
Tomy membuka pelan pintu ruangan jeny. Saat itu juga tatapan nya langsung bertemu dengan tatapan jeny yang duduk bersender dengan bantal sebagai alas punggung nya di atas brankar.
Tomy menelan ludah nya. Tubuh nya terasa kaku dan sangat sulit untuk di gerakan. Tomy benar benar takut jeny akan meninggalkan nya. Pria tampan itu berdiri di ambang pintu ruang rawat jeny dalam diam.
Bibi yang sedang mengupas buah apel untuk jeny langsung mengerti. Wanita tua itu cepat cepat menyelesaikan mengupas buah apel nya.
“Bu.. Buah nya saya taruh disini yah. Saya permisi keluar dulu sebentar.” Kata bibi meletakan sepiring buah apel yang sudah di kupas dan di potonginya kemudian berlalu melewati tomy yang terus diam di ambang pintu dengan sopan.
Sementara jeny mengeryit. Tomy tidak menampakan batang hidungnya sejak dirinya membuka mata 1 jam yang lalu. Dan sekarang pria itu datang dengan kediamanya yang tidak bisa di pahami oleh jeny.
“Kamu kemana aja?” Tanya jeny pelan namun masih dapat dengan jelas di dengar oleh tomy.
Tomy memejamkan kedua matanya sesaat kemudian membukanya kembali. Ucapan fani kembali terngiang di telinganya. Tomy tidak ingin anak nya bernasib sama dengan gadis kecil botak itu.
Tomy menghirup dalam dalam oksigen di sekitar nya kemudian menghembuskan nya pelan lewat mulut. Tomy menelan ludah nya sampai jakun nya terlihat jelas bergerak naik kemudian turun kembali.
Tomy menyadari kesalahan nya. Dan tomy siap jika jeny marah padanya. Tomy tidak akan balas marah jika jeny mencaci makinya bahkan memukul nya.
Dengan pelan tomy mendekat ke brankar tempat jeny berada. Tatapan nya terus tertuju pada wajah jeny yang terlihat sedikit pucat.
“Aku tanya kamu kemana aja tomy?” Tanya ulang jeny begitu tomy berdiri di samping brankar nya.
Tomy tidak langsung menjawab. Tatapan nya turun pada perut jeny yang tertutup selimut tebal rumah sakit. Tomy tidak menyangka benih yang dengan paksa dia tanam tumbuh dengan cepat di dalam rahim istrinya.
“Aku dari taman.” Jawab tomy jujur.
Tomy kembali menatap wajah jeny yang masih tampak bingung karna sikap nya. Seulas senyum berlahan terukir di bibir tipis nya. Tomy tidak pernah membayangkan jika dirinya juga akan menjadi seorang ayah.
“Dari taman? Ngapain?” Tanya jeny penasaran.
Tomy tidak menjawab. Rasanya sangat tidak mungkin jika tomy jujur bahwa dirinya menghabiskan waktu satu jam nya untuk merenungi semua yang sudah terjadi.
“Bagaimana perut nya?” Tanya tomy mengusap lembut pipi jeny yang terlihat semakin chuby.
“Udah nggak papa. Tapi kepalaku sedikit pusing. Badanku juga terasa lemas.” Jawab jeny mengadukan apa yang di rasakan nya pada tomy.
Tomy tersenyum. Pria itu menarik kursi yang berada di belakang nya kemudian mendudukan dirinya. Di raih nya tangan jeny dan menggenggam nya lembut. Mungkin setelah ini jeny akan membencinya.
“Jeny...” Panggil tomy pelan.
“Yah...” Saut jeny menatap bingung wajah tampan suaminya.
Tatapan tomy tidak bisa di artikan oleh jeny. Dan juga sikap aneh pria itu membuat jeny bingung juga khawatir.
“Tomy, apa ada sesuatu yang terjadi sama aku?”
__ADS_1
Tomy menggelengkan kepalanya menjawab. Jeny mungkin khawatir dengan keadaan nya sendiri.
“Lalu kenapa? Apa kata dokter?” Lagi jeny bertanya.
Tomy diam lagi. Tomy tidak tau harus memulai semuanya darimana. Lidah nya terasa kelu. Tenggorokanya terasa sesak sehingga sulit untuk mengeluarkan ucapan apapun yang ingin tomy katakan saat ini.
“Jeny..” Lirih tomy dengan suaranya yang mulai bergetar.
Genggaman tangan pria itu semakin mengerat di tangan Jeny. Kedua matanya mulai terlihat berair dengan rahang mengeras berusaha menahan semua rasa takut juga khawatir nya akan respon jeny.
“Maaf... Aku minta maaf..”
Sedetik setelah ucapan maaf itu lolos dari bibir tomy tetesan bening itu lolos dan menganak sungai di kedua pipi Tomy. Hal itu semakin mengundang rasa penasaran jeny.
“Tomy ada apa? Kenapa kamu nangis?”
Jeny menatap khawatir pada tomy yang kini menundukan kepalanya. Kedua bahu pria itu terguncang hebat karna tangisanya. Punggung lebar nya bergetar menandakan kekalutan benar benar sedang menguasainya.
Tomy mencium tangan jeny berkali kali. Rasa penyesalan nya begitu dalam. Tomy menyesal karna tidak bisa menahan emosinya saat itu.
Jeny yang melihat nya semakin bingung juga takut. Tomy menangis begitu hebat. Pikiran buruk tentang keadaanya mulai menguasai hati jeny. Jeny pikir mungkin penyakit nya begitu ganas sampai tomy menangis seperti itu di depan nya.
