
Dokter axel menatap nisan fani dengan tatapan nanar. Dokter axel memang selalu meyakinkan bahwa dirinya ikhlas akan kepergian putrinya. Namun hatinya tidak bisa bohong. Rasa kehilangan itu selalu menyiksa batin juga raganya.
“Dokter... Apa dia sangat menyayangiku?” Tanya angel yang bersimpuh di depan nisan fani tepat di samping dokter axel.
“Ya. Dia sangat menyayangi kamu. Dia tidak pernah membenci kamu sekalipun kamu tidak pernah memperdulikanya.” Jawab dokter axel.
“Ya tuhan.. Nak.. Maafkan mamah..” Tangis angel mengusap lembut nisan fani.
Dokter axel tersenyum tipis. Entah apa yang ada di hati angel saat itu sampai tidak pernah sekalipun menjenguk fani di rumah sakit. Dokter axel bahkan tidak pernah melihat angel mengajak fani jalan jalan seperti yang biasa di lakukan oleh jeny.
“Sudahlah.. Tidak usah di tangisi. Angel, fani sudah tenang. Dia tidak akan lagi merasa sakit ataupun menderita. Dan juga dia tidak akan merindukan kamu lagi karna dia bisa melihat dimanapun kamu berada.”
Angel mengusap pelan air matanya. Wanita cantik itu ingin sekali bisa mengingat tentang putrinya tapi tidak dengan masa lalu jahatnya. Angel hanya ingin bisa mengingat fani bukan yang lain.
“Dokter..” Panggil angel pelan.
“Apa fani pernah mengatakan sesuatu pada dokter tentang aku?” Tanya angel pelan.
Dokter axel terdiam sesaat. Fani selalu menceritakan tentang keinginanya untuk bersama angel. Fani bahkan pernah mengatakan ingin bisa tidur di pelukan angel.
“Tidak. Tidak pernah.” Bohong dokter axel.
Dokter axel terpaksa berbohong karna jika dokter axel mengatakan yang sejujurnya dirinya akan lebih merasakan sakit yang lebih parah.
“Dokter..”
“Cukup angel.. Saya mau pulang.” Sela dokter axel dingin.
Angel memejamkan kedua matanya. Wanita cantik itu kemudian menghela nafas dan kembali membuka kedua matanya.
__ADS_1
“Maaf..” Katanya lirih.
Dokter axel tidak menjawab. Pria tampan itu kemudian berlalu dari makam fani meninggalkan angel yang terus bersimpuh di samping nisan fani. Dokter axel yakin angel sudah tau jalan pulang. Buktinya wanita itu juga bisa datang ke rumahnya seorang diri.
Dokter axel memasuki mobilnya. Dokter tampan itu sesaat terdiam. Dokter axel kembali meyakinkan dirinya bahwa angel akan baik baik saja tanpa dirinya. Angel bukan lagi anak kecil. Dan angel bukan seorang penakut yang tidak tau apa apa dan akan nyasar karna tidak tau jalan pulang.
Dokter axel menghela nafas. Dokter tampan itu kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. Ketika sampai di gerbang pemakaman umum itu dokter axel melihat mobil leo yang melintas dengan kecepatan sedang pula. Pria tampan itu menghentikan mobilnya. Dokter axel terdiam sesaat.
“Mau ngapain leo kesini..” Gumamnya.
Dokter axel menatap mobil leo yang terus masuk dan berhenti di parkiran umum pemakaman itu. Penasaran, dokter axel pun kembali memutar arah mobilnya dan berhenti tepat di samping mobil leo.
“Pak leo tunggu.”
Suara dokter axel membuat leo berhenti melangkahkan kakinya. Pria berkacamata hitam dengan sebuket bunga yang di bawanya itu berbalik dan menatap dokter axel bingung yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Leo yang melihat tatapan datar dokter axel menjadi sedikit salah tingkah. Apa lagi saat dokter itu menatap sebuket bunga yang di bawanya.
“Aku cuma mau..”
“Kamu mau bertemu dengan angel?” Tanya dokter axel menyela ucapan leo.
Leo mengeryit. Dirinya datang ke TPU itu untuk berziarah ke makam fani. Bukan untuk menemui angel.
“Maksudnya angel ada disini juga?”
