
Rey tiba di Villa dengan wajah kesal nya, Rey masih belum puas dengan jawaban Zena. Ia yakin kalau Zena juga mencintai nya, namun entah mengapa Zena tak mau mengakui nya.
Mobil Rey mulai memasuki halaman Villa nya, kedua alis nya bertautan saat melihat mobil yang terparkir di sana, mobil hitam itu tampak tidak asing. Kehadiran mobil itu membuat perasaan nya jadi tidak enak. Rey keluar dari mobil nya lalu berjalan menuju ke arah Villa nya.
Dan benar saja, di sana sudah ada Weni dan juga Celine yang tengah duduk bersama dengan Nelson di ruang tamu. Pandangan mereka saling bertemu, Rey sempat terdiam sejenak saat melihat Weni dan Celine di sana, Rey masuk lalu duduk bergabung di sana.
Tak ada sapaan hangat atau ucapan apapun, mereka semua saling diam dan memasang wajah masam nya. Rey terus melangkah memasuki ruangan lalu duduk di sana. Rey masih terdiam dengan kebingungan nya sendiri, Rey bingung dengan situasi saat ini, mengapa ibu nya dan Celine ada di sini? Ada apa? begitu lah isi kepala Rey.
Wajah Weni terlihat tidak ramah, terutama wajah Nelson. Rey memperhatikan wajah Nelson yang sedari tadi hanya tertekuk lesu tak berdaya. Rey menatap wajah mereka secara bergantian. Lalu pandangan mata Rey berakhir pada Weni dan Celine. Weni masih terdiam dan hanya menatap Rey dengan tatapan sinis seraya menyilangkan kedua tangan nya.
Seakan muak dengan sikap dan perilaku mereka yang terlihat aneh, Rey pun akhir nya membuka suara. "Bisa tolong jelaskan pada ku, ada apa sebenar nya? mengapa kalian semua diam?" ucap Rey dengan wajah datar nya.
Bukan nya di jawab, Weni malah membuang wajah nya ke lain arah. Seperti nya dapat di pastikan kalau Weni sedang marah dengan putra nya itu. Lalu Celine memberanikan diri untuk menjawab Rey, walau sebenar nya Celine sedikit ragu dengan jawaban nya.
"Rey, kau pasti bingung kan mengapa kami datang ke sini? Kami datang karena khawatir pada mu, Rey" jelas Celine
Alis Rey pun menyatu karena merasa aneh dengan jawaban Celine. "Apa? khawatir pada ku? bukan kah aku sudah memberitahu ibu kalau aku dan Nelson akan kembali nanti setelah urusan kami selesai" jelas Rey
"Urusan apa? Hah!" dengan lantang Weni tiba tiba bersuara hingga membuat semua terdiam, termasuk Rey. "Kau berani bohong pada ibu, Rey! Apa kau sengaja menunda pertunangan mu dengan Celine, Rey?" lanjut nya secara tegas.
Rey menghela nafas, lagi dan lagi sang ibu malah membahas soal pertunangan nya dengan Celine di tengah masalah ini. "Ibu, aku-"
"Kau sudah membuat ibu marah, Rey!" tukas Weni seraya bangun dari duduk nya. "Kau dan Nelson sudah berani membohongi dan membodohi ibu! apa kau bilang tadi? Cuaca nya sedang buruk di sini, mana? Kau hanya beralasan dan menunda kepulangan mu saja kan, Rey? Iya kan? Ibu tahu itu!" lanjut nya.
Rey masih terdiam mendengarkan omelan sang ibu, memang ada benar nya yang di katakan oleh Weni. Rey memang sengaja berbohong karena tidak ingin bertunangan dengan Celine. Masalah nya kini Rey telah melibatkan sahabat nya masuk ke dalam rencana kebohongan nya itu. Dan akhir nya Nelson yang terkena imbas atas kesalahan Rey.
__ADS_1
Lalu pandangan Weni beralih melihat ke arah Nelson. "Dan untuk mu, Nelson! aku sudah mempercayaimu, bahkan kau sudah ku anggap seperti anak ku sendiri, tapi apa yang kau lakukan? Kau berani berbohong pada ku? Kau sudah mengecewakan ku!"
Nelson masih tertunduk. "Maafkan aku, ibu" hanya kata itu yang terus keluar dari mulut Nelson.
