
Tomy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sore ini pria itu menyaksikan sendiri perpisahan antara angel dan dokter axel yang sama sekali tidak manis. Mereka berpisah tanpa pelukan atau salam perpisahan. Tidak ada kata janji untuk kembali seperti janjinya dulu pada jeny. Tapi tomy faham juga mengerti. Keadaan memang tidak bisa di paksakan. Ada luka di tengah rasa cinta mereka yang memang harus berakhir baik tanpa harus selalu bersama.
Deringan ponsel membuat tomy menghela nafas. Pria tampan itu meraih ponselnya yang berada di kursi samping kemudi. Sebuah decakan keluar dari mulutnya ketika melihat nama susan yang tertera di layar menyala benda pipih itu.
“Ngapain lagi dia nelephone.” Gumam tomy kesal.
Tomy menepikan mobilnya di jalan yang cukup sepi. Jika saja susan bukan adiknya mungkin tomy sudah mencekiknya sampai mati. Apa lagi susan bahkan berani menyakiti mamahnya.
Tomy memejamkan kedua matanya. Meredam rasa cinta memang susah. Tapi rasa cinta susan padanya sangat salah dan terlarang. Di tambah tomy yang sudah memiliki istri dan anak yang tentu sangat di cintainya. Meskipun susan bukan adik kandungnya tomy juga tidak mungkin menerima dan membalas rasa cintanya. Rasa cinta di hati tomy hanya ada untuk jeny bukan untuk wanita lain.
“Ada apa lagi susan?” Tanya tomy dengan nada kesal.
“Kak aku mau jalan jalan.. Aku bosan disini sendirian. Aku juga mau belanja buat aku masak..” Rengek susan yang memang bersikap seperti wanita tidak punya harga diri di depan tomy.
“Jangan gila. Kamu wanita dewasa. Kamu bisa melakukan semua itu sendiri.”
“Ya tuhan.. Kak aku tidak pernah kesini kan.. Bagaimana kalau aku hilang atau nyasar dan tidak tau jalan pulang?” Kata susan terus berusaha meluluhkan hati tomy.
“Aku tidak perduli.” Balas tomy kemudian memutuskan sambungan telephone nya begitu saja.
Tomy menghela nafas lagi. Entah bagaimana cara dirinya mengatasi susan. Jika wanita itu bukan adik kandungnya mungkin akan lebih mudah mengatasinya. Tapi susan adiknya, mamahnya pasti akan sangat marah jika tomy bertindak kasar pada susan.
“Tuhan.. Aku mohon petunjukmu..” Gumam tomy hampir frustasi.
Ponsel yang masih berada di genggaman tomy kembali berdering. Namun kali ini bukan susan yang menelephone melainkan reyhan. Dan tiba tiba senyum tomy mengembang. Dulu reyhan lah yang bisa menangani susan. Reyhan bahkan bisa mengimbangi sikap mengesalkan susan dengan sikap kejamnya yang tersembunyi.
“Reyhan..” Gumam tomy tersenyum penuh makna.
Tomy menggeser layar ponselnya menerima telephone dari reyhan.
“Ya rey..”
“Maaf sebelumnya, pak tomy dimana?” Tanya reyhan langsung.
__ADS_1
“Saya di jalan. Kenapa rey?” Jawab tomy kemudian bertanya balik pada reyhan di seberang telephone.
“Ah begini pak.. Tadi pak antonio datang dan mengatakan ingin bertemu langsung dengan pak tomy besok setelah makan siang..”
“Untuk apa?” Tanya tomy mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Untuk membahas tentang kerja sama katanya pak.” Jawab reyhan.
Tomy mengangguk anggukan kepalanya. Antonio memang adalah salah satu rekan bisnisnya dalam bidang industri pupuk yang di jalankanya meneruskan perusahaan lorenzo yang di ambil alih olehnya.
“Baiklah.. Atur saja jadwalnya besok siang.”
“Baik pak..”
“Eemm.. Rey bisa tidak saya minta tolong?” Tanya tomy sedikit merasa ragu.