Dokter axel berdecak pelan. Mungkin hidupnya memang tidak bisa jauh jauh dari angel dan leo. 2 Orang yang sudah berhasil meluluh lantahkan hati, pikiran, juga hidupnya.
Dokter axel menghela nafas kemudian berlalu meninggalkan leo yang masih tampak kebingungan karna dokter axel yang tiba tiba menyunggung tentang angel padanya.
__ADS_1
“Dia kenapa sih?” Gumam leo menatap bingung punggung lebar dokter axel yang terus menjauhinya.
Sementara dokter axel, pria tampan itu kembali melajukan mobilnya dan berlalu dari pemakaman umum itu. Dari dulu angel dan leo memang selalu bertemu di belakangnya. Mereka berdua bahkan kompak menyakiti juga menghancurkan harapan dan cintanya.
“Axel.. Lupakan semua itu..” Batin dokter axel meyakinkan dirinya sendiri.
Di sisi lain tomy terus berusaha untuk berada di samping istrinya. Karna bulan ini adalah genap 9 bulan usia kehamilan jeny. Pria tampan itu bahkan mengerjakan semua pekerjaanya dari rumah. Seperti metting bahkan rapat pun tomy melakukanya di rumah. Pria itu juga tidak segan mengundang karyawanya untuk datang jika memang ada yang sangat penting dan tidak bisa di bicarakan lewat telephone. Seperti sekarang contohnya, tomy sedang membicarakan masalah keuangan perusahaan dengan orang kepercayaanya.
Jeny mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka di ruangan kerja suaminya dengan bibir tersenyum. Jeny benar benar adalah wanita yang sangat beruntung karna memiliki suami siaga seperti tomy. Tomy rela meninggalkan semua aktivitasnya di luar sana dan membawanya ke rumah demi bisa selalu menjaga istrinya yang sedang hamil tua.
Selesai berbincang dengan orang yang di percayanya tomy segera menyuruh orang kepercayaanya untuk kembali ke perusahaan. Pria tampan itu kemudian menemui jeny dan menemani wanita itu untuk sekedar bersantai di taman belakang rumahnya.
“Kamu nggak jenuh by di rumah terus? Kan biasanya kamu itu ke kantor, terus metting sana sini, ketemu client juga di luar kan?”
Tomy tersenyum mendengarnya. Dengan penuh cinta dan kasih sayang pria tampan itu mengusap perut jeny yang langsung mendapat respon dari bayi yang berada dalam kandungan istri tercintanya.
“Kewajiban pertama aku sebagai seorang suami adalah menjaga kamu sayang.. Apa lagi sekarang kamu lagi hamil bulanya.. Aku nggak mau kalau kamu butuh apa apa harus nunggu aku pulang dulu..”
Jeny tertawa pelan. Wanita cantik itu merasa lucu dengan alasan suaminya. Padahal tanpa jeny hamilpun pria itu memang selalu memanjakanya dari kecil sampai sekarang.
“Kamu mau aku pijitin sayang?” Tanya tomy menawarkan.
Jeny menggelengkan kepalanya dalam dekapan hangat suaminya. Jeny sudah bertekad apapun yang di rasakanya jeny tidak akan mengeluh. Jeny ingin menikmati sendiri perjuanganya sebagai seorang calon ibu yang menunggu kehadiran buah hatinya.
“Kenapa?” Tanya tomy bingung. Karna sebenarnya hampir setiap malam tomy mendengar jeny merintih sambil memegangi pinggangnya. Namun ketika tomy memijitnya pelan jeny langsung berhenti merintih dan kembali terlelap dalam tidur nyamanya. Mungkin jeny tidak menyadarinya karna jeny merintih dengan kedua mata tertutup seperti orang yang sedang mengigau. Dari malam malam itu tomy tau menjadi seorang wanita hamil memang tidak mudah.
“Nggak papa by.. Aku nggak merasa pegal ataupun sakit. Jadi tidak perlu di pijit..” Senyum jeny dengan kedua mata terpejam menikmati nyamanya berada di dalam pelukan suaminya.
Tomy tersenyum mendengarnya. Tomy tau jeny berbohong padanya. Tapi tomy juga tau mungkin jeny hanya tidak ingin selalu mengeluh dengan keadaanya sekarang.
__ADS_1