
Angel menuruni anak tangga dengan sangat pelan. Kedua matanya terus menyapu keseluruh sudut rumah mewah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Angel menelan ludahnya. Hampir di semua dinding kokoh rumah itu pasti terpajang photonya yang angel akui sangat cantik. Namun selain photonya ada juga photo fani dan kedua orang tua angel.
“Tuhan... Bantu hamba mengingat semuanya..”
Angel meneteskan air matanya. 2 Hari berpisah dari dokter axel membuatnya merasa sangat tidak tenang. Angel juga merasa sangat tidak betah berada di rumah kedua orang tuanya. Angel terus merasa tidak nyaman dan merasa asing berada di tempat itu.
“Angel..”
Mendengar suara papahnya angel langsung buru buru mengusap air matanya. Angel tidak ingin jika kedua orang tuanya sampai tau dirinya tidak betah tinggal di rumah itu.
“Kamu kenapa ngelamun disini nak?” Tanya papah angel lembut.
Angel hanya tersenyum saja. Percuma berkata menurutnya jika yang akan dia keluarkan adalah kata tidak apa apa yang tentu saja adalah sebuah kebohongan.
Papah angel yang mengerti dengan sikap diam putri semata wayangnya hanya bisa ikut tersenyum. Angel memang tidak suka berbicara banyak dengan orang yang tidak di kenalinya. Dan pria tua itu sadar meskipun dirinya adalah orang tua angel namun saat ini ingatan angel belum pulih. Tidak heran jika angel merasa asing saat bersamanya juga istrinya.
“Em.. Papah.. Boleh aku ke tempat dokter axel?”
Pertanyaan angel membuat senyuman di bibir pria tua itu sirna. Saat ini orang yang paling di percaya angel adalah dokter axel. Bukan dirinya maupun istrinya.
“Memangnya kamu ingat alamatnya?” Tanya papah angel pelan.
Angel menganggukan kepalanya cepat dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Wanita itu merasa senang karna sang papah menanyakan angel ingat atau tidak alamat dokter axel.
“Nak... Tapi sekarang masih waktu kerja. Axel pasti sedang di rumah sakit..”
Senyuman manis angel langsung sirna. Dokter axel tidak pergi kemana mana saat angel tinggal di rumahnya. Dan angel yakin saat ini dokter axel juga sedang berada di rumah.
“Tapi selama aku tinggal di rumahnya dokter axel tidak pernah pergi ke rumah sakit.. Dokter axel selalu di rumah..” Bantah angel.
“Nak.. Kemarin kemarin itu karna Axel mengajukan cuti untuk mengurus kamu.. Dan sekarang kamu sudah pulang kesini jadi otomatis axel pasti akan kembali sibuk dengan para pasien di rumah sakit..”
__ADS_1
Angel menelan ludahnya. Entah harus bagaimana sekarang dirinya. Angel tidak memegang ponsel. Adapun biasanya angel memainkan ponsel itu adalah ponsel dokter axel.
“Kamu bisa menelephone nya kalau mau.”
Angel menatap wajah keriput papahnya. Angel merasa pria tua di depanya seperti bisa membaca apa yang ada di pikiranya saat ini.
“Aku nggak pegang handphone pah..” Katanya sendu.
Pria itu terkekeh kemudian merogoh saku celana bahanya. Di sodorkanya benda pipih berwarna putih itu pada angel yang terlihat sendu.
“Papah punya nomornya axel. Kamu bisa menelephone nya dan menanyakan dimana dia sekarang. Kalau memang axel di rumah papah sendiri yang akan mengantarkan kamu ke rumahnya.” Senyum pria tua itu.
Angel menatap ponsel bercasing putih itu ragu. Angel takut dokter axel memang sudah tidak mau lagi bertemu denganya. Karna semenjak mengantarnya ke rumah kedua orang tua angel, dokter tampan itu sama sekali tidak menghubungi orang tua angel untuk menanyakan tentang keadaanya.
“Apa perlu papah yang menelephone axel?”
Angel menggelengkan kepalanya menjawab. Sebenarnya banyak sekali yang ingin angel tanyakan pada dokter axel. Angel ingin bisa mengingat kembali semuanya.