Melihat Nelson di marahi sang ibu membuat Rey muak, Rey bangun dari duduk nya lalu menjelaskan semua nya. "Ibu, Nelson tidak bersalah! aku minta maaf jika aku membuat mu marah, di sini aku yang bersalah bukan Nelson! Aku yang meminta Nelson untuk berbohong pada ibu, di sini Nelson tidak ada sangkut paut nya dengan rencana ku ini ibu, jadi tolong! berhenti memarahi nya!"
"Ibu memarahi Nelson karena Nelson sudah ikut campur dalam masalah ini, kau dan Celine harus bertunangan, Rey" jelas Weni.
Kedua mata Rey langsung menyorot ke arah Celine yang kala itu hanya duduk menyimak perbincangan Rey dengan sang ibu. "Celine, aku minta maaf pada mu, tapi seperti nya kita tidak bisa bertunangan" ucap Rey hingga membuat semua di sana terdiam seketika.
Perkataan Rey membuat Celine dan Weni terkejut. Celine pun bangun dari duduk nya seraya menahan tangis nya. "Tapi kenapa? Aku mencintai mu dengan tulus, bahkan sudah lama aku mencintai mu, Rey" ucap Celine.
"Rey, apa kau sudah hilang akal? Hah! Kau tidak bisa membatalkan pertunangan ini begitu saja" ucap Weni penuh emosi
"Mengapa aku tidak bisa?"
Deg! Rey begitu terkejut saat mengetahui fakta tersebut. Jika sudah demikian, lantas bagaimana cara membatalkan pertunangan nya dengan Celine? Rey bingung saat ini. Rey hanya terdiam dengan kegelisahan di wajah nya, tetapi Rey harus memilih salah satu nya. Jika Rey memilih melanjutkan pertunangan nya dengan Celine, maka nama baik perusahaan nya akan aman. Tetapi jika Rey tidak mau melanjutkan pertunangan nya dengan Celine, maka nama baik perusahaan nya akan menjadi buruk. Tetapi bagaimana dengan perasaan cinta nya? apakah Rey harus mengorbankan perasaan nya pada Zena demi nama baik perusahaan?
"Rey, ibu beri waktu kau sampai besok untuk segera memutuskan, jika tidak, maka semua fasilitas perusahaan yang kau miliki saat ini akan ibu ambil alih, kau mengerti!" setelah mengatakan hal itu, Weni mengajak Celine untuk pergi meninggalkan ruangan, mereka pergi begitu saja setelah membuat perasaan Rey bercampur aduk seperti ini. Bagaimana pun juga perusahaan ini sudah Rey kelola dengan susah payah, lantas mengapa sang ibu dengan tega nya ingin menarik semua fasilitas yang Rey miliki saat ini. Apa yang harus Rey lakukan?
Rey langsung terduduk lemas saat tahu jika perusahaan nya yang akan menjadi taruhan nya di sini. Rey menghela nafas nya dengan kasar, lalu Nelson mendekati Rey. "Rey, apa kau baik baik saja? Maafkan aku, Rey" ucap Nelson penuh sesal.
"Hey, ini semua bukanlah kesalahan mu, jadi untuk apa kau minta maaf? seharus nya aku lah orang yang bertanggung jawab dalam masalah ini, maaf jika aku telah melibatkan mu dalam masalah ini Nel, aku fikir tidak akan rumit, tapi ternyata semua ini terlalu rumit bagi ku" jelas Rey
"Sudah lah Rey, jangan pikirkan aku, aku baik baik saja" ucap Nelson seraya menepuk pelan pundak Rey. "Lalu bagaimana dengan mu? Apa kau sudah bertemu dengan Zena?" lanjut nya.
__ADS_1
Rey menoleh seraya tersenyum ragu. "Aku memang sudah bertemu dengan Zena dan sudah mengungkapkan semua isi hati yang aku rasakan, tetapi... seperti nya semua nya percuma saja"
"Mengapa kau berkata begitu? Ada apa, Rey? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Zena menolak perasaan ku, Zena bilang dia tidak mencintai ku, apa yang harus lakukan, Nel? apa aku harus melepaskan Zena dan menikah dengan Celine?" Rey menghela nafas nya lalu menyandarkan kepala nya ke belakang sofa. Nelson pun hanya terdiam memperhatikan sahabat nya itu, rupa nya di sini bukan hanya Rey saja yang harus mengorbankan perasaan nya, Nelson pun juga sama. Perasaan Nelson juga akan di pertaruhkan nanti nya, keputusan yang Rey ambil akan mempengaruhi perasaan nya. Karena bagaimana pun juga Nelson masih mencintai Celine walau secara diam diam.
