Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 177


__ADS_3

Tomy berdiri di ambang pintu utama rumahnya dengan tatapan heran ke arah gerbang. Pria tampan itu merasa aneh dengan pemandangan sepi di halaman rumahnya.


“Kenapa by?” Tanya jeny yang muncul dari dalam rumah.


Tomy menoleh. Tomy baru sadar jika siang ini istrinya tampak santai menemani dan mengurusnya tanpa buru buru mau memeriksa para pasien yang datang ke kliniknya.


“Sayang.. Kenapa hari ini sepi sekali? Kemana pasien pasien kamu?” Tanya pria tampan itu bingung.


Jeny ikut menatap ke arah gerbang. Jeny juga sebenarnya merasa sangat sepi dan juga merindukan aduan keluhan para orang tua yang menurutnya lucu. Tapi apa daya, jeny tidak mungkin meninggalkan kewajibanya sebagai istri dan melayani orang lain.


“Untuk sementara aku tutup dulu by...” Jawab jeny.


“Kenapa?” Tanya tomy penasaran.


“Kan kamu lagi sakit, masa iya aku sibuk ngurusin orang lain. Sementara kamu aku biarin. Kamu sakit sekarang. Aku lebih memilih kewajiban aku untuk mengurus kamu dari pada melayani orang lain.”


Tomy tersenyum mendengarnya.


“Sayang.. Tapi mereka lebih butuh kamu..”


“Lalu kamu? Memangnya kamu nggak butuh aku? Memangnya kamu bisa lakuin semuanya sendiri?”


Senyum di bibir tomy langsung sirna. Pria itu meringis malu mengingat tadi pagi. Meskipun dirinya berusaha terlihat tidak apa apa tapi toh nyatanya tomy memang tidak bisa melakukan apapun sendiri. Dan semua itu karna luka luka yang di deritanya.


“Udahlah by.. Sekarang yang terpenting itu kamu sembuh dulu.. Oke?” Tanya jeny dengan nada kesal.


“Iya sayang... Maaf..” Angguk tomy merasa tidak enak hati pada istrinya.


Tin tiiinnn...


Suara klakson mobil dari arah gerbang membuat tomy dan jeny mengalihkan perhatianya. Keduanya mengeryit heran saat mendapati mobil dokter axel yang mulai masuk ke dalam pekarangan rumahnya setelah pak satpam membukakan pintu gerbang.


“Dokter axel?” Lirih tomy.


Jeny yang ada di samping tomy juga sama bingungnya. Wanita itu menatap dokter axel yang turun dari mobil mewahnya kemudian melangkah mendekat padanya.


“Selamat siang pak tomy, jeny..” Sapa dokter tampan itu tersenyum manis.


“Ya dokter. Selamat siang.” Balas tomy tersenyum tipis.


Dokter axel terdiam. Pria berkemeja biru itu menatap sebentar pada tomy yang tampak tidak biasa menurutnya.


“Em.. Silahkan masuk dokter..”

__ADS_1


Dokter axel mengangguk. Pria tampan itu mengikuti jeny dan tomy untuk masuk dan kemudian duduk bersama di ruang tamu.


Hening.


Baik jeny, dokter axel, juga tomy mereka masih diam. Tomy tidak tau apa yang harus dia katakan pada dokter axel. Begitu juga dengan jeny.


“Saya sudah mendengar tentang kecelakaan itu pak tomy.. Dan saya.. Saya minta maaf atas apa yang terjadi.”


Tomy mengeryit bingung begitu juga dengan jeny. Entah apa maksud dokter axel tiba tiba meminta maaf padanya dan tomy atas kecelakaan yang di alami tomy.


“Minta maaf untuk apa dokter?” Tanya jeny mewakili kebingungan suaminya.


Dokter axel menghela nafas. Pria berkemeja biru itu menundukan kepalanya sebentar sebelum mengangkatnya kembali dan menatap jeny dan tomy yang duduk di depanya.


“Pak tomy... Kecelakaan yang menimpa pak tomy adalah perbuatan angel.”


“Apa?”


Tomy dan jeny terkejut mendengarnya. Apa yang di ucapkan oleh dokter axel benar benar tidak pernah terlintas di pikiran mereka. Angel melakukan perbuatan kriminal yang sangat membahayakan pada tomy.


“Ya. Angel yang melakukanya. Angel merasa kalian mengambil fani darinya. Dan angel juga merasa dendam karna kalian saya tidak mau menerimanya lagi.”


