
Di tempat lain tepatnya di rumah sakit tempat lorenzo berada sekarang sarah terus duduk menemani lorenzo yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri. Pria itu bahkan berbaring tengkurab karna luka tembakan di punggung sebelah kirinya. Sarah menghela nafas. Apa yang di lakukanya dengan menembak suaminya sendiri bukanlah maksud sebenarnya. Sarah hanya ingin mencegah suaminya kembali melakukan kejahatan.
Sarah menatap iba pada lorenzo yang tampak sangat tidak berdaya. Mungkin pria itu akan memukul bahkan membunuhnya jika sadar nanti. Lorenzo pasti merasa sangat terhianati karna sarah lebih memihak pada tomy dari pada dirinya. Tapi maksud sarah bukan membela tomy melainkan menghentikan kejahatan suaminya yang sudah melibatkan banyak tersangka yang sebenarnya tidak bersalah.
Pelan pelan sarah menyentuh tangan lorenzo dan menggenggamnya. Air matanya menetes mengingat tangan itu yang sering mendarat dengan keras di pipinya. Tangan itu juga yang selalu berusaha menjauhkan elo dari tubuh tegapnya. Dan tangan itu pula yang selalu menorehkan luka dengan memberikan bunga pada jeny di belakang sarah.
Sarah menghela nafas lagi. Di kecupnya tangan lorenzo. Sarah bisa menerima semua perlakuan lorenzo. Sarah juga tidak pernah berniat sedikitpun untuk pergi. Semua itu sarah lakukan demi elo juga cinta di hatinya. Sarah rela mendapatkan rasa sakit bertubi tubi dari lorenzo. Sarah juga rela di salahkan oleh orang tua lorenzo karna di anggap tidak bisa membuat lorenzo bahagia.
“Aku bisa tahan kamu pukul.. Tapi aku nggak bisa tahan kalau kamu menyakiti elo.. Dan aku.. Aku nggak bisa menahan sakit melihat kamu seperti ini zo.. Tolong buka mata kamu.. Aku minta maaf.. Aku minta maaf karna melukai kamu..” Tangis sarah.
Kedua orang tua sarah yang melihatnya dari luar hanya bisa menghela nafas. Sarah sudah banyak menderita karna perlakuan kasar lorenzo. Tapi wanita itu tetap kukuh ingin mempertahankan rumah tangganya. Dan mendengar tekad putri semata wayangnya kedua orang tua sarah tidak bisa berkutik. Mereka hanya bisa menguatkan sarah dan memeluknya jika sedang terluka. Bukan tidak perduli, namun mereka berdua tau putrinya adalah wanita yang kuat. Putrinya pasti akan bahagia dengan pilihanya. Meskipun memang kesakitan itu selalu terlihat jelas. Tapi kedua orang tua sarah yakin tuhan tidak akan memberi ujian pada hambanya melebihi batas kemampuanya.
“Pah.. Bagaimana ini.. Mamah nggak mau sarah terus menderita dengan lorenzo..” Lirih mamah sarah menatap iba sarah yang terus berada di samping lorenzo yang belum juga kunjung membuka kedua matanya.
Papah sarah menghela nafas. Pria baya itu merasa tidak berhak memutus tali pernikahan putrinya. Sarah masih mau bertahan dan itu sangat hebat menurutnya. Jika wanita lain mungkin sudah pergi. Tapi itu sarah, wanita lemah lembut dengan kebesaran hatinya menerima semua yang memang harus di jalaninya.
“Mah.. Tugas kita adalah merangkul sarah bukan memisahkan sarah dengan lorenzo.. Sarah melakukan semua itu juga bukan hanya demi dirinya sendiri. Tapi juga demi elo.. Cucu kita. Percaya sama papah.. Sarah akan bahagia. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Niat putri kita baik. Yang terpenting kita bisa merangkulnya selalu. Saat ini hanya do'a dan rangkulan kita kekuatan sarah.”