Susan sangat mengesalkan. Meskipun reyhan memang selalu bisa mengatasinya dari dulu tapi tomy juga tidak akan memaksa jika reyhan tidak bisa di mintai pertolongan untuk masalah susan.
“Apa itu pak?” Tanya reyhan dengan nada penasaran.
“Tolong kamu antar susan untuk jalan jalan juga belanja. Saya ingat saya tidak meninggalkan apapun di kulkas.”
Sebuah helaan nafas terdengar di seberang telephone. Dan tomy sudah bisa menebak bahwa reyhan juga pasti merasa jengah dengan sikap wanita itu.
“Baiklah. Kapan itu pak?” Setuju reyhan kemudian bertanya.
“Sekarang rey.. Tolong yah. Hanya kamu yang bisa saya percaya mengatasi susan saat ini.”
“Pak tomy tidak perlu khawatir. Saya akan melakukan tugas ini dengan baik.”
“Rey.. Saya sangat berterimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk saya dan keluarga saya..”
Reyhan tertawa pelan mendengarnya.
__ADS_1
“Tidak perlu berlebihan pak tomy.. Saya hanya melakukan apa yang memang seharusnya saya lakukan.” Balasnya.
Tomy tersenyum mendengar penuturan asistenya. Reyhan memang selalu melakukan tugasnya dengan baik meskipun tugasnya berat. Pria berjambul itu juga tidak pernah mengeluh apa lagi menolak tugas yang di berikan tomy padanya.
“Kalau begitu saya langsung jalan ke tempat mbak susan pak..” Kata reyhan kemudian.
“Ah yah.. Hati hati rey.”
Sambungan telephone di putus setelah itu. Tomy benar benar merasa sangat tertolong sekarang. Dan tomy sangat berharap susan bisa di tangani dengan baik oleh reyhan.
Tomy kembali menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan pulang. Tomy belum memberitahu istrinya tentang kepergianya siang tadi bersama mamahnya ke apartemen yang di tempati oleh susan. Meskipun memang susan sangat kurang ajar pada mamahnya. Susan juga hampir melukai mamahnya saat menghempaskan tanganya.
Tidak lama mobil tomy sampai di depan kediamanya. Saat itu hari mulai gelap sehingga lampu lampu di seluruh rumahnya sudah menyala benderang. Tomy langsung turun dari mobilnya kemudian berjalan cepat memasuki rumah mewahnya.
“Mbak, ibu mana?” Tanya tomy pada sisi yang sedang menyiapkan makan malam.
Sisi menoleh ketika mendengar suara berat majikanya. Gadis belia itu kemudian menjawab bahwa jeny berada di ruang tengah bersama putranya.
Mendengar itu tomy langsung melangkah menuju ruang tengah untuk menemui istri dan anaknya. Pria itu sangat tidak sabar ingin mencium istri dan anaknya yang selalu dia rindukan setiap saat.
“Sayang..” Panggil tomy ketika sampai di ambang pintu.
Jeny menoleh dan langsung mengangkat tanganya memberi kode agar tomy tidak mendekat padanya. Wanita cantik berdress maroon itu kemudian menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ker kiri pada tomy.
“Jangan mendekat dulu sebelum kamu bersih bersih by..” Katanya.
Tomy mengerucutkan bibir mendengarnya. Biasanya jeny tidak pernah melarangnya meskipun baru pulang bekerja langsung mendekat dan menggendong putranya.
“Biasanya juga nggak papa sayang..” Protes tomy yang masih berdiri di ambang pintu ruang tengah menatap istri juga faraz yang berada di dekapan hangat jeny.
“Itu biasanya. Mulai sekarang nggak boleh. Aku nggak mau anak kita sakit karna bakteri yang menempel di baju atau tangan kamu.. Sekarang mending kamu bersih bersih dulu abis itu baru gendong faraz..” Kata jeny tidak mau di ganggu gugat.
“Sayang tapi aku udah pengin cium faraz..” Rengek tomy dengan wajah memelas.
__ADS_1
Jeny tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian mengibaskan tanganya menyuruh agar suaminya segera membersihkan dirinya sebelum mendekat pada putranya.