Jeny menggelengkan pelan kepalanya. Rasanya sangat tidak mungkin. Yang jeny tau dan kenal angel wanita yang ramah. Jeny pernah sekali bertatap muka hanya berdua dengan angel. Jeny bahkan pernah dengan kompak mendadani fani bersama angel. Dan menurut jeny angel adalah wanita yang baik.


“Saya tau kalian pasti tidak percaya. Tapi saya bicara apa adanya. Dan angel, sekarang dia berada di rumah sakit jiwa.”


“Ya tuhan...”


Jeny menutup mulutnya tidak percaya.


“Bagaimana mungkin?” Lirih jeny bertanya tak percaya.


“Setelah di periksa angel mengalami sedikit gangguan mental dan harus di rawat di rumah sakit jiwa.” Jawab dokter axel.


Deringan ponsel di saku kemeja tomy membuat jeny menoleh. Tomy merogoh saku kemejanya menggunakan tangan kiri.


Jeny yang melihat suaminya tampak kesusahan segera membantu dengan mengambilkan benda pipih itu dari saku kemeja suaminya.


“Ini..” Senyum jeny menyerahkan setelah mengangkat telephone yang ternyata dari reyhan.


“Makasih sayang..” Senyum tomy.


Jeny hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


“Maaf dokter, sebentar saya angkat telephone dulu.” Kata tomy pada dokter axel.


“Ya pak tomy. Silahkan.” Angguk dokter axel tersenyum.


“Ya rey... Ada apa?”


Setelah pembicaraanya dengan dokter axel jeny terus terdiam. Wanita itu masih tidak habis pikir dengan apa yang di katakan dokter axel. Angel mencoba mencelakai suaminya hanya karna merasa fani terampas dari tanganya. Padahal yang jeny tau angel saja tidak pernah sekalipun menjenguk fani selama fani sakit.


“Sayang.. Semuanya akan jelas setelah ini..”


Jeny tersadar dari lamunanya. Seulas senyum wanita itu ukir untuk suaminya.


“Ya by...” Balasnya menyentuh tangan kiri tomy yang menggenggam tanganya.


Jeny menyenderkan kepalanya di bahu kiri tomy. Jeny sudah berprasangka buruk pada lorenzo. Tapi pada kenyataanya yang menjadi pelakunya adalah angel bukan lorenzo.


Mobil reyhan berhenti tepat di depan sebuah kantor kepolisian tempat pelaku penyabotase mobil tomy di tahan. Pria berjambul itu langsung turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk tomy juga membantu pria tampan itu untuk turun.


“Terimakasih rey..” Senyum tomy.


“Sudah menjadi kewajiban saya pak.” Balas pria berjas hitam itu tersenyum.


Jeny yang melihat itu tersenyum. Tomy dan reyhan lebih terlihat seperti sahabat. Mereka begitu akur dan saling perduli. Dan tomy, meskipun posisinya sebagai bos namun pria itu tidak seenaknya pada reyhan.


Tomy dan jeny duduk di sebuah ruangan yang sangat cukup sempit. Mereka menunggu polisi menjemput pelaku yang menyabotase mobilnya.


“Ya tuhan...”


Suara lirih nan berat seorang tahanan yang berjalan di depan polisi membuat jeny dan tomy menoleh. Dengan wajah basah oleh keringat ketakutanya pria berbadan kurus itu mendekat pada tomy dan jeny kemudian duduk di depan tomy dan jeny.


“Pak saya minta maaf.. Saya salah.. Tolong lepaskan saya pak. Kasihan anak dan istri saya.. Mereka mau makan apa kalau saya di penjara..” Tangis pria berbadan kurus itu menundukan kepalanya tidak berani menatap tomy yang terus menatapnya tajam.


Rahang tomy mengeras. Kedua tanganya mengepal erat menatap pria yang sudah mencoba mencelakainya.


“Lalu kamu tidak memikirkan bagaimana anak dan istri saya kalau sampai saya mati?” Tanya tomy marah dan penuh penekanan di setiap katanya.


“By...” Panggil jeny lembut. Wanita cantik itu menyentuh lembut tangan tomy yang mengepal erat mencoba untuk menenangkanya juga meredamkan amarah yang menguasai suaminya.


“Siapa yang menyuruh kamu melakukanya?” Tanya tomy tajam.


Pria itu tidak langsung menjawab. Tangisanya semakin kuat merasa takut kalau kalau tomy membalas perbuatanya.


“Jawab !!” Bentak tomy membuat pria itu tersentak kaget.

__ADS_1


“Yang menyuruh saya istrinya pak leo.. Bu angelica. Dia menyuruh saya untuk mencelakai bapak bagaimanapun caranya.”


__ADS_2