
Seminggu setelah pembicaraanya dengan rachel hubungan tomy dan jeny kembali membaik. Mereka bahkan tampak lebih mesra dari sebelumnya. Jeny pun sudah tidak canggung lagi bermanja pada tomy seperti saat merasa kangen dan ingin di peluk jeny langsung mengatakanya dengan manja. Hal itu membuat tomy merasa senang dan yakin bahwa jeny memang sudah benar benar mencintainya.
“Sudah selesai?” Tanya tomy ketika jeny sedang membaca ulang surat pengunduran dirinya sebagai dokter.
Yah.. Jeny memang sudah mantap mengundurkan diri sebagai dokter di rumah sakit tempatnya bekerja. Namun jeny tidak melakukanya secara cuma cuma. Jeny meminta pada tomy untuk di buatkan klinik kecil kecilan di dekat rumahnya. Dan kebetulan di samping rumahnya masih ada lahan kosong. Lahan itu langsung di manfaatkan tomy untuk membuat ruko kecil sebagai klinik istrinya.
“Sudah..” Senyum jeny menolehkan kepalanya menatap tomy yang sudah rapi dengan setelan formalnya.
Tomy langsung mendekat. Pria itu mengecup singkat kening jeny kemudian menggandengnya.
“Ayo kita berangkat sekarang.” Senyumnya mengajak jeny.
“Oke..” Angguk jeny setuju.
Tomy menggandeng mesra jeny dan menuntunya melangkah keluar dari rumah mewahnya. Pagi ini memang jeny berencana menyerahkan surat pengunduran dirinya.
“Eemm.. By abis ke rumah sakit kamu anterin aku ke rumah mamah yah..” Pinta jeny tersenyum menatap tomy yang sedang mengenakan seatbelt nya.
“Oke..” Angguk tomy tersenyum mengiyakan.
Tomy melajukan mobilnya dengan pelan. Pria itu mengklakson mobilnya ketika sampai di depan gerbang. Dengan sabar tomy menunggu pak satpam membukakan pintu gerbang dan berterimakasih saat hendak melaju keluar.
Sesampainya di rumah sakit jeny langsung masuk ke gedung tersebut. Wanita itu menyerahkan surat pengunduran dirinya kemudian menemui rani.
“Jen kamu bener bener mengundurkan diri... Nggak sayang apa?” Tanya rani menatap jeny dengan wajah sendu.
Jeny tersenyum mendengar dan menatap wajah sendu sahabatnya. Jeny juga sebenarnya berat untuk melepaskan jabatanya, tapi jeny juga ingin patuh pada suaminya. Toh jeny masih bisa membuka klinik untuk orang orang yang nggak mampu berobat secara gratis di tempatnya.
“Bukanya kata kakak istri yang baik itu istri yang patuh pada apa yang di katakan suaminya? Aku berhenti kan juga karna patuh pada tomy. Dan sebagai gantinya tomy membuatkan klinik agar aku tetap bisa mengamalkan apa yang aku bisa kak.”
Rani menghela nafas. Selama ini hanya jeny yang dekat denganya. Rani bahkan sudah menganggap jeny sebagai adiknya sendiri.
“Apa setelah ini kita akan susah bertemu?” Tanya rani lesu.
“Pintu rumah aku selalu terbuka lebar untuk kakak bahkan untuk semua rekan rekan disini.” Senyum jeny menjawab.
Rani menghela nafas lagi. Mungkin setelah ini rani akan susah bertemu dengan jeny. Selain karna pekerjaan rani juga memiliki kesibukan mengurus suami dan anaknya.
__ADS_1
“Baiklah.. Kalau ada waktu senggang aku pasti mampir.”
Jeny meraih tangan rani dan menggenggamnya erat.
“Makasih ya kak udah jadi sahabat terbaik aku selama aku bekerja disini.”
Mendengar itu air mata rani menetes. Berat sekali rasanya jika harus berpisah dengan jeny. Bukan berpisah sebenarnya karna mereka masih bisa bertemu kapan saja mereka sempat. Rani memeluk jeny erat. Wanita itu mengusap air matanya di balik punggung jeny.
“Kan aku jadi cengeng.” Katanya.
Jeny terkekeh mendengarnya. Dengan pelan di usap usapnya punggung rani.
