Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 237


__ADS_3

Mamah dan papah jeny melangkah di koridor rumah sakit dengan sangat terburu buru. Mereka menghampiri bibi dan sisi yang duduk diam di kursi tunggu depan ruang tempat jeny bersalin.


“Bibi, sisi, bagaimana anak saya?” Tanya mamah jeny dengan wajah khawatir.


“Ibu ada di dalam bu sama bapak..” Jawab bibi yang tidak tau bagaimana keadaan jeny sekarang.


“Ya tuhan.. Pah...”


“Mamah tenang.. Jeny pasti bisa mah..” Balas papah jeny sambil mengusap lembut kedua bahu istrinya.


Mamah jeny menggelengkan kepalanya. Wanita itu mengalami sendiri bagaimana sakitnya proses melahirkan normal. Seorang wanita akan berada di antara hidup dan mati saat mengeluarkan bayi dari rahimnya.


“Mamah harus masuk pah..”


Papah jeny tidak bisa mencegah. Pria itu tau istrinya sangat menyayangi putri semata wayangnya itu. Meskipun memang terkadang mamah jeny sangat tegas sehingga sering membuat jeny takut padanya.


Ketika membuka pintu ruang bersalin jeny, mamah jeny terdiam melihat tomy yang sedang menuntun jeny keluar dari kamar mandi. Mamah jeny melihat sendiri bagaimana telatenya tomy mengurus dan membantu jeny yang sedang menghadapi masa masa sakitnya menjelang melahirkan.


Mamah jeny menghela nafas kemudian tersenyum. Wanita itu kemudian mengusap air matanya dan masuk ke dalam ruang bersalin jeny.


“Sayang..”


Suara lembut mamah jeny berhasil mengalihkan perhatian tomy juga jeny yang baru saja hendak kembali membaringkan tubuhnya di atas brankar.


“Mah..” Senyum jeny bahagia melihat kehadiran sang mamah.


Tomy tersenyum. Pria itu kembali meneteskan air matanya namun dengan cepat langsung di usapnya.


Mamah jeny melangkah cepat menghampiri jeny. Dengan penuh cinta dan kelembutan mamah jeny membantu jeny berbaring menghadap ke samping kiri. Wanita itu juga mengusap peluh yang membasahi kening putri semata wayangnya itu.


“Sabar ya sayang.. Mamah yakin kamu bisa.. Kamu kuat..” Lirih mamah jeny mengusap lembut pipi chuby putrinya.

__ADS_1


Jeny menganggukan kepalanya. Dengan erat di genggamnya tangan sang mamah. Jeny tidak pernah berpikir sebelumnya jika melahirkan seorang bayi akan sangat sakit. Dan jeny sekarang merasakanya seperti saat dulu mamahnya melahirkanya.


“Mah.. Jeny minta maaf kalau jeny banyak salah sama mamah.. Sama papah juga.. Jeny minta maaf kalau jeny selalu bikin mamah papah susah.. Jeny sayang sama mamah sama papah.. Ya tuhan..”


Lagi, ucapan jeny tersela karna rasa sakit yang menderanya. Wanita itu memejamkan kedua matanya erat kemudian menghela nafas dan tersenyum menatap wajah cantik sang mamah.


“Terimakasih mah.. Terimakasih untuk semua pengorbanan mamah..” Lanjut jeny masih dengan suara lirihnya.


Tomy yang di posisi tepat di samping kepala istrinya hanya bisa diam dalam tangisnya. Perjuangan seorang wanita melahirkan buah hatinya memang sangat berat. Dan tomy tau akan hal itu.


“Kamu anak yang baik sayang.. Kamu nggak punya salah apa apa sama mamah papah.. Kamu kebanggaan mamah sama papah..” Balas mamah jeny tersenyum sambil mengusap terus pipi chuby jeny.


Jeny tersenyum mendengarnya. Mamahnya memang sangat lembut meskipun terkadang sangat galak.


Perhatian mamah jeny teralih pada tomy yang hanya diam mendengarkan. Mamah jeny tidak menyangka jika tomy mau turun tangan sendiri mengurus dan menemani jeny saat proses persalinan.


“Tomy..” Panggil mamah jeny pelan.


“Ya mah..”


“Kamu pria yang hebat..” Pujinya.


