Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 284


__ADS_3

Rolan dan rio berjalan pelan menyusuri gelapnya jalanan yang hanya bisa di lalui satu mobil saja. Tugasnya membebaskan daddy angkat susan sudah selesai.Polisi juga tiba lebih cepat dari perkiraan mereka. Mereka sudah mengangkut semua penjahat yang menyiksa dan menyekap daddy angkat susan. Dan besok mereka harus segera kembali ke negara asalnya dengan membawa serta susan dan kedua orang tua angkatnya.


“Aku masih heran sebenarnya. Susan dan tantenya si boss sangat pintar juga hebat. Tapi kenapa selama ini mereka berdua hanya diam saja dengan perlakuan maria.”


Rolan yang memegang senter mengedikkan bahunya. Itu juga menjadi salah satu pertanyaan yang bersarang di otaknya saat ini.


“Apa mungkin mereka di ancam oleh maria?” Tanya rio menoleh pada rolan yang tidak menyautinya sedari tadi.


“Itu sudah pasti. Dan rio, mending sekarang kamu diam. Kita harus segera sampai di kota sebelum pagi terang.”


Rio berdecak pelan. Sebal sekali rasanya. Rolan tidak pernah mau di ajak mengobrol jika tidak menyangkut tentang pekerjaan.


“Aku telephone boss dulu.” Kata rio merogoh saku jaket kulit yang di kenakanya.


“Jangan bodoh. Disini saja sudah hampir pagi bagaimana di indonesia? Telephone nya nanti saja.” Kesal rolan pada rio.


Rio berdecak lagi. Rolan memang benar. Jika dirinya menelephone sekarang itu akan sangat mengganggu boss nya.


“Baiklah..” Angguk rio kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jaket kulit berwarna hitamnya.


Mereka kemudian mempercepat langkahnya dan sesekali menengok kebelakang mengingat mereka ada di tengah hutan yang cukup menyeramkan menurutnya.


Sementara di rumahnya tomy dan jeny sedang menyantap sarapan paginya. Tidak ada obrolan apapun di meja makan pagi ini. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu mengisi keheningan di meja makan.


Melihat kediaman suaminya jeny pun tidak tau harus bagaimana. Jeny tau mungkin suaminya sedang memikirkan nasib adik kandungnya. Sedangkan rolan dan rio belum menelephone nya lagi untuk memberi kabar tentang rencana mereka yang akan membebaskan omnya tomy dari sekapan maria.


Jeny meraih segelas air putih yang ada di sampingnya kemudian meneguknya sedikit. Berada dalam situasi membingungkan dengan suaminya membuat jeny merasa tidak nyaman.


Jeny bangkit dari duduknya dengan pelan setelah meletakan gelasnya. Dan itu berhasil membuat tomy menoleh padanya.


“Kamu mau kemana?” Tanya tomy menatap jeny.


Jeny tidak tau harus menjawab apa. Tidak mungkin jika dirinya menjawab ingin menghindari kondisi yang membuatnya bingung juga tidak nyaman itu.


“Aku.. Aku mau ngecek faraz dulu.” Jawab jeny.


Tomy menatap jeny tepat pada kedua manik mata indahnya. Pria itu mencoba mencari kejujuran lewat tatapan mata istrinya.


“Eem.. Bisa tolong duduk dan temani aku sarapan sampai selesai?” Tanya tomy dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


Jeny terdiam. Wanita cantik itu tidak bermaksud tidak perduli dengan perasaan suaminya. Jeny hanya bermaksud memberi waktu pada suaminya untuk sendiri dan berpikir secara tenang tanpa harus ada gangguan dari kehadiran dirinya.

__ADS_1


“Sayang.. Please..” Mohon tomy menatap jeny penuh harap.


Jeny menganggukan kepalanya. Dengan pelan jeny kembali mendudukan dirinya di kursi namun tidak menyantap lagi sarapanya yang masih tersisa banyak di piringnya.


Tomy tersenyum manis pada istrinya yang malah menundukan kepala seperti enggan untuk menatapnya. Tomy melepaskan sendok yang di pegangnya kemudian meraih tangan jeny dan menggenggamnya lembut.


“Aku minta maaf..” Lirih tomy.


Jeny mengarahkan pandanganya pada tomy. Wanita cantik itu tidak mengerti dengan apa yang di maksud suaminya yang tiba tiba meminta maaf padanya. Tomy tidak membuat kesalahan apapun padanya.


Mengerti dengan kebingungan istrinya tomy pun melanjutkan ucapanya.


“Aku tidak bermaksud mengabaikan kamu. Aku hanya sedang khawatir pada susan juga om dan tante.”


Tanpa tomy mengatakanyapun jeny mengerti. Itu sebabnya jeny memilih untuk membiarkan suaminya sendiri.


“Rolan dan rio belum memberi kabar lagi. Dan aku bingung mau menelephone mereka.”


Jeny menumpukan tangan kananya pada tangan tomy yang menggenggam tangan kirinya. Seulas senyum wanita cantik itu ukir untuk suaminya.


