
Setelah puas memakan satenya jeny langsung tertidur pulas dengan bersender di kursi. Entah apa yang sedang merasuki wanita itu sehingga bisa dengan lahap menghabiskan sate yang di buatnya sendiri.
Tomy yang melihat istrinya tertidur di kursi merasa kasihan sekaligus gemas. Jeny benar benar menguras tenaga juga kesabaranya malam ini.
Tomy membayar semua sate yang di makan istrinya. Pria tampan itu kemudian menelephone satpam kompleksnya sekaligus minta tolong agar di bawakan mobil untuknya.
Tidak sampai 20 menit mobilnya sudah datang. Tomy langsung membopong tubuh jeny dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tomy juga tidak lupa berterimakasih dan kembali memberikan uang sebagai tanda terimakasihnya pada satpam kompleks tersebut.
Sesampainya di rumah tomy malah tidak bisa memejamkan matanya. Pria itu berkali kali mencoba untuk memejamkan matanya namun tetap tidak bisa terlelap.
Paginya.
“By... Mata kamu kok merah gituh?” Tanya jeny ketika sarapan pagi bersama.
Tomy memijit pelan pangkal hidungnya. Matanya terasa panas dan kantuk begitu menguasainya. Tomy ingin sekali memejamkan mata sebenarnya tapi pekerjaanya hari ini sangat banyak dan tidak bisa di wakilkan pada siapapun.
“Aku nggak papa kok sayang..”
Jeny menatap suaminya sendu. Wanita itu mengecek suhu tubuh suaminya dengan cara menempelkan punggung tangan di kening tomy.
“Nggak panas..” Gumamnya.
Tomy tersenyum. Di raihnya tangan jeny yang masih menempel di keningnya. Tingkah jeny benar benar sedang sangat ajaib. Tapi tomy bisa memakluminya karna mungkin itu semua karna hawa janin dalam kandungan istrinya.
“Aku nggak papa sayang..” Katanya lembut.
Jeny menghela nafas. Wanita itu menatap wajah suaminya yang tampak sayu tidak se segar biasanya. Di kedua matanya pun terdapat lingkaran hitam menunjukan bahwa tidur suaminya tidak nyenyak semalam atau bahkan pria itu sama sekali tidak memejamkan kedua matanya.
“Kamu nggak usah berangkat kerja.. Istirahat aja di rumah..”
Tomy tersenyum lagi. Keinginanya saat ini memang begitu. Tapi pekerjaan menuntutnya untuk hadir. Karna hari ini akan ada barang masuk yang harus tomy pastikan dan lihat sendiri.
“Nggak bisa sayang.. Pekerjaan aku lagi nggak bisa di tinggal..” Senyum tomy.
“By tapi...”
“Sstt.. Suami kamu kan hebat.” Sela tomy lembut.
Jeny hanya bisa mengangguk pasrah. Meskipun jeny sangat mengkhawatirkan suaminya saat ini tapi jeny tidak bisa melarangnya. Jeny juga tidak bisa menahan suaminya untuk tetap di rumah dengan alasan pekerjaan.
__ADS_1
“Ya udah sayang.. Aku berangkat yah.. Kamu jangan terlalu capek dan ingat nggak boleh sampai telat makan lagi. Minum susu sama vitamin juga.”
Jeny hanya menganggukan kepala dengan senyuman tipisnya menjawab. Wanita itu mengantar tomy sampai masuk ke dalam mobil reyhan. Jeny melambaikan tanganya saat mobil reyhan berlalu. Sebuah helaan nafas keluar dengan kasar dari hidung mancungnya. Mungkin karna semalam menuruti kemauanya tomy jadi kurang istirahat.
“Semoga nggak terjadi apa apa deh..”
Jeny masuk kembali ke dalam rumahnya. Wanita itu hendak bersiap siap untuk membuka klinik dan menerima para pasien yang datang ke kliniknya nanti.
Sedang di perjalanan menuju perusahaanya tomy terus saja menguap. Tomy bahkan sesekali menutup kedua mata saking tidak tahanya menahan kantuk.
Reyhan yang sedang mengemudikan mobilnya menggeleng melihat boss besarnya yang tampak sangat kelelahan. Entah apa yang di lakukan tomy semalam sehingga pagi pagi masih merasakan kantuk hebatnya.
