Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 179


__ADS_3

Jeny hanya diam saja saat dalam perjalanan menuju rumah sakit jiwa tempat angel sekarang berada. Wanita itu hanya melirik diam diam pada tomy yang terus saja di sampingnya. Pria tampan itu juga dari semalam diam. Tepatnya setelah mengancam jeny akan menghancurkan bangunan kliniknya.


Jeny menelan ludahnya. Berdiam diaman dengan suaminya sungguh tidak membuatnya merasa nyaman. Jeny ingin bermanja pada suaminya seperti biasanya tapi tomy bahkan seperti sedang mengabaikanya.


Jeny melirik lengan tomy yang masih di perban. Tomy bahkan memperban sendiri tanganya pagi tadi. Tomy juga tidak menunggu jeny mengelap tubuhnya. Pria itu melalukan semuanya sendiri tanpa meminta tolong pada jeny.


Jeny memalingkan kembali wajahnya ke arah jalanan yang sedang mereka lewati. Bayangan tomy yang mengelap sendiri lengan berdarahnya masih terlintas di benak jeny.


“Rey... Bisa tolong berhenti sebentar?” Tanya tomy pada reyhan yang sedang fokus dengan kemudinya.


“Ah ya pak.. Baik..” Angguk reyhan.


Jeny mengeryit bingung. Dalam benaknya jeny bertanya tanya mungkinkah suaminya akan menurunkanya di tengah jalan seperti dulu.


“Maaf pak ada apa?” Tanya reyhan menolehkan kepalanya pada tomy.


“Saya sedikit haus. Bisa tolong kamu belikan saya minuman?”


Reyhan terdiam sesaat. Pria berjambul itu kemudian menatap sekitarnya. Jalanan yang menjadi tempatnya berhenti sangatlah sepi. Dan baik disisi kanan maupun kirinya hanya ada pepohonan dan tidak ada penjual apapun.


“Baik pak.. Tunggu sebentar.”


Meskipun reyhan tau rasanya sangat mustahil menemukan pedagang di tempat sepi seperti itu namun pria itu tetap menurut. Reyhan tau tomy memiliki alasan kuat menyuruhnya untuk keluar dari mobil. Dan reyhan juga tau tomy menyuruhnya membeli minuman bukan karna merasa haus.


Tiba tiba pikiran reyhan kemana mana. Pria tampan itu kemudian menggelengkan kepalanya membuang jauh jauh pemikiran tentang apa yang sedang di lakukan tomy pada jeny.


“Nggak boleh mikir terlalu jauh. Apapun yang pak tomy lakukan yang terpenting itu yang terbaik.” Gumam reyhan sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan sepi itu.


Sedangkan di dalam mobil tomy dan jeny masih diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan sehingga suasana hening begitu terasa. Mereka berdua bahkan duduk sedikit berjarak dan membuang muka menatap jalan sepi itu lewat kaca mobil.


Tomy memejamkan kedua matanya. Sejak semalam dirinya mengancam akan merusak kliniknya jeny tampak terus diam. Jeny bahkan hanya diam saat melihat tomy membalut sendiri luka yang ada di lenganya.


“Jeny...” Panggil tomy pelan.


Jeny memejamkan kedua matanya. Tomy pasti akan kembali marah padanya sehingga sampai beralasan haus dan menyiuruh untuk reyhan membeli minuman.

__ADS_1


“Mulai saat ini tolong dengarkan aku...”


Jeny menelan ludahnya. Jeny tidak pernah sekalipun merasa membangkang pada tomy selama berbaikan. Jeny selalu mendengarkan apa yang di katakan suaminya karna menurut jeny itu yang terbaik.


“Dan tentang semalam. Aku minta maaf.. Maaf kalau aku membuat kamu takut.. Dan aku juga minta maaf karna membentak kamu semalam.”


Jeny menolehkan kepalanya. Tomy meminta maaf namun tetap membuang muka ke arah jalanan.


“By..”


“Kamu boleh marah sama aku... Tapi aku melarang kamu menutup klinik juga demi kamu dan anak kita.. Aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu.. Selama ini aku memang selalu sibuk dan kurang memperhatikan aktivitas kamu sehari hari.” Sela tomy pelan.


Jeny menggelengkan kepalanya. Jeny mengakui jika takut pada suaminya. Tapi jika marah jeny sama sekali tidak. Adapun sikap diamnya karna takut kembali mengundang amarah suaminya jika banyak ngomong.


