Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 152


__ADS_3

Fani berbaring di tengah tengah jeny, tomy, juga dokter axel. Gadis kecil itu terus mengembangkan senyumnya menatap satu persatu orang yang mencintainya dengan tulus.


“Papah tomy dulu aku pernah cerita sama papah.. Aku punya mamah sama papah yang super sibuk. Mereka sama sekali nggak ada waktu buat jenguk aku di rumah sakit. Tapi aku punya kakek sama nenek yang super baik. Meskipun mereka sudah tua tapi mereka tidak pernah merasa capek bolak balik ke rumah sakit buat jenguk aku.”


Tomy yang berada di sisi kanan fani menganggukan kepalanya. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengatakan ya. Tenggorokanya terasa seret juga pegal sehingga begitu terasa berat untuk mengeluarkan kata kata.


“Tapi papah tomy sekarang liatkan ada mamah jeny.. Papah dokter juga papah tomy yang menyayangi aku. Aku bahagia banget punya kalian..” Sambung fani melirik pada jeny dan dokter axel kemudian kembali menatap tomy.


“Tapi papah... Aku masih merasa sedih karna mamah angel dan papah leo belum mau ketemu lagi sama aku..”


Tomy memejamkan kedua matanya sesaat. Pria itu kemudian meraih tangan kanan fani dan menggenggamnya lembut.


“Fani mau papah melakukan sesuatu?” Tanyanya lembut.


Fani hanya diam saja menatap wajah memerah tomy. Gadis kecil itu kemudian menoleh pada jeny yang terus saja menangis dalam diam sambil memangku kepalanya.


“Fani mau papah bawa mamah angel dan papah leo kesini sekarang?” Tanya tomy lagi.


Jeny menggelengkan kepalanya. Tomy bisa sangat bringas jika sedang marah. Apa lagi tomy pernah mengatakan sangat membenci leo suami angel.


“Memangnya bisa pah?” Tanya fani dengan senyuman penuh harap.


“Untuk putri cantik papah.. Apapun bisa papah lakukan. Apa nenek juga kakek harus datang?” Tanya tomy lagi.


“Iya pah.. Aku mau semuanya disini. Temani aku tidur.” Jawab fani.


“Baik.. Baik kalau itu mau fani. Papah akan kabulkan. Tunggu papah nak.. Papah akan bawa mamah angel dan papah leo kesini.. Dan papah juga akan bawa nenek sama kakek untuk kamu.”


“By kamu..”


“Ssstt... Kamu jaga fani sayang.. Aku akan segera kembali..” Sela tomy tersenyum menatap istrinya.


“Pak tomy anda tidak perlu...”


“Demi fani dokter.. Semuanya saya lakukan demi fani. Anak kita..” Tomy menyela ucapan dokter axel dengan air mata menetes.


“Kalau begitu saya ikut..” Kata dokter axel kemudian.


Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian mengecup lama kening fani.

__ADS_1


“Janji sama papah.. Tunggu papah kembali.” Bisik tomy tepat di depan wajah pucat fani.


Fani menganggukan kepala dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya. Tatapan senang juga penuh harap di tujukan gadis kecil itu pada tomy yang menatapnya.


“Janji tunggu papah..” Bisik tomy sekali lagi.


Tomy berlalu setelah itu di ikuti dokter axel yang juga berniat untuk membawa angel dan suaminya menghadap fani.


“Mamah...” Panggil fani menatap jeny yang duduk memangku kepalanya.


“Yah...” Saut jeny kembali meneteskan air matanya.


“Mamah senyum dong.. Jangan nangis terus..” Pinta fani pada jeny.


Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian tersenyum menuruti apa yang di pinta oleh fani.


“Mamah.. Kalau nanti adik aku lahir jangan kasih liat photo kita yang tadi yah..”


“Kenapa?” Tanya jeny lirih.


“Akunya jelek banget mah.. Aku malu dong. Terus kasih tau juga yah sama adik kalau aku sayang banget sama adik..”


Di perjalanan menuju rumah angel dan leo tomy terus saja diam begitu juga dengan dokter axel yang ada di sampingnya. Mereka bahkan tidak memperdulikan umpatan demi umpatan para pengendara lain yang hampir terserempet oleh mobil tomy.