Angel menatap bingung pada wajah papahnya. Kata mengizinkanmu itu membuat angel merasa aneh. Angel merasa mungkin saat dirinya belum gila hingga akhirnya lupa ingatan papahnya selalu melarang angel bertemu dokter axel.
Dengan ragu angel meraih ponsel yang di sodorkan papahnya. Dan tepat setelah ponsel itu berada di tangan angel sebuah deringan terdengar begitu nyaring. Angel refleks langsung mengangkatnya tanpa lebih dulu mengecek siapa yang menelephone.
“Halo. Dokter.. Kenapa kamu tidak datang menjenguk aku?” Cecar angel langsung.
Papah angel yang berada di depan angel hanya tertawa saja kemudian berlalu melewati angel menuju lantai 2 rumahnya.
“Em.. Angel ini aku, leo.” Saut suara berat di seberang telephone.
“Aku dengar kamu sudah pulang ke rumah mamah sama papah..” Lanjut leo dengan suara pelan.
Angel menelan ludahnya. Leo mungkin mengetahui kepulanganya dari dokter axel. Angel memejamkan kedua matanya. Entah dosa apa yang di perbuatnya sehingga sepertinya tuhan tidak mengizinkan untuk angel mengingat semuanya. Angel merasa semuanya terasa sangat sulit juga menyakitkan.
__ADS_1
“Bagaimana kabar kamu angel?”
Angel menghela nafas. Meskipun dokter axel bahkan kedua orang tuanya mengatakan hal yang sama tentang dirinya juga leo namun angel tidak bisa sepenuhnya percaya.
“Baik. Kabar aku sangat baik pak leo..” Jawab angel.
“Syukurlah..”
Angel mengangguk. Wanita itu kemudian langsung memutuskan sambungan telephone dari leo. Angel merasa tidak nyaman meskipun hanya dengan berbicara lewat sambungan telephone dengan pria berambut coklat itu.
Angel menghela nafas lega. Angel berpikir jika memang leo adalah mantan suaminya mungkin saat bersama pria itu angel memiliki rasa kecewa mendalam pada pria itu sehingga membuatnya sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya. Namun angel kembali berpikir tentang dokter axel. Angel selalu merasa nyaman bersama pria tampan itu. Perhatian juga ketulusanya selalu terlihat jelas di mata angel. Tapi anehnya angel juga tidak bisa mengingat apapun tentang dokter tampan itu. Bahkan meskipun dokter axel sudah mengingatkan sampai menunjukan photo photonya saat hamil dulu.
“Angel..”
Angel tersentak ketika tiba tiba sang papah sudah berada kembali di belakangnya. Wanita cantik itu hampir saja menjatuhkan ponsel bercasing putih milik papahnya.
“Ya papah..”
“Maaf papah tidak bermaksud mengagetkan kamu. Tapi di depan ada mobilnya dokter axel..”
Senyum angel mengembang mendengarnya. Wanita cantik itu langsung menyerahkan ponsel milik papahnya kemudian berlari dengan sangat cepat menuruni anak tangga. Angel sangat tidak sabar ingin bertemu dengan dokter axel. Pria yang selalu terlihat sempurna di matanya.
Angel hampir saja menabrak tubuh tegap dokter axel jika tidak langsung menghentikan langkahnya. Wanita cantik itu tersenyum senang bahkan sampai ingin menangis bahagia melihat sosok tampan yang 2 hari ini sangat di rindukanya.
“Angel.. Kamu mau kemana?” Tanya dokter axel mengeryit menatap angel bingung.
Angel tersenyum dan menggelengkan cepat kepalanya menjawab pertanyaan dokter tampan itu. Hatinya benar benar bahagia dan berbunga bunga melihat sosok tampan yang di rindukanya kini berada tepat di depanya. Angel ingin memeluknya tapi angel takut dokter axel menolaknya. Angel cukup tau diri dengan semua yang pernah dia lakukanya yang juga di katakan langsung oleh dokter axel.
“Axel..”
Dokter axel mengalihkan perhatianya dari angel ke pria tua yang tidak lain adalah papah angel. Dengan sopan dokter tampan itu menyalimi papah angel serta menyapanya dengan sangat ramah.
__ADS_1
“Maaf om sebelumnya.. Tapi saya minta izin mau mengajak angel keluar.”