Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 82


__ADS_3

Jeny menatap tomy yang terus saja diam di samping nya. Pria tampan itu melahap sendiri sepiring omelet yang di buat jeny tanpa menoleh dan berniat menawari si pembuat nya.


“Tomy.. Aku juga belum makan malem.” Kata jeny pelan.


Tomy berhenti mengunyah omelet dalam mulut nya. Pria tampan itu kemudian menoleh dan menatap jeny dengan sebelah alisnya yang terangkat.


“Kamu buat omelet ini untuk aku kan?” Tanya tomy.


Jeny menganggukan kepalanya menjawab.


“Berarti nggak papa dong kalau aku abisin semuanya sendiri.”


Kedua mata jeny membulat sempurna. Tomy berbicara dengan sangat enteng tanpa memikirkan jeny yang juga merasakan lapar.


“Tomy kamu kok gituh..?” Tanya jeny sendu.


Tomy kembali melahap omelet buatan jeny tanpa menoleh lagi pada jeny. Setelah menghabiskan omelet tersebut tomy pun meraih segelas air putih di samping kirinya dan menenggak nya habis.


“Kamu minta bibi aja siapin makan malem.” Kata tomy kemudian bangkit dan berlalu meninggalkan jeny sendirian di meja makan.


Jeny berdecak. Tidak biasanya tomy seperti itu. Tomy selalu perduli padanya bahkan saat hubungan mereka tidak baik seperti bulan lalu sekalipun.


“Kenapa sih dia?” Sebal jeny menghela nafas.


Ketika jeny hendak bangkit menyusul tomy suara bibi yang memanggil nya membuat jeny urung untuk bangkit. Sebuah keryitan muncul di kening jeny ketika mendapati bibi yang membawa sebuah bingkisan makanan di tangan nya.


“Ini apa bi?” Tanya jeny menatap penasaran bingkisan makanan yang baru saja di letakan bibi di atas meja di depan nya.


“Nggak tau bu. Tadi ada gojek kata pak satpam terus kasih ini. Pesanan bapak.” Jawab bibi.


Jeny mengangguk anggukan kepalanya. Berlahan tangan nya meraih bingkisan tersebut dan membukanya. Senyum di bibir jeny mengembang ketika tau apa yang ada di dalam bingkisan tersebut.


“Tomy tau aja aku lagi pengen takoyaki.” Gumam jeny tersenyum senang.


Jeny membuka kotak berisi seporsi takoyaki kesukaan nya. Jeny meraih sumpit dan menggapit sebutir takoyaki itu kemudian melahap nya. Wajah cantik nya tampak berseri seri karna merasa senang.

__ADS_1


Setelah menghabiskan takoyaki nya jeny pun bangkit dari duduk nya. Jeny berlari kecil menaiki anak tangga untuk mengucapkan kata terimakasih nya pada tomy.


Namun ketika sampai di tengah tangga tiba tiba langkah jeny terhenti. Jeny meringis ketika kembali merasakan sesuatu yang tidak enak pada perut nya.


“Awh...” Ringis jeny memegangi perut nya.


Jeny memejamkan kedua matanya. Rasa tidak enak pada perut bagian bawahnya kembali terasa. Rasanya seperti saat dirinya akan mendapatkan tamu bulanan namun lebih terasa tidak enak dari biasanya.


“Ya tuhan perutku..”


Jeny mendudukan dirinya di anak tangga. Kedua kakinya menekuk menyembunyikan tangan nya yang terus meremas perut nya.


Jeny merasa tidak memakan makanan pedas ataupun salah makan. Namun tiba tiba perut nya kembali terasa tidak enak seperti saat dirinya lari pagi bersama tomy minggu lalu.


Di dalam kamar tomy baru saja selesai membersihkan dirinya. Pria tampan itu menyampirkan handuk putih nya di samping handuk warna pink milik jeny kemudian beranjak meraih sisir di meja rias istrinya.


Sebenar nya tomy merasa sedikit kesal karna ternyata makanan yang dulu jeny kasih padanya adalah makanan dari charlie. Andai dulu dirinya tau mungkin tomy akan menolak nya. Meskipun sekarang dirinya dan charlie memang sudah akrab dan menjadi sahabat baik.