...****************...
Siang hari.
Rey benar benar menunggu Zena di Taman Indah seperti yang Ia ucapkan kemarin, Rey menunggu kedatangan Zena dengan sabar, dengan penuh keberanian dan tekad yang kuat, hari ini Rey akan mengungkapkan lagi isi hati terdalam nya untuk Zena.
Tiga puluh menit sudah Rey menunggu di sana, kedua mata nya mengedar mencari keberadaan Zena di sekitar, namun seperti nya Zena belum terlihat batang hidung nya. Tetapi Rey tetap sabar menunggu Zena di Taman sana. Keringat mulai bercucuran di dahi dan wajah Rey karena terik matahari yang begitu menyengat, namun Rey tidak peduli dengan cuaca hari ini.
Bunga mawar merah di tangan mulai layu dan lusuh karena terlalu lama di jemur di bawah sinar matahari. Rey meletakan bunga itu lalu bangun dari duduk nya, Ia menghela nafas nya dengan kesal karena Zena tidak menunjukan tanda tanda hadir. "Tidak! Aku harus tetap menunggu nya di sini, apapun yang terjadi aku akan tetap menunggu mu, Zena" Rey kembali duduk lagi walau sebenar nya perut nya sudah terdengar tak karuan, tanda lapar mulai menyerang nya.
Cukup lama Rey duduk di sana, cuaca yang tadi nya panas kini berubah jadi mendung, cuaca di kota Bandung terkadang memang suka tidak menentu. Gerimis kecil mulai bermunculan, Rey pun merasakan rintikan kecil air hujan yang jatuh di tangan nya, lalu Rey mendongak melihat ke atas langit, dan benar saja langit mulai gelap pertanda akan turun hujan. Namun Rey benar benar tidak peduli dengan cuaca hari itu, Rey tetap sabar menunggu kedatangan Zena.
Akhir nya gerimis kecil turun membasahi wilayah tersebut, gerimis yang tadi nya kecil kini berubah menjadi hujan deras. Namun Rey tetap setia berada di sana walau pakaian nya telah basah karena hujan. Rey duduk seraya menundukan kepala nya, Ia menatap bunga mawar yang telah rusak di tangan nya. "Apa kau benar benar tidak mencintai ku, Zena?" ucap Rey
"Tuan Rey" panggilan lembut dari suara wanita jelas terdengar di telinga nya. Rey menoleh ke arah samping nya dan melihat Zena sudah berdiri di sana dengan payung di tangan nya. Rey bangun dari duduk nya seraya menatap Zena, Zena memperhatikan penampilan Rey, pakaian Rey sudah basah kuyup karena hujan. "Kau tidak meneduh?" lanjut Zena.
Hanya gelengan kepala saja yang menjadi jawaban atas pertanyaan Zena. Zena pun melangkah maju lalu memayungi kepala Rey dari deras nya air hujan. Namun apa daya, semua itu percuma saja karena pakaian Rey sudah terlanjur basah kuyup terkena air hujan, Zena mendekatkan tubuh nya pada Rey agar tubuh nya tidak terkena rintikan air hujan. Zena masih belum menyadari kalau sedari tadi tatapan mata Rey hanya terfokus pada nya saja.
Lalu tak lama pandangan mata kedua nya saling bertemu. Rey menatap Zena, Zena pun menatap Rey. "Kau datang!" ucap Rey lalu tersenyum dengan bibir pucat nya. Zena terdiam memperhatikan wajah Rey yang pucat, sentuhan tangan Rey yang dingin makin membuat rasa khawatir Zena menggebu. "Aku menunggu mu, Zena" lanjut Rey.
__ADS_1
"Tuan Rey, aku-"
Rey langsung mencium bibir Zena begitu saja, Zena pun terkejut dan melepas payung di tangan nya. Bruk! setelah mencium bibir Zena, tubuh Rey terhuyung lemah. Rey jatuh ke dalam pelukan Zena. Zena pun terkejut dan panik. "Tuan Rey! Tuan Rey!" teriakan Zena tak di dengar oleh Rey. Rupa nya Rey pingsan, Zena pun meminta tolong pada orang sekitar untuk membawa Rey masuk ke dalam mobil nya.