Cintai Aku

Cintai Aku
Cinta Yang Tersimpan


__ADS_3

Rey dan Zena tengah bertengkar dengan isi kepala mereka masing masing, bayangan masa lalu tentang mereka kembali terlintas di pikiran mereka. Empat tahun bukan waktu yang singkat, lama tidak bertemu membuat kedua nya merasa canggung sendiri, walau hanya sekedar bertegur sapa rasa nya berat sekali.


Zena dan Rey masih saling menatap, tidak ada perubahan pada wajah Rey atau pun Zena, hanya saja Rey sedikit lebih kurus dari sebelum nya namun postur tubuh Rey tetap terjaga. Zena pun memberanikan diri untuk menyentuh wajah Rey lalu merangkum nya dengan lembut, Rey hanya terdiam menatap Zena. Zena masih tidak percaya jika pria di hadapan nya saat ini adalah Rey Atmaja. Tak ada ucapan dari kedua nya, tiba tiba saja air mata Zena menetes membasahi pipi, entah apa yang membuat Zena sedih, apa karena Ia hampir di lecehkan? atau karena rindu di hati yang membuat nya sedih?


Saat Rey ingin mengatakan sesuatu, pintu ruangan di buka oleh seseorang. Rey dan Zena menoleh bersamaan, rupa nya orang itu adalah Rio Anggara, Rio menatap Zena dengan panik. "Zena, apa kau baik baik saja?" Rio terlihat khawatir dengan keadaan Zena, pasal nya Rio baru mengetahui kalau ada penyerangan di ruangan tempat Zena berada, kabar itu Ia dapatkan dari Nelson.


Saat itu, Rey dan Nelson ingin kembali ke Villa mereka untuk mengobati luka di bibir Rey, namun tanpa sengaja Rey mendengar suara teriakan Zena dari balik ruangan di samping lorong gedung. Dengan cepat Rey pun langsung mendobrak pintu tersebut. Kedua mata Rey membelalak kala melihat kejadian yang tidak terduga di sana. Tanpa banyak pikir lagi, Rey langsung memukul Direktur Utama tersebut, rupa nya Direktur Utama itu merupakan rekan kerjasama nya Rio Anggara. Sementara Nelson, Ia segera mencari Rio Anggara untuk memberitahu kejadian tersebut.


Menyadari kehadiran Rio, dengan cepat Rey menjauhi diri dari Zena lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Kedua mata Zena tidak henti menatap ke arah punggung Rey yang sudah berjalan jauh dari nya. Rey menatap Rio dengan tatapan tajam nya lalu berjalan melewati Rio begitu saja. Sejujur nya, Rey masih kesal dengan Rio karena telah berani memukul nya tadi siang.


Belum sempat Rey keluar dari sana, tiba tiba Rio bersuara. "Tunggu!" seketika langkah kaki Rey terhenti di ambang pintu, Rio dan Rey saling menoleh lalu membalik tubuh mereka menghadap satu sama lain. "Sebelum nya aku ucapkan terima kasih Rey karena kau sudah menolong Zena, dan... aku juga ingin minta maaf pada mu soal kejadian siang ini, maaf atas luka mu" ucap Rio kala melihat luka memar dan noda darah di sudut bibir Rey yang sudah mengering.


Rey masih terdiam lalu melirik ke arah Zena sekilas sebelum tatapan mata nya kembali ke arah Rio. Seringaian muncul di bibir Rey, hal itu membuat Rio bingung. "Tidak perlu minta maaf, aku tak butuh maaf mu!" tegas Rey lalu melihat ke arah Zena. "Sebaik nya kau jaga wanita mu dari pria hidung belang seperti tadi" Rey menekan kata kata nya di depan Rio mau pun Zena.


Dahi Rio mengerut. "Rey, kau-"


"Aku permisi!" tukas Rey lalu pergi dari sana meninggalkan Rio dan Zena. Entah mengapa ucapan Rey menyakiti hati Zena.


Zena terus menatap punggung pria yang sudah hilang dari pandangan nya. Apa Rey salah paham dengan nya? Apa Rey pikir Ia dan Rio menjalin hubungan? Pikir Zena. Picik sekali pikiran Rey jika memang benar begitu, Rey tidak tahu saja usaha apa yang sudah Zena lakukan selama empat tahun ini demi menjaga perasaan nya meski mereka sudah berpisah.


