Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 97


__ADS_3

Tomy melirik jeny yang hanya diam di samping kemudi. Tatapan wanita cantik ber dress orange itu tampak sendu dan tidak semangat. Semenjak pembicaraanya dengan dokter axel jeny memang terlihat sedikit aneh menurut tomy.


“Sayang.. Kenapa sih?” Tanya tomy menatap sekilas pada jeny dan kembali menatap jalanan ramai yang sedang di lewatinya.


Jeny menghela nafas. Jeny benar benar penasaran dan ingin tau bagaimana keadaan fani. Tapi dokter axel selalu saja menutupinya.


“Karna dokter itu yah? Dia gangguin kamu?” Tanya tomy lagi.


Jeny tersenyum. Tomy sangat sensitif jika sudah menyangkut pria lain.


“Nggak kok. Kamu jangan gitu dong.. Dokter axel orang yang baik kok.. Dan dia nggak gangguin aku. Justru aku yang gangguin dia.”


CCIITTT


Tomy mengerem mobilnya mendadak. Beruntung tubuh jeny tidak terjerembab ke bagian depan mobil pria tampan itu karna mengenakan seatbelt.


“Tomy...” Gemas jeny dengan kedua mata melotot pada suaminya.


“Kamu bilang apa tadi? Kamu yang gangguin dia? Maksudnya apa?” Tanya tomy menatap jeny.


Jeny menghela nafas. Tomy menatapnya dengan tatapan curiga lagi.


“Nggak ada maksud.” Jawab jeny kesal.


Tomy berdecak. Bukan karna tidak percaya pada istrinya. Tomy hanya takut dokter axel seperti lorenzo. Tomy tidak mau jika sainganya bertambah. Apa lagi melihat dokter axel yang terlihat lebih tampan dari lorenzo.


“Sayang please dong.... Aku serius..”


Jeny melipat kedua tanganya di bawah dada. Wanita cantik itu melengos tidak mau menatap tomy. Jeny bukan kesal karna tomy yang mencurigainya dengan dokter axel. Jeny kesal karna tomy memberhentikan mobilnya mendadak yang menyebabkan dirinya sangat terkejut.


Tomy menghela nafas. Dengan lembut di sentuhnya perut jeny kemudian mengusapnya lembut.


“Sayang.. Liat deh.. Masa mamah tega banget nggak jawab pertanyaan papah. Udah gituh mamah ngejar laki laki lain lagi di depan papah tadi.”


Mendengar apa yang di katakan tomy kedua mata jeny membulat. Jeny menepis tangan tomy yang mengusap usap perutnya.


“Sakit sayang..” Ringis tomy mengusap tanganya yang di tepis oleh jeny.


“Kamu nggak usah ngadu yang enggak enggak sama anak aku.” Kesal jeny.


“Lah.. Kan tadi kamu sendiri yang bilang kamu gangguin dokter axel.”


Jeny berdecak. Tomy benar benar sangat kekanak kanakan.


“Mengganggunya kan bukan dalam maksud suka.” Sergah jeny.

__ADS_1


“Terus?” Tanya tomy menatap jeny.


Ekspresi jeny langsung berubah sendu. Wanita itu menghela nafas kemudian menundukan kepalanya.


“Aku cuma pengen tau keadaan fani..” Jawab jeny pelan.


Tomy mengeryit. Tentang anak kecil berkepala botak itu tomy juga tau kalau kondisinya memang tidak baik. Semuanya terlihat jelas dari wajah nya yang pucat juga lingkaran hitam di sekitar kedua mata belonya.


“Memangnya kenapa dengan fani?” Tanya tomy penasaran.


Jeny menghela nafas. Jeny tidak tau harus mengatakan apa pada suaminya. Karna yang jeny tau keadaan anak kecil itu semakin hari memang terlihat semakin memburuk. Tubuhnyapun semakin kurus.


“Yang aku lihat kondisinya tidak terlalu baik akhir akhir ini.” Jawab jeny lagi.


Tomy terdiam. Tomy tau jeny sangat menyayangi gadis kecil berkepala botak itu.


“Apa yang dokter axel katakan?” Tanya tomy kali ini dengan suara lembutnya.


“Dokter axel bilang aku tidak perlu khawatir karna aku bukan keluarganya fani.” Jawab jeny.