“Mamah jeny !!”
Suara fani berhasil mengalihkan perhatian jeny. Jeny dan rani langsung saling melepaskan diri dan menatap fani yang berada tidak jauh dari keduanya di koridor rumah sakit dengan dokter axel yang mendorong kursi roda yang di duduki fani.
“Fani..” Lirih jeny.
Ini kali pertama jeny melihat fani duduk di kursi roda. Karna biasanya gadis kecil itu selalu aktif bergerak kesana kemari saat mencarinya.
“Mamah jeny mau mengundurkan diri dari rumah sakit ini?”
Pelan pelan jeny melangkah mendekati fani. Jeny menatap pada dokter axel menuntut penjelasan lewat tatapanya. Namun bukanya menjelaskan dokter axel malah memejamkan kedua matanya dengan air mata menetes.
“Papah axel.. Boleh tidak aku main sama mamah jeny sebentar?” Fani mendongak menatap dokter axel yang berada di belakangnya.
“Yah... Boleh..” Senyum dokter axel menganggukan kepalanya menyetujui keinginan putrinya.
Dokter tampan itu langsung menyerahkan fani pada jeny yang hanya diam dengan segala rasanya. Dokter tampan itu kemudian melangkah menjauh dan sesekali mengusap air matanya.
Jeny menelan ludahnya. Dengan jelas jeny melihat kedua bahu dokter tampan itu bergetar. Yah.. Dokter axel menangis sambil melangkah menjauh dari jeny dan fani.
“Mah... Ayo kita main di taman..” Ajak fani.
Jeny menganggukan kepalanya. Kedua matanya terasa panas sekarang. Sambil mendorong kursi roda fani jeny menelephone tomy dan menyuruh suaminya itu untuk masuk. Jeny tau fani pasti akan sangat bahagia jika bertemu dengan tomy.
“Ada papah tomy juga?!”
__ADS_1
Fani memekik senang ketika melihat tomy yang sudah duduk di kursi panjang di taman rumah sakit menunggunya. Gadis kecil berkepala botak itu seperti akan melompat dari kursi rodanya saking senangnya.
“Eeh.. Pelan pelan cantik..” Kata tomy langsung mendekat.
Tomy mengusap pelan pipi tirus fani. Tidak jauh berbeda dengan jeny tomy pun bisa melihat dengan jelas perbedaan fisik fani.
“Nak kamu..”
“Papah, mamah.. Aku sayang kalian..” Ungkap fani menyela ucapan tomy.
Tomy melirik jeny yang berada di belakang fani. Pria itu tau istrinya juga merasakan apa yang saat ini sedang tomy rasakan.
“Meskipun kalian berdua bukan mamah papah aku yang sebenarnya tapi aku bahagia punya kalian... Aku seneng bisa di sayangi oleh kalian berdua mah, pah..” Lanjut fani.
Jeny meneteskan air mata mendengarnya. Apapun yang terjadi nanti jeny akan berusaha ikhlas. Fani sudah cukup menderita dengan penyakitnya selama ini.
“Mah pah..”
Fani meraih tangan jeny dan tomy. Gadis kecil itu kemudian menyatukan tangan keduanya dan menempelkan di dadanya.
“Janji yah jangan lupain aku..” Pintanya.
Tomy tersenyum. Fani adalah malaikat kecil yang menyadarkanya malam itu. Dan fani juga yang membuatnya berani mengatakan semuanya pada jeny.
“Nak.. Papah mamah sayang kamu.. Dan bukan hanya kami, mamah angel, papah axel juga sayang sama kamu... Kami semua ada selalu untuk kamu.” Lirih tomy dengan lembut.
Fani tersenyum. Bibir pucatnya membentuk lengkungan indah bak bulan sabit dengan kedua mata sayunya yang memancarkan kebahagiaan.
“Bagaimana dengan papah leo?” Tanya fani.
Tomy mengeryit bingung.
“Papah leo?” Tanya balik tomy bingung.
“Papah leo, suaminya mamah angel. Apa dia juga sayang sama aku?”
Tomy menatap jeny lagi. Tomy tau pria bernama leo itu sama sekali tidak mengharapkan kehadiran fani. Dia bahkan melarang angel untuk menjenguk fani.
__ADS_1
“Ya... Papah leo juga sayang sama kamu..”