!" Setelah itu panggilan berakhir.


Rio bergegas pergi setelah mendapat kabar tidak mengenakan dari Zena, namun tiba tiba saja tangan nya di tarik oleh seseorang dari belakang. Rio menoleh dan mendapati Rey di sana dengan wajah sama tegang nya dengan diri nya. "Aku ikut!" ucap Rey seraya menggeggam tangan Rio. Rio terdiam dan mencerna maksud ucapan Rey. "Aku sudah mendengar semua percakapan mu dengan Zena tadi, aku ikut!" lanjut nya.


"Tapi-"


"Kita tidak punya banyak waktu, Rio!" tukas Rey. Lalu Rio menoleh ke arah kanan dan kiri nya, Rio terlihat ragu jika Rey ikut bersama nya ke Bandung. "Aku akan bertanggung jawab jika ibu ku mencari ku, lagi pula acara ini sudah selesai, sekarang kita pergi!" Rey langsung bergegas di ikuti oleh Rio menuju mobil, mereka pergi ke Bandung untuk mencari keberadaan Arcielo.


Rio terdiam di dalam mobil seraya menatap Rey yang kala itu terlihat khawatir. Semua terlihat dari raut wajah Rey, meskipun Rey belum tahu soal Arcielo, namun seperti nya ikatan darah antara ayah dan anak memang tidak bisa di bohongi.


"Apa kau baik baik saja? Kau terlihat khawatir sekali, kau bahkan rela meninggalkan acara pertunangan mu demi putra Zena, apa yang kau pikirkan, Rey?" tanya Rio


Rey menoleh dan terdiam sejenak, Rey mulai berpikir sejenak. Sebenar nya Rey merasa aneh dan bingung dengan diri nya sendiri, entah mengapa Rey merasa dekat dengan Arcielo. Ia merasa seperti ada ikatan antara diri nya dengan putra Zena.


Merasa bersalah jika terus menyembunyikan kebenaran soal Arcielo, akhir nya Rio mulai menceritakan sedikit soal Arcielo pada Rey. "Seperti nya sudah cukup aku sembunyikan hal ini dari mu, kau harus tahu satu hal soal Arcielo" ucap Rio


Dahi Rey mengerut. "Apa maksud mu, Rio? Katakan dengan jelas, aku tidak mengerti"


"Sebenar nya aku dan Zena sudah sepakat untuk tidak menceritakan hal ini pada mu, tapi seperti nya kau wajib tahu satu hal..." Rio menggantungkan ucapan nya, Rey pun menunggu kelanjutan ucapan Rio. "Arcielo adalah putra kandung mu!" lanjut nya


Sontak hal itu membuat Rey terkejut bukan main, Rey bahkan tidak bisa berkata apapun mengenai ucapan sepupu nya itu. Rey pun menggelengkan kepala nya, Rey tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan Rio. Rey malah berpikir kalau ini semua hanya lah permainan Rio saja. "Apa?! Kau berbohong kan? Jangan bercanda! itu tidak lucu, Rio!"


"Untuk apa aku berbohong pada mu? Aku mengatakan kebenaran, kau harus percaya, Rey! Arcielo adalah putra kandung mu!" Rio makin menekankan ucapan nya. Rey makin tidak percaya, melihat reaksi tidak percaya Rey, Rio pun membeberkan sedikit bukti soal Arcielo. "Lihat ini! Wajah nya begitu mirip dengan mu, dan lihat ini! tanda lahir Arcielo saja bahkan sama persis nya dengan mu, aku masih mempunyai bukti lain, Rey!" jelas Rio.


"Ini semua tidak akurat, bukti ini tidak kuat, Rio! Seperti nya kau harus belajar banyak soal ini" Rey benar benar tidak percaya jika Rio akan mempermainkan nya seperti ini, lalu Rey terkekeh. "Kau ingin aku percaya? Maaf, tapi semua bukti ini tidak lah akurat!" lanjut nya.


"Kalau kau tidak percaya pada ku, tidak apa apa! Kau bisa bertanya langsung pada Zena, Rey!" ucapan Rio membuat Rey terdiam.

__ADS_1


Saat tengah berdebat, tiba tiba saja ponsel Rio berdering, rupa nya panggilan masuk dari sang ayah. Rey hanya memperhatikan reaksi di wajah Rio. "Apa?!" Rio pun menghela nafas lega nya. "Syukur lah jika Arcielo ada bersama ayah, aku tenang sekarang, tapi mengapa ayah tidak memberitahu ku jika ayah mengajak nya jalan jalan? Aku dan Zena panik mencari Arcielo dimana mana. Baiklah, aku akan kesana sekarang!" ucap Rio lalu menutup panggilan telepon.


