
Tomy mengakui semua yang dia lakukanya ke rachel pada jeny. Pria itu tidak mau menyembunyikanya dari jeny. Awalnya jeny terkejut tidak menyangka dengan pengakuan suaminya. Jeny bahkan sampai menangis membayangkan betapa bengisnya tomy saat bersikap kasar pada rachel. Tapi jeny tidak bisa menyalahkan tomy, semua itu juga karna jeny yang berlebihan dan membesarkan masalah yang sebenarnya hanya sepele.
2 Hari kemudian jeny meminta agar tomy membawanya ke kediaman rachel. Karna bagaimanapun juga kemarahan dan ke kasaran tomy pada rachel karna dirinya.
“Untuk apa lagi kamu kesini hah?! Belum puas kamu menyakiti putri saya?!”
Tomy hanya diam saja ketika mendapat semprotan kemarahan dari ayah rachel. Tomy tau apa yang di lakukanya memang sudah sangat keterlaluan. Tomy juga tau tidak seharusnya dirinya berbuat kasar pada seorang wanita apapun kesalahanya.
“Asal kamu tau tomy.. Saya sebenarnya ingin sekali memenjarakan kamu.. Tapi anak saya terlalu baik. Dia melarang saya melakukanya !!”
Tomy menelan ludahnya. Mungkin dirinya memang pantas di penjara setelah apa yang di lakukanya. Tapi tomy memiliki alasan kenapa bisa sampai begitu kasar pada rachel. Bukan hanya karna jeny tapi juga karna kekesalan terpendamnya selama ini pada wanita itu.
Jeny yang berada di samping tomy tersenyum menatap ayah rachel. Jeny maklum jika pria baya berambut pirang itu sampai dendam pada suaminya. Orang tua mana yang tidak sakit hati melihat putrinya di kasari.
“Saya minta maaf om.. Saya tau saya salah.”
Mendengar perminta maafan tomy amarah ayah rachel semakin memuncak. Dengan sekali pukulan tomy langsung terpental ke belakang hingga tersungkur di halaman rumah rachel. Pria itu hendak menerjang tomy lagi namun suara rachel berhasil menghentikanya.
Sedangkan jeny wanita itu langsung menubruk suaminya dalam diam. Jeny membantu tomy kembali berdiri dalam diam. Jeny tidak ingin banyak bicara yang mungkin saja bisa semakin memperkeruh suasana.
“Jangan sakiti tomy ayah.. Aku mencintainya.” Kata rachel muncul dengan sang ibu yang mendorong kursi rodanya dari belakang.
Ayah rachel menoleh dengan cepat. Pria baya itu menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kata cinta yang baru saja di ucapkan oleh putri tunggalnya.
“Jangan gila kamu rachel.. Orang kejam, kasar seperti dia tidak pantas untuk kamu cintai..” Marahnya.
Rachel tersenyum. Semua tentang tomy sudah benar benar melekat di hatinya. Apapun yang di lakukan tomy sudah bisa rachel maklumi termasuk kekasaran tomy saat itu.
“Aku baik baik saja ayah.. Aku yakin kemarin tomy hanya khilaf.. Dan aku maklum.”
Ayah rachel tidak bisa lagi berkata. Cinta rachel sudah terlalu dalam pada tomy. Sehingga apapun yang di lakukan tomy padanya tidak di permasalahkan.
“Kamu benar benar sudah gila rachel..” Gumam ayah rachel.
Rachel hanya tersenyum menanggapinya. Wanita itu kemudian mendekat pada jeny dan tomy yang hanya berdiri diam mendengarkan percakapan rachel dengan ayahnya.
Rachel menatap jeny sekilas kemudian beralih menatap tomy yang ada di depanya.
“Saya minta maaf mewakili suami saya.. Dan saya harap kamu bisa memaafkan.” Ujar jeny.
__ADS_1
Rachel terkekeh. Wanita itu terus menatap tomy dan mengabaikan jeny yang ada di samping tomy.
“Apa yang kamu lakukan kemarin sudah aku maafkan tomy.. Aku nggak marah.. Aku maklum.. Dan aku tetap mencintai kamu.”
Jeny menggelengkan kepalanya. Entah wanita seperti apa rachel itu sehingga tidak mempermasalahkan apa yang di lakukan tomy padanya.
“Rachel maaf... Tomy suami saya. Kamu tidak seharusnya memiliki rasa seperti itu.”
Rachel masih terus tersenyum. Wanita itu kemudian menolehkan kepalanya ke samping.
“Ayah ibu.. Bisa tinggalkan kami bertiga saja?” Tanyanya pada kedua orang tuanya.
“Tapi nak...”
“Ayah jangan khawatir aku akan baik baik saja.” Sela rachel.
