
Saat makan malam jeny meladeni suaminya dengan baik. Wanita itu benar benar menjelma menjadi istri yang sesungguhnya untuk tomy. Jeny bahkan mengambilkan setiap lauk yang di inginkan oleh tomy.
“Makasih sayang..” Senyum tomy ketika jeny meletakan sepotong ayam goreng pada piringnya.
”Sama sama.” Saut jeny tersenyum.
Jeny menghela nafas. Setelah mengungkapkan apa yang di rasakanya jeny merasa sangat lega juga bahagia. Dadanya terasa plong dan pikiranya terasa ringan tanpa beban.
“Eemm.. Sayang besok usia kandungan kamu sudah memasuki bulan ke 4. Kamu mau aku rayain pesta buat 4 bulananya?”
Jeny berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Tomy bahkan mengingat dan mungkin juga menghitung dengan detail usia kandunganya. Sedang jeny saja yang hamil tidak menghitungnya dan mengandalkan kalender.
Jeny menelan ludahnya. Jeny merasa dirinya belum bisa menjadi calon ibu yang baik karna hanya untuk menghitung saja jeny memgandalkan benda mati bukan pikiran cerdasnya.
“Sayang...” Panggil tomy lembut dan meraih tangan jeny menggenggamnya lembut.
“Eh.. Eemm.. Nggak usah pesta pesta by.. Akan lebih bermanfaat kalau kita merayakanya dengan berbagi pada orang yang membutuhkan.” Senyum jeny.
Tomy terdiam sesaat. Apa kata orang nanti jika tomy tidak mengadakan apapun untuk merayakan 4 bulan usia kehamilan istrinya. Orang orang di luar sana pasti akan mengira tomy orang pelit yang lebih sayang uang dari pada istri.
“Beneran?” Tanya tomy ragu.
Jeny menganggukan kepala dengan senyuman di bibirnya. Bukan bermaksud pelit, tapi jeny rasa lebih baik uangnya di berikan pada orang yang lebih membutuhkan dari pada untuk hura hura berpesta.
“Sayang tapi..”
“By.. Dengan berbagi hati kita akan senang. Dan orang yang kita beripun akan senang juga. Bahkan mungkin mereka akan mendo'akan yang baik baik untuk kita.” Sela jeny lembut.
Tomy diam. Apa yang di katakan istrinya memang benar. Namun pemikiran orang luar belum tentu sama dengan pikiranya juga jeny. Tomy tidak mau ada gosip tidak baik tentangnya yang pasti akan membuat lorenzo mengejeknya.
__ADS_1
“Permisi bu..”
Tomy dan jeny mengalihkan perhatianya pada sisi yang muncul dengan sebuket bunga di tanganya. Tomy berdecak. Bunga itu sama dengan bunga yang di terimanya tempo hari. Dan tomy bisa menebak siapa pengirim bunga tanpa kartu itu. Siapa lagi kalau bukan lorenzo.
“Ya mbak.. Kenapa?” Senyum jeny menatap sisi.
“Eemm.. Maaf bu.. Ini ada kiriman bunga buat ibu.”
Jeny mengeryit. Wanita itu menatap bingung sebuket bunga yang di pegang sisi. Jeny melirik suaminya yang kembali melahap makananya namun dengan bibir monyong seperti akan jatuh.
“Ada kartu ucapanya nggak mbak? Mungkin ada nama pengirimnya?” Tanya jeny pada sisi.
“Nggak ada bu..” Geleng sisi yang sebelumnya memang sudah mengecek kartu namanya terlebih dulu.
Jeny mengangguk anggukan kepalanya. Jeny tidak berani berasumsi dari siapa bunga tersebut. Namun jika tidak ada nama pengirimnya jeny pikir jeny tidak perlu menerimanya. Karna jeny tidak mau menerima apapun dengan asal usul yang tidak jelas. Di samping itu jeny juga tidak mau membuat suaminya cemburu dan marah yang pasti berujung diam mengambek padanya.
“Eemm.. Kalau gitu buang aja deh mbak.. Tolong yah..” Senyum jeny manis pada sisi.
Tomy menatap punggung sisi dengan wajah sebal. Bukan pada sisi sebenarnya melainkan pada buket bunga yang di bawa gadis belia itu.
“Kenapa nggak di terima bunganya? Kan bagus bunganya. Harganya mahal lagi.”