Selama empat tahun berpisah, ada banyak pria tampan dan mapan yang selalu datang menawarkan cinta pada Zena, namun Zena selalu menolak semua pria mapan tersebut dengan alasan yang sama, hati dan cinta nya hanya untuk Rey seorang.

__ADS_1


...****************...


Di perjalanan, Rey hanya terdiam menatap langit malam dari balik kaca mobil nya. Tiba tiba saja Rey teringat Zena, entah mengapa sejak Ia dan Zena bertemu kembali, ada rasa sedih bercampur marah di dalam hati nya. Namun Rey juga tidak tahu alasan pasti nya, yang jelas Rey tidak suka melihat kedekatan Rio dengan Zena, apakah Ia cemburu? entah lah.


Melihat sahabat nya hanya diam melamun, Nelson pun memberanikan diri untuk mulai membuka obrolannya dengan Rey. "Rey, apa kau baik baik saja? ada yang ingin kau cerita kan pada ku? kau kelihatan nya kesal sekali, apa karena Rio dekat dengan Zena?" Nelson terkekeh lalu menoleh sekilas ke arah Rey sebelum kembali fokus menyetir mobil.


Rey menghela nafas nya dengan kasar lalu membuka setengah kaca mobil nya. "Tidak ada! Berhenti lah bertanya!" ucap Rey kesal, Rey tidak ingin menjelaskan apapun pada Nelson, bukan karena tidak ingin melainkan malu dengan kekesalan yang tak mendasar itu, Ia sedang cemburu pada Rio Anggara dan itu terlihat jelas sekali di wajah Rey. Lalu Nelson menganggukan kepala nya sebagai tanda mengerti jika sahabat nya itu sedang dalam mood yang buruk.


"Baik lah, Rey"


Sebenar nya jawaban Rey tidak memuaskan rasa penasaran Nelson, walaupun sebenar nya Nelson sudah tahu kalau sahabat nya itu pasti sedang cemburu melihat kedekatan Rio dengan Zena. Tapi mau bagaimana lagi? Sahabat nya itu memang keras kepala dan gengsi nya lebih tinggi hingga mengalahkan gedung pencakar langit.


Rey pun membiarkan angin malam masuk dan menerpa wajah nya, selir semilir angin malam membuat mata nya kian mengantuk. Rey pun menutup kaca mobil nya lalu mulai memposisikan tubuh nya di sana senyaman mungkin, lalu mata nya terpejam. Perjalanan mereka memang cukup melelahkan, namun lelah mereka terbayarkan dengan hasil dari promosi produk mereka, produk yang tadi mereka promosikan terbilang bagus dan di atas rata rata, penjualan nya pun meningkat karena kualitas dari produk yang Rey telah luncurkan. Rey berhasil meraih pencapaian nya lagi di banding perusahaan lain nya.


"Ada apa?" tanya Nelson


"Nel, apa kau sedang bersama Rey? apa kah dia baik baik saja?" Celine balik bertanya, hal itu membuat Nelson terdiam beberapa detik mencerna perkataan Celine. Mengapa Celine menanyakan Rey melalui diri nya? Mengapa Celine tidak menghubungi Rey sendiri saja? Apa Celine sengaja mematahkan hati nya dengan menanyakan Rey pada pria yang mencintai nya? Entah lah. "Halo! Nel, apa kau dengar aku?" sambung nya lagi karena tak mendengar jawaban Nelson.


Lamunan Nelson membuyar. "Iya, Rey ada bersama ku, dia baik baik saja, ada apa?"


Terdengar helaan nafas Celine. "Syukur lah, aku lega mendengar nya, sudah tiga hari ini Rey sulit sekali di hubungi, pesan ku tidak di balas, aku mengkhawatirkan nya, mengapa Rey menonaktifkan ponsel nya? padahal kan aku ingin membicarakan hal penting dengan nya" keluh Celine

__ADS_1


"Aku tidak tahu soal itu Cel, tapi... kau bisa menyampaikan nya pada ku, kalau kau mau" tawar Nelson


"Tidak perlu, aku akan mengatakan nya sendiri nanti, aku hanya ingin membahas soal tanggal pertunangan ku dengan Rey, tante Weni ingin di percepat, lebih cepat lebih baik bukan?" ucap Celine dengan kegembiraan nya di sana.