"Dimana Arcielo?" tanya Rey


"Ada di rumah ku, di sana ada Zena juga" jelas nya.


Mereka berdua bergegas menuju kediaman Derry Gantara, paman Rey yang paling tidak Rey sukai sama sekali. Kedatangan mereka di sambut oleh Derry, selaku pemilik rumah mewah tersebut. Rio dan Rey melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah mewah itu.


Kedatangan Rey membuat Zena dan Derry sedikit terkejut. Bahkan Rey masih memakai jas mahal nya, karena memang pada saat itu acara pertunangan nya belum selesai, Rey langsung pergi begitu saja bersama Rio ke Bandung. Derry dan Zena bangun dari duduk nya.


"Wah! Wah! Wah! Rupa nya kita kedatangan CEO besar di sini!" ucap Derry dengan tepuk tangan nya. "Bagaimana? Apakah acara mu lancar?" lanjut nya.


"Ayah, tolong hentikan! Jangan seperti ini" ucap Rio. "Mengapa ayah tidak memberitahu ku atau pun Zena jika ingin membawa Arcie pergi?" lanjut nya.


Derry menoleh ke arah Rio. "Maafkan ayah, ayah hanya ingin bermain dengan cucu ayah, lagi pula Arcielo baik baik saja kan!" jelas Derry lalu kembali menatap ke arah Rey yang kini tengah menatap sengit ke arah nya. Derry tersenyum dan memperhatikan penampilan Rey. "Kau bahkan meninggalkan acara pertunangan mu dan datang ke sini, apa tujuan mu datang ke sini tuan Rey yang terhormat?" ejekan Derry makin membuat Rey kesal, namun Rey masih menahan diri dengan kepalan di tangan nya.


"Ayah! ku mohon hentikan!" ucap Rio dengan lantang. Derry pun menoleh ke arah Rio lalu pergi tanpa basa basi lagi, Derry mengajak Arcielo untuk bermain bersama di halaman belakang rumah, di sana terdapat mainan yang banyak untuk Arcielo. Lalu pandangan Rio beralih melihat ke arah Rey. "Rey, maaf atas ucapan ayah ku, kalian bicara lah, aku akan pergi menyusul ayah ku" Rio beranjak pergi dari sana, Rio membiarkan Zena dan Rey menyelesaikan masalah mereka.


Rey tidak mempedulikan ucapan paman nya itu, Rey menatap Zena yang kala itu tengah menatap nya juga. Lalu Rey duduk bersama Zena. "Bagaimana kabar mu, Zena?"


"Kabar ku baik, tuan Rey" Zena terlihat kikuk dan gugup. "Em... Bagaimana dengan mu, tuan Rey?" lanjut nya.


Rey pun tersenyum. "Tidak perlu kaku begitu pada ku Zena, kabarku baik"


Zena tersenyum. "Oh iya, aku sampai belum mengucapkan selamat pada mu, selamat ya tuan Rey atas pertunangan mu, aku turut bahagia!" Zena menyodorkan tangan nya ke arah Rey, namun Rey hanya terdiam dan menatap Zena hingga membuat Zena aneh di buat nya. "Ada apa, tuan Rey?" lanjut nya.


"Apa kau benar benar bahagia melihat ku seperti ini?" tanya Rey, tidak ada jawaban dari bibir Zena, Zena terdiam lalu menarik kembali sodoran tangan nya. "Zena, apa kau tahu tujuan ku datang ke sini? Sebenar nya aku ingin membantu mu mencari Arcielo yang sempat hilang, entah mengapa aku merasa kalau Arcielo sangat berharga bagi ku, sejak bertemu dengan Arcielo, hati ku damai, tapi aku belum tahu jenis perasaan apa ini!" jelas Rey.


Zena terdiam seraya mendengarkan Rey dengan serius. Lalu Rey kembali mengingat perkataan Rio. "Ada satu hal yang membuat pikiran ku terganggu, bisa kau katakan pada ku di mana ayah kandung Arcielo? apa boleh aku melihat foto pernikahan mu?"


Sontak saja pertanyaan Rey membuat Zena terkejut, kedua mata Zena bahkan membulat sempurna. Zena langsung bangun dari sana dan berencana untuk pergi, namun belum sempat melakukan niat nya, tangan Zena sudah lebih dulu di tarik oleh Rey. "Berhenti menghindari ku! kali ini serius Zena, jelaskan pada ku semua nya! sebenar nya apa yang kau sembunyikan dari ku soal Arcielo?"

__ADS_1


__ADS_2