
Viola terdiam dalam kebekuan hati ibarat sebuah kertas putih Viola sudah terendam di lumpur hitam dan hancur.
Tak ada yang paling di harapkan dalam hidup ini, hingga dirinya hanya merenung dalam sepi.
Hingga akhirnya Viola pun menatap ke arah langit, akhirnya Viola pun mengambil air wudhu ia basahi wajahnya dan tangannya.
Sudah lama sekali Viola meninggalkan solat. Padahal sebenernya tak ada alasan dirinya untuk pergi dalam menunaikan kewajiban dirinya sbegai umat muslim yang bertaqwa.
Hingga akhirnya air mata Viola pun pecah saat itu, seluruh air matanya tumpah dalam sujud. Tak ada yang paling ia harapakan dalam hidup ini, suami, harta dan cintanya telah pergi. Bahkan kehormatan diri sebagai wanita baik-baik sudah hilang di telan nestapa. Semakin hari semakin rapuh dan terluka tak ada pundak tempat bersandar saat ini, selain bersujud memohon ampun pada sang ilahi.
Hingga akhirnya Viola termenung dalam sendiri antara hidup dan mati tak ada pilihan selain menerima.
Hingga saat itu Viola di serang demam, flu dan batuk.
Wajah Viola tampak memerah, dan Viola tak bisa berbuat banyak saat itu, selain tidur di ranjang. Badan Viola terasa lemas dan merasa keletihan. Selain itu Viola merasa jika tubuhnya menggigil.
Sampai saat itu Viola pun mendapati seorang pelanggan yang Viola tak kenali siapa. Dengan wajah yang penuh kebeukuan di hati dan wajah yang penuh duka Viola melayani seorang pria yang entah dia siapa.
Viola merasa sudah tak sanggup untuk hidup dalam keadaan yang tak ia inginkan, minta tolong pun entah kepada siapa.
Hingga dua hari kemudian....
Waktu berlalu terasa mencekam Viola merasa tak pernah baik-baik saja dalam hidupnya, hingga saat itu....
Viola pun mulai merasa mual-mual, Viola sadar saat itu dirinya tengah sakit tapi ada rasa lain.
Hingga seseorang memerhatikan Viola dia adalah teman sekamar dari Viola.
"Lo kenapa" tanya Ria memerhatikan Viola yang terlihat sakit.
Viola pun menggelengkan kepala.
"Sepertinya lu sakit, tapi gue curiga deh" kata Ria lagi.
Viola pun hanya tertunduk dan menatap langit di kamar. Viola tak banyak bicara, dirinya memang seperti orang gila yang enggan untuk membuka mulutnya.
"Jangan-jangan lu hamil"
Deg..
Seketika Viola pun merasa jika dirinya memang sudah telat datang bulan.
Hingga Ria melemparkan sebuah tetspek untuk Viola.
"Coba lu pakai ini" kata Ria memberikan sebuah tesepek untuk Viola pakai.
"Buat apa?" Kata Viola dengan wajah datar.
"Lu main setiap hari pakai pengaman gak lu, ya khawatir aja ada pelanggan yang rese" kata Ria.
Lalu Viola pun seketika menengok dan melihat sebuah alat yang di lemari oleh Ria.
Lalu Viola pun merasa penasaran dan mencoba memakai nya saat ia memakai alat tersebut.
Dan benar saja....
__ADS_1
Dua garis dua yang tak pernah ia mau, itu terlihat nyata
"Hah??? Hamil" kata Viola yang akhirnya mendapati dirinya hamil.. "bagaimana ini"
"Kenapa beneran hamil" kata Ria. "Bahaya?"
Viola hanya terdiam sambil menarik napasnya.
"Lo tahu? Kalau sampai lu ketahuan hamil beuh mami Eflin bakalan gugurin kandungan lu"
Viola pun menggelengkan kepala.
"Kamu cukup diam, biarkan saja dulu. Biarkan aku berfikir, aku ingin kabur dari tempat ini. Kamu bisa bantuin aku kan" kata Viola.
"Susah.. kalau pun bisa lu bakal di tangkap lagi" kata Ria.
"Di dunia ini gak ada yang gak mungkin, bagaimana kalau kita lapor polisi"
"Semua keadaan terlalu berat untuk lu lapor polisi sebelum lu sampai lapor lu bakal mati duluan, yang mati juga bukan lu. Tapi emak lu, bapak lu ya sekalian ada nenek lu atau kakek lu. Dulu ada nasib yang sama kaya lu, kabur terus lapor polisi. Besoknya, emak bapak nya mati. Matinya pun seolah bukan pembunuhan, semua kecelakaan mobil padahal gua udah tahu sih belangnya mami Eflin. Memberikan efek jera buat kabur beda-beda" kata Ria.
"Terus aku gak pernah mau di sini"
"Kalau gue sih emang faktor ekonomi keseret kesini kalau lu gak tahu deh"
"Aku di culik ria"
"Gak ada yang bisa terpecahkan dari semua masalah yang ada, Eflin gak bakal ambil orang sembarangan yang dia jadikan tumbal" kata Ria.
"Jadi maksudnya bagiamana?" Tanya Viola.
"Dari sekian yang ada faktor itu tak aku rasain, dijual gak mungkin. Hutang ya apalagi? Gak ada pengaruhnya sama aku Ria" kata Viola.