Deg! Seketika jantung Nelson berhenti saat itu juga. Rupa nya benar, Celine mencintai Rey. Lalu untuk apa Ia masih berharap dan mempertahankan perasaan nya jika Celine mencintai pria lain? terlebih pria itu adalah sahabat nya sendiri. Hati nya rasa nya sakit sekali saat mengetahui fakta kalau perasaan Celine hanya untuk Rey seorang, seperti nya memang sudah saat nya Nelson membuang jauh jauh perasaan nya.


"Nel?" panggil Rey dari arah belakang, Nelson pun menoleh dan mendapati Rey sudah ada di belakang nya, entah sejak kapan Rey ada di sana tapi yang jelas saat ini Nelson mulai menstabilkan kembali reaksi di wajah nya. Ia tersenyum pada Rey lalu menghampiri Rey. Ia tidak mau kalau kekecewaan di wajah nya terbaca oleh Rey. "Siapa yang menghubungi mu?" tanya Rey.


Nelson tersenyum lalu memberikan ponsel nya pada Rey. "Celine, dia mengkhawatirkan mu Rey, bicara lah pada nya" jelas Nelson lalu pergi setelah ponsel nya di terima oleh Rey, Rey langsung berbicara dengan Celine di sana. Sedangkan Nelson? pria itu tentu saja pergi menjauh dari Rey, Ia tidak mau mendengar pembicaraan mereka.


Nelson masuk lebih dulu ke dalam Villa, dari balik kaca jendela Nelson memperhatikan Rey. Wajah Rey terlihat muram, entah apa yang sedang Rey dan Celine bicarakan di sana tapi yang jelas dari mimik wajah Rey menunjukan ketidaksukaan nya. Setelah itu Rey memutuskan panggilan nya begitu saja lalu masuk ke dalam Villa.


"Rey, ada apa?" tanya Nelson dengan serius kala melihat kesedihan di wajah Rey. "Apa semua nya baik baik saja?" lanjut nya.


Rey menghela nafas nya. "Ibu meminta ku untuk mempercepat tanggal pertunangan ku dengan Celine" jelas Rey lalu masuk ke dalam kamar nya.


Deg! Seperti dugaan nya di awal, rupa nya Celine membicarakan perihal pertunangan nya dengan Rey. Dan yang lebih parah nya lagi adalah tanggal pertunangan mereka di percepat. Itu arti nya Nelson harus mundur dan membiarkan perasaan cinta nya hilang dengan sendiri nya. Seperti nya memang sudah seharus nya Nelson merelakan dan membiarkan Celine bersanding dengan pria lain.


Lagi pula memang nya dia siapa? Dia hanya lah anak dari orang biasa dan tidak terkenal, mengapa berani sekali mencintai wanita dari kalangan atas seperti Celine? Pikir Nelson. Perlu di ketahui, Nelson di asuh oleh Weni dari kecil, Weni merupakan sahabat orang tua nya.


Saat itu usia Nelson baru lima tahun, namun Nelson harus kehilangan kedua orang tua nya akibat kecelakaan. Weni pun mengasuh dan merawat Nelson dengan baik hingga menjadi orang sukses seperti sekarang ini. Rasa nya jahat sekali jika Nelson masih mengikuti ego nya dengan mengharapkan Celine menjadi milik nya.

__ADS_1


Nelson hanya tersenyum miris dengan keadaan nya. Mengapa takdir begitu jahat pada nya. Nelson sudah kehilangan kedua orang tua nya, lalu apakah sekarang Ia juga harus kehilangan cinta nya? sebenar nya kapan kebahagiaan datang menghampiri nya? Lagi lagi Nelson harus menelan pahit nya hidup. Tapi jika memang kebahagiaan Weni adalah melihat Rey menikah dengan Celine, maka kebahagiaan Nelson adalah dengan melihat Weni bahagia. Dan demi melihat Weni bahagia, Nelson pun harus merelakan Celine, cinta nya.


Hidup memang terkadang tidak adil, tetapi percaya lah, Tuhan memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita ingin kan. Jika memang dia di takdirkan untuk mu maka sejauh apapun jarak, seberat apa pun ujian yang datang menghampiri mu, jika memang sudah takdir nya kalian bersama maka akan tetap bersama. Dan sebalik nya, jika memang dia bukan di takdirkan untuk mu, maka sekuat apapun usaha mu, sedekat apapun jarak mu, jika bukan dia takdir mu, maka tetap saja dia tidak akan bersama mu.


__ADS_2