Kedua orang tua rachel terdiam. Keduanya menatap tomy dengan tatapan benci namun penuh rasa takut. Mereka berdua takut tomy kembali menyerang putrinya.
“Percaya sama aku ayah..”
“Baiklah..” Balas ayah rachel pasrah.
Tomy yang sedari radi diam mulai kembali merasa jengkel. Rachel benar benar membuatnya kesal. Wanita itu dengan penuh percaya dirinya mengatakan mencintainya di depan jeny.
Jeny dan tomy hanya diam saja. Jeny meraih tangan tomy yang terkepal kemudian mengusapnya lembut mencoba meredam amarah pria itu.
“Apa sebenarnya mau kamu rachel?” Tanya tomy penuh penekanan.
Rachel tersenyum lagi. Wanita itu kemudian mendahului jeny dan tomy dengan kursi rodanya. Namun ketika baru 2 meter berjarak dari tomy dan jeny rachel berhenti. Wanita itu menoleh pada tomy dan rachel kemudian tersenyum.
“Ayo ikut aku..” Katanya.
Jeny mengangguk. Wanita itu akan mencoba berbicara baik baik pada rachel. Jeny akan berusaha memberi pengertian pada wanita itu.
“Ayo by...”
“Nggak mau.” Tolak tomy tegas.
Jeny menghela nafas. Rachel dan lorenzo tidak jauh berbeda. Mereka berdua sama sama keras kepala dan terus mengejar seorang yang sudah memiliki pasangan. Tapi rachel berbeda. Dia seorang wanita yang juga ingin di cintai. Sama seperti jeny.
__ADS_1
“Kalau tomy nggak mau nggak usah di paksa jen.. Aku hanya butuh ngomong berdua sama kamu..” Kata rachel kemudian kembali mendahului.
Jeny menghela nafas lagi. Wanita itu kemudian melepaskan genggaman tanganya pada tangan besar tomy.
“Sayang... Lebih baik kita pulang saja..” Kata tomy mencekal pergelangan tangan jeny mencegah agar jeny tidak menyusul rachel.
Jeny tersenyum. Jeny tau tomy pasti mengkhawatirkanya. Tapi bagaimanapun juga jeny tetap harus berbicara pada rachel. Jeny tidak mau rachel terus mengejar suaminya.
“Kamu tunggu disini. Kamu nggak perlu khawatir by.. Suaraku cukup keras untuk berteriak jika sampai rachel macam macam.” Senyum jeny berkata di selingi sedikit candaan.
Jeny berlalu menyusul rachel setelah itu. Dengan langkah pelan wanita itu menyusul rachel yang sudah mendahuluinya.
Langkah jeny terhenti ketika sampai di taman samping rumah mewah rachel. Jeny terdiam sejenak kemudian melangkah pelan mendekat pada rachel yang membelakanginya.
Rachel menoleh sebentar kemudian kembali meluruskan pandanganya.
“Mari kita membuat kesepakatan.” Kata rachel memulai.
Jeny yang berdiri di samping kursi roda rachel mengeryit. Entah kesepakatan apa yang ingin di ajukan oleh rachel.
“Untuk apa?” Tanya jeny menatap rachel yang terus saja meluruskan pandanganya.
“Untuk membuktikan cinta atau tidaknya tomy sama kamu.” Jawab rachel.
Jeny tertawa mendengarnya. Jeny percaya tomy mencintainya dan jeny juga percaya tomy tidak akan tergoda oleh wanita lain termasuk rachel.
“Jangan membuat lelucon. Saya percaya cinta kami sejati. Dan saya tidak perlu membuat kesepakatan konyol dengan kamu.” Balas jeny.
Rachel tertawa pelan. Meskipun rachel sendiri memang tau saat ini bahwa tomy sama sekali tidak mencintainya. Tomy bahkan juga sampai berbuat kasar padanya.
“Saya tau tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan rasa. Entah rasa suka, cinta, bahkan benci. Tapi rachel.. Saya percaya kamu orang yang baik... Buktinya kamu tidak mau memenjarakan suami saya..”
“Apa maksud kamu?” Tanya rachel langsung menyela dan menatap jeny serius.
Jeny tersenyum.
“Saya harap kamu bisa mengikis perasaan itu. Tomy suami saya.. Dan sebentar lagi kami akan mempunyai anak. Anak kami akan sangat membutuhkan tomy nantinya.” Jawab jeny.
Rachel hanya diam saja. Rasa cintanya pada tomy sudah begitu mendalam. Rasanya akan sangat sulit untuk melepaskan rasa yang sudah melekat di hatinya bertahun tahun.
__ADS_1
“Saya tidak bisa. Dan saya akan tetap berusaha. Bagaimanapun caranya.” Kukuh rachel.
“Kalau begitu saya juga tidak akan tinggal diam.”