“Tomy kamu..”
“Kamu hamil..” Sela tomy masih terus menundukan kepalanya dengan genggaman tanganya yang semakin mengerat seolah takut jeny melepaskanya.
“Apa? Aku? Hamil?” Lirih jeny hampir tidak terdengar oleh kedua indra pendengaranya sendiri.
Tomy memejamkan erat kedua matanya. Air matanya semakin tidak terbendung. Tomy harus siap apapun yang akan di terimanya. Tapi satu yang pasti dan selalu menjadi keyakinanya. Jeny harus selalu ada dan menjadi miliknya.
“Aku minta maaf... Aku menyesal jeny. Aku tau aku salah..”
Jeny menggelengkan kepalanya. Kedua matanya mulai memanas. Pandanganya pun mulai mengabur karna air mata yang mulai menggenangi kelopak matanya. Tomy sedang tidak bercanda. Jeny tau itu.
Bayangan malam itu kembali terbesit di benak jeny. Air matanya mulai menetes membasahi kedua pipinya. Jeny masih sangat mengingat bagaimana menyakitkanya saat itu. Jeny juga masih mengingat dengan jelas wajah bengis tomy saat memaksanya. Semua itu masih sangat jelas jeny ingat.
Jeny menelan ludah nya susah payah. Ketika jeny hendak menarik tanganya tomy langsung menahanya dengan semakin mengeratkan genggamanya.
“Aku mohon.. Aku minta maaf.. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Jeny menggelengkan kepalanya. Air matanya semakin deras menetes. Hatinya terasa sakit kembali begitu ingatan malam itu kembali membayanginya. Tomy begitu sangat merendahkanya. Tomy merenggut paksa kesucian yang selalu jeny jaga dengan sangat baik.
Tomy menegakkan kepalanya. Dengan air mata berderai pria itu menatap wajah jeny.
“Aku menyesal jeny.. Maafkan aku.. Dan tolong.. Jangan tinggalkan aku..” Mohon tomy dengan suara lirih serak nya.
__ADS_1
Jeny memejamkan kedua matanya. Semuanya sudah terjadi. Kesucianya sudah terenggut. Dan kini benih yang tomy tanam dengan paksa itu telah tumbuh subur di dalam dirinya.
“Sesal kamu tidak berguna tomy.” Lirih jeny dengan pandangan lurus ke depan.
Tomy menggelengkan kepalanya. Penyesalanya memang tidak lagi berguna. Tetapi tomy tidak bisa jika harus kehilangan jeny juga anak dalam kandungan jeny.
“Jeny aku mohon...”
“Aku benci kamu tomy. Kamu sudah sangat merendahkan martabat aku sebagai seorang wanita. Dan kamu.. Kamu sudah sangat menyakiti hati juga fisik aku.” Sela jeny dalam tangis diam nya.
Tomy tidak bisa mengelak. Apa yang di katakan jeny memang benar.
“Aku minta maaf.. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi..”
Jeny menoleh. Di tatap nya wajah penuh air mata suaminya. Jeny bisa melihat dengan sangat jelas penyesalan di mata bening suaminya.
“Kalau kamu memang benar benar menyesal aku minta sama kamu lupakan semuanya.”
Tomy menggelengkan kepalanya. Tomy tidak mungkin bisa melupakan jeny. Terlebih sekarang wanita itu sedang mengandung anak nya.
“Jeny aku mohon.. Aku tidak bisa tanpa kamu..”
Jeny mengusap kasar air matanya. Dengan sekuat tenaga jeny mencoba melepaskan genggaman erat tangan tomy.
“Tolong lepaskan.” Katanya tegas.
Tomy menggeleng. Pegangan tanganya semakin mengerat menahan tangan jeny agar tidak terlepas dari genggamanya. Sampai kapanpun tomy tidak akan mungkin bisa melepaskan jeny dari kehidupanya.
“Nggak. Aku nggak akan bisa melepaskan kamu..” Tangis tomy.
Jeny menghela nafas. Semuanya sudah terjadi dan sekarang benih itu telah tumbuh di dalam rahim nya.
“Kalau memang kamu menyesal tolong bantu aku..” Kata jeny.
Jeny terdiam sesaat. Di tatapnya lagi tomy yang kembali menundukan kepalanya.
“Bantu aku untuk menjaga, merawat, dan membesarkan anak ini.”
Tangisan tomy langsung berhenti. Pria itu mendongakan kepalanya cepat.
“Apa maksud kamu?” Tanya nya lirih dan bergetar.
“Lupakan semua yang telah lalu dan mari kita besarkan anak ini sama sama.” Senyum jeny mengusap air mata yang membasahi pipi tomy.
Air mata tomy kembali menetes. Berlahan seulas senyum terukir di bibir nya. Tomy tidak menyangka jeny akan berkata demikian. Tomy bangkit dari duduknya dan langsung memeluk tubuh jeny erat.
__ADS_1
“Pasti. Aku akan berusaha semampu dan sekuat aku untuk menjaga dan melindungi kalian.” Tangis bahagia tomy.
Jeny tersenyum di balik punggung tomy. Jeny yakin keputusanya menerima tomy sudah benar. Meskipun memang perasaan yang di sebut cinta itu belum benar benar jeny rasakan. Namun jeny akan berusaha untuk mencintai dan menerima tomy sebagai suaminya.