Tomy hanya tersenyum tipis. Jika memang dirinya hebat itu artinya jeny berkali lipat lebih hebat dari dirinya. Jeny wanita yang sempurna yang tangguh yang berhasil menguasai hati dan pikiranya.


Setelah beberapa jam menunggu dan mengalami sakit yang sangat kini tibalah final atas perjuangan jeny. Dokter sinta masuk dengan 2 perawat yang mengikutinya. Wanita berbaju hijau itu mulai membuka kedua kaki jeny dan berbincang bincang dengan 2 perawat yang mengikutinya.


“Bu jeny siap yah.. Ikuti aba aba saya..” Kata dokter sinta.


Jeny menganggukan kepalanya dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Jeny sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan buah hatinya sampai mengabaikan rasa sakit yang menderanya.


“By..” Tatap jeny sambil menahan rasa sakit yang mendera seluruh punggungnya pada tomy.

__ADS_1


“Aku disini sayang.. Kamu bisa.. Aku percaya sama kamu..” Lirih tomy tersenyum.


Dokter sinta mulai memberi aba aba pada jeny untuk mendorong agar bayi yang di lahirkanya dapat dengan mudah keluar. Dan selama proses itu jeny sama sekali tidak meneteskan air mata. Wanita itu justru terlihat sangat bersemangat dan mengerahkan seluruh tenaga yang di milikinya. Tanganya terus menggenggam erat tangan besar tomy yang menangis melihat perjuangan berat istrinya. Sedangkan mamah jeny, wanita itu tidak berhenti membisikan kata semangat di telinga jeny menyalurkan semangat dan kekuatan pada putri semata wayangnya.


“Ya bu.. Terus bu.. Sedikit lagi..” Kata dokter sinta menyemangati.


Jeny mendorong sekuat tenaga hingga akhirnya makhluk kecil bertubuh gempal itu keluar sempurna dari rahimnya.


“Oekk...Oeek... Oeekk..!!”


Dengan nafas terengah jeny tersenyum mendengar tangisan cempreng buah hati yang telah di lahirkanya. Wanita itu mengangkat dengan lemas tangan besar tomy dan menciumnya.


“Kamu berhasil sayang..” Bisik tomy kemudian mengecup kening jeny berkali kali.


Tidak jauh berbeda dengan tomy dan jeny, mamah jeny pun tersenyum bahagia juga lega. Cucu pertamanya telah lahir dengan keadaan utuh dan sempurna. Tubuhnya begitu gempal dan sehat.


“Selamat pak, bu.. Bayi kalian laki laki..” Senyum dokter sinta.


Tomy tertawa pelan yang terus di sertai tangisan. Pria itu tidak menyangka jika sekarang statusnya berubah menjadi seorang papah.


“Selamat papah terhebat..” Kata jeny pelan.


Tomy semakin menangis tergugu. Pria itu memeluk erat tubuh lemas jeny menumpahkan segala tangis harunya karna kelahiran putra purtamanya. Tomy telah menjadi saksi bagaimana hebatnya seorang istri yang rela menahan sakit bahkan bertaruh nyawa.


“Kamu yang hebat sayang.. Kamu wanita yang sempurna. Aku cinta sama kamu.. Aku sangat mencintai kamu..” Kata tomy terus memeluk jeny.


Jeny tersenyum mendengarnya. Rasa sakit hebat yang di rasakanya kini sudah tidak terasa lagi bersamaan dengan lahirnya putra pertama mereka. Jeny tidak bisa mengutarakan rasa sakit itu tapi jeny bahagia karna telah berhasil melewatinya dan melahirkan anaknya yang terus saja menjerit jerit kencang dalam tanganan dokter sinta.


Dokter sinta memanggil tomy dan menyuruh pria itu membuka baju di bagian dadanya kemudian menyerahkan bayi tampan itu. Dokter sinta menyuruh tomy untuk mendekap bayi itu dan menempelkan di kulit dadanya selama jeny sedang di tangani.


Tomy tertawa pelan melihat putranya yang membuka mulut dan menjilat jilat kulit dadanya. Rasa geli juga bahagia di rasakan oleh tomy. Penantianya selama 9 bulan 5 hari telah terwujud. Putranya telah lahir dengan sehat. Tubuh gempalnya membuat tomy merasa sangat gemas dan lucu.

__ADS_1


“Jagoan papah..”


__ADS_2