Tomy menghela nafas. Di tolehkan kepalanya ke arah pintu yang sedikit terbuka. Jeny tidak kunjung menyusul nya. Padahal biasanya jeny pasti akan menyusul nya.


Penasaran dengan apa yang sedang di lakukan istrinya di bawah sana tomy pun beranjak keluar dari kamar nya. Namun ketika sampai di ujung tangga kedua matanya langsung membulat sempurna mendapati jeny yang terduduk dengan menekuk kakinya dan terlihat meringis menahan sakit.


“Jeny ! Ya tuhan..”


Tomy langsung berlari menuruni anak tangga saking panik nya. Tanpa bertanya lagi tomy langsung membopong tubuh jeny dan membawanya turun ke lantai 1.


Tomy tidak bisa lagi berpikir ulang. Ini sudah yang kedua kalinya jeny seperti ini dan tomy tidak mau mengambil resiko sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.


“Tomy aku mau ke kamar..” Lirih jeny dengan wajah pucat menatap tomy.


“Nggak. Kali ini kamu udah nggak boleh nolak lagi. Kita ke dokter.” Tegas tomy.


Jeny meringis lagi. Kali ini kepalanya ikut terasa pusing hingga akhirnya jeny memilih menutup kedua matanya.


Tomy yang melihat nya semakin terlihat khawatir. Ketika sampai di depan pintu utama tomy berhenti. Di tatap nya wajah pucat jeny takut.

__ADS_1


“Sayang.. Sayang buka mata kamu. Kamu nggak papa kan?”


Kedua mata pria tampan itu mulai berkaca kaca. Tomy benar benar tidak mau seuatu yang buruk terjadi pada jeny. Hubungan nya baru saja berjalan dengan baik. Dan tomy ingin selamanya bersama dokter cantik itu.


“Kepalaku sakit..”


Tomy menelan ludah nya mendengar suara lirih jeny. Dengan langkah cepat pria tampan itu melangkah menuju mobil nya. Ketika hendak membuka pintu mobil tomy menoleh pada satpam penjaga gerbang yang sedang berdiri menghadap keluar gerbang seperti mengecek sesuatu di luar.


“Pak satpam !!” Serunya.


Satpam itu tersentak. Dengan cepat dia berbalik dan langsung berlari menghampiri tomy yang berseru memanggil nya.


“Ya pak.. Saya.” Gugup pak satpam dengan nafas tersengal.


“Kamu bisa nyetir?” Tanya tomy langsung.


“Bisa pak.” Jawab pak satpam.


Tatapan nya terlihat bingung juga khawatir melihat jeny yang menutup kedua matanya di dalam gendongan tomy.


“Kalau begitu antar saya ke rumah sakit sekarang.”


Tomy menyerahkan kunci mobil yang di pegang nya pada pak satpam kemudian segera masuk ke dalam mobil di kursi belakang dengan memangku jeny yang terlihat pucat juga lemas dalam pelukan nya.


Pak satpam yang masih bingung terlihat kalang kabut sendiri dan berteriak memanggil sisi dan bibi yang tidak tau apa yang sedang terjadi pada jeny.


Ketika sisi keluar, tomy langsung menurunkan kaca mobil nya dan menyuruh dengan tegas agar gadis belia itu membukakan pintu gerbang untuk nya.


“Ke rumah sakit mana pak?” Tanya pak satpam ketika hendak melajukan mobil tomy.


Tomy menyebutkan nama rumah sakit internasional tempat jeny bekerja. Pria itu juga menyuruh pak satpam untuk melajukan mobil nya dengan kecepatan maximal agar cepat sampai di rumah sakit tersebut.


“Tomy...” Panggil jeny lirih.


“Ssstt.. Kamu tenang yah.. Aku mohon sama kamu, kamu harus baik baik saja. Kamu harus baik baik saja agar bisa selalu ada di samping aku.”

__ADS_1


Jeny tersenyum dengan kedua mata terpejam mendengarnya. Suara tomy terdengar sangat pelan dan sedikit bergetar. Tomy sedang mengkhawatirkan nya. Dan jeny tau itu.


__ADS_2