Tomy menghela nafas lagi. Apa yang di katakan dokter axel memang benar tentang jeny yang bukan keluarga anak kecil itu. Tapi kepedulian jeny pada fani bahkan lebih dari keluarganya.


“Jen.. Mungkin dokter axel punya maksud lain dan itu yang terbaik untuk fani..”


Tomy tidak bisa berkata apa apa. Di raihnya pinggang jeny dan mengangkat tubuh mungil wanita itu mendudukanya di pangkuanya.


“Sayang.. Kamu nggak perlu mikir yang enggak enggak. Kamu harus yakin bahwa fani akan baik baik saja..”


Air mata jeny menetes mendengarnya. Jeny sudah mencoba berpikir positif namun melihat keadaan gadis kecil itu membuatnya jeny yakin bahwa kondisi gadis kecil itu pasti sedang sangat melemah.


“Tom..”


“Sayangku.. Kamu nggak lupa kan sama anak kita?” Sela tomy bertanya.


Jeny terdiam. Di tatapnya wajah tampan tomy yang begitu dekat dan sejajar denganya.


“Kalau kamu terlalu banyak pikiran itu akan sangat berpengaruh untuk anak kita..” Lanjut tomy dengan senyuman di bibirnya.


Di usapnya lembut perut rata jeny. Tomy tau di dalam sana ada sebuah kehidupan yang pasti bisa sangat merasakan kasih sayangnya.


“Percaya sama aku.. Fani akan baik baik saja.”


Jeny memejamkan kedua matanya sesaat kemudian menganggukan kepalanya. Rasanya akan sangat keliru jika jeny memikirkan fani namun tidak memikirkan kondisi janin dalam kandunganya.


“Ya udah sekarang dokter cantiknya aku nggak boleh nangis yah..” Senyum tomy sambil mengusap air mata yang membasahi pipi jeny dengan ibu jarinya.

__ADS_1


Jeny tersenyum. Diraihnya tangan tomy yang berada di pipinya. Jeny menggenggamnya lembut kemudian mengecupnya singkat.


Tomy terdiam di perlakukan begitu oleh jeny.


“Kamu...”


“Aku sayang kamu..” Lirih jeny kemudian berhambur memeluk tomy.


Di balik punggung jeny tomy tidak bisa berkata apa apa. Bahkan untuk sekedar membalas pelukan jeny saja tanganya terasa sangat kaku untuk di gerakan.


Jeny mengatakan menyayanginya bukan mencintainya. Tomy memejamkan kedua matanya. Pria itu tidak ingin berpikiran buruk. Mungkin saat ini jeny memang belum bisa mencintainya. Dan tomy menganggap ungkapan sayang jeny yang baru saja terucap adalah awal dari kisah cinta mereka yang sesungguhnya.


Tomy menghela nafas bersamaan dengan membuka kembali kedua matanya. Berlahan pria itu mengukir senyuman manis di bibirnya kemudian membalas pelukan jeny dengan melingkarkan kedua tanganya di pinggang wanita cantik itu.


“Sayang... Pengin belajar nyetir nggak?”


Jeny langsung melepaskan pelukanya. Di tatapnya wajah tampan suaminya.


“Serius?” Tanya jeny tidak percaya.


Cup


Tomy mengecup singkat bibir jeny yang begitu sangat dekat dengan bibirnya.


“Ayo aku ajarin..” Senyumnya.


Tomy mengubah posisi duduk jeny menjadi menghadap ke depan. Pria tampan itu meletakan kedua tangan jeny di stir mobilnya.


“Tomy tapi...”


“Mumpung jalanan kompleks lagi sepi sayang..” Sela tomy.


Tomy menginjak pedal gas nya berlahan kemudian menuntun tangan jeny di atas stir mobilnya. Tomy memang sengaja melakukanya agar jeny bisa lupa dengan pikiranya tentang fani.


“Tomy aku takut...”


Tomy terkekeh pelan. Di kecupnya rambut wanitanya singkat.


“Kamu nggak perlu takut apapun selama ada aku sayang..” Bisik tomy lembut.


Jeny tersenyum mendengarnya. Ini pertama kalinya tomy mau mengajarinya menyetir. Meskipun memang hanya sebentar karna mereka memang sudah berada di kompleks perumahan mereka.


“Baik. Aku akan selalu berani menghadapi dunia selama kamu ada buat aku.” Balas jeny tersenyum.


“Selamanya. Aku akan selalu ada di samping kamu istriku.”

__ADS_1


__ADS_2