Jeny tersenyum geli mendengarnya. Tomy memang sepertinya tidak suka dengan bunga tersebut.
“Nggak ah.. Nggak ada nama pengirimnya. Takut aku.” Jawab jeny memancing.
“Emangnya kalau ada nama pengirimnya kamu mau? Walaupun dari lorenzo kamu mau juga? Kamu terima?”
Jeny terkekeh. Tomy kekanak kanakan jika sudah cemburu. Wibawanya sebagai seorang pengusaha muda nan tampan langsung sirna seketika jika cemburu menguasai hatinya.
__ADS_1
“Kalau kamu mau belikan aku lagi 1000 tangkai bunga mawar merah kaya waktu di rumah sakit aku oke oke aja nolak bunga dari kak lorenzo.”
Tomy mengeryit. Tomy memang jarang memberikan bunga pada jeny. Bahkan selama kepulanganya mungkin hanya satu dua kali tomy memberikanya. Itupun setelah mereka berdua baikan.
“1000 tangkai bunga mawar merah?” Tanya tomy.
Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu tersenyum manis menatap tomy yang tampak kebingungan. Jeny tau suaminya memang bukan tipe pria yang romantis. Meskipun setiap perbuatanya selalu romantis menurut jeny.
“Harus 1000 tangkai emang?” Tanya tomy lagi.
“Ya harus.” Jawab jeny mantap.
Tomy kembali menyuapkan sesendok nasi serta lauk dan sayur ke dalam mulutnya. Pria tampan itu tampak memikirkan apa yang di katakan oleh istrinya.
Sedangkan jeny, wanita cantik itu malah tersenyum geli menatap suaminya dari samping. Jeny tau tomy pasti menganggap serius apa yang di katakanya. Dan jeny akan menunggu apakah tomy memang menganggapnya serius atau hanya omong kosong belaka.
Tomy terus memikirkan apa yang di katakan jeny saat makan malam tadi. Pria itu menghela nafas kemudian menatap jeny yang sudah terlelap disampingnya. Berlahan tomy mengusap pipi chuby jeny. Selama ini tomy memang tidak pernah bersikap romantis pada jeny. Tomy juga tidak pernah mengatakan kata kata manis yang membuat jeny senang dan bahagia. Tomy hanya diam dan menunggu perasaan jeny tumbuh dengan sendirinya seiring berjalanya waktu.
Tomy menelan ludahnya. Wajah cantik alami jeny selalu berhasil membuatnya tidak pernah merasa bosan menatapnya. Meskipun terkadang jeny marah bahkan jeny selalu menatap datar juga tajam padanya tetapi tomy mengakui paras cantik wanita itu tidak pernah luntur di pandanganya.
Tomy tersenyum. Kulit wanitanya begitu mulus dan lembut. Tidak ada satupun bekas yang membuat kulit putih bersihnya ternoda. Padahal seingat tomy dulu saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas sampai ke universitas jeny sering kali jerawatan. Tapi sekarang satupun tidak ada bekasnya. Tomy terkekeh geli, dirinya lupa bahwa di zaman modern seperti sekarang semua alat sudah canggih termasuk alat kecantikan. Tapi rasanya tidak mungkin jika jeny mempunyai waktu untuk mengunjungi salon kecantikan seperti wanita pada umumnya. Tomy tau siapa dan bagaimana istrinya. Selain gaya rambut jeny tidak pernah mengubah apapun pada dirinya. Misalnya alis dan bibir. Alis wanita itu masih alami. Bibirnyapun masih merah alami seperti dulu.
“Eemmhh... By.. Kamu belum tidur?” Tanya jeny membuka sedikit kedua matanya.
“Ya tuhan.. Maaf sayang. Aku nggak bermaksud..”
“Peluk aku..” Manja jeny merentangkan kedua tanganya.
Tomy terdiam sesaat. Saat awal menghadapi sikap manja jeny mungkin tomy merasa kaku juga terkejut. Namun seiring berjalanya waktu tomy pun mulai terbiasa. Tomy senang juga bahagia karna jeny mau terbuka padanya.
__ADS_1
Tomy menghela nafas lagi. Pria itu kemudian meraih tubuh mungil jeny dan memeluk mesra tubuh sintal istrinya itu.
“Tidur lagi ya sayang..” Bisiknya.