“Pak, maaf apa perlu saya undur pertemuan bapak dengan client kita pagi ini?”
Tomy membuka pelan kedua matanya. Meskipun matanya tertutup namun tomy masih bisa dengan jelas mendengar apa yang di katakan oleh reyhan.
“Nggak perlu.. Saya ngga fafa..” Saut tomy sambil menguap lagi.
“Pak tapi..”
“Saya tidak suka mengulur ngulur waktu kerja rey..” Sela tomy cepat.
25 Menit perjalanan akhirnya mobil reyhan sampai di depan gedung perusahaan milik tomy. Dan sekali lagi reyhan menghela nafas. Kali ini tomy benar benar tertidur pulas. Tidak mau mengambil resiko buruk akan citra perusahaan bosnya akhirnya reyhan memberanikan diri mengundur jadwal pertemuan tomy pagi ini menjadi siang nanti. Tomy juga menyuruh bagian pemasaran untuk datang sore saja menemui tomy. Reyhan tau dirinya terlalu lancang. Tapi reyhan melakukanya untuk tomy juga.
Hampir 2 jam tomy tertidur hingga akhirnya pria itu terbangun dengan reyhan yang masih ada di sampingnya.
“Ya tuhan.. Saya ketiduran..” Lirihnya menghela nafas.
“Rey, bagaimana dengan janji saya dengan client pagi ini?” Tanya tomy dengan mata kembali terpejam.
“Saya sudah mengundurnya menjadi nanti siang pak. Pak tomy bisa istirahat dulu. Dan untuk bagian pemasaran mungkin nanti sore baru akan datang menemui pak tomy.” Jawab reyhan.
“Hh.. Baiklah. Terimakasih. Saya istirahat dulu.”
“Ya pak.”
Tomy keluar dari mobil reyhan. Pria itu memasuki gedung perusahaanya dengan langkah gontai. Tomy bahkan mengabaikan sapaan dari para karyawanya. Dan itu membuat para karyawan wanita langsung bergosip ria.
Di kliniknya jeny tampak kewalahan memeriksa pasienya yang semakin bertambah. Dan sebagian besar dari mereka adalah para orang tua dengan usia lanjut. Mereka juga rata rata mengeluhkan pegal pada badan juga sakit pada bagian kepalanya.
__ADS_1
“Huftt...” Akhirnya selesai juga...” Hela nafas jeny sambil merenggangkan otot otot dalam tubuhnya.
Jeny kemudian duduk di sofa yang ada di ruang prakteknya dan menenggak habis segelas air putih yang berada di meja di depan sofa.
“Bu.. Ini susunya.”
Sisi muncul dari pintu belakang klinik dan membawa segelas susu di atas nampan. Gadis belia itu tersenyum manis ketika jeny menoleh padanya.
“Eh mbak sisi.. Taruh disini saja mbak..” Kata jeny.
Sisi menganggukan kepalanya. Sisi menurut dan meletakan segelas susu yang di bawanya di atas meja tepat di depan jeny.
“Makasih ya mbak..”
“Sama sam...”
“Permisi, dokter !! Dokter tolong anak saya dokter..!!”
Seruan seorang wanita membuat ucapan sisi menggantung. Gadis belia itu kemudian menoleh dan menatap seorang wanita cantik yang berdiri di ambang pintu klinik dengan menggendong anak nya yang terluka.
“Siapa?” Tanya jeny bangkit dari duduknya dengan wajah khawatir.
“Nggak tau bu...” Geleng sisi dengan wajah bingung.
Jeny langsung keluar dari ruanganya dengan wajah panik. Apa lagi jeny juga mendengar suara tangisan anak kecil yang kesakitan.
“Silahkan mas... suk..”
Baik jeny dan wanita itu sama sama terdiam. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan tidak percaya.
“Jeny...” Lirih wanita itu yang tidak lain adalah sarah.
“Kak sarah...”
Jeny tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Baru semalam dirinya dan tomy membahas tentang elo dan sarah, tapi sekarang wanita itu sudah berdiri di depanya dengan menggendong elo yang kakinya terluka sampai mengeluarkan darah.
“Mamah.. Sakit.. Hu hu hu...”
Tangisan elo menyadarkan jeny juga sarah. Jeny langsung menyuruh sarah untuk membawa elo masuk dan membaringkanya di brankar.
__ADS_1