Tidak lama mobil tomy sampai di depan gerbang tinggi menjulang kediaman angel dan leo. Dan ketika itu kebetulan angel dan leo juga kakek dan nenek fani hendak pergi. Namun mereka urung menaiki mobil ketika melihat tomy dan dokter axel yang turun dari mobil.


“Angel !!” Seru dokter axel.


Pria itu langsung masuk ke area luas kediaman angel dan melangkah lebar menghampiri mereka. Dokter axel tidak perduli jika dirinya mendapat hantaman keras kepalan leo. Yang terpenting sekarang adalah dirinya bisa memenuhi keinginan fani untuk bertemu mereka semua.


“Axel..” Lirih angel.


Nafas dokter axel memburu. Dadanya kembang kempis menatap angel yang hanya diam di tempatnya.


“Kamu..”


“Leo diam.” Sela kakek fani tegas.


Leo berdecak. Kesal sekali rasanya melihat dokter axel yang dengan berani menatap istrinya dengan jarak yang begitu sangat dekat.

__ADS_1


“Fani...”


Dokter axel tidak bisa lagi melanjutkan ucapanya. Tangisnya pecah membayangkan betapa sumringah wajah putrinya begitu tomy mengatakan akan membawa angel dan leo ke hadapanya.


Tomy yang merasa iba dengan dokter axel langsung berlari mendekat. Tomy menyangga kedua bahu dokter axel yang saat itu hampir meluruh dan berlutut di depan angel. Tomy sangat keberatan jika dokter axel sampai berlutut di depan wanita seperti angel. Wanita yang tidak punya rasa iba sedikitpun pada darah dagingnya sendiri.


“Jangan merendahkan diri di depan wanita seperti dia dokter. Harga dirimu harus selalu kau junjung tinggi agar tidak di injak injak oleh mereka.” Kata tomy.


Dokter axel menggelengkan kepalanya. Pria tampan itu menangis terisak. Tidak ada lagi rasa malu ataupun gengsi. Bukan karna angel, tetapi karna putri semata wayangnya.


“Angel kamu boleh membenciku. Kamu juga boleh membunuhku bila perlu. Tapi bisakah sedikit saja kamu iba pada anakku?”


Angel ikut meneteskan air mata mendengarnya. Dokter axel tidak pernah serapuh itu sebelumnya. Tapi sekarang pria itu bahkan menangis sesunggukan di depanya, di depan suami juga kedua orang tuanya.


“Bisa kamu melihat anakku sekarang?” Pertanyaan dokter axel membuat kakek dan nenek fani kompak maju.


“Cucuku.. Apa yang terjadi pada cucuku axel? Bagaimana keadaanya sekarang?” Tanya kakek fani dengan suara bergetar.


Dokter axel tidak sanggup lagi berucap. Tangis kesedihanya membuat dokter tidak bisa mengingat apapun yang ingin dia katakan pada angel.


“Eemm... Kek.. Fani ada di rumah saya sekarang. Dia...” Tomy menggangtungkan ucapanya. Rasanya kurang sopan jika dirinya mengatakan fani dalam keadaan gawat.


“Dia kenapa?” Tanya nenek fani tidak sabaran.


Tomy menelan ludahnya. Pria itu menatap angel yang hanya diam dan sesekali mengusap air matanya. Tomy juga menatap leo yang tampak acuh dan tidak perduli.


“Fani ingin bertemu dengan kalian semua. Sekarang.” Lanjut tomy.


“Pak tomy.. Tapi cucu saya baik baik saja kan?” Tanya nenek fani khawatir.


Tomy tidak bisa menjawab. Pria itu tidak bisa memberi harapan pada kakek dan nenek fani. Namun jika tomy mengatakan langsung tentang keadaan fani itu juga akan sangat tidak baik.


“Kakek sama nenek bisa ikut dengan saya dan dokter axel.” Senyum tomy pada kedua orang tua renta di depanya. Tomy tau mereka berdua sangat menyayangi fani.


“Dan untuk kalian. Tolong untuk kali ini saja pakai hati nurani kalian.” Kata tomy menatap angel dan leo penuh kebencian.


Tomy memapah tubuh dokter axel yang melemas. Pertahanan pria itu benar benar runtuh. Isakan pilu terdengar begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya termasuk kakek dan nenek fani yang ikut menangis.


“Tuhan... Jangan kau ambil cucu kesayangan hamba.”

__ADS_1


__ADS_2