“Aku nggak marah. Aku hanya takut kamu kembali lagi kasar dan arogan seperti dulu..”


Tomy langsung menoleh. Membuat marah pada istrinya mungkin wajar. Tapi membuatnya takut membuat tomy merasa sangat keterlaluan. Tomy memang pernah kasar dan arogan. Dan beruntung semua itu tidak membuat jeny trauma. Tapi semalam, dirinya berhasil membuat istrinya takut padanya.


“Ya tuhan.. Sayang aku nggak bermaksud buat kamu takut.. Aku..”


Jeny langsung mengecup bibir tomy membuat pria itu berhenti berbicara. Jeny tersenyum manis menatap suaminya yang tampak terkejut karna tindakan tiba tibanya.


“Aku yang minta maaf karna membuat kamu khawatir.” Katanya.


Berlahan seulas senyum terukir di bibir tomy. Jeny begitu manis dan menggemaskan. Wanita itu berani menciumnya lebih dulu padahal dirinya sedang merasa takut pada tomy.


Tomy meraih tangan jeny menggenggamnya dan menariknya pelan sehingga tubuh jeny menempel sempurna di tubuhnya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka saat ini. Tatapan keduanya juga begitu dalam satu sama lain.


“Kamu memancingku?” Tanya tomy lirih.


Jeny mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Jeny tidak bermaksud memancing suaminya. Ciuman singkatnya hanya bertujuan untuk mencairkan suasana diantara mereka berdua.


Perlahan tomy mulai mendekatkan wajahnya ke wajah jeny. Tanganya yang tadi menarik tangan jeny kini sudah nangkring begitu manis di pinggang lebar istrinya.


“By aku...”

__ADS_1


“Ya tuhan...”


Tomy langsung menjauhkan kembali wajahnya ketika merasakan gerakan kuat di perut sebelah kiri jeny.


Jeny yang mengetahui itu tertawa. Anak dalam kandunganya seolah tau dan sedang membantunya agar tidak di cium oleh tomy. Jeny bukan tidak mau, tapi berciuman di dalam mobil rasanya akan sangat tidak nyaman. Meskipun memang mobil tomy mewah namun tetap saja jeny tidak akan merasa nyaman dan menikmati. Terlebih jika tiba tiba reyhan datang dan kembali pada saat yang tidak tepat. Bukan hanya malu yang mereka rasa tapi juga tidak puas pastinya.


“Kalian sekongkol?” Tanya tomy sambil mengusap perut sebelah kiri jeny dengan lembut.


“Haha enggak by.. Tapi melakukan itu di mobil memang tidak akan nyaman.” Tawa jeny.


“Itu? Aku hanya akan mencium kamu..” Protes tomy dengan bibir mengerucut.


“Semuanya juga berawal dari ciuman lalu merembet kemana mana sampai akhirnya..”


“Akhirnya apa hem?” Sela tomy bertanya dengan memeluk mesra pinggang jeny.


Jeny tidak bisa menjawab. Wanita itu kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang tomy. Senyumnya mengembang dengan tangan yang memainkan perban yang membalut lengan suaminya yang terluka.


“Jangan marah marah lagi yah.. Aku takut..” Rengeknya manja.


“Iya sayang.. Maaf.. Aku terlalu khawatir sama kamu sampai emosi.” Balas tomy mengecup lembut kepala jeny.


Tomy memejamkan kedua matanya, menghirup aroma vanilla yang menguar dari tubuh sintal istrinya. Tomy harap jeny benar benar mau menuruti kemauanya dengan menutup sementara kliniknya.


“Kamu beneran mau daftarin aku senam hamil hari ini?” Tanya jeny.


“Tentu saja. Aku sudah suruh reyhan mencari tempat senam wanita hamil yang paling bagus. Setelah ini juga kita langsung kesana untuk mendaftar.” Jawab tomy.


“Lalu kapan kita menjenguk mbak angelnya?” Tanya jeny lagi.


“Setelah mendaftarkan kamu senam hamil sayang.. Kita langsung jalan buat jenguk angel. Setelah itu kita pulang dan cari posisi yang pas.” Jawab tomy dengan godaan di akhir katanya.


“Iiih.. Kamu mah lagi sakit juga. Dasar suami mesum.”


“Mesum sama istri sendiri itu nggak di larang sayang.” Balas tomy tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2