“Aku ngerti kok by..” Balasnya.


Tomy ikut tersenyum. Tomy merasa sangat beruntung karna istrinya bisa menyikapi masalahnya dengan sangat dewasa. Jeny tidak iri meskipun tomy selalu memikirkan adiknya akhir akhir ini. Jeny juga tidak marah saat tomy tidak mau di ajak membahas masalah lain dan hanya ingin segera menyelesaikan masalah adiknya.


Suara reyhan dengan nada sedikit membentak membuat jeny dan tomy mengalihkan perhatianya. Mereka berdua saling menatap kemudian bangkit bersamaan dari kursinya.


“Maria..” Gumam tomy penuh penekanan.


Mendengar kata penuh penekanan suaminya saat menyebut nama maria membuat jeny menghela nafas. Jeny membalas genggaman erat suaminya lembut seakan mencoba menenangkan suaminya lewat sentuhan lembut tanganya.


“Ayo kita lihat ke depan.” Ajak jeny dengan suara selembut mungkin.


Tomy mengangguk. Sebelumnya pria itu menghirup dalam dalam oksigen di sekitarnya kemudian menghembuskanya berlahan.


Tomy dan jeny melangkah menuju pintu utama rumah mereka dengan tangan yang terus bertautan. Suara reyhan dan susan yang berdebatpun semakin terdengar jelas dan memanas.


“Kamu hanya asisten. Jadi jangan mengatur aku seenaknya.” Sengit susan pada reyhan yang terus menghalanginya masuk ke dalam rumah tomy.


“Saya akui saya memang hanya seorang asisten. Saya juga sadar dengan posisi saya mbak. Tapi kalau mbak membuat keributan di rumah pak tomy itu tetap menjadi urusan saya. Saya tidak akan membiarkan itu terjadi.” Kata reyhan pelan.


Tomy yang masih bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan reyhan tersenyum. Reyhan pasti sengaja memelankan suaranya agar tomy maupun jeny tidak mendengarnya. Reyhan tidak mau di anggap pencitraan agar di anggap baik. Dan tomy tau itu.

__ADS_1


“Minggir atau aku akan membuat kamu kehilangan pekerjaan kamu.” Tekan maria dengan tatapan tajam pada reyhan.


“Tidak mau.” Balas reyhan tidak mau kalah.


“Brengsek !” Umpat maria mengangkat tanganya bermaksud menampar reyhan yang terus berdiri menghalanginya.


“Susan.”


Suara tomy membuat tangan maria berhenti di udara. Wanita itu menoleh dan mendapati tomy dan jeny yang berdiri di ambang pintu menatapnya dan reyhan.


“Kakak..” Gumamnya.


“Apa yang kamu lakukan? Turunkan tangan kamu.” Tegas tomy.


Maria menurut. Wanita menurunkan tanganya kemudian mendorong dada reyhan agar menyingkir dari hadapanya. Maria kemudian melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping tomy.


“Lihat asisten kakak ini. Dia sangat tidak sopan padaku. Memangnya apa salahnya kalau aku mau berkunjung ke rumah kakak? Dia bahkan mengikuti taxi yang aku tumpangi kak. Dia juga hampir membuat aku celaka.” Adu maria bergelayut manja di lengan tomy.


Reyhan menggelengkan kepalanya. Maria benar benar sangat pintar merangkai kata untuk mengadu domba.


Tomy menyingkirkan tangan maria dari lenganya. Kalau saja rolan dan rio sudah memberikan kabar baik, tomy bisa memberikan pelajaran pada maria sekarang juga.


“Jaga ucapan kamu. Aku lebih percaya pada reyhan di banding kamu.”


Maria menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bagaimana mungkin tomy lebih memihak pada asistenya dari pada kepada adiknya sendiri.


“Kak..”


“Kamu mau ngapain kesini?” Sela tomy bertanya.


Maria tidak bisa menjawab. Wanita itu melirik jeny yang berada di samping tomy dengan tangan yang terus bertautan dengan tangan tomy.


“Aku hanya..”


Deringan ponsel yang berada di saku dalam jas tomy membuat ucapan maria berhenti. Wanita berambut lurus hitam itu menghela nafas merasa jengah.


Tomy merogoh saku dalam jasnya kemudian menatap layar ponselnya yang menyala. Detak jantung pria itu langsung bekerja 2 kali lebih cepat ketika mendapati nama rolan di layar ponselnya.


Tomy melirik sekilas pada maria yang ada di sampingnya kemudian berdehem.


“Ekhem. Sebentar, aku angkat telephone dulu.”

__ADS_1


“Ya by..” Senyum jeny menganggukan kepalanya.


Jeny menatap suaminya yang berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkanya, maria, juga reyhan di depan. Jeny bisa menebak yang menelephone suaminya pasti adalah rio atau rolan. Dan jeny berharap mereka memberikan kabar baik tentang susan pada suaminya.


__ADS_2