"Mungkin ada yang gak suka dengan kehadiran lu" kata Ria.
"Ya tapi siapa?"
"Ya gak tahu, yang jalanin hidup lu kan elu mana gue tahu siapa yang suka elu dan benci lu. Musuh lu!!! ingat lu hidup pasti punya haters" kata Ria.
"Aaahh aku gak punya... Hidup aku monoton kerja kerja kerja gak ada lain. Kalau pun ada kuliah"
"Ya semua akan lu tahu, mungkin gak sekarang untuk buka masalah tak semudah membalikkan telapak tangan" kata Ria.
Viola pun sejenak terdiam.
"Oke aku pusing jika harus di tanya semua itu, tapi aku juga galau. siapa yang menghamili aku ya"
"Coba ingat cowok yang pakai lu gak pakai sarung siapa?" Kata Ria.
"Maksudnya?"
"Heeet dasar bocil lu yak. Sarung Sarung kaga paham lu, eh lu udah masuk dunia hitam gini masih gak paham"
"Apaan coba ngomong yang jelas" ucap Viola.
"Itu loh yang alat kaya balon yang biasa cowok pakai"
__ADS_1
"Eeehhmmm.. tapi ada sih yang gak pakai, aku cuma ingat pas pertama kalinya sama Very"
"Yakin yang lain pakai semua"
"Setahu ku pakai karena mereka emang takut sendiri kena penyakit saat itu"
"Baguslah kalau pelanggan lu masih mau pakai, kalau sampai hamil ya kemungkinan itu anak dari pelanggan nakal lu" kata Ria.
"Terus gue kabur dari sini bagaimana?"
"Sampai ada yang Bayar lu mahal buat keluar dari sini" kata Ria
"Ya siapa?"
"Makhluk goib kali, hahaha" kata Ria.
"Ya udahlah kemarin ada sih om om yang ajak aku jadi simpanannya gitu gak apa-apalah jadi wanita simpanan daripada kejebak di sini, udah lepas dari sini terus abis itu tinggalin dia yak gak sih, buat apalah tua disini aku juga pengen hidup bebas" kata Viola.
"Jadi lu mau pertahankan anak dalam kandungan lu" tanya ria
"Iya anak ini berhak hidup dan memiliki ibu. Meksi dalam hal ini dia pasti lahir tanpa seorang ayah tapi lahir itu adalah suatu takdir" kata Viola.
"Weh hebat lu yak. Status lu apasih sebenernya? Udah nikah apa belom" tanya Ria.
"Udah"
"Jendes gitu"
"Iya baru kemarin aku di ceraikan"
"Kenapa?"
"Ya karena masuk ke sini apalagi lagi dunia ini tak perlu tahu siapa yang salah. Dunia hanya perlu tahu aku sudah tak pantas lagi buat mas Randy. Pria tampan kaya raya kini hanya tinggal kenangan, bahkan.. bahkan nih ya dia tak pernah sekalipun sentuh aku sekali pun disaat mereka mudah menyentuh ku, tak semudah aku di sentuh oleh suamiku. Dan malah seperti nya dia lebih suka menyentuh wanita lain. Sungguh ironi di saat hidup seperti sebuah fatamorgana yang tak pernah bisa di tebak" kata Viola yang memejamkan mata.
"Aku berharap setelah ini, ada pria tampan dengan segela kelebihannya datang kepada ku menjemput ku membawa ku pulang ke rumahnya lalu mencintai ku tanpa celah dan melihat kekurangan" kata Viola.
"Ngimpi aja bisanya? Mana ada Viola mana ada?" Kata ria yang menyadarkan Viola.
"Ya dunia ini tak selebar daun kelor terkadang hidup seperti sampah dan terkadang juga hidup seperti berlian, dan hanya waktu dan takdir yang tak pernah tak tahu kapan akan terjadi keberuntungan itu datang, memang saat ini aku ada dibawah dan titik terendah dalam kerasnya hidup di dunia yang fana ini tapi percayalah manusia hanya bisa berharap dan meminta pada sang ilahi" kata Viola.
"Jangan terlalu banyak berharap nanti jatuh sakit"
"Ya berharap itu gak jadi masalah asalkan berharap pada sang maha kuasa, bukan pada manusia yang tak pernah punya apapun merasa memiliki semuanya. Kesombongan yang pernah aku rasakan dulu membuat aku belajar bahwa hidup ini hanya titipan" kata Viola.
"Disaat aku memiliki segalanya aku sombong bahkan aku merasa puas dan merasa tinggi pada akhirnya Allah menjatuhkan semua yang aku mau. Supaya aku sadar bahwa hidup ini ya begini. Di uji dengan kesabaran dan di sadarkan dari kehidupan bahwa semua yang aku miliki hanya sementara"
"Setelah ini kamu mau apa?"
"Menjalani dan menerima kehamilan ini, wlaupun aku tahu ini pasti akan berat"
Lalu tak terasa Ria pun memeluk Viola erat, seketika Viola pun menangis tersedu.
"Semangat Viola tunjukan kalau kamu mampu dan bisa"
"Iya aku akan buktikan bahwa aku bisa hidup sekeras apapun aku terjatuh" ucap Viola yang menangis sambil mengepal tangan dan menguatkan dirinya.
__ADS_1