Mamah sarah menggelengkan kepalanya. Putrinya memang begitu sabar menghadapi lorenzo. Meskipun terkadang sarah juga melawan tapi nyatanya sarah tidak pernah meninggalkan lorenzo. Sarah bahkan pulang ke rumah orang tuanya dengan mengajak lorenzo. Sarah tersenyum ketika masuk ke rumah tempat dia di besarkan berharap kedua orang tuanya mau menerima lorenzo untuknya. Sarah selalu berusaha melindungi lorenzo dengan menjadi baju yang baik bagi pria jahat itu.
“Sarah sudah menderita pah.. Mamah nggak kuat..”
Papah sarah merangkul bahu istrinya yang bergetar. Pria baya itu tersenyum dan mengusap usap bahu istrinya penuh kelembutan.
__ADS_1
“Jangan menangis. Sarah membutuhkan dukungan dari kita..” Katanya.
Tidak jauh dari kedua orang tua sarah leo duduk menemani elo yang asik memakan ice creamnya. Pria berambut coklat itu tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh kedua orang tua sarah. Sarah memang wanita yang hebat dengan segala kesabaranya. Dan menurut leo sarah pantas untuk bahagia.
“Om..” Panggil elo yang berada di samping leo.
“Ya..” Senyum leo menoleh dan tersenyum pada anak kecil itu.
Elo menatap lekat kedua mata leo kemudian menyapukan pandanganya dari atas sampai bawah penampilan leo.
“Om siapa? Kenapa elo balu liat om?” Tanya polos anak kecil itu.
Leo tertawa pelan. Entah kenapa melihat elo, leo teringat pada fani. Anak sambungnya yang tidak pernah dia bahagiakan.
“Nama om leo.. Dan om temanya om tomy..” Jawab leo.
Leo terdiam. Leo tidak pernah merasa berteman dengan sarah. Dan leo tidak bisa seenaknya mengaku sebagai teman dari sarah pada elo.
“Bukan..” Jawabnya.
“Telus kenapa om disini? Apa om temanya papah?”
Lagi leo terdiam. Lorenzo juga bukan temanya. Lorenzo adalah pria licik yang membuat leo di curigai karna membuat angel gila. Dan leo merasa tidak sudi jika harus berteman dengan pria jahat itu.
__ADS_1
“Bukan juga.. Tapi om nggak keberatan kok kalau harus menjadi temanya elo..” Geleng leo kemudian tersenyum menatap elo yang terus menatapnya dengan wajah polos.
Elo ikut tersenyum. Anak kecil itu kemudian mengulurkan tanganya yang membuat leo mengeryit bingung.
“Om tomy juga teman elo.. Dan elo selalu menyalimi om tomy jika kami bertemu.” Katanya.
Leo tertawa mendengarnya. Pria itu kemudian menjabat tangan kecil elo. Hatinya benar benar tersentuh saat elo mencium punggung tanganya. Dan tiba tiba bayangan saat dirinya menggenggam tangan fani kembali mengusai penglihatanya. Mendadak kedua matanya memanas. Dadanya terasa sesak. Leo tau dirinya memang jahat. Tapi leo melakukanya demi melindungi angel dari dokter axel. Dan leo tidak mau mengakui fani karna fani adalah anak dari hasil perbuatan bejat dokter axel pada istrinya. Leo juga sakit tapi dia pendam sendiri. Leo tidak ingin di anggap lemah dan berusaha untuk membentengi dirinya sendiri dengan sikap angkuhnya saat itu.
Tes
Air mata menetes dari kedua mata leo dan menganak sungai di pipinya hingga akhirnya jatuh menetes di lengan kecil elo.
“Om kenapa menangis?” Tanya elo menatap leo bingung.
Leo tersadar dan cepat cepat menghapus air matanya. Penyesalanya mungkin tidak berarti. Tapi nama fani akan selalu tersemat di hati juga do'anya.
“Nggak papa. Om hanya teringat sama anak om..” Jawabnya pelan.
“Om punya anak juga?” Tanya elo antusias.
“Yah.. Namanya fani. Tapi sekarang fani sudah punya rumah sendiri. Dia sudah di tempat yang indah.” Jawab leo lagi.
“Benarkah? Boleh elo bertemu dengan fani?”
__ADS_1
Leo menangis tidak kuat menahan sesak di dadanya. Dengan air mata berderai pria itu menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan elo.
“Kapan kapan yah. Om bawa kamu ke tempat fani.” Lirihnya.